
Setelah ijab Qabul, mempelai pria dibawa masuk ke kamar pengantin dan dipertemukan dengan mempelai wanita. Ada rasa haru dihati Rasyid. Wanita yang sempat mengisi hari-hari sunyinya beberapa tahun terakhir, akhirnya resmi menjadi istrinya. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada itu semua. Zahra menatap suaminya dengan lekat, lalu mencium telapak tangan Rasyid dengan takzim
" Assalamualaikum ustadz ku, calon imamku dan calon ayah anak-anak ku" ini adalah kali pertama Rasyid berbicara sedekat ini dengan wanita, peluh bercucuran di keningnya. Zahra merasa gugup, karena sang suami yang hanya diam saja. Tidak mau menjawab salamnya .
"Apakah aku membuat kesalahan? Kenapa mas Rasyid tidak menjawab salamku?" tanya Zahra sedih. Rasyid gelagapan dan tertawa kecil, salah tingkah sendiri.
" Maaf, aku tadi sedikit melamun jadi tidak mendengarkan salammu" Rasyid gugup setengah mati dan Zahra merasa lucu sekali. Tanpa sadar Zahra tertawa pelan.
" Apa aku lucu bagimu?" tanya Rashid bingung.
" Tidak, maafkan aku. Bisakah kau jawab salamku?" pinta Zahra dengan menatap lekat wajah suaminya.
" Waalaikum salam, istriku, calon ibu dari anak-anak ku, insyaallah " kemudian Rasyid mencium kening Zahra dengan syahdu. Ada setitik air mata yang menetes di matanya. Masih tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi dalam hidupnya.
" Kenapa mas menangis? Apakah Zahra membuat kesalahan? " Zahra merasa bingung dengan suaminya itu, sejak masuk ke kamar tadi, dia perhatikan tampak bingung dan sedih. Entah apa yang menjadi penyebabnya.
" Tidak sayangku, mas hanya merasa terharu dan sangat bahagia, akhirnya kini aku berada di sini, di sisimu, sebagai suamimu. Semoga kita dipercaya untuk mendidik anak-anak yang soleh dan Sholehah " Rasyid meremas jemari Zahra yang menunduk malu dengan ucapan suaminya yang baru bertemu hari ini secara langsung.
tok tok tok
Mereka terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.
" Mas Rasyid, ayo keluar dulu, itu tamu-tamunya menunggu pengantin keluar " suara Kesya pelan.
Sebenarnya dia agak risih mengganggu pengantin baru itu, tapi mau bagaimana lagi, tamu-tamu banyak yang menanyakan dimana keberadaan pengantinnya.
" Sebentar dulu" jawab Rasyid lalu meraih jemari tangan sang istri dan mengajaknya keluar kamar.
Kesya jadi malu sendiri, karena sudah mengganggu mereka.
" Maaf ya mas, Mba, tapi para tamu menunggu kalian, berduannya nanti malam bisa di lanjutkan lagi" ucap Kesya sambil melirik ke arah Mas nya dengan tatapan menggoda.
" Kamu ini" ucap Rashid sambil mencubit pipi adiknya yang tertutup cadar. Kesya merajut tapi malah di tanggapi senyuman oleh kakaknya.
" Jangan nakal ya Mas, kan sudah ada istrinya " sahut Kesya sambil mengelus pipinya, yang sebenarnya tidak sakit sama sekali. Dia hanya senang menggoda kakaknya yang sebenarnya sangat dia sayangi.
" Ayo, para tamu sudah menunggu kalian" itu suara Ilham, Kesya berbalik dan berniat pergi dari sana, tapi tangannya sudah di raih olah Ilham.
" Mau ke mana? Kamu ga kangen ya sama Mas kamu ini?" rajutnya manja, sambil pasang wajah memelas dan sedih di hadapan Kesya.
" Jangan kaya gini dong mas, malu kalau ada yang lihat " protes Kesya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
" Gak ada siapapun di sini, semua sedang sibuk foto-foto di depan " Ilham menatap lekat Kesya.
' kenapa gak bosan-bosan rasanya melihat wajahnya' Ilham bermonolog sendiri.
" Mas, aku banyak kerjaan loh, sabar sebentar yah, seminggu lagi kita juga menyusul mereka, nanti Mas bisa sepuasnya bersama Kesya" janji Kesya yang sukses membuat mata Ilham berbinar bahagia.
