
Keesokan harinya keluarga besar Kesya bertolak ke Indramayu, ingin mengunjungi pondok pesantren Kyai Hamid. Kiai Ilham dan Uminya juga turut serta ingin bersilaturahmi. Tentu saja itu tidak terlepas dari rengekan Adrian yang memaksa Om Ilham kesayangannya untuk ikut serta. 'Adrian Oh Adrian apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?' jerit hati Ilham merasa tidak nyaman.
"Om, nanti kita jalan-jalan bersama Ustazah Qonita, ya?" rengek Adrian. Fathu yang di ajak juga oleh Adrian bersama mereka tampak excited karena ini adalah pengalaman pertamanya, naik jet pribadi.
"Adrian, sebenarnya apa yang kamu mau?" tanya Fathu.
"Aku ingin Om Ilham kesayanganku menikah dengan Ustazah Qonita!" demi mendengar ucapannya, Qonita yang sedang minum, auto tersedak dan batuk-batuk.
"Adrian! Jangan jadi anak nakal!" Andika lalu menyuruh Adrian untuk duduk di dekatnya. Tapi Adrian menolak, dia masih tidak mau menyerah untuk menjodohkan Ilham dengan Qointa. Entah kenapa, Adrian begitu bersemangat.
"Sudah, Mas! Biarkan saja, namanya Anak kecil, sukanya mencari perhatian. Nanti juga lupa sendiri." Kesya memegang tangan suaminya, menatapnya dengan lembut.
"Baiklah, sayang!" Andika lalu memilih untuk bersendawa gurau bersama Cakra dan Amanda. Amanda tampak sangat bahagia, karena nanti akan bertemu dengan ibunya. Kesya sudah memberitahukan kalau Manda kini tinggal di Jakarta bersama dengan suami barunya.
"Mah, nanti kalau Amanda bertemu dengan Mamah Manda, apa Mamah Kesya sedih?" tanya gadis kecil tersebut. Kesya tersenyum sejenak. Andika menatap syahdu sang istri yang sudah menemani dirinya selama hampir 8 tahun ini.
"Tergantung!" ucap Kesya sambil tersenyum.
"Tergantung apa, Mah?" tanya Amanda dengan tatapan polosnya. Kesya memutar bola matanya, berusaha untuk menggoda gadis kecil yang sangat cantik tersebut. Ya, ada mata milik Andika di sana mata yang begitu mempesona. Mata Amanda sangat mirip dengan Andika.
"Terrgantung putri cantiknya Mama, Apakah jadi anak yang baik ataukah jadi anak yang nakal!" ucap Kesya sambil menggelitik perut Amanda yang langsung tertawa-tawa kegelian. Andika terharu melihat interaksi Kesya dan Amanda. Ilham masih menatap Kesya yang kini hanyut dalam permainan bersama Amanda dan Cakra.
"Amanda janji, akan jadi anak yang baik, Mah!" Amanda lalu mendaratkan ciumannya di pipi Kesya. Adegan itu membuat semua orang yang ada di jet pribadi itu menatap haru. Ya, mereka salut dan bangga, melihat ketegaran dan kelapangan hati seorang Kesya, karena mau menerima Amanda sebagai putrinya.
Setitik air mata menetes di kelopak mata Andika, yang merasa benar-benar terharu dan merasa benar-benar bersalah kepada Kesya. Ya, sampai saat ini, hati Andika masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya yang terlalu kelam. Bagaimana bisa seorang ayah yang tidak menyadari tentang kehadiran putrinya sendiri? Itu benar-benar sangat menyakiti dan melukai harga dirinya.
"Mas, nanti kita mampir sebentar, ya, ke Jakarta. Untuk menemui Manda. Kasihan Amanda, dia pasti sangat merindukan mamanya setelah hampir 2 tahun tidak bertemu!" Kesya membujuk Andika, tetapi Andika masih belum memberikan jawaban juga.
"Mas! Jangan kecewakan anak kita!" Kesya menatap sendu wajah suaminya yang masih sembab, Andika akhirnya mengangguk dan membuat Kesya sangat bahagia. Kesya tanpa sadar memeluk Andika.
Kesya tidak menyadari, ada hati yang saat ini terluka, melihat kedekatan dan kemesraan dirinya bersama suaminya. Ya, Ilham! Matanya masih menatap penuh kerinduan kepada Kesya. Adrian tahu, kalau Om kesayangannya masih menyimpan rasa kepada Mamahnya. Oleh karena itu, dia bersikeras untuk menjodohkan Ilham dengan Ustadzah Qonita.
