Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
151. Usaha Arman menolong ibunya



Arman memeluk tubuh ibunya yang gemetar dan ketakutan. Mata ibunya terus menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.


Ibunya Arman terus merancau kata-kata yang tidak dimengerti oleh Arman. Sehingga membuat Arman jadi merasa sangat prihatin dengan keadaan ibunya.


"Aku harus segera menghubungi Ustadz Fahri di pondok pesantren. Aku tidak bisa terus membiarkan Ibuku seperti ini. Aku harus menolong Ibu!" kemudian Arman mencari ponselnya untuk menghubungi Ustad Fahri. Agar mau mendatangi apartemennya sekarang.


Walaupun dengan perasaan ragu, tetapi Arman tetap melakukannya. Karena dia memikirkan ibunya yang dari tadi selalu saja ketakutan menatap jendela itu dengan tatapan kosong.


Arman sendiri merasakan bulu kuduknya merinding. Ketika secara tidak sengaja dia menatap ke arah jendela yang terus ditatap oleh ibunya dengan penuh ketakutan.


"Ibu tunggu Arman di sini dulu ya? Arman akan menghubungi Ustaz Fahri agar bisa membantu kita di sini!" ucap Arman sambil mendudukkan ibunya di atas sofa.


"Tidak Arman! Tolong jangan pernah kau meninggalkan ibu, kau tidak boleh pergi untuk meninggalkan ibu! Karena ibu sangat takut!" ibunya Arman memeluk tubuh Arman dengan erat. Seakan sangat ketakutan putranya itu meninggalkannya di kamar itu sendirian.


"Ibu tenang saja! Arman tidak akan meninggalkan Ibu! Arman hanya ingin menelpon Ustaz Fahri! Ibu diam ya? Supaya Arman bisa bicara dengan ustad Fahri tanpa gangguan!" ibunya Arman kemudian menuruti apa yang dikatakan oleh putranya dan dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak bersuara.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Maafkan saya Ustadz Fahri, malam-malam saya mengganggu Anda! Tapi saya benar-benar sangat membutuhkan bantuan anda saat ini!" ucap Arman langsung to the point karena dia tidak ada waktu untuk berbasa-basi saat ini.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Ada apa Arman? Kenapa kau malam-malam menelpon saya apakah ada masalah di tempatmu?" Ustad Fahri tampak terkejut mendapatkan telepon dari Arman jam 02.00 malam.


Dia sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, tetapi dia tetap menerima telepon itu. Karena dia takut bahwa orang yang menghubunginya dalam keadaan bahaya.


"Tolong datang ke apartemen saya Ustad! Saya dan ibu saya dalam bahaya saat ini tolonglah kami ustad!" Arman dengan terburu-buru Karena dia sudah sangat ketakutan melihat ibunya yang sekarang mulai berteriak histeris lagi.


"Arman kau dengarkan apa yang saya katakan sekarang kau ambil air putih dan kau bacakan al-fatihah dan juga surat an-nas. Suruh ibu untuk meminum itu. Sebentar lagi saya akan segera datang ke apartemenmu!" Ustad Fahri kemudian dia langsung menutup telepon dari Arman. Dia sangat khawatir dengan keadaan ibunya Fahri ketika mendengar jeritan ibunya Fahri yang begitu menghiris hati.


"Ada apa Abi? Apakah malam-malam kau akan pergi?" tanya istrinya Ustad Fahri melihat suaminya yang sedang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumahnya.


"Maafkan Umi, tapi Abi harus berangkat hari ini juga kasihan ibunya Arman tampaknya dia mendapatkan gangguan dari makhluk yang tak terlihat!" Siap Ustad Fahri sambil memegang kepala istrinya dan dia berpamitan untuk segera berangkat ke tempat Arman saat ini berada.


"Tapi ini sudah sangat malam Abi! Apa tidak berbahaya kalau Abi pergi ke sana?" ucap istrinya Ustad Fahri seperti keberatan suaminya pergi meninggalkannya pada malam buta semacam itu.


" Abi berangkat dulu saat ini nyawa seseorang sedang dalam bahaya Umi harus ingat di rumah Harus mengaji dan juga terus berdzikir karena Abi khawatir kalau mereka juga akan menyerang ke sini!" Ustadz Fahri berpesan kepada istrinya sebelum dia meninggalkan kediamannya.


Memang dalam menghadapi makhluk halus, kita harus waspada dan selalu mengingat kepada Allah. Tidak boleh kita lengah ataupun takut dengan mereka.


Dengan penuh keyakinan Ustaz Fahri langsung mengendarai mobilnya menuju ke apartemen Arman.


Ustad Fahri adalah sahabatnya Arman ketika dulu dia ditolong oleh Arman dalam keadaan terluka. Saat Ustadz Fahri dihajar oleh para preman yang dikirim oleh ibu tirinya yang menginginkan kematian Ustad Fahri.


