
" Selamatkan anakku! Dia saat ini sedang membutuhkan darahmu. Setelah dia mengalami kecelakaan bersama dengan suami dan juga anaknya!" ucap Humairoh yang sudah mulai tenang dan bisa dikondisikan.
" Baiklah! Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga. Nanti setelah semuanya selesai, kau harus menceritakan semuanya kepadaku secara perlahan. Agar aku bisa mengerti, sebenarnya apa yang saat ini sedang terjadi!" ucap Pradipta sambil menggenggam tangan Humairoh.
Humairoh berjalan dengan tergesa sampai dia tidak melihat bahwa istri Pradipta saat ini sedang menatap mereka berdua yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju ke luar kantor.
" Dengan siapakah suamiku berjalan? Kenapa tampak begitu terburu-buru?" tanyaanya kepada dirinya sendiri.
Karena merasa penasaran, akhirnya istri Pradipta pun mengikuti sang suami yang tadi mengikuti mobil Humairoh. Karena Humairah yang sudah tidak sabar untuk membawa Pradipta ke rumah sakit. Agar Pradipta bisa mendonorkan darah bagi Ayana yang saat ini sedang berjuang dengan nyawanya.
" Sambil kita menunggu mobil ini sampai di rumah sakit. Apakah kau tidak keberatan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya? Karena sejujurnya aku saat ini benar-benar tidak mengerti dan juga bingung dengan apa yang saat ini sedang kau minta kepadaku!" ucap Pradipta.
" Apakah kau ingat tentang kejadian ketika kita berdua pergi ke Bogor?" tanya Humairoh sambil menatap Pradipta dengan lekat.
Wajah Pradipta seketika memerah ketika dia diingatkan tentang kejadian itu.
" Karena kejadian pada malam itu, aku hamil dan melahirkan seorang putri yang aku beri nama Ayana Sugandi. Dahulu karena aku yang masih sangat muda dan belum siap untuk menikah. Maka bayi itu aku berikan kepada kakakku yang kebetulan tidak memiliki seorang anak. Setelah dia menikah bertahun-tahun dengan suaminya! Saat itu aku berusaha untuk mencarimu untuk meminta pertanggungjawaban darimu. Akan tetapi aku mendapatkan kenyataan bahwa ternyata keluarga kalian sudah pindah ke luar kota dan aku menghubungi kamu beberapa kali tetapi tidak pernah berhasil!" ucap Humairoh dengan air mata yang terus mengalir di pipinya ketika dia menceritakan tentang masa lalunya yang begitu pahit.
Ketika dia harus berjuang melawan rasa malu, putus asa dan juga aib yang selamanya harus dia tanggung ketika dia hamil diluar nikah pada usianya yang masih sangat belia yaitu 16 tahun.
" Siapa yang kau katakan sebagai anakku?" tanya Pradipta merasa bingung.
" Ayana Sugandi adalah putrimu yang telah aku lahirkan pada saat aku berusia 16 tahun!" ucap Humairoh memberitahukan identitas Ayana kepada Pradipta yang seketika mencelos hatinya.
" Ayana? Apakah dia adalah istri dari Agus?" tanya Pradipta merasa terkejut mendengarkan kenyataan itu.
" Kau kenal dengan Agus?" tanya Humairah masa kaget.
" Agus adalah keponakanku. Tadi malam dia datang ke rumahku bersama dengan Ayana dan juga putranya." ucap Pradipta perlahan sambil menceritakan kedatangan Agus beserta Ayana ke kediamannya untuk makan malam bersama.
" Jadi mereka pergi untuk mengunjungimu? Mobil mereka mengalami kecelakaan tadi malam. Sebuah kecelakaan yang sangat fatal. Saat ini Agus bahkan belum sadarkan diri di ruang ICU. Ayana sampai saat ini masih berada dalam koma dan berjuang dengan maut karena dia telah kehilangan banyak darah. Sementara Baby Sister mereka sudah meninggal dan sudah dikebumikan tadi pagi di kampung halamannya. Saat ini Ayana sedang membutuhkan darahmu untuk bisa menyelamatkan nyawanya! Tolonglah aku Dipta! Aku mohon sekali ini saja. Tolong kau berikanlah darahmu untuk putriku. Dia benar-benar saat ini membutuhkan pertolongan dari kamu." Humairoh seperti sudah putus asa untuk membujuk Pradipta.
