Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
114. Rahasia besar ibunya Firman



"Aku pernah mencintai Syafa! Dia itu seorang perempuan yang lembut hatinya dan juga baik. Dan dia pintar dalam mengurus rumah tangga dan juga seorang anak." ucap Firman sambil fokus menyetir. Laila tampak memperhatikan perubahan emosi dari suaminya tersebut.


"Kau yakin nanti tidak akan menyesali apa yang sudah kau putuskan hari ini? Nanti jangan sampai kau menyesalinya dan kemudian menyalahkan aku ya! Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali tapi kau yang tidak pernah mendengarkan aku!" ucap Laila.


"Aku sudah bilang sama Kamu. Aku tidak akan pernah menyesali apa yang sudah aku lakukan. Kau bisa pegang kata-kataku ini" janji Firman.


Sementara itu, dikediamannya Syfa. Syafa sedang duduk lemas ketika menerima surat panggilan dari pengadilan mengenai gugatan perceraian dilayangkan suaminya hari ini.


"Kamu jahat! Kamu tidak menganggapku selamat bertahun-tahun melayanimu dan hidup bersama denganmu. Kau tega sekali melakukan seperti ini terhadapku, Mas! Hiks hiks!" Syafa terus menangis. Meratapi gugatan perceraian yang sudah dipastikan telah dilayangkan oleh Firman, suaminya.


"Selama ini, Aku berusaha untuk setia sama kamu. Selama ini, aku berusaha untuk memberikan cintaku kepadamu. Tapi, seperti ini balasan yang kau berikan terhadapku!" Syafa terus berharap dirinya sendiri dapat menyelesaikan apa saja yang sudah terjadi dalam hidupnya selama ini.


Syafa yang terus berusaha sekuat tenaga untuk tegar dan kuat dan berusaha untuk menghentikan air matanya. Tetapi kesedihan itu terlalu besar untuk di hapus dan air mata itu mengalir terus, tanpa bisa dia kendalikan.


"Mah! Tenanglah Rasya akan selalu bersama Mama. Mama tidak sendirian Mah." ucap Rasya dengan derai air matanya.


"Terima kasih, Nak! Kamu masih peduli terhadap Mama dan kau masih memikirkan perasaan Mamamu saat ini." ucap Syafa dengan rasa haru karena putranya yang begitu perhatian terhadap dirinya.


"Bagi Rasya, Mama adalah dunia Rasya. Rasya tidak akan membiarkan Mama hancur begitu saja gara-gara Papa yang tidak bertanggung jawab itu!" ucap Rasya dengan penuh emosi di matanya. Sehingga membuat Syafa merasa merinding karena mendapatkan begitu banyak kebencian di mata Rasya terhadap ayahnya.


"Rasya dengarkan Mama! Papamu mungkin tidak bisa memaafkan Mama, kalau kamu bersikap seperti ini. Belajarlah untuk memaafkan Papamu itu. Cinta memang tidak bisa dikendalikan untuk datang berlabuh di hati siapa. Kita manusia pada dasarnya tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Kalau kau sudah dewasa, Kau akan bisa memahami keputusan ayahmu saat ini dan keputusan Mamamu juga!" ucap Syafa sambil mengelus rambut Rasya yang kini berada di pelukannya.


Rasya sangat menyayangi Mamanya. Karena sepanjang hidupnya, hanya Mamanya yang selama ini selalu setia bersamanya. Syafa hidup hanya untuk putranya, sehingga memiliki terlalu banyak waktu untuk bersamanya.


"Rasya berharap, nanti Papa akan menyadari kesalahannya tersebut dan memohon maaf kepada Mama. Di saat itu Rasya pasti akan memberikan pukulan telak terhadap Papa yang sudah menelantarkan kita!" aroma kebencian dan rasa sedih di mata Rasya sungguh memilukan hati Syafa saat ini. Bagaimanapun dia juga tidak bisa tahan melihat putranya menyimpan kebencian terhadap ayahnya sendiri.


"Rasya dengarkan Mama! Jangan terlalu membenci sama Ayahmu. Dia, di sini juga merupakan seorang korban yang tidak bisa mengendalikan perasaan cinta yang ada di hatinya. Suatu saat kalau kau sudah dewasa, pasti kau akan mengerti sayang! Jangan terlalu membenci ayahmu, ok?" ucap Syafa lagi, dengan derai air mata.


Sementara itu di kediaman utama keluarganya Firman. Ayahnya saat ini sedang mengamuk mengetahui tentang gugatan perceraian yang sudah dilayangkan oleh Firman di pengadilan agama terhadap ibunya Rasya.


"Lihatlah! Anakmu, Mah! Dia ini betul-betul sepertinya sudah hilang akal sehingga dia tega melakukan sesuatu seperti ini. Syafa itu wanita yang sudah mendampinginya. Di saat dia sangat terpuruk gara-gara perbuatan Laila waktu itu. Anakmu benar-benar telah hilang akal!" ucapnya dengan perasaan emosi yang begitu memuncak dan rasa kecewa terhadap putranya satu-satunya.


"Setidaknya Firman gentle dan dia berani memilih salah satu. Tidak seperti papa yang serakah ingin memiliki dua orang istri dalam hidup papa!" ucap ibunya Firman lalu meninggalkan suaminya yang saat ini sedang marah-marah mendengarkan apa yang diucapkan oleh istri itu.


