Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
127. Semangat



Syafa kembali ke alam nyata. Pikiran yang sejak tadi terus menawarkan sejuta mimpi, kini hilang entah kemana. Dirinya harus menelan pil pahit, bahwa Firman sama sekali sudah acuh terhadap dirinya.


"Aku pasti bisa membuat kamu kembali kepadaku!" tekad Syafa dengan semangat membara di dalam hatinya.


"Mah, tidurlah! Jangan habiskan waktu untuk


memikirkan papa karena itu tidak ada gunanya sama sekali!" Ucap Rasya sambil menutup pintu kamar ibunya.


" Mama pasti bisa membuat ayahmu kembali lagi!" ucap Syafa dengan berderai air mata.


Sebenarnya tidak ada kekurangan dalam diri Syafa, dia hanya kekurangan cinta seorang Firman yang telah mencintai Laila sebelum menikah dengan dirinya.


Syafa adalah seorang wanita yang cantik dan sholeh dan juga pintar. Kalau dia mau membuka hatinya, pasti akan banyak laki-laki yang mengantri untuk dirinya.


Hanya saja dia terlalu menutup matanya dan hanya melihat Firman laki-laki dalam hidupnya. Sehingga mereka tidak terlihat di matanya. Sebenarnya ada seorang pria, yang selalu mencari perhatian terhadap Syafa.


Laki-laki itu adalah mantan kekasihnya Syafa ketika masih di bangku kuliah. Dia sudah menjadi seorang duda dan tidak memiliki seorang anak.


Ketika dia mengetahui bahwa Syafa dalam proses perceraian, dia selalu berusaha untuk mendekati Syafa tetapi sama sekali diacuhkan olehnya.


flash on


"Maafkan aku! Aku tidak bisa!" ucap Syafa menolak mentah-mentah keinginan mantan kekasihnya untuk kembali dekat dengan dirinya.


"Kenapa? Bukankah, proses perceraian kalian akan di permudah, kalau kamu jiga setuju?" ucap Dito membujuk Syafa.


"Tetapi aku tidak ingin bercerai dengan dia Aku Masih Mencintainya!" ucap Syafa dengan mata berkilat penuh emosi.


"Kau lepaskanlah dan hiduplah bersamaku. Aku pasti bisa membahagiakanmu!" ucap Dito masih tidak mau menyerah juga.


"Sebaiknya kamu melupakan aku. Karena aku tidak akan pernah mau menerima kamu!" ucap Syafa kemudian meninggalkan Dito seorang diri.


Itu adalah kejadian 1 minggu yang lalu, sebelum Ibunya Firman meninggal tanpa sengaja Syafa bertemu dengan Dito di sebuah Mall


flash off


Syafa kembali menatap foto pernikahannya bersama Firman, yang tergantung di dinding kamar itu. Ya mereka dulu pernah tinggal di kediaman utama sebelum kelahiran Rasya.


"Dahulu pernikahan kita sangat bahagia. Kenapa kamu harus bertemu lagi dengan Laila? Setelah begitu susahnya kamu berusaha melupakan dia!" ucap Syafa kembali berderai air mata. Syafa mengingat kembali masa lalunya, ketika dia berjuang untuk membantu Firman merupakan Laila yang meninggalkannya tiba-tiba.


flash on


"Kalau dia mencintaimu, dia tidak mungkin meninggalkanmu. Kenapa kau harus menghabiskan hidupmu untuk wanita yang tidak mencintaimu?" ucap Syafa sambil memeluk Firman yang saat itu sedang mabuk setelah mengkonsumsi minuman alkohol.


"Kamu nggak tahu apa-apa! Lebih baik kamu nggak usah ikut bicara. Kamu hanyalah orang asing dalam hidupku!" hardik Firman dengan mata melotot. Bau alkohol tercium jelas dadi mulutnya. Syafa sampai hampir muntah.


"Pergilah Kau tidak usah menggangguku!" ucap Firman mengusir Syafa ketika itu.


"Aku akan selalu menemani kamu! Percayalah!" ucap Syafa sambil memeluk Firman yang kini malah menangis sesegukan.


Pada keesokan harinya, Firman sadar dan mendapatkan kenyataan, bahwa dirinya telah merusak masa depan Syafa. Anak supir ayahnya. Akhirnya, demi rasa tanggung jawab, Firman kemudian menikah dengan Syafa. Pada keesokan harinya.


