
Ilham dan Kesya segera kembali ke Tanggerang, bertemu dengan keluarga Kesya. Mereka berniat untuk melangsungkan rencana pernikahan mereka yang sempat tertunda.
Tanpa Ilham dan Kesya ketahui, Andika beserta keluarga besarnya sudah datang melamar Kesya secara resmi kepada ibu Kesya.
Andika memberikan bukti perjanjian dirinya dengan Kesya untuk melangsungkan pernikahan. Rasyid yang saat itu ada di sana juga membenarkan hal itu. Mau tidak mau, sang ibu menyetujui lamaran tersebut. Dengan syarat menunggu kedatangan Kesya yang sampai saat ini masih dalam pencarian Andika dan juga Keluarga Kesya.
Kesya tampak keheranan saat menginjakkan kakinya di teras rumahnya, banyak tamu di sana. Dengan gugup dirinya melangkah masuk di antara para tamu yang hadir.
"Ada acara apa ini Mas? Kenapa ramai sekali?" Ilham yang bingung hanya bisa menggelengkan kepala. Dia menggandeng tangan Kesya dan masuk ke rumah Kesya.
"Kita akan tahu setelah masuk." Ilham sudah tidak tenang hatinya. Melihat penampilan para tamu yang rapi dan bertampang orang kaya, Ilham sudah bisa menebak sedikit.
"Apa mungkin Andika?" tanya Ilham dan Kesya berbarengan. Dengan langkah cepat mereka masuk ke rumah. Syock tentu saja. Di sana, Mamahnya dan juga Andika sedang bercakap-cakap dengan akrab dengan Andika dan keluarganya.
"Ada apa ini, Mah?" Kesya langsung menghambur ke pelukan sang mamah. Mereka yang hadir tentu rasa kaget bercampur bahagia. Kesya yang di tunggu akhirnya datang juga.
"Ada apa sih? Ko ga ada yang jawab?" Kesya mengedarkan pandangannya. Tapi masih belum ada yang menjawab dirinya.
"Aku datang untuk melamar kamu secara resmi kepada orang tua kamu. Mamah kamu sudah menerima lamaran Kami." terasa tersambar petir rasanya menerima berita tersebut. Ilham langsung merosot dan tersedu. Hatinya sangat hancur.
Kesya menggeleng dan menangis tak percaya. "Bagaimana mamah sembarangan memutuskan pernikahan Aku, Mah?" Kesya tersedu dalam pelukan mamahnya.
"Tante, Kesya masih resmi sebagai tunangan saya. Saya sudah menghitbah Kesya. Dia tidak bisa menikah dengan Andika." Ilham menatap Nanar pada orang-orang yang hadir disana.
"Maafkan kami Nak Ilham. Andika datang kemari, dan membawa surat perjanjian pernikahan dengan Kesya. Kami tidak bisa menolak. Bukti terlalu kuat." ucap Mamahnya Kesya dengan tertunduk. Kesya melihat surat yang ditujukan oleh Mamahnya. Membaca dengan teliti.
"Surat ini aku tandatangani saat aku hilang ingatan. Surat ini tidak sah, secara hukum." ucap Kesya, lalu mendekati Andika.
"Mas Dika, kenapa kamu harus memaksakan kehendak kamu sendiri Mas? Cinta itu masalah perasaan. Gak bisa di paksa!" Kesya berusaha membujuk Andika supaya mengurungkan niatnya.
"Tapi aku juga mencintaimu! Aku gak sanggup hidup tanpa Kamu!" Andika menatap Kesya sendu.
"Kesya sudah ingat masa lalu Kesya. Kesya mencintai Mas Ilham, maafkan Kesya Mas!" Kesya lalu berdiri di samping Ilham.
"Saya sangat berterima kasih dengan budi baikmu, yang telah menyelamatkan calon istri saya. Tapi Anda tidak bisa memaksa agar Kesya menikah dengan Anda." Ilham menatap Andika dengan penuh harapan, agar niatnya Untuk menikahi Kesya dibatalkan.
"Mamah jadi bingung mau memutuskan bagaimana. Nak Andika sudah melamar dan kami sebagai pihak keluarga telah menerima, dan juga sudah menetapkan tanggal pernikahan. Kesya, terimalah pernikahan ini. Mungkin ini bagaimana dari pada takdir yang Allah siapkan untuk kamu Nak!" Mamah berusaha memberikan pengertian kepada Kesya.
"Tapi Kesya mencintai Mas Ilham! Kesya gak bisa menerima lamaran Mas Dika, karena posisi Kesya adalah masih resmi sebagai tunangan Mas Ilham. Kalau bukan karena kecelakaan waktu itu, kami pasti sudah hidup bahagia sekarang."
