
"Sejak dulu mamah tidak pernah merestui hubungan kamu dengan Elena. Dia itu bukan perempuan baik-baik, sayang!" Mamahnya Andika terus memeluk Kesya dengan penuh kasih sayang. Kesya memang selalu bersikap sopan kepada kedua orangtuanya Andika. Sayang dengan mereka. Maka tidak heran,kalau orang tua Andika sayang sekali kepadanya.
"Kamu bodoh sekali Andika! Mau menukar berlian dengan sampah!" cecar ayah Farhan sangat geram dengan perbuatan anaknya.
"Sayang, dengerin Mamah, kamu harus percaya sama mamah. Mamah akan bereskan perempuan murahan itu. Jangan pernah berpikir untuk bercerai dengan Andika. Kamu paham sayang?" mamah Andika memeluk Kesya dengan berderai air mata. Baru membayangkan akan berjauhan dengan Adrian saja sudah membuat hatinya sakit.
"Mah, Kesya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, kalau tidak ada keinginan Mas Dika sendiri untuk sama-sama bertahan. Pernikahan bukan tentang satu orang, tapi dua orang yang harus sama-sama berusaha. Kesya tidak mau berjuang sendiri, Mah!" Kesya mulai berderai. Bagaimana pun, ada rasa sakit dalam hatinya.
Dahulu Andika sampai menculik dirinya dan keluarganya, menggagalkan rencana pernikahannya dengan Ilhaam, pria yang dia cintai. Demi merebutnya dari Ilham. Sekarang Andika berbuat seperti itu, meruntuhkan semua tembok yang susah payah dia bangun. Rasanya hatinya sudah sakit dan mati rasa. Melihat dengan mata kepala sendiri, perbuatan Andika saat itu.
Setiap memejamkan mata, Kesya selalu mengingat kejadian siang itu. "Kesya tidak sanggup, Mah!" Kesya menangis dalam pelukan Mamahnya Andika.
"Papah dan Mamah yang akan mengurus pelacur itu. Percaya sama kami. Kamu Andika! Persiapkan pesawat pribadi kita, lebih baik kalian pulang ke Indonesia dahulu. Disini akan kami atur, biar lebih kondusif untuk kalian. Kalau sudah aman, baru kalian boleh kembali kesini!" Andika dari tadi hanya diam, gak bisa berkata apa-apa. Dirinya merasa salah. Daripada menambah kemarahan Kesya dan orang tuanya, lebih baik dia diam dan menuruti semua pengaturan papahnya.
"Baik, Pah. Dika akan urus semuanya!" Dika segera menelpon semua petugas yang terkait dengan keberangkatan dirinya dan Kesya ke Indonesia.
"Saya sudah membeli tiket, Mas. Saya ingin sendiri dulu. Lebih baik Mas urus saja urusan disini." Kesya bicara pelan, sudah mulai tenang.
"Gak, Mas tidak akan pernah membiarkan kamu ke Indonesia sendiri! Mas gak akan pernah rela, kamu bertemu dengan Ilham lagi!" ujar Andika dengan sorot mata tegas dan keras.
"Mas urus saja selingkuhan kamu! Kesya yakin, hubungan kalian bukan hanya satu dua kali. Kalian kemarin saja dari siang bersama, bahkan sampai jam pulang kantor, kalian masih berbuat mesum. Aku masih ingat Mas, tadi malam saat aku menelpon, kamu mendesah kenikmatan. Tanpa permisi kamu menutup telpon dariku!" Sekuat tenaga Kesya mencoba menutupi semua perasaan tapi tetap runtuh juga.
"Kamu memang laki-laki brengsek Dika! Mamah sangat kecewa sama kamu!" sekali lagi Dika kena pukul sang Mamah. Mamah seorang wanita, tentu dia paham perasaan Kesya.
"Kesya sayang, biar kamu pulang bersama Dika. Nanti keluarga kamu berpikir yang tidak-tidak. Kalau kamu pulang sendiri. Mamah sama Papah juga ga bisa ijinkan kamu pergi dengan Adrian kalau tanpa Andika bersamamu." Ucapan Mamah Andika sangat tegas, tidak bisa di tentang.
"Kalian ke Indonesia dengan pesawat pribadi kita saja. Kasihan Adrian kalau pakai pesawat biasa. Lebih nyaman menggunakan pesawat kita." Kesya akhirnya setuju, berdebat dengan mertuanya sungguh perbuatan sia-sia. Mereka tidak akan mau di bantah siapapun.
