Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
7. Silvia Hajar



Kesya benar-benar tidak mampu menahan rasa haru di hatinya. Apa yang dilakukan Ilham benar- benar telah meluluhkan hatinya. Dengan mantap Kesya mengangguk dan menyodorkan jemarinya ke arah Ilham. Ilham Sangat senang dan segera menyematkan cincin itu di jari Kesya.


Tepuk tangan bergemuruh , semua yang hadir telah menjadi saksi cinta mereka berdua. Hanya satu orang yang tidak merasa bahagia dengan lamaran itu , Silvia Hajar. Yang Sebenarnya adalah sahabat karib Ilham sedari kecil. Sudah lama dia memendam perasaan cinta kepada Ilham, tetapi dia tidak berani mengatakan karena merasa takut dan dengan pada Abahnya Ilham yang menjadi Kiai di tempat dia mondok selama ini.


Ilham dan Kesya sangat berbahagia hari itu, setelah semua keperluan untuk acara lamaran besok lengkap, mereka langsung pulang. Ilham masih menetap di Tangerang karena menunggu waktu pernikahan yang hanya tinggal menghitung Minggu itu. Mereka sibuk menyiapkan dua pernikahan sekaligus. Pernikahan Rasyid dan Kesya.


Silvia langsung pulang ke rumahnya, dia kabur dari pondok dan kembali ke rumah mewah orang tuanya. Dia tidak tahan menetap di pondok karena tahu pria idaman hatinya tengah sibuk mengurus Pernikahan. Dia benar-benar tidak rela, harus kehilangan Ilham. Banyak rencana Jahat yang akan dia lakukan untuk dapat memisahkan Ilham dan Kesya. Hatinya masih terasa sakit melihat Ilham yang biasanya dingin terhadap wanita itu, sangat mesra dan hangat pada Kesya.


" Hanya aku yang boleh menjadi istrinya, hanya aku!!" Silvia membanting semua barang di atas nakas di samping tempat tidurnya. Belum merasa puas, dia beralih ke meja riasnya. Tidak butuh waktu lama, kamarnya sudah berubah menjadi kapal pecah, semua pecah dan berhamburan di mana-mana.


Sang mamah yang melihat anaknya mengamuk, segera menelpon suaminya, agar segera pulang. Keadaan Silvia sungguh amat mengerikan. Dia takut untuk masuk ke kamar anaknya itu. Silvia memang pernah masuk rehabilitasi karena ketergantungan narkotika, saat masuk ke pondok, dia tengah berjuang untuk lepas dari pengaruh obat-obatan terlarang.


Sudah hampir tiga tahun lalu. Tapi sepertinya obsesinya untuk memiliki Ilham belum sembuh juga, orang tuanya sangat prihatin dengan keadaan sang anak yang begitu terobsesi, tapi yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan.


Mereka pernah membujuk Ilham dan mendatangi kedua orangtuanya agar mau menerima Silvia sebagai istri dan menantu. Dijanjikan akan diberikan 50% saham di perusahan keluarga mereka, tapi Ilham tidak bergeming.


Alasannya karena Ilham hanya menganggap Silvia hanya sebagai teman gak lebih. Orang tua Ilham juga menolak karena memang memiliki janji perjodohan dengan keluarga Kesya semenjak mereka dalam kandungan dulu. Bahkan sebelum orang tua mereka menikah, janji itu sudah di buat.


Walaupun ayah Kesya sudah meninggal, tetapi Kiai Maulana tidak mau ingkar janji dengan almarhum sahabatnya itu. Itu malah semakin menguatkan niat hatinya. Karena merasa kasihan juga dengan anak-anak yatim tersebut.


Apabila sudah menjadi keluarga maka dia bisa menjaga mereka tanpa merasa sungkan atau semacamnya.


Saat ayahnya datang, dan masuk ke kamarnya. Silvia langsung menangis dan bersujud di kaki sang ayah. " Ayah harus membawa Ilham padaku. Aku gak mau tahu, Ilham harus menjadi suamiku" Silvia menangis tersedu-sedu, hingga membuat sang ayah sangat sedih Karena hal itu.