"Tapi sayang, bisa saja kecelakaan itu adalah pertanda bahwa kalian bukan berjodoh Nak!" mamah masih berusaha meyakinkan Kesya.
"Mah, justru kecelakaan itu, yang menjadi batu ujian cinta kami. Bahkan saat Kesya amnesia, mimpi-mimpi Kesya hanya tentang Mas Ilham. Kesya hanya mencintai Mas Ilham. Maafkan Mas Dika!" Kesya memilih untuk pergi ke kamarnya saja. Hanya sekedar memikirkan dirinya akan menikah dengan pria lain, hatinya sudah sakit.
"Mah, Ilham pasti akan berjuang demi cinta Kami!" Ilham lalu pergi juga dari rumah Kesya.
Semua orang yang hadir jadi bingung. Apa keputusan dari diskusi panjang tadi. Semua sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Mohon maaf semua, saya sebagai kakaknya, hanya ingin adik saya bahagia. Kebahagiaan Kesya adalah bersama Kiai Ilham. Jadi kami memutuskan untuk mengembalikan lamaran saudara Andika. Mohon maafkan keluarga kami. Masalah jodoh dan maut, itu Allah yang sudah mengatur." Akhirnya Rasyid mengambil keputusan sebagai wali dari Kesya.
Kesya yang mendengar keputusan Rasyid, hatinya sungguh bahagia. " Terima kasih Mas Rasyid! " lalu Kesya masuk ke kamarnya.
Kesya menghubungi Ilham yang masih di perjalanan menuju pondoknya. "Mas, kita jadi menikah!" ucap Kesya bahagia.
"Iya Mas, Kesya akan menunggu Mas Ilham!"
" Ya sudah, kamu istirahatlah. Mas mau menghubungi Abah sama Umi!"
Ilham yang sudah tidak sabar untuk mengabari perihal pernikahan dirinya dengan Kesya langsung menghubungi kedua orang tuanya.
("Assalamualaikum Umi." )
("Waalaikum salam, apa kabar kamu sayang?")
("Baik Umi!")
("Alhamdulillah. Ada apa, malam-malam begini menghubungi Umi?")
("Umi, Ilham sudah menemukan Kesya!")
("Alhamdulillah, syukurlah. Umi merasa bahagia sekali. ")
(" Kapan Umi sama Abah bisa kesini?")
("Nanti Umi berunding dengan Abahmu,")
("Kita perlu melamar Kesya lagi Umi?")
("Kita bicarakan hal itu nanti kalau bertemu. ")
(" Ya sudah Umi, salam buat Abah. Ilham istirahat dulu. Assalamualaikum."
("Waalaikum salam,anak kesayangan Umi yang paling ganteng! ")
Setelah menutup telepon, Ilham pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lengkat. Seharian di luar membuat tubuhnya sangat lelah.
Setelah mandi, Ilham langsung tidur. Pernikahan dirinya dengan Kesya bukan lagi impian. Akan terwujud sebentar lagi. Hati Ilham yang bahagia, membuat dia mudah terlelap.
Sementara itu, di kediaman Andika, orang tua Andika tampak sangat marah karena pernikahan anaknya yang dibatalkan.
" Sebagai laki-laki keturunan Abimana, kau sungguh mengecewakan! " ucap ayah Andika geram.
"Jauh-jauh dari Dubai, mamah sama papah pulang ke Indonesia demi pernikahan kamu. Ternyata hanya untuk melihat lelucon yang sama sekali tidak lucu." mamah Andika tidak kalah marah.
"Kita culik saja calon istrinya Kak Andika!" ide gila itu berasal dari adik angkat Andika, Merry.
"Jangan asal bicara kamu!" Andika geram dengan ide Merry yang menurutnya berlebihan.
"Mamah juga setuju dengan ide Merry. Pantang keluarga Abimana mendapatkan hinaan seperti ini!" geram sekali rasanya, melihat putra kebanggaannya di permalukan di rumah Kesya tadi siang.
"Papah akan mengutus anak buah papah untuk melakukan itu!" Andika hendak protes dengan niat papahnya, tapi sudah di cegah oleh mamahnya.
"Biarkan papah kamu yang urus, kamu istirahatlah! Persiapankan diri kamu untuk pernikahan kamu dan wanita pujaan hatimu!" Andika pergi ke kamarnya dengan lesu.
"Biarlah, apa yang harus terjadi biarlah terjadi!" Andika yang lelah lahir bathin akhirnya terlelap juga di alam mimpinya. Kerinduan akan Kesya tidak bisa dipungkiri sangat menyiksa bathinnya. Apalagi kalau memikirkan pernikahan Kesya dan Ilham, hampir gila saja rasanya.