
Syafa dan Rasya kemudian datang ke rumah sakit bersama laki-laki yang tadi telah menabrak syafaat di restoran.
Karena dalam keadaan panik. Bahkan mereka sampai melupakan untuk saling berkenalan satu sama lain.
Ketika sampai di rumah sakit, Syafa langsung ditangani oleh dokter. Dan tadi, sebelum sampai ke rumah sakit. Laki-laki itu sempat mampir ke sebuah butik untuk membelikan pakaian baru untuk Syafa.
Syafa merasa bersyukur atas inisiatif laki-laki itu. Yang mau membelikan pakaian baru untuknya. Sehingga dia tidak merasa malu ketika berada di rumah sakit dan berhadapan dengan dokter. Karena pakaiannya tidak menerawang lagi seperti tadi.
"Ini kartu nama saya. Kalau ada apa-apa dengan nyonya. Nyonya bisa menghubungi saya di nomor ini. Saya pasti bahwa saya akan bertanggung jawab sampai anda sembuh!" ucap laki-laki itu kemudian memberikan kartu namanya kepada Syafa.
Benar sebuah ungkapan yang mengatakan butuh hanya waktu satu detik untuk membuat sebuah kesalahan.
Tetapi butuh waktu lama untuk membenarkan kesalahan tersebut atau memperbaiki kesalahan tersebut.
Oleh karena itu kita hidup di dunia ini harus selalu berusaha untuk mawas diri dan berusaha untuk meminimalkan sebuah kesalahan Kalau tidak mau repot untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Seandainya sebuah kesalahan itu ditulis dengan pinsil bisa dihapus dengan sebuah penghapus.
Apabila hidup kita semacam itu, akan jauh lebih mudah untuk memperbaiki kesalahan kita. Cukup sediakan banyak penghapus saja. Maka semuanya beres.
Tetapi kenyataan tidaklah semudah itu. Akan dibutuhkan usaha yang sangat keras untuk kita bisa memperbaiki sebuah kesalahan yang pernah kita lakukan selama hidup kita.
"Tidak perlu memanggil saya Nyonya! Tolong panggil saja saya Syafa dan ini adalah putra saya dia bernama Rasya Ardiansyah!" kemudian memperkenalkan dirinya dan juga Rasya, putranya. Kepada laki-laki yang ada di hadapannya.
"Nama saya Arman!" ucap laki-laki tersebut sambil menjabat tangan Syafa.
"Baiklah kalau begitu, Syafa dan Rasya! Saya harus segera kembali ke kantor. Karena saya tadi meninggalkan pekerjaan saya.
Arman ini adalah anak rahasia dari ayahnya Firman dia mendapatkan warisan dari ibunya Firman yang dititipkan melalui sekretarisnya.
Arman diberikan sebuah perusahaan oleh ibunya Firman. Tanpa sepengetahuan suaminya. Perusahaan itu memang sudah dirintis oleh ibunya Firman sejak lama. Keberadaan perusahaan itu tidak diketahui oleh suaminya. Yang tahu hanya sekretaris ibunya saja. Perusahaan yang memang sengaja dipersiapkan untuk Arman kalau terjadi apa-apa dengan dirinya.
Arman yang memang memiliki otak cemerlang yang diwariskan dari ayahnya. Hanya dalam waktu 2 tahun, dia telah berhasil mengembangkan perusahaan itu hingga sampai ke luar negeri.
Arman sekarang sudah tinggal bersama ibu kandungnya sendiri. Yang dia ambil dari rumah sakit jiwa. Arman kemudian mengobati ibunya secara rutin ke rumah sakit dan juga konsultasi dengan seorang psikolog sampai sekarang, kondisi ibunya sudah mulai stabil pikirannya. Sudah jarang kumat seperti dulu.
Karena sekarang Ibunya Arman sudah tinggal bersama putranya sehingga pikirannya menjadi lebih tenang dan jernih.
Setelah Arman mengambil Mobilnya di restoran. Yang tadi dia tinggalkan karena dia mengikuti mobil Syafa untuk pergi ke rumah sakit. Arman langsung kembali ke apartemen untuk menemui ibunya.
Ibunya Arman selalu dijaga oleh seorang suster. Akan tetapi, tetap saja Arman selalu merasa khawatir dengan keadaan ibunya.
Jadi di sela-sela pekerjaannya, dia selalu kembali ke apartemen untuk mengecek kondisi ibunya. Setelah mengetahui bahwa ibunya dalam keadaan baik-baik saja Arman segera kembali ke kantor.
