
Syafa menatap Arman yang masih menatapnya dengan sendu. Arman masih mengharapkan jawaban untuk lamarannya saat ini dari perempuan yang telah mengambil perhatiannya selama beberapa bulan terakhir.
" Mama, tolonglah! Terimalah lamaran Om Arman sehingga kita bertiga bisa menjalani kehidupan bahagia lagi!" ucap Rasya pelan dan berusaha membujuk ibunya.
Syafa yang saat ini dalam keadaan bingung masih belum mempunyai jawaban untuk lamaran tersebut selain penolakan.
" Apa sebenarnya yang kau ragukan dariku Shafa? Aku benar-benar mencintaimu dan aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakanmu dan juga Rasya. Aku berjanji akan menganggap Rasya sebagai Putraku sendiri!" ucap Arman berusaha untuk meyakinkan Syafa untuk bersedia menerima lamarannya.
" Ayolah Mah! Terimalah lamaran Om Arman kasihan Om Arman pasti kecapean dari tadi berlutut terus!" Ucap Rasya berusaha membujuk ibunya untuk mau menerima lamaran dari Arman.
Syafa menatap kepada Arman yang saat ini masih bersimpuh di bawah kakinya sambil memegang cincin di tangannya.
" Baiklah kalau begitu aku akan menerima lamaranmu!" ucap Syafa pada akhirnya.
" Apakah kau serius?" tanya Arman dengan wajah sumringah.
Tampak Syafa menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan untuk menjawab pertanyaan dari Arman.
" Terima kasih karena kau sudah mau menerima lamaranku aku berjanji aku pasti akan membahagiakanmu dan juga Rasya!" ucap Arman dengan tersenyum bahagia menatap Syafa yang tampak berlinang air mata.
" Terima kasih syafah karena kau mau menerima Arman untuk menjadi suamimu. Papah berharap rumah tangga kalian akan bahagia selamanya." ucap ayahnya Arman menatap kepada mereka berdua.
" Arman Papah akan memberikan perusahaan untukmu Setelah kalian berdua menikah!" ucap ayahnya Arman menata putranya yang tampak terkesiap mendengarkan perkataannya.
" Aku tidak membutuhkan perusahaanmu aku bisa hidup dengan usahaku sendiri tanpa belas kasihan darimu!" ucap Arman dengan sinis menatap ayahnya.
" Papa tidak tahu kenapa kau masih belum bisa memaafkanku padahal aku sudah berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk kamu! mungkin Papa masih harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa membuatmu bisa memaafkanku! Papa tahu kalau Papa banyak salah kepadamu dan juga kepada ibumu. Tetapi semua itu adalah masa lalu yang sudah berlalu sangat lama. Apakah kita bisa hidup damai di masa saat ini?" tanya ayahnya dengan tatapan sendu dan juga kesedihan yang teramat dalam.
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada ditolak oleh anak kandungnya sendiri. Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh ayahnya Arman.
" Hidup ayah saat ini benar-benar sangat kesepian. Allah telah memberikan banyak teguran dan juga hukuman kepada ayahmu ini karena telah meninggalkan kalian! bahkan sekarang Firman sama sekali tidak mau mengenal Ayahmu lagi setelah perceraiannya dengan Syafa!" ucap ayahnya Arman dengan sedih.
" Apa maksud perkataanmu?" tanya Arman merasa terkejut.
" Apakah benar yang dikatakan oleh laki-laki itu bahwa kau adalah mantan istri dari Firman?" tanya Arman seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
" Benar mas Firman adalah mantan suamiku kami bercerai karena dia lebih memilih istri mudanya daripada kami berdua!" ucap siapa membenarkan apa yang dikatakan oleh mantan mertuanya.
" Ya Tuhan lelucon macam apakah ini?" tanya Arman kepada dirinya sendiri. Dia tampak frustasi ketika dia menemukan kenyataan tentang Syafa yang ternyata adalah mantan istri dari kakaknya sendiri.
