
Keesokkan paginya setelah sarapan bersama, Mark menonton berita di televisi, yang saat ini sedang memberitakan tentang keberhasilan Andika Abimana yang telah membeli lahan keluarga Albert untuk dibangun rumah sakit.
Mata Mark begitu terpesona melihat Kesya yang berdiri di samping Andika dengan begitu Anggun dan sangat menawan.
" Aku tidak menyangka kalau selama ini wanita yang berada di sampingku, ternyata semuanya adalah bekas dia. Sungguh mengesalkan sekali!" ujar Mark kesal.
Elena yang berada di dapur dan sedang mempersiapkan bekal makan siang untuk keluarganya. Dia mendekati suaminya yang tampak sangat kesal melihat televisi.
" Ada apa?" tanyanya kepada Mark.
Mark hanya menunjukkan televisi melalui pandangan matanya dan Elena mengikuti pandangannya ke arah televisi yang saat ini sedang memberitakan tentang kerjasama Abimana grup dengan keluarga besar harbers dalam pembangunan rumah sakit yang akan segera dilaksanakan.
" Tampaknya mereka begitu bangga sudah berhasil membeli lahan itu. Lihat saja sayang. Aku pasti akan membuat keluarga Albert, merasa menyesal karena sudah menolak tawaran perusahaan kita!" ucap Elena dengan mata berapi-api.
Akan tetapi Mark meruwatkan keningnya melihat emosi yang ditunjukkan oleh Elena.
" Apakah kau cemburu Elena? Karena wanita yang di samping Andika saat ini bukanlah dirimu? Melainkan Kesya yang selama ini selalu kau hina?" tanya Mark penasaran.
Elena merasa bingung mendengar perkataan suaminya yang terasa janggal baginya.
" Apa maksud kamu sayang?" tanya Elena mulia gugup dan merasa tidak nyaman melihat tatapan Mark yang terasa begitu mengintimidasinya.
Mark bangkit dari duduknya kemudian Dia mendekati Elena yang masih berdiri terpaku di tempat.
" Kenapa kau tidak pernah bercerita sayang? Kalau Andika Abimana adalah mantan kekasihmu, hmmm?" tanya Mark dengan mata penuh pertanyaan.
Elena langsung mengalihkan pandangannya dia tidak kuasa menatap mata Mark yang begitu tajam seakan hendak menguliti tubuhnya yang sedang gemetar.
" Memang apa pentingnya buat aku untuk memberitahukanmu kalau dia adalah mantan kekasihku? Bagiku dia hanyalah masa laluku yang tak penting!" ucap Elena gugup.
Dengan suara gemetar dan mata yang terus mengerjap terus menerus, karena Elena sedang berusaha untuk menenangkan hatinya yang sampai saat ini sengat gelisah. Bahkan jantungnya berdebar sangat kencang karena rasa gugup yang tiba-tiba saja menyerangnya.
" Kenapa kau gugup huh?" tanya Mark mulai merasa kesal.
" Aku tidak gugup. Aku hanya terkejut saja. Kenapa kau mempermasalahkan hal seperti itu, huh? Katakan! Apakah selama ini aku mempermasalahkan mantan kekasihmu ataupun para selingkuhanmu yang ada di luar sana, huh?" tanya Elena kesal.
Mendengar perkataan Elena, Mark seketika kesulitan bernafas. Dia ketakutan kalau sampai Elena mengetahui tentang kehadiran Manda dalam hidupnya.
" Apa maksud kamu? Selingkuhanku?" tanya Mark berusaha mengkonfirmasi sejauh mana Elena mengetahui tentang hal tersebut.
Elena hanya tersenyum meremehkan Mark. Kemudian Elena pun meninggalkan Mark dalam sejuta pertanyaan di hatinya.
" Katakan padaku apa maksudmu?" tanya Mark lagi karena sangat penasaran.
Elena kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Mark dengan tatapan yang sangat tajam, setajam silet!
Mark mundur dua langkah dan menunggu jawaban dari Elena atas pertanyaan nya tadi.
" Aku sudah menghubungi semua eksekutife di perusahaan kita. Tadi malam tidak ada pertemuan bisnis apapun. Katakan padaku! Sebenarnya kau pergi ke mana tadi malam?" tanya Elena dengan tatapannya begitu menusuk jantung Mark yang limbung seketika gara-gara kata-kata Elena.
Di saat mereka sedang serius-seriusnya, tiba-tiba saja putra dan putri mereka hadir di antara mereka dan bersiap untuk pergi ke sekolahan mereka.
" Ada apa ini Mah, Pah? kenapa pagi-pagi kalian sudah bersih tegang begini?" tanya putri sulung mereka yang sudah sangat cantik dan bersiap untuk berangkat ke sekolah nya.
Martha hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua orang tuanya berperilaku aneh di pagi hari. Sementara Steven tampak cuek melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Karena baginya itu bukan urusannya.
" Kenapa kau begitu santai Steven? Kedua orang tua kita baru saja berantem, tampaknya mereka mengalami masalah yang cukup rumit untuk kali ini!" ucap Marta sambil menatap tajam kepada adiknya.