"Sudah, kalian siap-siap lah. Papah akan urus semuanya pekerjaan kamu disini." Andika lalu membawa Kesya ke kamar mereka. Saat akan merangkul pundak Kesya, Kesya menepis tangannya dan berjalan cepat ke kamar mereka.
Hal itu tidak lepas dari pandangan Mamahnya Andika. Hati wanita itu miris sekali. Dia sayang dengan Kesya. Wanita Sholehah yang hafizah dan selalu menjaga dirinya. Selama menjadi menantunya Kesya tidak banyak tingkah.
Dia pernah memberikan Black card buat Kesya. Sampai sekarang belum pernah satu kali pun digunakan oleh Kesya. Setiap di tanya, katanya gak butuh apa-apa. Semua kebutuhan sudah dicukupi Andika.
Kesya memang wanita istimewa. Kebanyakan wanita di luar sana, mengincar kekayaan keluarga mereka. Tapi Kesya seakan tidak tertarik dengan semua itu. Uang sewa apartemen yang menjadi mahar pernikahan saja, setiap bulan langsung di donasikan ke panti asuhan yang ada di Indonesia. Kesya benar-benar wanita berhati mulia. Bagaimana mungkin dirinya rela mengganti Kesya dengan Elena? Wanita yang sudah dia ketahui, hanya mengincar harta dan kemewahan.
Elena dahulu adalah mantan kekasih Andika. Wanita itu dahulu anak seorang pengusaha sukses, tapi bangkrut. Anak dan istrinya yang selalu berbelanja barang mewah, ayahnya yang memelihara gundik, keuangan perusahaan kacau balau tanpa manajemen yang benar. Lalu dinyatakan bangkrut dengan hutang ratusan triliun. Elena dulu di berikan uang 10M oleh mamahnya Andika, agar menjauh dari anaknya.
"Elene sudah bohong sama Mamah! Dia harus dikasih pelajaran. Berani sekali dia bermain dengan keluarga Abimana!" ujarnya dengan gemas, tangannya sudah mengepal. Kalau ada Elena di hadapannya, pasti sudah habis kena hajar olehnya. Papah menatap sang istri dengan intens.
"Iya, Pah! Ya sudah, Mamah ke kantor Andika dulu. Akan mamah bereskan pelacur murahan itu. Papah bicara sama Andika! Nasehatin anak kita. Biar otaknya waras sedikit!" Gemas sekali rasanya perasaan mamahnya Andika.
"Iya, Mah. Mamah urus Elena, papah urus Andika." Mereka lalu berpisah menjalankannya tugasnya.
Papah Farhan memanggil pembantu. "BI, panggil Tuan Andika ke ruang kerja sekarang!" Bibi langsung tergopoh-gopoh ke kamar utama.
tok tok
tok tok
"Tuan, dipanggil Tuan besar di ruang kerja!" hanya ada sahutan dari dalam, lalu Andika keluar dan pergi ke ruang kerjanya. Disana Papahnya sudah menunggu.
"Duduk, kamu!" masih kesal hatinya.
"Ada apa, pah?" tanya Andika ketakutan.
"Tandatangani surat perjanjian itu!" papah melemparkan surat-surat yang tadi dia persiapan saat menunggu Andika.
Andika membaca berkas yang dilemparkan oleh papahnya. "
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama: Andika Abimana
Berjanji dengan sebenarnya bahwa saya akan meninggalkan Elena dan tidak akan pernah menemui dia sampai kapanpun. Apabila saya melanggar, maka seluruh hak waris keluarga Abimana akan jatuh kepada istri sah saya yang bernama Kesya Anggraini, dan anak saya yang bernama Adrian.
Tertanda. Saksi
Andika Abimana Farhan Abimana
"Perjanjian ini gak adil, Pah! Bagaimana kalau sampai Elena hamil? Saya sudah menggauli dia selama dua bulan, selama itu tidak pernah pakai pengaman ataupun kontrasepsi." Papah Farhan sangat marah lalu langsung melempar asbak yang ada dihadapannya ke depan wajah Andika.
"Dasar laki-laki bodoh! Tolol, Kamu!" geramnya.
Andika tidak berani menatap Papahnya. Seumur-umur baru kali ini dia melihat mamah papahnya marah begitu besar. Andika sampai merinding.
"Kamu pergi ke Indonesia! Urusan disini Papah sama Mamah yang urus semuanya!"