Oleh sebab itu, Adrian bertekad dalam hatinya bahwa dia akan membantu Om kesayangannya tersebut, untuk bisa melupakan cinta kasihnya kepada Mamanya yang kini telah menjadi istri Papahnya. Adrian tahu, kalau Papahnya juga sangat mencintai Mamahnya
Bagaimanapun, Adrian tidak ingin keluarga kecilnya terpecah ataupun memiliki dosa kepada Ilham yang tampaknya masih sangat mencintai Mamanya hingga saat ini. Adrian lalu berlari ke arah ustazah Qonita yang sedang sibuk bermain dengan anaknya Zahra dan Rasyid.
Kiai Hamid sedari tadi memperhatikan Ilham dan Adrian, ya, ada rasa haru di hatinya. Kiai Hamid juga tahu, kisah pilu di antara mereka bertiga. Karena dahulu Kiai Hamid juga menjadi saksi sejarah perjanjian pernikahan Kesya dan Ilham, Ayahnya Ilham dan ayahnya Kesya adalah sahabat Kiai Hamid, ketika mereka sama-sama mondok di Temboro, dahulu di masa mudanya.
"Umy, bagaimana menurut Umy tentang niat Adrian yang ingin menjodohkan Ilham dengan Qonita?" tanya Kiai Hamid kepada istrinya. Istri Kiai Hamid melirik ke arah Umynya Ilham, yang kini juga sedang melihat ke arahnya.
"Bagaimana menurut Bu Nyai?" tanya istri Kiai Hamid, sambil memegang tangan Umynya Ilham.
"Nanti ketika sampai ke Indramayu, tolong antar saya untuk bertemu dengan Kedua orangtuanya Ustazah Qonita!" ucap Beliau pelan, takut Ilham mendengarkan ucapannya. Umy ingin itu akan menjadi rahasia mereka bertiga, sampai semuanya siap dan Fix. Ya, apabila Ustazah Qonita mau dan kedua orangtuanya tidak keberatan anaknya menikah dengan seorang duda tanpa anak, seperti Ilham, putranya.
"Qonita itu anak yatim piatu Umy, kami memungut dia di lampu merah sewaktu Qonita masih berusia lima tahun. Karena kami merasa kasihan, makanya kami mengangkat dia sebagai anak kami. Mendidik dia dan memperlakukan dia seperti anak kami sendiri!" ucap Umynya Zahra.
"Baguslah kalau seperti itu, jadi niat kita untuk menikahkan keduanya akan jauh lebih mudah. Sekarang, Saya ingin bertanya, apakah Bu nyai dan Pak Kyai, tidak keberatan apabila Putri kalian dipersunting oleh anak saya? Yang notabene adalah seorang duda. Walaupun setelah menikah selama beberapa tahun, tapi belum mempunyai seorang anak. Saya sendiri tidak tahu, ada masalah apa, sehingga anak saya tersebut sampai sekarang belum mempunyai seorang anak. Apakah itu karena mandul ataukah karena ada faktor lain!" ucap Umy sedih.
"Yah nanti ketika kita sudah sampai rumah kita akan bertanya kepada Qonita Apakah dia bersedia untuk dipinang oleh Kyai Ilham!" ucap Kiai Hamid.
Qonita yang kebetulan saat itu sedang melintas di samping mereka ikut menimpali percakapan mereka, "Aby, apabila Kiai Ilham, bersedia, maka saya juga akan bersedia!" jawab Qonita sambil menunjukkan kepalanya.
Sontak mereka bertiga merasa senang mendengar jawaban dari Qonita. Tanpa mereka harus repot menjelaskan apapun. Kemudian Uminya Ilham memanggil Ilham untuk datang ke tempat mereka. Mereka berunding mengenai rencana Adrian untuk menjodohkan Ilham dengan Qonita.
"Kalau Ilham, terserah Umy saja. Yang penting Umy merasa cocok dan nyaman, Ilham akan menurut!" ucap Ilham pasrah, Ilham melirik sekilas kepada Kesya, yang kini tersenyum ke arah dirinya. Hati Ilham mencelos seketika. Ketika Ilham melihat ke arah Qonita, Ilham merasa ada desir aneh di hatinya, melihat wanita Sholehah itu, yang begitu sabar dan telaten mengurus kedua anak Zahra dan Rasyid. Ya, kedua BoCil itu lebih senang bermain dengan Qonita, daripada dengan kedua orangtuanya.
Semua orang yang hadir di jet pribadi tersebut, menjadi saksi lamaran seorang Kiai muda bernama Ilhamuddin El Fahrizi terhadap seorang wanita Sholehah, seorang hafizah yang berhati lembut dan bersahaja.
Adrian bersorak kesenangan karena rencananya berhasil dengan mulus tanpa rintangan dan halangan. Sepanjang perjalanan tersebut, tidak henti-hentinya Adrian bernyanyi dan tersenyum. Bersorak bahagia. Semua orang yang hadir di sana merasa bahagia juga dengan tingkah Adrian yang konyol dan kekanakan tersebut.