Tidak tahan melihat putri semata wayangnya yang amat disayanginya itu menangis begitu sedih.


" Apa yang harus kita lakukan? " mereka sangat bingung dengan kondisi Silvia.


Setelah mendapat suntikan obat penenang, akhirnya Silvia tertidur, pembantu segera membersikan kamarnya. Kwatir pecahan beling itu akan berbahaya bagi keselamatan anaknya. Takut dia nekat. Melihat Silvia yang histeris begitu, siapapun akan berpikir yang sama.


Orang dengan gangguan mental dengan tingkat obsesi parah itu bisa melakukan hal nekat apabila keinginan hatinya tidak tercapai, apalagi bila mendapat pukulan hebat dan patah hati . Harus dijauhkan dari benda-benda berbahaya yang mengancam nyawa.


" Ayah, sebaiknya kita datangi sekali lagi Kiai Maulana. Kita ceritakan keadaan anak kita ini. Siapa tahu beliau luluh hatinya. Ibu sungguh tidak sanggup lagi yah, melihat anak kita menderita begini" Bu Mesya menangis di pelukan sang suami. Yang juga bersedih hatinya.


Mereka hanya punya satu anak. Tetapi sang anak malah terjebak dalam cinta sepihak yang sungguh tidak bisa dicarikan solusinya. Ilham tidak bisa di bujuk rayu. kekeuh tidak mau menikahi Silvia, walaupun hanya sekedar siri, sekedar sandiwara. Tetap tidak mau.


Hilang akal sudah mereka. Saat acara lamaran Rasyid, mereka sekeluarga tidak ikut, karena sangat pusing dengan keadaan anaknya yang masih saja mengurung diri dan menangis di kamarnya.


Keluarga Silvia memang tidak dekat dengan keluarga Kesya. Tapi cukup dekat dengan keluarga Ilham. Mereka dulu bertetangga saat keluarga Ilham menetap di Tangerang.


Setelah orang tua Kiai Maulana meninggal, mereka sekeluarga boyong ke Jawa Timur dan mengelola pondok pesantren yang di tinggalkan kakeknya Ilham.


......


Sementara itu di rumah Kesya, semuanya sibuk menyiapkan acara lamaran untuk sang kakak. Kesya sendiri sibuk mengurus acara pernikahan nya dengan Ilham. Walaupun sudah diwanti-wanti untuk jangan terlalu lelah, tegap saja mereka berdua wara-wiri kesana kemari mengurus Pernikahan mereka.


Mulai ijin KUA, fitting pakaian pengantin, undangan dan dekorasi, semua mereka urus. Kedua orangtuanya sungguh tidak mampu membujuk anaknya yang amat semangat itu, terlalu tak sabar menjadikannya sebagai istri.


" Abah, apa dulu pernikahan Abah sama Umi juga karena perjodohan? " suatu senja,Ilham iseng menanyakan sejarah cinta kedua orangtuanya.


Selama ini Ilham memang tidak pernah bertanya. Karena sungkan dan malu.


" Bisalah ceritakan Abah? Kesya juga penasaran sekali" Kesya yang saat ini di pelukan sang calon ibu mertua akhirnya duduk tegak dan memfokuskan dirinya pada mereka.


Ilham yang duduk di ujung sofa hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang calon istri. Meraka tadi habis keliling mempersiapkan pernikahan mereka. saat akan pulang malah disuruh mampir dulu. jadilah sekarang Kesya duduk disana.


Keduanya tampak tersipu malu. Mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Rumah itu memang banyak kenangan saat mereka remaja dahulu. kisah cinta mereka terrekam jelas di setiap sudut ruangan.


" Rumah ini adalah saksi cinta kami berdua" Umi mulai berkisah dengan mata yang tertuju pada Kiai Maulana. Walaupun usia senja. tapi cinta tak pernah redup dimatanya keduanya. Kesya sungguh kagum sekali. Berharap kisah cintanya bersama Ilham juga seindah kisah cinta mereka berdua. Abadi dan tak lekang di makan usia.


Menua bersama dalam ikatan cinta. tidak ada impian yang lebih indah selain hidup bersama orang yang kita cintai.