Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
102. Akhirnya



Begitu sampai di rumah, Andika dan Kesya berusaha bersikap biasa saja di hadapan pengasuhnya Cakra. Walaupun di dalam hati Andika begitu bergelora ingin sekali melabrak perempuan itu, yang sudah lancang berbuat sesuatu terhadap putranya. Juga lancang menyentuh barang-barang milik istrinya.


"Papa sebaiknya istirahat aja di kamar! Tampaknya Papa sangat kelelahan!" ucap Kesya. Tetapi Andika hanya diam mematung di tempatnya, lebih memilih duduk di sofa, daripada pergi ke kamarnya. Ya, saat ini Andika merasa tidak sudi untuk tidur di kasur Itu. Karena tadi, dia melihat bahwa Maria berbaring di kasur tersebut, mencium bantal yang biasa di gunakan. Membayangkan hal itu saja, sudah membuat badan Andika jijik rasanya. Maria sungguh lancang sekali, berbaring dan melakukan hal-hal yang tidak dia sukai oleh Andika di kamarnya tadi.


"Sayang! Aku bosan dengan kamar kita yang lama. Sayang, bagaimana kalau kita pindah saja ke kamar yang ada di lantai 4? Kita kosongkan saja kamar itu." Kemudian Andika pun langsung lari ke kamar yang dia maksud. Kesya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan sang suami yang sudah mulai keluar lagi sensitifnya. Kesya paling hafal dengan kelakuan Andika.


"Ya udah, Pah! Kita lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Mama ngikut saja! Lagi pula, kita juga sudah terlalu lama menempati kamar itu. Biarlah! Nanti kita gunakan kamar itu untuk kamar tamu saja. Setelah kita renovasi tentu saja!" ujar Kesya, menyetujui keinginan Andika. Maria yang mendengarkan obrolan suami istri itu, hanya diam saja. Padahal hatinya sedang misuh misuh.


'Dasar! Gayanya seperti Nyonya besar, saja! Sebel aku!' Maria tampaknya sangat membenci Kesya, entah apa yang menjadi penyebab kebencian itu.


"Mah! Jangan lupa Mama kunci pintu kamar lama kita, agar tidak ada tikus yang masuk secara sembarangan!" sengit Andika kesal sekali.


'Sial! Gara-gara perempuan kurang ajar itu! Aku jadi harus repot pindah kamar begini. Ah! Benar-benar menyebalkan! Aku sudah tidak sabar ingin menendang dia dari rumahku!" sengit Andika mulai kumat sifat bar-bar nya yang dulu.


"Maria! Bisa kau mandikan Cakra dulu? Aku sangat lelah sekali! Ingin beristirahat setelah beraktivitas seharian!" ucap Kesya sambil menyerahkan Cakra ke tangan Maria.


"Baik Nyonya! Akan segera saya mandikan Tuan Muda! Saya permisi!" Maria kemudian menggendong Cakra dan membawanya masuk ke kamar milik Cakra. Kesya langsung pergi ke tempat di mana Andika berada dan langsung membuka layar besar yang ada di kamar tersebut. Mereka berdua duduk di kasur, sambil memantau apa yang sedang dilakukan oleh Maria saat ini, terhadap Putra mereka. Mata Andika dan Kesya melotot Seketika, saat melihat cara Maria memandikan Cakra.


Maria menenggelamkan wajah Cakra ke dalam bathtub sehingga membuat Cakra tampak megap-megap dan menangia dengan kencang. Hati Kesya dan Andika benar-benar sangat marah dan kesal saat itu. Mereka berdua langsung masuk ke kamar putranya. Ingin menyelamatkan Cakra dari perempuan jahat itu.


"Dasar anak sama ibu! Sama-sama menyebalkan! Sama-sama merepotkan! Kenapa kau tidak mati saja!" ucap Maria sambil terus melelepakan wajah Cakra ke bathtub. Tangisan Cakra yang menggema, sama sekali tidak dia gubris. Seakan malah membuat wanita itu semakin bersemangat.