Tiada cinta pada awalnya, tetapi lambat laun, Firman belajar untuk mencintai Syafa. Apalagi ketika mendapatkan kenyataan bahwa Syafa sedang mengandung anaknya.


Firman berusaha untuk mencintai Syafa dan menerima dia sebagai istrinya. kehidupan rumah tangga mereka semakin harmonis setelah kelahiran Rasya yang melengkapi kebahagiaan mereka.


Flash off


Syafa kembali mengingat lagi hari-harinya, setelah Firman kembali bertemu dengan Laila. Nyaris tidak dirasakan lagi cinta sang suami kepada dirinya.


Setiap waktu Firman selalu mencari cara untuk menipunya, agar bisa bertemu dan bersama dengan Laila.


"Apakah aku tidak ada artinya sama sekali di hatimu? Sehingga kamu sama sekali tidak peduli lagi padaku!" ucap Syafa lagi.


"Apakah aku memang harus menerima Laila dalam kehidupan pernikahan kami? Tetapi apakah Aku Sanggup berbagai cinta? Mas Firman jelas tidak akan mungkin bisa adil terhadap kami!" Syafa dengan Dilema.


"Bagaimana Mas Firman bisa adil kepada kami? Sementara hatinya dan cintanya lebih condong kepada Laila daripada kepadaku! Hiks Hiks!" Syafa kembali berderai air mata.


Semuanya bagai buah simalakama, sebuah pilihan yang sangat sulit untuk dirinya.


"Apakah aku harus melaksanakan pesan ibu mertuaku? Yang mengatakan aku untuk bersabar dan menunggu mas Firman kembali ke dalam pelukanku?" tanyanya lagi.


Sementara itu Rasya di kamarnya kini sedang menangis. kembali mengingat kedua orang tuanya yang telah berpisah karena ego dan mencari kesenangan sendiri.


"Bahkan papa sekarang sudah tidak peduli lagi padaku. Sudah tidak menganggapku sebagai Anaknya lagi!" isak Rasya dalam tangisnya.


"Aku harus kuat dan tegar! Aku tidak boleh cengeng. Semuanya demi mama kalau aku lemah Mama pasti akan sedih!" ucap Rasya kemudian memutuskan untuk tidur karena hari yang semakin malam.


"Besok aku harus menemui Papaku dan membicarakan tentang mama!" ucap Rasya dengan mantap.


"Aku pasti akan berantem lagi dengan papa, karena Papa selalu saja membuatku emosi dengan sifatnya yang egois dan selalu menang sendiri!" ucap Rasya.


Sungguh sangat kasihan anak sekecil itu, sudah harus memikirkan tentang keadaan Ayah dan Ibunya. Yang sedang berjuang untuk mempertahankan rumah tangga mereka ataukah harus melepasnya begitu saja. Rasya sungguh dilema saat ini.


"Aemoga apapun yang terjadi dalam pernikahan kedua orang tuaku, itu adalah yang terbaik untuk mereka!" ucap Rasya, usaha untuk bijak menyikapi permasalahan kedua orang tuanya.


"Rasya kau masih kecil tidak usah memikirkan tentang kedua orang tuamu. Pikirkan saja sekolahmu. Jadilah yang terbaik dan buktikan bahwa kamu adalah anak yang hebat!" tiba-tiba saja Kakeknya Rasya sudah ada di kamarnya.


"Kakek? Apa yang kakak lakukan di sini?" sangat terkejut karena kakeknya tiba-tiba saja sudah ada di kamarnya.


"Dari tadi kakek mengetuk pintumu, tetapi kamu melamun saja. Kamu juga tidak mendengarkan kakek mengucapkan salam. Terpaksa Kakak masuk saja!" ucap kakeknya Rasya sambil mengelus rambut cucunya.


Rasya hanya tersenyum mendengarkan ucapan kakeknya. "Maaf ya kek karena Rasya melamun terus, jadi tidak mendengarkan kedatangan kakek!" ucap Rasya jadi salah tingkah di buatnya.


Kakeknya tersenyum melihat cucunya yang sudah mulai bisa ceria lagi. "Serahkan urusan orang dewasa kepada mereka. Kamu anak kecil tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka, karena memang bukan bagianmu!" nasehat kakeknya lagi.


Akhirnya Rasya hanya bisa mengangguk, demi memang menghormati kakeknya. Rasya tahu kakeknya saat ini masih sedih, dengan meninggal neneknya yang tiba-tiba.