
Sudah seminggu Kesya siuman, setelah hampir satu bulan lamanya koma. Cakra juga sudah baik kondisinya. Keluarga Abimana sudah kembali ke Dubai. Kini tersisa Andika saja. Menunggu kondisi Kesya dan Cakra membaik dan siap melakukan perjalanan udara.
Sampai saat ini Andika belum menyampaikan perihal Amanda kepada Kesya. Saat ini Amanda dan Manda di tempatkan di sebuah apartemen milik Abimana Group. Kehidupan mereka berdua di jamin oleh Papahnya Andika. Manda tidak bersedia memberikan Amanda kepada keluarga Abimana, dengan alasan bahwa hanya Amanda keluarganya. Akhirnya keluarga Andika hanya bisa memberikan dukungan materi saja. Tapi tidak memberikan nama Abimana kepada Amanda.
Keluarga Andika meminta Manda untuk menghapus nama Abimana dari nama Amanda. Baru mereka bersedia menjamin masa depan Amanda. Manda setuju dan mengganti nama Amanda menjadi Amanda Faried. Sesuai namanya belakang ayahnya Manda.
Hari itu Andika dan Kesya berjalan-jalan di taman, Kesya merasa bosan jadi minta di ajak ke taman.
"Mas, katakan saja, hal yang mengganggu pikiran kamu, jangan di pendam. Nanti malah jadi penyakit!" ucap Kesya, saat mereka berdua sudah duduk di taman rumah sakit. Cakra ikut bersama mereka, sekalian biar bisa berjemur di pagi hari.
"Mas takut, nanti kamu gak bisa memaafkan Mas! Maafkan, Mas!" ucap Andika mulai sedih lagi.
"Katakan saja, Mas! Gak apa-apa, aku siap kok!" ucap Kesya dengan senyuman yang tulus.
Keluarga Kesya sudah kembali semua. Para santri dan murid di rumah singgah tidak bisa di tinggal terlalu lama. Jadi Kesya meminta mereka untuk kembali saja. Toh dirinya sudah merasa baikan.
"Kesya, sungguh, Mas minta maaf!" Andika mencium tangan Kesya. Kesya menatap Andika dengan intens.
"Katakanlah, Mas! Aku ini istrimu. Bukankah, selama ini kita selalu mendiskusikan segalanya? Memang kapan aku gak pernah memaafkan dirimu?" Kesya mengelus pipi suaminya.
"Kamu selalu memaafkan, Mas! Mas tahu kamu istri yang luar biasa! Mas sangat bersyukur kamu menjadi istri Mas!" ucap Andika sendu. Andika bangkit dari duduknya, lalu mengambil ponselnya. Andika mencari foto Amanda. Lalu diberikan kepada Kesya.
"Dia siapa, Mas?" tanya Kesya keheranan.
"Dia anak, Mas!" ucap Andika dengan menundukkan kepalanya. Kesya tampak syock.
"Kamu pernah menikah, sebelum menikah denganku? Dari usia anak ini, tampaknya dia lebih besar dari Adrian!" analisis Kesya.
"Tidak, sayang! Kamu adalah istri pertama dan terakhir buat Mas!" jawab Andika sambil memeluk Kesya, matanya sudah berderai air mata.
"Jadi?" tanya Kesya menunggu jawaban Andika.
"Mas juga tidak ingat bagaimana hal itu terjadi. Tiba-tiba ibu anak itu datang, mengaku bahwa aku adalah ayah dari anak itu. Aku sungguh tidak mengerti!" Andika tampak frustasi.
"Kamu sudah test DNA anak itu?" tanya Kesya masih dengan suara tenang.
"Alvian sudah test dan hasilnya memang anak itu anakku, maafkan aku, sayang! Aku sungguh tidak mengerti dengan situasi ini. Sungguh tidak mengerti!" Andika menggendong Cakra yang saat ini sedang menangis, Kesya menatap suaminya yang tampak sibuk mendiamkan anak mereka.
"Apa kata wanita itu, tentang bagaimana kalian bisa memiliki anak itu?"
"Dia bilang, katanya waktu itu aku mabuk. Aku mengira kalau dia adalah Elena. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak ingat tentang wanita itu."
"Karena kamu mabuk, jadi wajar kalau tidak ingat perempuan itu," ucap Kesya pelan.
"Ya, Mas juga tidak pernah melihat perempuan itu. Baru sekitar 2 Minggu lalu. Kami bertemu di rumah sakit ini." ucap Andika, lalu menaruh Cakra kembali di kereta dorongnya.
"Apa rencana Mas sekarang?" tanya Kesya.
"Mas tadinya akan mengadopsi dia dan memberikan nama Abimana kepada Amanda, tapi ibunya tidak mau berpisah dengan anaknya. Jadi kami hanya bisa membantu secara materi saja. Menjamin masa depan anak itu. Dengan catatan, nama Abimana harus di hapus dari nama anak itu. Mas tidak mau, kedepannya akan terjadi masalah!" ucap Andika sambil memegang tangan Kesya. Kesya menatap suaminya dengan lembut.