Steven hanya mengedikkan bahunya tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh Martha. Setelah selesai sarapan, Steven langsung meninggalkan mansion bersama dengan sopir pribadinya menuju ke sekolah.
Martha merasa kesal melihat kelakuan adiknya yang seperti tidak peduli dengan apapun yang terjadi terhadap keluarganya.
" Dasar orang tidak berprasaan Bagaimana mungkin dia seperti tidak peduli sekali dengan keadaan keluarga dia sendiri? Kalau sampai kedua orang tua kami bercerai, bukankah pada akhirnya, kami yang akan merasakan dampak perceraian itu?" tanya Marta benar-benar kesal.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Marta mencari kedua orang tuanya yang sekarang sedang bersiap untuk meninggalkan mansion menuju kantor mereka.
Martha melihat ada perang dingin di antara kedua orang tuanya. Tetapi dia tetap berusaha untuk dapat menekan perasaannya sendiri dan langsung keluar dari Mansion menuju sekolahan.
Sekolah Martha dan Stevan sebenarnya satu lokasi. Hanya saja Steven tidak suka kalau harus satu mobil dengan kakaknya. Karena dia tidak mau teman sekolahnya mengetahui kalau mereka adalah saudara.
Di sekolahnya, Steven adalah seorang perundung yang suka membully teman-teman sekolah dia yang dia anggap lemah dan lebih rendah di matanya. Sementara Martha adalah orang yang berdiri paling depan untuk menolak perundungan di sekolahan mereka. Jadi Steven tidak mau kalau sampai teman-temannya mengetahui tentang status Martha sebagai saudaranya.
Steven berusaha sangat keras untuk membuat hubungan keluarga antara dirinya dengan Marta tetap terjaga dengan aman.
Bahkan Steven memberikan alamat mansion yang lain ketika teman-temannya meminta untuk berkunjung ke rumahnya. Hal itu hanya untuk membuat mereka tidak mengetahui tentang Martha sebagai Kakaknya sendiri.
Begitu sampai di sekolahan Mata melihat Steven yang sedang mengganggu temannya.
" Masih pagi kalian sudah membuat keonaran di sekolah? Kalau sudah bosan untuk bersekolah, keluar saja dari sini, huh?! Jangan membuat pusing orang lain!" ucap Marta sambil menatap tajam satu persatu wajah-wajah para perundung yang selalu meresahkan warga sekolahannya.
Steven yang tidak suka memiliki urusan dengan Martha memilih untuk meninggalkan tempat kejadian walaupun teman-temannya tampak protes dan tidak terima.
" Sudahlah, Ayo kita pergi! Memangnya apa asyiknya melawan seorang perempuan sok pahlawan seperti dia?" ucap Steven sambil melirik sinis kepada Martha yang sudah menghafalkan kedua tangannya dan siap untuk menonjok mukanya.
Persaudaraan Martha dan Steven memang termasuk unik dan terbilang ekstrem. Kedua nya memiliki sifat dan pribadi yang bertolak belakang satu sama lain.
Steven lebih cenderung mengikuti sifat Mark yang suka kebebasan dan bebas dalam berekspresi dalam segala hal. Berbeda dengan Martha yang mengikuti sifat Elena, tetapi Martha hanya mengambil sifat baik dari ibunya dan berusaha untuk membuang jauh kelakuan buruk Elena yang tidak dia sukai.
Setelah melihat Steven meninggalkan anak tersebut martapun kemudian menolong anak laki-laki yang sedang meringis kesakitan setelah dihajar habis-habisan oleh Steven dan kawan-kawannya.
" Apa kau baik-baik saja? Perlukah kita pergi ke rumah sakit atau UKS?" tanya Marta kepada Ronald dengan hati-hati karena dia melihat Ronald yang masih saja meringis karena kesakitan setelah tubuhnya di hajar oleh Steven dan teman-teman dia.
Tambak Ronald melirik sekilas kepada Martha kemudian dia menggelengkan kepalanya." Aku tidak apa-apa. Besok pasti sembuh semua lukanya setelah aku istirahat di rumah. Terima kasih karena kau sudah membantuku!" ucap Ronald.
Akan tetapi Martha tidak tenang melepaskan Ronaldo begitu saja apalagi dia tadi melihat Steven yang menghajar perut Ronald dengan membabi buta.
' Benar-benar sudah kelewatan Stevan! Dasar anak bengal! Aku akan melaporkan ini kepada Papa biar dia ditegur dengan keras!' bathin Martha merasa sangat kasihan sekali kepada Ronald yang bahkan kesulitan untuk berjalan.
Akhirnya Martha memapah tubuh Ronald agar bisa kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran hari itu.
Martha melirik sinis kepada Steven yang sedang duduk tidak jauh dari Ronaldo.
" Awas kalau kau macam-macam lagi! Aku pasti akan melaporkanmu kepada ayahmu! Dasar berandal kecil!" ancan Marta dengan sengit sambil mengacungkan kepalan tangannya kepada Steven yang seperti tidak peduli dengan apa yang dia lakukan.
Marta benar-benar kesal melihat adiknya yang begitu acuh dan sangat cuek dengan apapun yang dia lakukan padanya. Sehingga Martha akhirnya kembali ke kelasnya sendiri.