Ustadz Fahri ini sebenarnya adalah anaknya orang kaya. Tetapi dia diusir oleh ibu tirinya yang jahat yang ingin menguasai harta ayahnya. Akhirnya Ustad Fahri ditolong oleh Arman dan jadilah mereka sahabat.


Fahri melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren tetapi Arman lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya dengan kuliah yang dibiayai oleh ibunya Firman.


Oleh karena itu, Fahri tidak merasa gentar untuk menolong Arman saat ini. Karena selama ini Arman sudah banyak membantu hidupnya.


Kalau tanpa Arman entah bagaimana seorang Fahri akan menjalani hidupnya saat itu.


Dua anak yang terlantar yang dibuang oleh orang tuanya. Sama-sama menguatkan satu sama lain dan akhirnya mereka membentuk rasa persaudaraan yang dibentuk daripada rasa sakit karena tidak memiliki keluarga yang utuh.


"Bagaimana keadaan ibumu Arman?" ustadz Fahri langsung bertanya ke pada Arman ketika dia sampai ke apartemen Arman.


"Ibuku sudah agak tenang Ustaz! Hanya saja dia masih terus berteriak histeris setiap dia melihat ke arah jendela itu!" ucap Arman sambil menunjuk sebuah jendela yang selalu ditatap oleh ibunya dengan penuh ketakutan.


Ustad Fahri kemudian menatap jendela yang ditunjuk oleh Arman.


"Ibumu menggantung sebuah wifik. Disana ada sebuah Wifik pengasihan dan di situlah makhluk itu bersemayam!" ucap Ustad Fahri sambil menunjuk jendela itu.


Tampak Arman kemudian mendekati jendela yang ditunjuk oleh Ustad Fahri dan dia terkejut ketika mendapatkan sebuah bungkusan berwarna putih tampak seperti kain kafan berada di jendela kamar ibunya.


"Jangan disentuh Arman! Karena itu sangat berbahaya untukmu!" tiba-tiba saja Ustad Fahri berteriak kepada Arman untuk tidak menyentuh wifik itu.


"Benda itu diberikan oleh seorang dukun dalam rangka menjadi sebuah jimat untuk pengasihan! Didalamnya ada banyak makhluk yang akan memberikan aura kecantikan bagi orang yang mau menyimpannya dan juga mau mengabdi kepadanya!" ucap Ustad Fahri menjelaskan tentang barang yang ada di jendela itu. Barang itu digantung di atas jendela. Kalau tirainy tidak dibuka, maka benda itu tidak akan terlihat.


"Lalu, Apa yang harus kita lakukan ustad? Aku tidak bisa membiarkan Ibuku terus seperti ini!" ucap Arman sambil memegang tangan ibunya yang sekarang tambah gemetar.


Ibunya Arman berteriak histeris kesakitan. Larena saat ini Ustaz Fahri sedang berusaha untuk mengusir makhluk yang ada di dalam Wifiq tersebut.


Tampak ada pertempuran sangit di antara makhluk jahat itu dengan ustad Fahri.


Terlihat Ustaz Fahri saat ini sedang duduk bersila di depan jendela itu sambil terus memejamkan matanya. Mulutnya tidak ada henti-hentinya membacakan ayat-ayat suci Alquran. Ayat-ayat yang bisa mengusir makhluk-makhluk jahat di ruangan itu.


Ibunya Arman terus berteriak-teriak merasa kepanasan. Arman terus memegangi tangan ibunya yang sejak tadi berusaha untuk menghajar Ustad Fahri yang sedang berkonsentrasi untuk bertarung melawan makhluk jahat yang saat ini sedang memberontak dan tidak mau diusir oleh Ustad Fahri dari ruangan ibunya Arman.


"Arman kau harus pastikan bahwa ibumu tidak melakukan hal yang bodoh!" tiba-tiba saja Ustad Fahri mengatakan hal itu kepada Arman.


"Apa maksudnya Ustad? Saya tidak mengerti!" ucap Arman sambil menatap Ustad Fahri yang kembali menatamkan matanya


"Mahluk jahat itu menyuruh ibumu untuk bunuh diri! Kau harus menjaga ibumu jangan sampai dia memegang benar-benar tajam!" kembali Ustad Fahri memejamkan matanya.


Sekarang fokus Ustad Fahri adalah mengusir dulu makhluk jahat yang ada di dalam Wifiq yang dipasang oleh ibunya Arman di atas jendela kamarnya.


Kemudian dia akan fokus untuk menyembuhkan ibunya Arman yang tampaknya di dalam tubuhnya ada makhluk lain yang menguasainya.


Tampak sekali ibunya Arman begitu menderita. Ketika Ustad Fahri membacakan ayat-ayat ruqyah untuk mengusir makhluk yang ada di dalam Wifik tersebut.