
Setelah sehat Ilham keluar dari rumah sakit. Silvia tidak ada bosannya mengurus keperluan Ilham. Ilham risi sebenarnya dengan kedatangan Silvia setiap hari seakan-akan dia ada hubungan istimewa dengannya.
Ilham Merasa tidak enak dengan keluarga Kesya. Bagaimanapun juga dia dan Kesya punya perjanjian pernikahan, walaupun sekarang batal karena Kesya yang menghilang setelah kecelakaan sebulan yang lalu.
Ilham menyewa detektif swasta untuk mencari keberadaan Kesya. Sudah hampir sebulan lamanya tapi belum ada kabar juga. Abah sama Umi kembali ke Jawa Timur, pernikahan Ilham dan Kesya dibatalkan. Keberadaan Kesya masih misterius hingga hari ini. Rumah sakit sekitar kejadian kecelakaan sudah di cari, tetapi tidak ada. Ilham juga memasang foto Kesya di koran maupun sosial media. Berharap seseorang pernah melihat Kesya dan memberikan info padanya, namun semuanya nihin. Ilham tidak patah semangat, dia terus berusaha.
"Mas, makan dulu yuk, nanti keburu dingin loh," Silvia berusaha membujuk Ilham, namun Ilham menolak makanan yang diberikan Silvia. Sudah ribuan kali Ilham menolak kedatangan Silvia tapi sepertinya tidak di gubris olehnya. Ilham sampai frustasi sendiri.
"Silvia, sebagai seorang wanita, jagalah Marwah MU, tolong jangan datang lagi ke sini," Ilham menunduk, rasanya risih sekali berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya. Ilham ingin tetap menjaga hatinya untuk Kesya. Dia akan menunggu kedatangan Kesya.
Setiap hari dalam sholatnya, Ilham selalu melangitkan nama Kesya. Berdoa agar di manapun Kesya selalu di jaga dari keburukan. Dijauhkan dari malapetaka.
"Mas, aku gak tahu lagi bagaimana membujuk kamu, aku sangat mencintaimu kamu mas. Cobalah untuk sekali saja menatap ke arahku" Silvia terisak, sudah habis akal rasanya untuk menarik perhatian Ilham
Sedari kecil, cara seperti itu selalu sukses membuat Ilham luluh hatinya. Ilham adalah lelaki berhati lembut. Tidak suka melihat seorang wanita menangis. Tetapi Ilham yang sekarang berbeda. Ilham sangat mencintai Kesya. Dia akan berusaha menjaga hatinya untuk Kesya. Berusaha setia dan menunggu kedatangan Kesya.
Ilham percaya bahwa Allah suatu saat akan mengembalikan kekasih hatinya tersebut. Ilham memanggil salah seorang santri lalu meminta dia untuk mengantarkan Silvia ke luar dari kamarnya. Silvia sangat kesal sehingga dia melemparkan makanan yang tadi dia bawa untuk Ilham ke lantai. Silvia pulang ke rumahnya dengan perasaan sakit hati yang luar biasa.
"Sudah sebulan Kesya menghilang, tapi Ilham masih saja tidak bisa melupakan dia. Tidak mau melihat aku sama sekali," Silvia melemparkan semua barang-barang yang ada di kamarnya. Kesal, marah, benci semuanya menjadi satu.
Orang tua Silvia yang melihat keadaan anaknya seperti itu lagi sungguh tidak berdaya. Papahnya menelpon dokter pribadi Silvia. Sehingga bisa memberikan obat penenang padanya. Setelah Silvia tidur, barulah mereka merasa tenang.
Sementara itu Rasyid dan Zahra tinggal di Indramayu, membantu Kiai Hamid mengelola pondok pesantren miliknya. Seharusnya pernikahan mereka bahagia, tetapi hilangnya Kesya membuat suasana hati Rasyid sungguh kalut.
."Mas jangan terlalu dipikirkan, Zahra takut nanti Mas jadi sakit. Percayalah Kesya pasti berada di tempat aman, Allah pasti melindungi dia" Rasyid menatap Zahra dan mengaguk.
"Mas hanya sedih, kenapa kejadian buruk itu harussm terjadi pada Kesya. Seharusnya sekarang dia sudah di Mesir, melanjutkan studi dia. Meraih cita-cita dia sebagai seorang dokter," Rasyid akhirnya tidak mampu lagi menahan kesedihan hatinya.
Zahra memeluk suaminya dengan lembut. Berusaha memberikan kekuatan padanya. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Memberikan dukungan dan kekuatan.
Dreeeeeetttt
"Ponselmu Mas," Zahra beranjak dan mengambil ponsel Rasyid yang ada di atas nakas lalu menyerahkan pada Rasyid.
"Mamah menelpon Mas," Rasyid menerima telpon dari mamahnya dengan hati berkecamuk.
