Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
42. Andika Baper



Pov Andika


Saat Kesya mandi, aku membuka ponselku. Rasanya ada yang janggal dengan pesan terakhir yang dikirimkan oleh Elena. Andika lalu menggunakan aplikasi pengembalian pesan yang sudah di hapus. Seketika, pesan-pesan yang tadi di hapus oleh Cansu kembali.


Andika tampak nyalang melihat foto-foto mesra Elena bersama laki-laki berbeda. Foto-foto itu sangat intim dan ada juga saat Elena masuk sebuah hotel bersama seorang laki-laki. Di sana ada juga rekaman pembicaraan Elena dengan laki-laki yang sangat akrab dengan Elena.


"Kamu jangan cemburu dong sayang! Semua demi rencana kita. Aku akan membuat Andika bertekuk lutut kepadaku. Sehingga dia akan memberikan apapun buat aku. Kamu lihat, orang tuanya saja sampe rela kasih 10 M cuma buat aku jauihin dia. Nanti kalau aku bisa buat dia tergila-gila kepadaku, aku bisa dapatkan semua harta Abimana yang tidak akan habis puluhan keturunan. Kita akan poya-poya setiap hari, sayang!" ucap Elena sambil mencium bibir laki-laki di sebelah nya. Yang dengan nakal menggerayangi tubuh Elena dengan bebas.


Andika tampak jijik melihat mereka berdua.


"Sayang, aku hamil anak kamu sekarang. Nanti aku akan minta Andika yang bertanggung jawab dan minta dia nikahin aku. Jadi aku bisa menendang istri Andika yang sok kecantikan itu!"


"Puaskan aku, sayang! Kamu sangat seksi sekali!" ucap laki-laki tersebut lalu adegan 21+ ditayangkan dalam video berdurasi 30 menit itu.


Andika lalu membaca chatting yang di sinyalir adalah Kesya yang mengirimkan, mungkin saat tadi dirinya tidur. Andika tersenyum membaca pesan Kesya. Seketika hatinya menghangat.


"Cinta kamu luar biasa, sayang! Aku jadi tambah mencintai kamu! Kamu gemesin deh kalau kayak gini," ucap Andika sambil senyum-senyum. Itulah yang tadi dilihat oleh Kesya saat keluar dari kamar mandi.


"Sayang, Mas cinta sama kamu! Jangan pernah tinggalkan Mas! Mas tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Maafkan kesalahan, Mas! Mas akan berusaha menjadi suami terbaik buatmu dan ayah terbaik buat anak-anak kita," ucap Andika sambil memeluk istrinya yang kini terlelap setelah pertarungan ronde kedua tadi.


Kesya yang sebenarnya pura-pura tidur, hatinya merasa tersentuh dengan ucapan suaminya.


"Aku juga cinta sama kamu, Mas! Mari kita berjuang bersama demi rumah tangga kita tetap utuh dan bahagia!" bathin Kesya sambil mengeratkan pelukannya.


Keesokan harinya, mereka harus menjemput orang tua Andika yang akan pulang dari Perancis. Setelah sebulan lamanya tinggal di sana, demi mengurus kuliah Merry. Adik angkatnya.


"Mas, kita ajak Adrian juga atau gimana ini?" tanya Kesya bingung.


"Kita ajak aja, sayang! Papah dan Mamah pasti kangen banget sama Adrian. Dua bulan gak ketemu, kan?" ucap Andika sambil mengunyah makanannya. Adrian saat ini sangat manja dengan Mamahnya.


"Mama.. Mama minum tutu!" ucap Adrian.


"Iya, sayang! Ayo kita bikin susu! Jagoan Mamah!" saat akan menggendong Adrian, tiba-tiba Andika datang dan melarang.


"Sayang, kamu lagi hamil muda, jangan angkat yang berat-berat dulu. Biar Mas yang angkat jagoan kita. Ayo sayang, sama Papah!" Andika lalu menggendong Adrian. Adrian tertawa karena Papahnya menggendong dirinya.


"Papah papah, ayo kita terbang!" ucap Adrian gemesin banget.


"Ayo kita terbang! Abang sayang, gak boleh nakal sama mamah, ya? Mamah jangan di buat sress. Mamah sebentar lagi bakal kasih adek yang cantik buat Abang." ucap Andika sambil mendudukan Adrian di kursi makan khusus balita.


