Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
117. Kembali ke Dubai



Adrian, Fathu dan Kiai ilham. Mereka bertiga tampak berpelukan dan saling menangis satu sama lain. Karena akan berpisah untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Karena Adrian sudah memutuskan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke pondok dan akan melanjutkan sekolahnya di Dubai.


"Nanti kamu kalau sudah di Dubai, jangan lupa untuk sering menghubungi kami ya? Karena kami pasti akan merindukanmu Adrian!" ucap Fathu sambil terisak.


"Makanya kau ayo ikut saja denganku ke Dubai. Jangan khawatir! Nanti kedua orang tuaku semuanya yang akan memfasilitasi sekolahmu!" ucap Adrian dengan penuh semangat.


"Aku tidak bisa meninggalkan Indonesia Adrian! Karena kedua orang tuaku pasti akan sedih kalau merindukan aku. Jauh dan sulit untuk bertemu!" ucap Fathu sedih.


"Kalau kau ingin pulang ke Indonesia, tinggal katakan saja padaku. Nanti aku pasti akan mengantarmu menggunakan jet pribadi milik keluargaku. Kau tidak usah khawatir Fathu!" ucap Adrian sambil memeluk sahabatnya.


"Maafkan aku Adrian! Tapi aku tetap tidak bisa, karena aku harus memenuhi amanah kedua orang tuaku untuk melanjutkan mondok di sini untuk menjadi seorang Hafidz!" ucap Fathu sedih karena akan berpisah dengan sahabat tercinta.


"Sudah Adrian! Jngan membebani Fathu. Nanti dia jadinya kepikiran terus, omongan kamu. Oke, sekarang yang penting kalian berdua istirahat. Supaya besok ketika orang tuamu datang. Kamu jadi fresh Adrian, tidak lecek seperti sekarang!" ucap Kiai Ilham.


"Baik, Pak Kyai! Kami akan istirahat dulu. Pak Kiai juga jangan lupa untuk istirahat ya biar tidak lelah!" ucap Fathu.


Tiba-tiba saja Adrian memeluk Kiai Ilham dengan sangat erat sambil terisak, "Om Ilham, Adrian kangen sekali sama Om! Om sangat lama tidak pernah menemui Adrian. Maafkan Adrian ya, Om! Kalau selama Adrian bersama Om, pasti selalu membuat Om jengkel dan kesal. Om, Adrian sekarang mau pulang, karena Adrian sangat rindu dengan kedua orang tua Adrian. Rindu dengan Nenek dan Kakek serta adik-adiknya Adrian. Nanti kalau adik bayi yang ada di perut Tante Qonita lahir, Adrian akan datang dan kembali mondok di sini. Adrian janji, akan mengasuh adik bayi dengan baik!" janji Adrian sambil terisak sedih.


"Berarti kau akan tetap kembali ke sini, Adrian? Setelah calon istrimu lahir?" tanya Fathu gemesin.


"Calon istriku? Apa maksudmu Fathu?" tanya Adrian bingung.


"Alah, kau pura-pura lupa. Tadi kan Pak Kiai sudah bilang, kalau nanti Adik bayi di dalam perut Ibu Nyai, lahir perempuan. Maka dia akan dijodohkan denganmu. Bukankah itu artinya dia adalah calon istrimu?" tanya Fathu dengan begitu polosnya. Adian serta merta memerah pipinya karena menahan malu.


"Ah, kau ada-ada aja Fathu! Masa saya masih kecil sudah punya calon istri? Itu tidak benar kan Pak Kiai?" tanya Adrian bingung.


"Bener Adrian! Kalau nanti anak Om lahir, seoranf perempuan. Maka akan Om jodohkan dengan kamu. Jadi kamu di sana harus baik-baik tidak boleh macam-macam. Karena di sini calon istrimu sudah menunggumu!" Ucap Kyai Ilham dengan mimik wajah yang serius sehingga membuat Adrian menjadi salah tingkah.


"Eh Pak Kyai! Ada-ada saja! Masa saya masih kecil sudah punya calon istri. Masih di perut lagi!" protes Adrian tampak kesal.