"Assalamualaikum Mah, apa kabarnya?"
"Kamu bagaimana sayang? Jaga diri kamu baik-baik yah, Mamah sekarang cuma punya kamu. Keberadaan Kesya sampai sekarang tidak jelas"
"Rasyid baik-baik saja mah, jangan kwatir. Mamah mau Rasyid jemput? Biar kita tinggal bersama. Rasyid sungguh tidak tega, mamah sendirian di sana," Zahra tersenyum, memang lebih bagus kalau mamah tinggal bersama mereka, jadi Rasyid bisa tenang pikirannya
"Tidak sayang, mamah mau nunggu Kesya, kita tidak tahu mungkin suatu saat dia pulang ke rumah kita," Rasyid jadi sedih lagi, mengingat nasib adiknya yang masih hilang.
"Ya sudah sayang yah, mamah cuma kangen sama kamu, jaga dirimu baik-baik di sana, salam buat Zahra dari mamah, Assalamualaikum" telpon di tutup lalu mereka tidur karena waktu memang sudah malam.
Sementara itu di tempat Andika
"Kamu harus bisa membuat identitas untuk Amelia, agar kami bisa berangkat ke Dubai," terdengar Andika memberikan perintah pada asistennya.
" Sulit tuan, karena kita tidak punya apapun tentang Non Amel, birokrasi sekarang ketat, apalagi mengurus paspor dan visa untuk ke luar negeri," asisten Andika tampak menghela napas.
"Tuan,kenapa tidak dibawa ke luar kota saja, kebetulan proyek kita yang di Kalimantan sedang ada sedikit masalah, Tuan bisa membawa dia ke sana, sekaligus menyelesaikan masalah proyek kita di sana," usulnya mencoba mencari solusi untuk atasannya.
"Kau benar, kalau begitu persiapan semuanya dokumentasi, dan pastikan semua akomodasi siap, aku tidak mau kalau nanti Amelia disana mengalami kesulitan," perintah Andika.
"Tuan tidak perlu kwatir, semua akan saya persiapkan," Andika kembali memeriksa dokumen yang menempuk di atas mejanya.
Pikiran tidak bisa fokus. Sudah hampir dua bulan dia berusaha mencari cara agar bisa membawa Kesya ke Dubai, tapi mengalami kesulitan terkait dengan dokumen Kesya.
Kesya yang hilang ingatan dan tanpa dokumen apapun di tubuhnya saat dia ditemukan, membuat Andika mengalami kesulitan saat mencoba mengurus kepergian mereka ke Dubai.
Sementara itu, Kesya tengah sibuk mengajar di sebuah rumah singgah yang menampung anak-anak jalanan dan terlantar. Kesya mengajar mereka agar menjadi seorang hafizah dan hafiz. Walaupun hilang ingatan, tetapi Alhamdulillah Kesya tidak melupakan ayat-ayat suci Al-Quran.
Setiap hari Kesya yang sekarang bernama Amelia pergi mengajar anak-anak di rumah singgah. Karena Kesya menggunakan cadar, jadi tidak ada yang mengenali dia, jadi iklan pencarian orang hilang yang di pasang oleh Ilham tidak berefek sama sekali.
Sudah hampir setengah tahun Kesya hilang, sekarang dia dan Aditya sudah menetap di Kalimantan. Kesya bekerja menjadi sekertaris Andika, dengan tujuan agar dirinya bisa memantau kegiatan Kesya.
Andika yang memang mencintai Kesya selalu berusaha memberikan yang terbaik buatnya.
"Amel apa saja kegiatan saya hari ini," tanya Andika sambil membaca dokumen yang ada dihadapannya.
"Hari ini bapak ada janji temu dengan seorang ustadz, dia mengajukan pembangunan pondok pesantren dan rumah Tahfiz ke perusahaan kita, namanya Ilhamuddin El fahrizi" Amelia menyebutkan nama orang yang telah membuat janji temu dengan dirinya.
Saat mendengar nama tersebut, Andika serasa di sambar petir. Terkejut dan bingung.
"Mana proposal yang dia ajukan?" Kesya atau Amelia memberikan proposal yang kemarin di bawa oleh seseorang bernama Ilham, yang di tinggalkan di meja resepsionis.
"Kesya tidak boleh bertemu dengan calon suami dia, atau aku akan kehilangan dia untuk selamanya," monolog Andika dalam hatinya.
"Dimana janji temunya?" tanya Andika sangat gugup rasanya, Amelia melihat itu dan dia merasa sangat aneh dengan itu, tapi dia tidak mau lancang untuk bertanya.
"Dia akan datang ke sini, 15 menit lagi pak," demi apapun, Andika langsung kaget setengah mati. Dengan gugup dia langsung bangun dan menarik tangan Kesya untuk ke luar ruangan dia. Berusaha agar tidak mempertemukan Ilham dan Kesya.