Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
60. Pertentangan Laila dan Ilham



Pov Laila


Aku sungguh sangat terpesona dengan segala kemewahan yang aku lihat di hadapanku saat ini. Seberapa kaya kah orang tuanya Adrian Abimana? Bocah kecil yang selama satu tahun ini tinggal bersama kami. Suamiku tampaknya sangat sayang sekali kepada bocah itu.


Saat Adrian mengatakan akan memberikan Apartemen untuk suamiku aku sungguh senang, ini pertama kalinya aku memiliki apartemen, apalagi di Dubai! Wah, itu pasti sangat luar biasa!


Dubai adalah kota yang indah, dengan berbagai bangunan arsitektural dan lampu-lampu kota yang luar biasa. Kota Dubai adalah impian bagi banyak orang. Kota dengan sejuta pesonanya.


"Adrian, apa benar apartemen ini di kasih buat Om Ilham?" tanyaku masih belum percaya.


"Iya, Tante!" jawaban singkatnya sungguh membuat hatiku sangat senang.


"Udah, kita istirahat! Umy sudah lelah!" ucap mertuaku yang selalu tidak suka dengan apapun yang aku lakukan. Aku tidak mengerti kenapa beliau begitu. Padahal kalau sama mamahnya Adrian mertuaku itu sangat halus lembut tutur katanya, tapi kalau sama aku, begitu ketus dan kasar. Suamiku juga sama. Menyebalkan!


'Merusak kesenanganku saja!' bathinku.


Setelah Adrian, Kesya dan Andika pergi, kami masuk ke kamar yang ada di apartemen ini. Aku memilih kamar paling besar dan indah. Suamiku masih cemberut saja. Aku jadi takut sama dia.


"Kamu kenapa, sih? Aku perhatikan dari tadi cemberut aja. Apa ada masalah?" tanyaku.


"Jangan mau menerima apartemen ini. Lagipula kita juga tidak membutuhkan! Saya sibuk untuk mengurus pondok pesantren, gak ada waktu untuk tinggal di sini!" jawab suamiku.


"Biar aku saja yang tinggal disini! Kalau kamu tidak mau! Dasar bodoh! Apartemen mewah ini, biarpun kau kerja seumur hidupmu, tidak akan sanggup kau berikan kepadaku." Cibirku kesal.


"Aku memang tidak akan pernah sanggup memberikan kepadamu. Karena aku memang tidak membutuhkan apartemen seperti ini!" ucap suamiku mulai naik tinggi suaranya.


Selama ini dia tidak pernah marah kepadaku, apa aku sudah keterlaluan ya? Sehingga pria sabar ini sampai menaikkan suaranya saat ini. Nyaliku jadi ciut, dari pada berdebat dengan suamiku, aku memilih untuk tidur saja. Sudah cape juga. Seharian berada di luar.


"Aku tidur, Mas!" ucapku ketus. Kesal dengan dia yang tidak mengerti perasaanku.


"Hmmmm!" jawabnya. Aku melihat suamiku melangkah ke arah jendela, menatap ke luar dengan pikirannya yang tampak kosong.


Beberapa kali aku panggil, dia tidak nyahut juga.


"Mas, kamu kenapa? Kita datang jauh-jauh ke Dubai buat honey moon! Kok istrinya malah di cuekin!" sungutku kesal.


"Kamu istirahat saja! Jangan ganggu aku bisa gak, sih?" ucapnya kesal. Aku sakit hati sebenarnya melihat ke arogansian suamiku. Aku tahu, sejak awal menikah denganku, dia tampak tidak mencintai diriku, hatinya seperti entah ada di mana. Aku tidak mengerti. Suamiku selalu melamun kalau malam tiba, lebih banyak berzikir kalau malam, dia juga lebih banyak tidur di musholla rumah kami dari pada di kamar kami.


Suamiku sering sholat tahajud kalau malam, murajaah bahkan sampai pagi, mungkin karena kelelahan jadi tertidur di Mushhola. Para santri sudah ada ustadz yang mengajar. Suamiku hanya kadang-kadang saja mengecek para santri.


Ibu mertuaku yang mengurus keperluan di pondok, dia sudah seperti ibu suri yang selalu jahat kepadaku. Apapun yang aku lakukan selalu dia kritik. Seperti tadi, saat aku menerima apartemen pemberian Adrian, ibu mertuaku bilang katanya aku membuat dia malu. Sakit hatiku rasanya.


"Kamu tidur saja, aku belum mengantuk!" jawab suamiku tanpa menoleh kepadaku.


"Aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu, Mas!" ucapku mulai kesal. Suamiku menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan dengan kasar.


"Aku hanya ingin tenang sebentar, apa bisa?" tanyanya dengan menatap tajam ke arahku. Ah, kalau dia sudah menatap horor begitu, aku tidak bisa berkutik. Aku lalu menarik selimut ku dan tidur. Malas berdebat dengan suamiku yang sedang galau perasannya.


Pov Ilham


Aku melihat istriku mulai pulas dalam tidurnya. Perasaanku sungguh tidak nyaman tinggal di apartemen ini. Apartemen yang diberikan oleh Andika Abimana. Pria yang telah merebut wanita yang paling aku cintai. Ya, aku mungkin belum bisa berdamai dengan hal itu. Hatiku masih sakit hingga kini. Kalau memikirkan pernikahan ku dengan Kesya gagal sampai dua kali.


Yang pertama gara-gara Silvia yang katanya mencintai diriku dan yang kedua gara-gara Andika yang mencintai Kssya. Entah kenapa, perjalanan asmaraku rasanya begitu berliku dan penuh onak duri. Istriku selalu sukses membuat aku kalut, sikapnya yang materialistis, sungguh membuat aku jengah dibuatnya. Apalagi saat dia berhadapan dengan Andika yang berpenampilan Paripurna dan ketampanan luar biasa, mata istriku sampai mau keluar. Aku bukannya cemburu, aku hanya merasa malu dan canggung terhadap Kesya. Apa yang dia pikirkan tentang istriku yang tampak terpesona dengan suami tampan dan kayanya. Hatiku sungguh galau dan bingung.


Baru satu hari aku tinggal di apartemen ini, rasanya sudah tidak nyaman. Aku rindu kamarku, aku rindu para santri di pondokku. Bagaimana aku akan hidup disini selama satu bulan? Sungguh tersiksa rasanya hatiku.


Keesokan harinya, Adrian datang bersama seorang bodyguard, dia menjemput kami untuk datang ke manstion Kakek neneknya. Katanya ada pesta di sana.


"Om, ayo kita ke manstion Kakekku, di sana sudah disiapkan sebuah pesta!" ucap Adrian sangat bahagia. Aku memeluk Adrian, rasanya rindu dengan dia. Padahal baru tidak bertemu satu malam saja. Aku memeluk dan mencium Adrian.


"Om kangen ya, sama Adrian?" senyum manisnya selalu bisa membuatku semangat lagi.


"Ayo kita ke manstion kakeknya Adrian!" ucapku.


Istri dan ibuku mengikuti kami bertiga di belakang. Istriku tampaknya masih marah, karena semalam aku menolah keinginan dia untuk bulan madu. Aku sedang gak mood untuk melakukan itu.


Tampaknya istriku sangat ingin punya anak, tapi aku tidak yakin untuk memiliki anak bersama Laila. Sifatnya sedikit demi sedikit tidak aku sukai. Entahlah, aku juga tidak paham.


"Adrian, apa rumah kakekmu bagus?" tanya Laila.


"Tentu Tante! Abimana Group termasuk perusahaan multi internasional. Tentu manstion utama Keluarga Abimana itu bagus dan indah. Seperti istana kerajaan." ucap Adrian penuh kebanggaan. Aku malu sebelumnya mendengar pertanyaan istriku yang tampaknya sangat penasaran dengan keluarga Abimana.


"Apa ibumu bekerja Adrian?" tanyanya lagi.


"Tidak, Mamahku kuliah di fakultas kedokteran. Tapi Kakekku sudah membangunkan sebuah rumah sakit untuk nanti ibuku kelola kalau sudah lulus. Waktu kemarin Mamahku melahirkan adikku, mamahku di rawat di rumah sakit yang di bangun oleh Kakekku!" ucap Adrian.


Kesya tampaknya di perlakuan begitu baik oleh keluarga Andika. Aku lihat Kesya juga tampaknya bahagia dengan pernikahannya. Apabila Kesya menikah denganku, tidak tahu apakah dia bisa bahagia bersamaku atau tidak.


Keluarga Abimana memberikan segalanya kepada Kesya, sementara aku? Aku hanya anak seorang Kiai yang biasa saja. Tak berharta melimpah seperti Andika Abimana yang seorang konglomerat. Bahkan memberikan Apartemen untukku dengan begitu mudahnya. Kalau aku ingin membeli apartemen itu, mungkin bekerja seumur hidupku tidak akan mampu membelinya. Hatiku tercubit rasanya ketika mendengar istriku mengatakan hal itu. Sakit dan pedih.