"Abang, mau punya adek? Hore.. Abang au punya adek!" Adrian mencium Papahnya. Andika tertawa-tawa dengan tingkah gemesin Adrin.


'Ya Allah, jagalah selalu kebahagiaan keluarga kecil kami, kuatkan kami ya Allah!' tiba-tiba air mata menetes di kelopak mata Kesya.


"Sayang, kamu menangis?" Andika yang melihat hal itu sudah panik, dia berlari dan memeluk Kesya dengan erat.


"Gak apa-apa sayang, aku cuma bahagia lihat kalian. Semoga Allah selalu menjaga kebahagiaan keluarga kita, dijauhkan dari godaan yang menghancurkan rumah tangga kita." lirih Kesya.


"Iya, sayang! Mas akan berusaha sebisa mungkin." Andika juga menitikkan air matanya. Merasa bersalah karena sudah bodoh sekali mau terbujuk rayu oleh Elena. Yang ternyata punya niat jahat terhadap dirinya.


Andika sudah bertekad, akan semakin berusaha untuk membentengi diri hatinya agar selalu kuat.


"Cucu Oma sama Opa... dimana kamu, sayang?" tiba-tiba Mertua Kesya dan Merry sudah ada di rumah mereka.


"Kami sudah gak sabar buat bertemu dengan cucu kesayangan kami!" ucap ayah mertuanya. Lalu menggendong dan mencium Adrian yang langsung nemplok saja sama Opa nya.


"Sebentar lagi, kita akan bertambah seorang Princess di rumah kita!" ucap Andika sambil mencium perut Kesya.


"Alhamdulillah, jadi Merry bakal nambah keponakan lagi? Wih keren! Nanti biar mereka jadi pendamping pernikahan tante, ya?" tanya Merry sambil mencium keponakan tersayangnya.


"Papah, Merry juga mau cium Adrian!" Rajuk Merry sambil merebut Adrian dari Papahnya.


"Terima kasih, sayang! Kamu sudah hadirkan kebahagiaan di keluarga Abimana! Semoga Allah selalu merahmati kamu dan juga usiamu!" Mamah mertua Kesya memeluk Kesya.


"Terima kasih, Mah! Semoga kalian juga selalu bahagia, berumur panjang dan makin harmonis." Kesya berhambur ke pelukan mertuanya.


"Nanti Opa ajak Adrian jalan-jalan, ya? Opa kangen banget sayang!" akhirnya terjadi perebutan Adrian antara Merry dan Papahnya Andika.


"Papah, gimana sih, baru juga Merry gendong Adrin lima menit! Udah sana, peluk Mamah aja! Tuh kaya Andika, romantis sama Istrinya!" rajut Merry yang gak terima Adrian di rebut darinya.


"Cepat menikah makanya! Biar punya anak sendiri!" ucap Papah gemes sama kelakuan Merry.


"Mau nikah sama siapa? Pacar aja, ga punya!" rajut Merry sambil misuh misuh.


"Sama Alvian saja! Kalian cocok banget!" celetuk Mamah sambil tersenyum menggoda Merry.


"Dia mah musuh bebuyutan Merry!" rajut Merry.


"Siapa yang musuh bebuyutan kamu?" tiba-tiba dari arah teras datang Alvian dengan senyum di kulum. Ganteng sekali.


"Kok kamu udah di sini aja?" tanya Merry heran.


"Aku kan, kangen sama kucing liar, ku!" ucap Alvian sambil mengacak-acak rambut merry.


"Kebiasaan, deh!" Merry misuh misuh sambil tersipu malu. Alvian jadi tambah gemes.


"Udah, karungin aja Merry nya," goda Andika.


"Ih, Mas apaan sih? Emang aku beras?" Merry mendadak jadi manja gitu.


Alvian terlihat senang melihat kucing liarnya nampak imut dan menggemaskan begitu. Tanpa sadar membawa Merry ke dalam pelukannya.


"Oh.. sabar, bro! Dihalalkan dulu!" Kesya mengingat kan Alvian yang khilap.


"Ohh.. maaf maaf, khilap! Terbawa suasana." Alvian menjauh dari Merry.


"Siapa yang mau di halalin dia?" tanya Merry protes. Tapi pipinya merona.


"Ih, gemes!" Alvian lalu mencubit hidung Merry.


"Kebiasaan!" protes Merry sambil memukul Alvian.


"Udah, ayo kita sarapan saja!" Kesya memisahkan Merry dan Alvian yang sudah siap ribut seperti biasanya.