Para rekan kerja Arman, yang tadi minta dipesankan kopi kepada dirinya. Mereka yang sudah menunggu sangat lama sekali
"Maafkan saya ya, teman-teman! Janji saya untuk mentraktir kopi buat kalian jadi gagal. Tadi terjadi kecelakaan di restoran tempat saya membeli kopi. Tanpa sengaja, saya menabrak seorang ibu-ibu. Dan kopinya tumpah semua. Jadi saya membawa ibu itu ke rumah sakit, karena kasihan kulitnya sampai melepuh!" ucap Arman memberikan penjelasan kepada teman-temannya.
"Santai saja bos! Kami tidak apa-apa! Kami semua ngerti kok, pasti Bos datang lama sekali. Pasti karena ada masalah di jalan! Eh, ternyata benar apa yang kami tebak itu!" ucap Surya sambil menepuk bahu Arman.
"Iya Bos! Kau santai saja, lah! Lagi pula kan hanya sebuah kopi lain kali masih bisa diganti kan?" ucap Doni sambil menaik turunkan alisnya, dia sedang menggoda Arman.
"Ya, sudah! Kalian kembali bekerja! Saya janji suatu saat, pasti saya akan mengganti janji saya ini. Untuk mentraktir kalian kopi!" Arman kemudian langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya. Arman kini mulai mengerjakan apa saja yang tadi ketinggalan, gara-gara insiden di restoran tersebut.
Pekerjaan yang tertunda gara-gara insiden tadi. Arman mengacak rambutnya dengan frustasi. Pekerjaan masih banyak. Kepalanya merasa pusing melihat pekerjaan yang begitu banyak. Sementara waktu tinggal sebentar lagi adalah waktu untuk pulang.
Arman tidak bisa untuk melakukan kerja lembur. Karena dia harus menjaga ibunya di rumah. Pembantu yang bekerja di rumahnya. Hanya bekerja sampai magrib begitu pula dengan suster yang menjaga ibunya.
Dengan cepat Arman berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan hari ini. Agar dia bisa pulang dengan tepat waktu.
Karena Arman paling tidak senang kalau harus meninggalkan ibunya sendiri di rumah.
Arman selalu merasa khawatir kalau penyakit ibunya kumat. Kemudian kabur dari rumah maka dia akan hidup sendirian saja di dunia.
Walaupun ibunya sakit seperti itu. Akan tetapi Arman sangat bahagia. Karena dia masih memiliki seorang ibu yang bisa dia jaga dan bisa dia sayangi.
Arman tidak pernah menginginkan untuk bertemu dengan ayahnya sendiri.
Karena dia tidak mau merusak kehidupan ayahnya saat ini. Walaupun istri ayahnya sudah meninggal. Tetapi tetap saja, Arman tidak mau mengganggu perasaan maupun kehidupan ayahnya saat ini.
Tanpa sepengetahuan Arman. Ayahnya sudah mengetahui keberadaannya dan juga ibunya. Hanya saja ayahnya tidak berani untuk menemui mereka berdua. Ayahnya terlalu pengecut untuk bisa menghadapi mereka berdua kembali.
Ayahnya Firman membantu Arman dari kejauhan. Dia memberikan banyak klien besar untuk datang ke perusahaan Arman.
Entah apa yang akan dipikirkan oleh ayahnya Firman. Kalau dia tahu bahwa perusahaan yang saat ini sedang dikelola oleh Arman adalah perusahaan yang diberikan oleh istrinya yang sudah meninggal saat ini.
Pasti ayahnya Firman akan merasa sangat bersalah terhadap istrinya tersebut. Karena sudah memberikan berjuta luka hati yang begitu dalam terhadapnya.
Tetapi istrinya itu masih memberikan berjuta kebaikan kepada wanita selingkuhannya dan juga anak hasil dari perbuatan penghianatan dirinya bersama ibunya Arman.
Ibunya Firman memang mempunyai hati seluas langit dan sedalam lautan. Walaupun hatinya sakit karena telah dikhianati oleh suaminya.
Tetapi dia tetap memperhatikan keadaan ibunya Arman dan juga Arman.
Mereka yang telah ditinggalkan oleh suaminya. Karena suaminya lebih memilih untuk bersama dengan dirinya dan meninggalkan mereka berdua.
Ibunya Firmanlah yang menjaga mereka berdua secara rahasia. melalui perantara sekretarisnya. Tanpa diketahui oleh ayahnya Firman. Maupun oleh mereka berdua yaitu Arman dan ibunya.