"Mungkin, wanita itu ingin kamu menikahinya, Mas?" tanya Kesya.
"Aku gak akan pernah mau! Aku lebih baik kehilangan anak itu dan memberikan apapun yang mereka minta. Kecuali menikahinya. Aku hanya mau kamu sebagai istriku untuk selamanya!" ucap Andika yakin dan serius.
"Kamu nanti gak nyesel, Mas? Dia anak gadis yang cantik! Mamahnya pasti juga cantik!" ucap Kesya dengan senyum menggoda suaminya.
"Boleh aku bertemu dengan mereka?"tanya Kesya.
" Untuk apa?" tanya Andika mulai cemas.
"Jangan khawatir, Mas! Aku hanya ingin kenal dia lebih dekat. Bicara dari hati ke hati. Boleh?" tanya Kesya lagi. Andika hanya menggaruk tengkuknya, takut kalau Kesya nanti meninggalkan dirinya gara-gara Manda. Wanita yang tidak dia kenal.
"Kamu janji, gak bakal tinggalin aku, baru aku kasih ijin buat ketemu dia!" Andika menatap wajah Kesya dengan penuh pengharapan.
"Iya, sayang! Aku janji! Udah deh, jangan takut gitu. Aku cuma mau bicara sebentar dengan ibu dari anak gadismu!" Kesya tersenyum, mencoba menghibur suaminya yang tampak kalut.
"Baiklah, tunggu, Mas hubungi dia!" Andika lalu mencari nomor Manda yang kemarin diberikan oleh Alvian, sebelum pergi ke Pontianak.
"Hallo, Manda, bisa kamu dan Amanda datang ke rumah sakit? Istriku ingin bertemu dengan kalian! Ya, saya tunggu!" Andika lalu menutup telponnya.
"Kamu sering menghubungi dia?"tanya Kesya lagi.
" Tidak pernah, dia yang menghubungiku kalau Amanda menangis ingin bertemu denganku!" Andika menunduk, merasa ga enak dengan Kesya.
"Gak apa-apa, Mas! Aku senang kalau kamu jujur sama aku!" Andika meletakkan kepalanya dalam pangkuan Kesya. Kesya membelai lembut rambut Andika. Saat itulah, Manda datang.
Amanda langsung berlari ketika melihat Andika.
"Ayah! Amanda rindu!" Anak kecil itu langsung berlari ke pelukan Andika. Andika hanya tersenyum, melihat kedatangan mereka berdua.
"Gak apa-apa, Mas! Peluk saja! Anakmu pasti merindukan kamu! Hallo sayang, nama kamu siapa?" tanya Kesya sambil mengelus pipi Amanda yang mulus.
"Amanda Latief. Mamahku mengganti namaku kemarin!" jawab bocah itu dengan polos.
"Maafkan, kalau kamu gak nyaman dengan pertemuan kita. Ayo duduk!" Kesya menepuk samping dirinya. Andika lalu berdiri dan menggendong Cakra.
"Perkenalan, nama saya Kesya. Saya Istrinya Mas Andika!" Kesya menghulurkan tangannya, mengajak bersalaman.
"Manda!" jawab Manda pelan.
"Maafkan, boleh saya bertanya, kenapa Mba gak ijinkan keluarga Abimana untuk mengadopsi Amanda? Bukankah kalau Amanda masuk ke keluarga kami, masa depan dia akan sangat cerah!" Manda semakin menundukkan kepalanya.
"Aku gak bisa hidup tanpa Amanda?" jawab Manda lirih, sambil melirik Andika sekilas.
"Apakah, kau mencintai suamiku?" tanya Kesya sambil memperhatikan kedua orang yang duduk berjauhan tersebut.
"Ti... tidak!" jawab Manda ragu.
"Kalau Mas Dika menikahi kamu, apa kamu bersedia?" tanya Kesya tiba-tiba. Andika terkejut bukan main. Dia langsung berlari mendekati Kesya.
"Sayang?! Jangan sembarangan! Mas gak akan pernah menikahi dia! Mas cuma cinta sama kamu! Tolong jangan hukum, Mas! Mas gak akan bisa hidup tanpa kamu!" Andika sudah pias wajahnya. Manda juga sudah menitikan air mata.
"Aku cuma bertanya, Mas! Bukan bilang kalau Mas harus menikah dengan Manda!" Kesya tersenyum.
"Sayang, Mas sungguh gak mau kehilangan kamu. Mamah dan Papah sudah menyelesaikan masalah ini, kita sudah tidak ada sangkut pautnya dengan mereka lagi. Papah sudah memberikan dia apartemen, mobil juga tabungan yang banyak untuk menjamin masa depan Amanda. Kami hanya meminta syarat agar namaku tidak di cantumkan sebagai ayah Amanda. Hanya itu!" ucap Andika sangat ketakutan.
"Ya, Mas! Aku sudah tahu semua itu. Mamah kemarin sudah menjelaskan semuanya. Tenanglah?!" ucap Kesya lembut.