
Setelah Ayana meninggalkan kediamannya. Humairoh kemudian menghubungi Firman memintanya untuk bisa bertemu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Humairoh memberikan salam kepada Firman.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Firman menjawab salam yang diberikan oleh Humairoh kepadanya.
"Firman! Apakah kau ada waktu Bibi ingin bicara denganmu!" ucap Humairoh.
"Maafkan saya Bi. Untuk sementara belum bisa menemui Bibi. Saat ini saya sedang berada di rumah sakit karena mertua saya mengalami kecelakaan!" ucap Firman to the point kepada bibinya Ayana.
"Kau sekarang ada di mana? Biar Bibi menemuimu di sana!" tanya bibinya Ayana kepada Firman karena dia ingin sekali segera berbicara dengan firman agar masalah Ayana tidak semakin rumit.
Firman kemudian menyebutkan nama daerah mertuanya tampak bibinya Ayana berpikir sejenak.
"Daerah itu lumayan terpencil kalau malam ini Bibi ke situ, sepertinya tidak memungkinkan. Besok pagi Bibi akan datang ke sana. Kau berikanlah alamat lengkapnya sehingga kita bisa bertemu!" ucap bibinya Ayana menjanjikan kedatangannya untuk bertemu dengan Firman di kediaman mertuanya.
"Memangnya ada urusan apa Bi? Tumben sekali Bibi mencari saya?" Firman mulai merasa tidak enak hati dengan bibinya Ayana itu yang dulu pernah berbuat baik kepada dirinya di saat dirinya berada di saat terpuruk dalam hidupnya.
"Bibi ingin berdiskusi sedikit tentang Ayana. Apakah Kau keberatan untuk bertemu dengan Bibi?" ucap Humairoh berhati-hati karena dia tahu bahwa Ayahnya adalah sesuatu yang sensitif untuk Firman.
Firman terdiam sejenak. Dia memperhatikan ke sekeliling khawatir kalau ada Laila di sekitar situ. Karena bagaimanapun dia ingin menjaga perasaan istrinya itu ketika dia berbicara tentang perempuan lain.
"Maafkan saya BI tapi saya tidak tertarik untuk berbicara tentang Ayana!" ucap Firman sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
"Bibi tahu kalau Ayana sudah memberikan banyak masalah ke dalam hidupmu. Bibi sudah menasehatinya untuk tidak mengganggu kalian lagi. Kau bisa percaya dengan apa yang Bibi katakan!" ucap Humairoh memberikan lisensi kepada Firman bahwa Ayana tidak akan pernah mengganggu rumah tangganya lagi bersama Laila.
"Apa yang Bibi inginkan dariku?" tanya Firman.
"Bibi hanya memintamu untuk menghentikan semua boikot terhadap perusahaan Ayana." ucap Humairoh memberitahukan keinginan dan maksudnya menghubungi Firman.
Firman tampak terdiam sejenak. Dia berpikir kira-kira apa yang akan dia diberikan untuk menjawab keinginan dari Humairoh. Wanita yang pernah menolong dia. Di saat dirinya sedang terpuruk di zaman dahulu.
"Tapi perusahaan Ayana sudah masuk failed dan sebentar lagi masuk ke Bursa lelang!" ucap Firman dengan suara datar.
"Kalau begitu, biarkan Bibi yang membeli perusahaan itu. Apa kau bisa menjamin hal ini?" tanya Humairoh dengan hati-hati. Karena bagaimanapun, dia tetap menjaga perasaan Firman yang sedang memiliki masalah dengan Ayana.
"Baiklah Bi! Saya akan menelpon sekretaris Saya. Untuk membatalkan pembelian perusahaan itu. Sehingga bisa mengambil alih perusahaan itu!" ucap Firman menyetujui keinginan Humairoh.
"Baiklah Firman. Terima kasih atas kebaikan hatimu yang sudah memaafkan Ayana. Bibi akan pastikan bahwa dia tidak akan mengganggu kalian lagi!" setelah berpamitan Humairoh kemudian langsung menutup telepon tersebut dan langsung menemui Ayana hari itu juga.
"Akhirnya Firman mau melepaskan dendamnya dan mau memaafkan Ayana. Semoga ini adalah awal yang baik untuk semuanya bisa hidup bahagia!" doa Humairah ketika dia sedang menuju ke apartemen Ayana.
Humairoh tidak mengetahui bahwa saat ini suaminya sedang mengikutinya.
ketika dia pulang setelah bekerja bersama dengan Ayana Rahmat memergoki istrinya sedang mengambil mobil sport di sebuah gudang tua yang tidak terpakai di dekat rumahnya. Gudang itu tidak pernah dibuka dan juga tidak pernah dilihat oleh siapapun. Gudang itu selalu terkunci. Ternyata isinya adalah mobil milik Humairoh.
