
" Jangan begitu! Ibu kalian saat ini sedang sedih karena Ayah kalian yang meninggal tiba-tiba. Kenapa kalian bersikap seakan menolak Ibu kalian sendiri?" tegur Agus kepada Utsman dan Hana.
" Kami tidak menolak ibu kami Kak. Hanya saja Kami merasa terkejut karena ibu yang kami ketahui tidaklah seperti dia." ucap Usman sambil menunjuk Humairoh yang mulai terisak kembali.
" Maafkan Mama sayang yang selama ini sudah menyembunyikan banyak hal kepada kalian. Sungguh! Mama tidak berniat sama sekali untuk menipu ataupun berbohong pada kalian!" ucap Humairoh berusaha untuk merangkul kedua anaknya yang selama ini dia rindukan.
" Mari kita makamkan jenazah almarhum. Jangan sampai nanti terlalu malam. Kalau sampai hujan turun akan sangat merepotkan!" ucap Ustadz yang saat ini bertugas untuk memakamkan jenazah Rahmat.
" Baik ustad. Mari kita makankan suami saya. Kebetulan kedua anak kami sudah datang dan sudah melihat keadaan ayahnya saat ini!" ucap Humairoh dengan susah payah.
Ayana terus berdiri di samping ibunya yang saat ini sedang sangat lemah dan sangat membutuhkan dukungannya.
Di antara petakziah, tampak Firman dan Laila hadir pula untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Rahmat yang dikenal sebagai suami dari Humairah.
Kebetulan hari itu Firman dan Laila sedang mengunjungi ayahnya yang saat ini sedang sakit dan sedang di rawat di rumah sakit. Dia menerima kabar dari sekretarisnya bahwa suami Humairo meninggal dunia. Sehingga mereka pun kemudian memutuskan untuk bertakziah mengucapkan bela sungkawa kepada rekan bisnisnya.
Humairoh yang melihat kedatangan Firman dia pun menyapa dengan lembut sebagai tuan rumah.
" Kami mengucapkan bela sungkawa atas kehilangan Anda. Aaya yakin bahwa almarhum pasti akan beristirahat tenang. Mengingat beliau adalah seorang pribadi yang baik dan juga ramah kepada semua orang!" ucap Firman ketika dia bersalaman dengan Humairoh.
" Terima kasih atas kedatangan kalian! Kami akan pergi ke pemakaman dulu. Kalau kalian tidak ikut ke sana. Silakan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh keluarga kami!" ucap Humairoh sambil melangkahkan kaki dan meninggalkan Firman beserta Laila.
Hana dan Usman ikut masuk ke dalam mobil yang digunakan oleh Humairoh Agus dan Ayana. Axel diasuh oleh pengasuh yang sudah disewa oleh Ayana selama mereka berada di Indonesia.
Setelah acara pemakaman selesai. Mereka pun kemudian kembali ke kediaman dan mempersiapkan acara tahlilan untuk mengirimkan doa terbaik bagi Rahmat.
Tampak Hana dan Usman seperti yang tidak kuasa melihat ayahnya yang sudah dimakamkan dan dimasukkan ke dalam liang lahat. bahkan Hana sudah pingsan kalau tidak Agus yang selalu mendampingi keduanya pasti Hana akan masuk pula ke dalam liang lahat itu saat tiba-tiba dia jatuh dan tak sadarkan diri.
Untung saja saat itu Agus berdiri di belakangnya dan langsung menangkap tubuh Hana dengan Sigap.
' Kehidupan macam apa yang kau jalani selama ini Bibi Humairah? Kenapa kau begitu tega membohongi anak dan juga suamimu. Entah apa yang ada di dalam pikiranmu sehingga kau begitu tega memberikan kehidupan palsu kepada keluargamu sendiri. Entah berapa banyak rahasia yang kau simpan di dalam mata cantikmu yang selama ini selalu teduh ketika menatap kami!' batin Agus ketika dia menggendong Hannah untuk masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir tidak tahu jauh dari area pemakaman.
