
Firman pun pergi ke meja makan di mana sisa kue yang dibawa oleh Syafa masih ada di sana. Tanpa banyak kata, Firman pun langsung membawa kue tersebut ke rumah sakit dan meminta laboratorium untuk memeriksanya.
Sambil menunggu pemeriksaan datang, Firman pun akhirnya kembali ke ruang perawatan Laila. Firman memeriksa keadaan istrinya saat ini.
"Bagaimana keadaan Laila, Mah?" tanya Firman kepada Ibu mertuanya.
"Dia masih belum siuman! Tampaknya masih dalam pengaruh obat bius!"ucap ibu mertuanya.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Laila, Firman? Kenapa tiba-tiba saja dia masuk rumah sakit?" tanya ayahnya Laila kepada Firman. Firman tampak terdiam merasa bingung untuk menjawabnya.
Mengatakan perihal racun yang diberikan oleh Syafa diapun tidak berani untuk melakukannya karena belum mempunyai bukti yang konkret tentang hal itu.
" Laila hanya salah makan saja, Pah! Dokter sudah mengobatinya kita hanya tinggal menunggu saja!" jawab Firman dengan tergagap.
" Papa berharap keadaan Laila dan bayinya baik-baik saja!" ucap ayahnya Laila.
" Amin Pah! Firman pun berharap yang sama agar mereka berdua baik-baik saja!" Firman kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan perawatan Laila.
Tidak lama kemudian, Telepon Firman berbunyi. Ternyata itu adalah dari petugas laboratorium yang memintanya untuk datang ke sana, untuk mengambil hasil tes dari kue yang dia bawa tadi.
"Pak Firman bisa anda datang ke lab? Untuk mengambil hasil pemeriksaan dari sampel yang anda bawa!" ucap petugas laboratorium yang menghubungi Firman.
"Baik, suster saya akan segera ke sana!" ucap Firman kemudian langsung menutup ponselnya. Kedua mertuanya Firman tanpa kebingungan dengan gelagat sang menantu.
"Ada apa Firman? Apakah ada hal yang penting?" tanya ibunya Laila tampak penasaran.
"Tidak papa mah! Ini hanya panggilan dari kantor saja. Firman permisi dulu ya mah!" Firman pun kemudian langsung keluar dari ruangan perawatan Laila dan menuju ke kantor laboratorium.
Firman langsung menuju loket dan mengambil hasil pemeriksaan dari sampel yang tadi dia bawa.
"Hasilnya positif ya, Pak! Bahwa kue tersebut memang mengandung racun!" ucap suster tersebut yang memberikan hasil pemeriksaan kue yang di bawa oleh Syafa.
Firman sangat marah, dia mengeram dan kemudian langsung meremas hasil pemeriksaan tersebut.
Firman tidak mendengarkan penjelasan dari suster tersebut tentang racun yang digunakan di dalam makanan yang dimakan oleh Laila.
Saat ini pikiran Firman adalah ingin segera menemui Syafa. Dan bertanya kepadanya, kenapa dia begitu tega melakukan itu.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Syafa! Kali ini sudah cukup semua kesabaranku dalam menghadapimu!" geram Firman sepanjang jalan menuju kediaman Syafa.
Sementara itu, di rumahnya Syafa tampak sangat bahagia sekali. Karena rencananya Dia pikir telah berhasil.
"Sekarang perempuan itu pasti sedang sekarat dan tidak ada yang menolongnya. Karena Mas Firman pasti sedang sibuk di kantor dan baru akan kembali nanti malam. Wanita itu sudah dipastikan akan mati bersama anaknya yang ada di dalam perutnya! Hahahaha!" Syafa tertawa dengan begitu lantang dan sangat bahagia.
"Mama kenapa senang sekali? Apakah ada kabar yang menyenangkan?" tanya Rasya ketika melihat ibunya terus tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
"Tidak apa-apa, sayang! Mama hanya merasa bahagia saja. Apakah tidak boleh?" tanya Syafa sambil memeluk Rasya yang kini duduk di sampingnya.
"Siapa sih itu orang? Bertamu tidak sopan sekali!" sambil berjalan ke arah pintu, Shafa terus menggerutu.