Humairoh yang saat ini benar-benar sedang drop hanya bisa terdiam ketika Pradipta memeluknya dengan begitu erat.
Mereka berdua dahulu adalah sepasang kekasih pada masa SMA. Tetapi mereka kemudian berpisah karena Pradipta yang pindah ke luar negeri bersama kedua orang tuanya yang seorang konsulat.
Pindah adalah makanan sehari-hari dan merupakan kebiasaan di keluarga Pradipta kala itu. Mengingat pekerjaan ayahnya sebagai seorang konsulat yang mengharuskan mereka untuk selalu berpindah-pindah sesuai dengan tugas yang diterima oleh sang ayah dari negara.
" Apakah kau mengatakan bahwa Axel saat ini masih koma?" tanya Pradipta benar-benar merasa khawatir dan juga terkejut.
tiba-tiba saja Pradipta merasakan hatinya bergetar ketika dia mengetahui bahwa ternyata Axel adalah benar-benar cucu kandungan nya sendiri yang terlahir dari rahim Ayana.
" Pantas saja ketika aku pertama kali bertemu dengan Ayana. Aku merasa wajahnya begitu familiar. Akan tetapi waktu itu aku sama sekali tidak berpikir bahwa dia adalah putri kita. Putri yang terlahir karena kesalahan kita berdua! Krena kecerobohanku yang telah membuahkan hasil dan juga telah membuat hidupmu pasti kacau balau." ucap Pradipta benar-benar menyesali apa yang sudah pernah terjadi di masa lalu.
Selama ini Humairoh tahu keberadaan Pradipta. Akan tetapi dia tidak pernah ada keinginan untuk mengganggu pria itu saat ini. Kalau bukan karena menyangkut dengan nyawa Ayana. Dia pun tidak akan Sudi untuk memberitahukan kepada Pradipta tentang Ayana kepadanya.
" Sudahlah Humairah. Tolong kau jangan menangis lagi. Aku berjanji bahwa aku akan memberikan darahku sebanyak apapun yang dibutuhkan oleh Ayana. Aku tidak akan membiarkan dia meninggal begitu saja tanpa mendapatkan pertolongan!" ucap pradiftah dengan tekad yang membaca bahwa dia pasti akan berusaha untuk menolong Ayana.
Walaupun baru pertama kali dia bertemu dengan Ayana. Tetapi karena wajah Ayana yang begitu mirip dengan Humairoh. Ketika masa remaja yang sempat membuatnya merasa curiga. Akan tetapi karena tidak memiliki bukti yang kuat dia pun tidak bisa bertindak ceroboh dengan mengakui ayahnya sebagai putrinya.
" Terima kasih karena kau mau menolongku untuk menyelamatkan Ayana!" Humairah dengan suara serak.
" Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Karena kau mau mengandung dan juga melahirkan putriku. Aku berharap Agus dan Axel serta Ayana berada dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Pradipta memberikan doa terbaiknya kepada Ayana dan beserta seluruh keluarganya.
" Pantas saja ketika aku menatap wajah Ayana, seperti mengingatkanku kepadamu. Ketika dia mengatakan bahwa namanya adalah Ayana Sugandi. Sebenarnya aku sudah curiga tentang dia sebagai anakku. Hanya saja aku tidak memiliki bukti. Oleh karena itu aku tidak mengatakannya kepada Ayana tentang kecurigaanku tersebut.
" Apakah kau benar-benar sudah bertemu dengan Ayana?" tanya Humairah merasa kebingungan.
"Jangan khawatir aku pasti akan menolong ayahnya dari marabahaya!" janji Pradipta kepada Humairoh yang saat ini sudah mulai tenang pikirannya. Karena mendapatkan jaminan dari Pradipta bahwa dia akan mendonorkan darah untuk Ayana.
Setelah selesai mendonorkan darahnya. Pradipta langsung menemui Humairoh dan meminta janjinya untuk mempertemukan dirinya dengan Ayana dan juga Axel serta Agus yang sekarang ditempatkan dalam satu ruangan untuk memudahkan Humairoh dalam merawat mereka bertiga yang masih dalam keadaan vegetatif.