Dengan telaten Agus mengurus Hana yang tidak sadarkan diri. Perasaan iba dan kasihan hadir di dalam hatinya kepada gadis tanggung yang seperti merasa sangat syok dengan kenyataan yang selama ini tidak ada di dalam kehidupan mereka.
Agus memberikan minyak kayu putih di hidung Hannah sehingga secara perlahan Gadis itu mulai membuka matanya.
" Ayahku sudah meninggal Kak. Ayahku benar-benar sudah meninggal! Hiks hiks!" Hana menangis dalam pelukan Agus. Agus yang merasa kasihan tanpa sadar langsung mengelus kepala gadis tanggung itu.
" Sabarlah Hana. Jangan lupa kau untuk selalu berdoa untuk ayahmu. Supaya dia diterima oleh Allah di sisinya dan diampuni segala dosa-dosanya!" ucap Agus dengan lembut sambil terus mengusap kepala Hana.
Ayana kemudian masuk ke dalam mobil dan melihat suaminya yang saat ini sedang menghibur Hana yang sedang bersedih karena belum bisa menerima kematian ayahnya yang tiba-tiba.
" Mas bawahan Hana rumah sakit dulu. Dia pasti sangat syok dengan kejadian ini." ucap Ayana sambil menatap lembut kepada adiknya yang baru dia lihat.
" Halo namaku Ayana. Aku adalah kakakmu!" ucap Ayana sambil menjulurkan telapak tangannya untuk bersalaman dengan Hana.
" Bagaimana caranya tiba-tiba aku sekarang mempunyai seorang kakak dan mempunyai seorang ibu yang kaya raya dengan rumah bagaikan istana?" tanya Hana dengan kebingungan.
Ayana kemudian mengambil alih Hana dari tangan Agus. Agus kemudian keluar dari mobil itu dan kembali bergabung dengan para petaziah yang sedang berdoa di makam Bersama ustad dan juga yang lainnya.
" Nanti kalau kita sudah di rumah, Kakak akan menceritakan semuanya kepadamu. Kakak juga baru tahu kalau ternyata ibumu adalah ibuku juga. Tenanglah Aku akan berusaha untuk menjadi Kakakmu yang baik dan aku akan memastikan semua kebutuhan kalian tidak akan kurang sedikitpun!" ucap Ayana dengan senyum manis yang membuat Hana menjadi nyaman berada di sampingnya.
" Apakah sekarang kau sudah kuat untuk menghadiri pemakaman ayahmu? Jangan sampai kau nanti menyesal karena tidak bisa bertemu dengan ayahmu lagi. Ayo kita kesana lagi, sebelum pemakaman ini benar-benar berakhir!" ucap Ayana mengajak Hana.
" Maafkan aku kak. Tapi aku sungguh tidak kuat untuk melihat ayah yang sekarang sudah ditutup oleh tanah. Bagiku Ayah adalah sosok yang sangat menyayangi kami berdua. Selama kami berada di pondok ayahlah yang selalu rutin menjenguk kami berdua." ucap Hana menceritakan kehidupannya ketika Ayahnya masih hidup.
" Ayahmu memang seorang pria yang baik. Selama ini dia bekerja sebagai sopirku dan aku baru tahu kalau ternyata ibumu adalah ibu kansungku sendiri. Selama lebih dari 25 tahun aku berpikir bahwa dia adalah Bibiku. Aku baru mengetahui kalau dia adalah ibu kandungku satu minggu yang lalu. Bukan hanya kau dan kakakmu yang terkejut dengan ibu kita. Selama ini dia banyak menyimpan rahasia dari kita. Aku harap kau bisa menerima kenyataan ini dan jangan terlalu menjudge ibu kita. Beliau saat ini dalam keadaan yang benar-benar sangat lemah dan membutuhkan kita untuk menguatkan dia! Apa kau mengerti apa yang kakak katakan?" tanya Ayana kepada adiknya yang tampaknya mulai tenang setelah mendengar penjelasan darinya mengenai Ibu mereka yang selama hidupnya penuh dengan rahasia kepada orang-orang terdekatnya.