"Sebentar ini juga mau dibuka kan! Kenapa sih bertamu ke rumah orang lain tidak sopan sekali!" gerutu Syafa dengan amarah.
Begitu membuka pintu utama, Syafa begitu terkejut. Karena mendapatkan firman yang begitu masuk ke pintu rumahnya, langsung menyerang syafa dengan penuh emosi dan kemarahan.
"Dasar perempuan keji! Berani sekali kau berbuat hal bodoh seperti itu!" ucap Firman sambil memegang wajah Syafa hingga mendongak ke atas.
Syafa tampak meringis kesakitan karena diperlakukan seperti itu oleh Firman, laki-laki yang dia cintai.
"Ada apa denganmu, Mas! Kesetanan apa kamu?" teriak Syafa berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Firman yang sedang emosi tingkat tinggi.
"Kau sungguh seorang perempuan yang sangat keji! Sungguh sangat berani sekali kau memberikan racun kepada istri dan anakku!" ucap Firman sambil melotot ke arah syafa.
"Apa yang kamu katakan, Mas? Kenapa kau memfitnah aku untuk hal yang tidak kulakukan?" teriak Syafa yang berusaha untuk menyangkal hal yang dipertanyakan oleh firman saat ini.
Apabila Firman tidak melihat sendiri rekaman CCTV yang ada di rumahnya. Dan memeriksa kue yang dibawa tersebut, mungkin akan dengan sangat mudah bagi Syafa untuk meyakinkan Firman tentang segala alibi yang dia kemukakan atas ketidakbersahannya.
Tetapi Firman sudah menemukan semua bukti konkrit atas kejahatan yang dilakukan oleh syafa terhadap istri dan calon anaknya.
"Jangan coba-coba membodohi ku! Aku sudah melihat semuanya dan membuktikan semuanya. Kau tidak akan bisa lagi untuk mengelak dari segala tuntutan ku!" ucap Firman dengan emosi.
"Aku tidak mengerti Mas, dengan apa yang kamu katakan!" elak Syafa berusaha untuk menyangkal.
Dengan gramnya Firman kemudian melemparkan tubuh Syafa ke sofa dan kemudian dia menyalakan ponselnya. Yang dia sambungkan dengan bluetooth ke layar besar yang ada di ruang tamu tersebut.
Rasya yang mendengar keributan antara kedua orang tuanya. Akhirnya ikut ke ruang tamu dan mendengarkan apa yang sedang terjadi di sana.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa papah se marah itu terhadap mama?" tanya Rasya merasa bingung melihat situasi yang ada di rumahnya saat ini.
Begitu firman menghidupkan ponselnya dan menampilkan CCTV yang ada di dalam rumahnya, mata Syafa terbelalak seketika. Dia tidak percaya, bahwa perbuatan tadi siang kepada Laila telah diketahui oleh Firman.
Kemudian Firman jiga melemparkan hasil pemeriksaan laboratorium akan kue yang dibawa oleh Syafa, yang ternyata positif mengandung racun.
Rasya tampak terbelalak tidak percaya. Ketika mengetahui apa yang telah dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri.
"Bagaimana mungkin mama tega melakukan hal seperti itu?" ucap Rasya sambil pergi meninggalkan ibu dan juga ayahnya dengan berderai air mata.
Saat ini Rasya benar-benar sangat kecewa dengan ibunya. Yang selama ini selalu dia bangga-banggakan. Ternyata begitu tega ingin membunuh seseorang dan juga bayi yang tidak berdosa sama sekali.
"Apakah kamu sekarang puas, Mas? Karena sudah menghancurkan hati rasa putra kita?" jerit Syafa dengan histeris.
"Seharusnya kau katakan itu kepada dirimu sendiri. Sebelum kau berani melakukan sesuatu yang pada akhirnya kau sesali!" ucap Firman sambil melangkahkan kakinya keluar dari kediaman itu.
Firman membanting pintu rumah yang di tempati oleh Syafa dengan sangat keras. Untuk mengekspresikan kemarahan yang ada di dalam hatinya saat ini.