" Kita bisa membatalkan pertunangan ini kalau kau merasa keberatan dengan statusku!" ucap Syafa berusaha untuk melepaskan kembali cincin yang baru saja disematkan oleh Arman di jari manisnya.
" Siapa yang mengatakan bahwa aku keberatan dengan pertunangan ini? Aku sama sekali tidak merasa keberatan dengan statusmu sebagai mantan istri dari kakakku! aku hanya merasa syok saja tidak lebih dari itu!" ucap Arman menatap tajam kepada Syafa yang seperti merasa tidak nyaman dengan tatapannya yang mulai berbeda.
Jujur saat ini Arman benar-benar sangat bingung untuk menanggapi semuanya. Sebuah kenyataan yang sejujurnya sangat membuat hatinya rerpukul bahwa dia harus menikahi wanita yang pernah menjadi istri dari kakaknya sendiri.
' Apakah benar aku akan sanggup untuk menikahi Shafa dan menerima Rasya sebagai anakku? Setelah aku mengetahui bahwa mereka adalah keluarga dari Firman?' batin Arman dengan penuh Dilema.
' Entah kenapa sekarang perasaanku mulai berubah setelah mengetahui kenyataan ini. Ya Tuhan apakah benar bahwa aku tidak bisa memaafkan ayahku yang telah menelantarkan Ibuku dan diriku sejak aku masih kecil?' Arman benar-benar frustasi dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
" Om Arman Bagaimanapun rasa sudah menyayangimu sebagai calon Ayahku Tolong kau tidak boleh mengecewakan ibuku dia selalu merasa sakit hati dan juga Sedih ketika menjadi istri dari ayahku. Ayahku selalu menyakiti hati ibuku karena lebih memilih istri mudanya daripada ibuku dan juga aku!" ucap Rasya dengan suara gemetar.
' Ya Tuhan anak itu sama sekali tidak berdosa dia tidak mengerti tentang masa lalu kami yang begitu pelik dan juga sangat terasa menyakitkan. rasanya tidak adil kalau aku harus membalaskan rasa sakit hatiku kepada Rasya. Dia tidak mengerti apapun dan itu sangat tidak adil untuknya!! apalagi Rasya adalah seorang anak yang baik dan dia begitu menyayangiku!' batin Arman merasa sangat sedih dengan keadaan saat ini yang jauh dari ekspektasi dirinya.
" Sudahlah kita batalkan saja pertunangan ini. Daripada Kau tampak ragu dan menderita dengan keputusan yang kau buat sendiri!" ucap Syafa sambil berusaha mengambil kembali cincin di jari manisnya dan kemudian menyerahkannya kembali kepada Arman.
" Ayo Rasya kita pulang sayang. Mama sangat capek dan ingin sekali beristirahat!" ucap syafah sambil menggenggam tangan putranya dan kemudian meninggalkan Arman dan juga mantan mertuanya yang tampak masih bengong dengan keputusannya.
" Syafa! Kenapa kau tidak memberikan aku waktu untuk memutuskan? Apakah akan melanjutkan pertunangan kita berdua ataukah akan memutuskannya?" tanya Arman dengan suara gemetar ketika dia melihat syafah yang sudah melangkahkan kakinya keluar dari restoran tersebut.
" Sudahlah kau lupakan saja masalah ini. Anggaplah seperti mimpi buruk dan sekarang kau sudah terbangun!" ucap Syafa sambil tersenyum kepada Arman yang masih tampak kebingungan dengan apa yang terjadi kepada dirinya malam ini.
" Mama Rasya benar-benar sangat sedih karena mama dan Om Arman tidak jadi menikah!" Ucap Rasya mengatakan apa yang saat ini dia rasakan kepada sang ibu.
" Maafkan Mama Rasya tapi mama tidak bisa kalau harus memaksakan sebuah hubungan yang diawali dengan keragu-raguan! tidak akan ada kebaikan di dalamnya!" ucap Syafa berusaha untuk meyakinkan putranya agar bisa melupakan impiannya untuk menjadikan Arman sebagai ayah tirinya.