"Ingat itu Adrian! Pesan dari calon Ayah mertuamu. Kau tidak boleh macam-macam di sana. Kau harus jaga dirimu karena di sini calon istrimu sudah tersedia!" ucap Fathu dengan senyum jahilnya.


"Kau bicara lagi, saya pukul kau!" ancam Adrian frustasi. Ilham hanya geleng-geleng melihat kedua bocah itu yang kini malah pada ribut, bukannya pergi tidur.


"Sudah, sudah, sudah jangan berantem lagi. Ayo tidur! Tidur! Besok kedua orang tuamu datang dan kamu belum bangun. Om tidak akan bangunkan. Biar saja, Om akan suruh orang tuamu kembali lagi ke Dubai!" ancam Kiai Ilham dengan mimik serius.


"Makanya, ayo kalian berdua cepat tidur! Supaya besok bisa bangun pagi-pagi dan tidak ketinggalan, ketika kedua orang tuamu datang!" ucap Kiai Ilham sambil mengelus rambut kedua bocah tampan itu.


Mau tidak mau, Adrian dan Fathu akhirnya menurut juga. Mereka pun kembali ke asrama mereka dan langsung pergi tidur tanpa berantem lagi.


Sementara itu, Kiai Ilham pun kembali ke kediamannya. Menemui istrinya yang sudah menunggu sejak tadi.


"Bagaimana Abi? Apakah Adrian sudah tenang sekarang? Tidak ngamuk lagi,kan? Nggak jadi minta pulang ke Dubai?" tanya Qonita merasa penasaran.


"Satu-satu dong nanyanya, sayang! Abi itu masih capek. Mereka benar-benar sangat membuat Abi kehilangan akal! Hahaha!" ucap Kiai Ilham tertawa bahagia.


"Maksud Abi apa? Umi nggak ngerti!" tanya Qonita lagi.


"Tadi Fathu sama Adrian berantem. Ya seperti biasa mereka berdua melakukan hal itu. Tapi ya, akhirnya mereka bisa ditenangkan juga!" ucap Kiai Ilham, sambil membaringkan tubuhnya di kasur. Berniat untuk istirahat karena hari sudah semakin larut malam.


Qonita masuk ke dalam pelukan suaminya dan mulai berbaring di sampingnya.


"Bagaimana dengan bayi kita hari ini, apakah dia rewel?" tanya Kiai Ilham sambil mengelus perut istrinya.


Perasaan Kyai Ilham sangat bahagia sekali. Karena akan memiliki seorang anak. Setelah sekian lama menunggu. Dulu selama empat tahun pernikahannya bersama Laila, tidak memiliki seorang anak pun.


"Dia baik-baik saja. Alhamdulillah tidak rewel dan juga tidak menyusahkan. Dia anak yang baik Abi!" ucap Qonita tersenyum.


"Syukurlah kalau seperti itu. Aby jadi tenang. Ya sudah, ayo kita tidur. Besok kemungkinan kedua orang tuanya Adrian datang pagi-pagi. Karena mereka sudah berangkat menuju Indonesia sekitar setengah jam yang lalu. Mereka akan mampir ke Pontianak dulu, mengunjungi adiknya Andika. Yang sudah lama tidak bertemu dengan mereka!" ucap Kiai Ilham.


"Abi tahu dari mana berita itu?" tanya Qonita.


"Tadi waktu Abi dalam perjalanan dari asramanya Adrian ke kediaman kita. Andika menelpon Abi lagi. Mengabarkan bahwa mereka sudah ada di perjalanan menuju Indonesia. Hanya saja, mereka akan mampir dulu ke Pontianak karena sudah merindukan Merry dan putranya!" ucapnya.


"Ya sudah kalau begitu. Nanti Umi masaknya agak siang kali ya? Untuk makan siang bersama. Palingkan mereka mungkin sampai dari Pontianak, pasti mampir ke hotel mereka dulu. Biasanya juga kan, seperti itu!" ucap Qonita. Yang disetujui oleh suaminya.


Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk istirahat. Agar besok menjadi fresh dan pikirannya menjadi tenang kembali setelah seharian beraktivitas yang sangat melelahkan.