"Cakra! Apa yang kau lakukan kepada anakku?" Andika langsung mengambil Cakra dari tangan Maria dan menghempaskan perempuan itu ke pinggir.


Kalau Andika maupun Kesya tidak mengawasi secara langsung di CCTV tadi, mungkin mereka akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Maria saat ini. Tetapi mereka sudah melihat sendiri, bahwa Maria berkali-kali mencelupkan wajah Cakra ke bathtub sehingga membuat bayi mereka megap-megap dan menangis berteriak karena sesak dan kemasukan air di mulutnya.


Untung saja Andika dan Kesya bergerak dengan cepat dan segera datang, menyelamatkan Cakra. Kalau tidak, mungkin saja bayi mungil tersebut kini telah mati karena sesak nafas dan tersedak air sabun di dalam Bathtub tersebut. Kesya sampai menangis, melihat keadaan putra mereka. Andika langsung mengambil ponselnya.


"Halo! Segera kau datang ke rumahku! Bawa polisi ke sini juga! Karena di sini ada penjahat yang telah berusaha membunuh Putraku!" ucap Andika dengan suara berapi-api, ketika menelpon asistennya.


Demi mendengarkan kata polisi, Maria sudah ketakutan. Dia memegang kaki Andika dan memohon ampunan darinya. Tetapi Andika yang sudah merasa marah dan jijik, langsung menendang Maria hingga tersungkur ke lantai.


"Maafkan saya, Tuan! Saya tidak sengaja!! Saya berjanji, saya tidak akan mengulangi hal tersebut lagi, Tuan! Tolong jangan bawa masalah ini ke kantor polisi, Tuan! Tolong maafkan saya! Sekali Ini Saja!" Maria terus menerus menangis dan memohon.


Security yang mendengarkan keributan pun, akhirnya datang dan mengamankan Maria di pos keamanan, yang berada di kediaman Andika. Setelah polisi datang, wanita tersebut langsung digelandang ke penjara. Dan Andika meminta pengacaranya untuk menuntut perempuan itu atas percobaan pembunuhan dan perilaku tidak menyenangkan, selama bekerja di dalam rumahnya. Beberapa rekaman CCTV sejak siang sudah diberikan kepada pengacaranya, sebagai bukti dari laporan yang diajukan oleh Andika terhadap Maria.


Kedua orang tua Andika pun, akhirnya datang juga. Karena menerima laporan dari kepala pelayan. Bahwa dalam kediaman Andika dan Kesya dalam keadaan genting. Bahwa pengasuh yang mengasuh Cakra selama ini, dia ingin berusaha membunuh Cakra, cucu kesayangannya.


Kedua orang tua Andika datang bersama Amanda. Amanda pun tampak ketakutan dan merasa bersedih melihat keadaan Cakra yang saat ini masih belum sadarkan diri. Beberapa Dokter sudah datang dan berusaha untuk mengobati Cakra. Untung saja, Andika dan Kesya bergerak dengan cepat! Sehingga Cakra hanya sedikit saja menelan air sabun di Bathtub.


Beberapa peralatan medis yang canggih pun, digotong ke kediaman Andika. Peralatan yang dibawa dari rumah sakit yang dikelola oleh Kesya. Mengingat keselamatan Cakra saat ini jauh lebih penting. Untuk membawa Cakra ke rumah sakit pun, mereka tidak bisa karena mereka menjaga privasi agar jangan sampai hal tersebut sampai tersebar ke luar. Bisa menjadi berita heboh nantinya.


Andika benar-benar berusaha untuk menjaga agar keluarganya tetap aman dan tidak menjadi bullyan dari publik dan masyarakat. Yang merasa tidak senang dengan bencana yang saat ini sedang di alami oleh keluarganya.


Terkadang memang, ada orang-orang yang justru mencela di atas bencana orang lain. Bukannya merasa iba ataupun bersimpati. Kadang mereka malah memilih untuk mengadili dan juga berpikir negatif terhadap orang yang sedang mengalami musibah. Ya! Itulah sebuah fakta yang menghiris hati, yang beredar di masyarakat saat ini. Di mana rasa empati terhadap orang lain sudah menipis.