Tanpa mereka ketahui. Di sudut ruangan yang tersembunyi, ada sepasang mata wanita yang memperhatikan mereka berdua, mata itu penuh dengan amarah dan cemburu, yah.. Silvia merasa sangat marah ketika melihat kemesraan mereka berdua. " Tunggu saja, sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku mas, hanya milikku" ucapnya bermonolog penuh dengan ambisi dan obsesi.
" Mas Ilham, ayo kita berfoto bersama dengan pengantin, aku mau punya kenang-kenangan bersama kamu mas" dengan santainya Silvia memeluk tangan Ilham dan menyeretnya ke luar dari sana, menjauhi Kesya yang tampak bengong dengan apa yang dilakukan oleh Silvia.
Ada sedikit rasa cemburu, karena calon suaminya di peluk mesra oleh Silvia, tetapi Kesya berusaha sekuatnya agar tidak terpengaruh dengan perbuatan rendahan Silvia.
Kesya percaya bahwa cinta Ilham hanya untuk dirinya. Kesya memang tahu bahwa Silvia memang memendam rasa cinta untuk Ilham. Sewaktu di pondok saja,hampir setiap hari selalu mem-bully dirinya yang katanya gak pantes bersanding bersama Ilham yang seorang anak Kiai dan calon Kiai pula.
Ilham mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Silvia, tetapi gadis itu sungguh tidak tahu malu, dia malah berusaha mencium Ilham di saat berada di tempat sepi. Repleks saja, Ilham menghindari dan memilih loncat ke kolam ikan,dari pada harus di cium oleh Silvia. Kesya yang melihat kejadian itu merasa geram dengan kelakuan Silvia.
Kesya mencoba menolong Ilham yang ke cebur di kolam ikan yang ada di samping kamar Zahra. Sudah payah, akhirnya dia bisa meraih Ilham, tapi sial, tiba-tiba kaki Kesya kram, jadilah malah Kesya yang di tolong oleh Ilham.
Jarak mereka begitu dekat. Ilham memeluk Kesya dengan mesra, ingin rasanya dia mencium kedua, yang saat itu cadarnya terlepas karena terhanyut air kolam.
Untung saja Ilham sadar dan segera menepis pikiran kotor itu. Dia ingin ciuman pertama mereka adalah saat Syah ijab Qabul nanti. Ilham membawa Kesya ke samping kolam. Silvia yang melihat kemesraan Ilham dan Kesya merasa sangat marah dan kesal. Dia pergi meninggalkan pasangan itu dan memilih pulang saja ke rumahnya.
Saat itu semua orang tengah sibuk di depan. jadi tidak ada yang memperhatikan insiden itu. Ilham masih memeluk Kesya dengan erat. karena Kesya menggigil kedinginan badannya. Pakaian mereka basah kuyup.
" Mas, kamu gak apa-apa kan?" tanya Kesya kwatir
" Mas gak apa-apa, bagaimana dengan kamu? " Ilham mencoba mengelus wajah Kesya yang sangat cantik itu, ini adalah kali pertama Ilham melihat wajah Kesya tanpa cadar. cadarnya entah hilang ke mana.
Kesya berusaha untuk menutupi wajahnya tapi Ilham menarik wajah Kesya kedalam pelukannya.
" Mas, tidak baik kita berlama-lama seperti ini, nanti bagaimana kalau ada setan yang menggoda kita, bisa bahaya mas" Kesya berusaha mengingatkan Ilham agar segera melepaskan dirinya dari pelukannya.
Tapi Ilham tak bergeming " Biarkan seperti ini Sebentar lagi, Mas sungguh sangat rindu padamu" ucap Ilham sambil mencium puncak kepala Kesya. Kesya memejamkan matanya. Berusaha sekuat tenaga agar tetap sadar dan tidak tergoda oleh godaan setan yang menyesatkan.
" Ayo kita ke dalam, Kamu tunggu dulu di kamar Zahra, mas coba cari pakaian buat kamu" Ilham membimbing Kesya agar tidak terjatuh. Tadi kaki Kesya kram, tapi Ilham tidak berani mau memijit takut khilaf. Jadi dia akan minta tolong tukang pijit saja yang menolong Kesya. Ilham mencari kain yang sekiranya bisa dijadikan sebagai cadar untuk menutupi wajah Kesya. Ilham tidak mau kalau ada orang lain yang melihat wajah Kesya tanpa cadar, Ilham mau, kalau hanya dia yang biasa melihat wajah calon istrinya itu. Ilham mengukir wajah Kesya dalam hatinya. wajah yang sangat cantik dan berkulit halus lembut.