Humairoh membuka gudang itu apabila dia membutuhkan mobilnya ketika suaminya tidak ada di rumah tentu saja.
Rumah mereka memang agak jauh dari pemukiman sekitarnya. Jadi tidak ada yang curiga tentang Humairah yang saat ini menggunakan mobil sport yang sangat mewah untuk ukuran wanita hidup sederhana seperti Humairoh dan rahmat.
"Mau ke mana istriku menggunakan mobil sebagus itu? Aku baru tahu kalau dia bisa menggunakan mobil!" tanya Rahmat terus-menerus kepada dirinya sendiri.
"Kenapa jalanan ini seperti menuju apartemennya non Ayana ya?" tanya Rahmat seperti terheran. Memang dia tahu kalau Ayana dekat dengan istrinya. Tetapi dia baru tahu kalau istrinya bisa menggunakan sebuah mobil yang sangat mewah.
Rahmat kemudian menyembunyikan mobilnya ketika melihat istrinya turun dari mobil yang dia kendarai dan langsung naik ke lantai atas menuju unit milik Ayana.
"Apakah aku harus mengikutinya? Padahal kan dia hanya menemui non Ayana. Bukankah itu sesuatu yang wajar dan tidak ada yang spesial dari hal itu. Aku rasa Aku tidak perlu mengikutinya. Mungkin dia hanya sedang punya kebutuhan dengan non Ayana saja!" Rahmat akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena Percuma saja apa juga yang mau dia selidiki dari istrinya yang menemui Ayana.
"Nanti kalau dia pulang aku akan menanyakan tentang mobil yang tadi dia kendarai!" ucap Rahmat kemudian dia meninggalkan apartemen Ayana dan kembali ke rumahnya.
Akan tetapi! Tiba-tiba saja hatinya merasa penasaran tentang apa yang akan dilakukan oleh istrinya di apartemen Ayana pada jam seperti ini. Larut malam dan merupakan jam istirahat bagi istrinya.
Dengan langkah tergesa, Rahmat kemudian langsung menuju unit apartemen Ayana.
Pak Rahmat yang tahu password apartemen Ayana dia langsung memasukkan kode tersebut secara hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan tidak menimbulkan kecurigaan Ayana maupun istrinya.
Dengan mengendap-ngendap dan berhati-hati rahmat memasuki unit apartemen milik Ayana. tampaknya Ayana dan Humairoh sedang mengobrol di kamarnya Ayana Oleh karena itu mereka tidak mengetahui tentang Rahmat yang memasuki unit tersebut.
Rahmat mengendap-ngendap memasuki kediaman Ayana dan kemudian mencuri dengar percakapan antara Ayana dan juga Humairah.
"Apa Bibi yakin kalau Firman bersedia untuk menjual perusahaan keluarga kita kepada bibi?" tanya Ayana sambil menggenggam tangan Humairoh seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh bibinya.
"Benar Ayana tapi kau harus penuhi janjimu sama bibi untuk tidak mengganggu lagi rumah tangga firman dan Laila kalau tidak reputasi Bibi akan hancur di hadapan Firman!" Humairoh menekankan kembali janji yang sudah diberikan oleh Ayana terhadap dirinya.
"Iya Bi! Ayana janji! Ayana akan selalu nurutin apapun yang dikatakan oleh Bibi. Asalkan Bibi mau membantu Ayana untuk mendapatkan kembali perusahaan milik keluarga kita!" ucap Ayana sambil memeluk Humairoh dengan penuh kebahagiaan.
Rahmat saat itu sedang memperhatikan interaksi kedua perempuan itu. Keningnya mengkerut ketika mendengar Ayana mengatakan tentang "perusahaan milik keluarga kita" kepada istrinya.
"Apa maksudnya non Ayana mengatakan hal itu? Tidak mungkin kan Kalau istriku adalah bagian dari keluarga Non Ayana?" tanya Rahmat seakan tidak mempercayai apa yang dia dengarkan saat ini.
"Dari mana istriku mendapatkan uang untuk membeli perusahaan non Ayana yang sudah bangkrut?" Rahmat lagi di dalam hatinya.
"Lalu mobil siapa yang tadi dia kendarai? Kenapa dia harus menyembunyikan mobil itu di gudang tua yang tidak pernah digunakan sejak lama?" begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Rahmat saat ini tentang istrinya.