"Mama tidak tahu. Apa yang Papa lakukan di belakang Mama. Mungkin karena saat ini Mama malas mengurusi kehidupan Papa di luaran. Makanya Mama tidak menemukan keburukan ataupun kejelekan Papa di luar sana saat ini!" ucap ibunya Firman sambil berlalu dan pergi dari hadapan suaminya.


"Papa sudah melupakan Sintia dan juga anak yang kami miliki. Entah bagaimana sekarang kehidupannya saat ini. Tolong Mama untuk bisa berdamai dengan masa lalu Papa!" ucap suaminya.


"Oh Papa masih mengingat nama perempuan itu ya? Perempuang yang udah membuat Papa pernah hampir gila seperti Firman saat ini. Kalian juga ternyata memiliki seorang anak? Ini berita baru bagi Mama!" ayahnya Firman gelagapan seakan tertangkap basah melakukan sesuatu kesalahan oleh ibunya Firman.


"Bukankah Mama, juga tahu kalau Sintia memiliki seorang Putra? Padahal Mah, Papa tidak pernah memberikan nama keluarga kepadanya. Dia hidup tanpa seorang ayah karena Papa yang meninggalkan ibunya!" ucap ayahnya firman.


"Siapa yang tahu? Bahwa Papa benar-benar meninggalkan perempuan itu? Dan siapa yang tahu kalau Papa tidak pernah mengirimkan uang untuk perempuan itu? Pah, jangan mengira Mama ini bodoh kalau Mama tidak tahu apa saja yang Papa lakukan di belakang Mama!" sengit istrinya dengan mata penuh amarah terhadap suaminya.


"Apa Menurut Mama, Papa memang berkhianat kembali di belakang Mama? Apakah Mama mempunyai bukti yang mendukung semua tuduhan Mama itu?" Tanya suaminya dengan gelagapan melihat sang istri yang kini menatapnya dengan intens.


"Mama ini bukannya seorang perempuan yang bodoh. Mama tahu kalau selama ini Papa masih rutin mengirimkan uang terhadap wanita yang pernah membuat Papa tergila-gila terhadapnya. Bahkan hampir saja meninggalkan Mama bersama Firman. Jangan Papa pikir, Mama tidak tahu!" istrinya kemudian meninggalkan suaminya yang gelagapan.


"Apakah mama punya bukti? Jangan asal menuduh saja Mah! Itu jatuhnya adalah fitnah!" teriaknya sudah mulai tercium aroma kebohongan di raut wajah ayahnya Firman.


Sementara itu ibunya Firman kini menangis di kamarnya. Akhirnya pertahanan itu pecah juga. Setelah bertahun-tahun ditahannya dan ditutupinnya dengan senyum palsu. Tentang kebahagiaan semu yang dia ukir di dalam pernikahannya. Bersama sang suami yang ternyata hanyalah sebuah kamuflase saja terhadap publik. Tetapi sebuah kenyataan pahit yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya bersama ayahnya Firman yang sudah hampir berlalu lebih dari 50 tahun!


"Ya Allah tolong berikanlah kesabaran kepada hati hamba untuk bisa memaafkan suami hamba yang terus saja berkhianat di belakang hampa. Yang terus saja mempermainkan ikatan suci pernikahan ini. Ya Allah kuatkan hati hamba ini, ya Allah! Semoga rumah tangga Firman akan dibebaskan dari semua derita yang saat ini sedang aku alami. Biarkanlah semua ini hanya aku saja yang menanggungnya!" jerit ibunya Firman di dalam kamarnya yang sudah dia kunci dari dalam agar suaminya tersebut tidak bisa masuk ke dalamnya.


Begitu banyak rahasia yang disimpan oleh suaminya yang dia ketahui. Tetapi dia pura-pura tidak tahu, hanya untuk menjaga keutuhan rumah tangganya tetap utuh di mata publik maupun di mata kedua orang tua mereka masing-masing sewaktu mereka masih hidup.


"Sintia! Aku tidak tahu apakah aku berdosa terhadapmu atau tidak. Tapi yang aku tahu aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku bersama suamiku. Itu adalah kesalahanmu sendiri yang telah lancang masuk ke dalam pernikahan kami!" tangis ibunya Firman yang saat ini sedang mengingat kembali masa lalunya yang tidak diketahui oleh ayahnya Firman.


"Semoga kamu tenang di alam sana, Sintia dan memaafkan apa yang sudah kulakukan terhadapmu. Aku berjanji aku pasti akan mengasuh putramu dengan sebaik-baiknya!" janji ibunya Firman dengan derai air matanya.


Tampaknya wanita yang selama ini selalu bersikap anggun dan manis di depan publik itu, telah menyimpan sejuta rahasia di hatinya, yang hanya dia ketahui oleh dirinya sendiri dan juga Tuhan.


Ibunya Firman kembali menangis lagi dan menatap sebuah foto seorang remaja yang sangat tampan. "Jangan salahkan aku, kalau aku bersikap kejam terhadap ibumu. Ibumu yang sudah lancang jadi pengganggu rumah tangga aku bersama dengan suamiku!" dengan segera ibunya Firman memasukkan kembali foto pria tampan itu di dalam tasnya.


Takut kalau suaminya mengetahui tentang rahasia itu yang sudah dia sembunyikan selama puluhan tahun lamanya yaitu tentang Putra lain yang dimiliki oleh suaminya dari wanita yang bernama Sintia.