
Dengan langkah lebar Firman meninggalkan kediaman Syafa. ketika hendak meninggalkan rumahnya, dilihatnya Rasya sedang duduk di depan pintu gerbang.
"Apa yang sedang kau lakukan di situ?Bukannya masuk ke dalam rumah?" tanya Firman sambil menatap putranya.
Rasya kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati sang ayah.
"Jangan melaporkan Ibuku ke polisi atas percobaan pembunuhan itu. Aku akan mebujuk Mama untuk segera menyelesaikan perceraian kalian!" Firman merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh putranya itu.
"Kenapa kau bisa berpikir, kalau kau bisa bernegosiasi denganku?" tanya Firman sambil menatap tajam ke arah rasya.
"Karena aku tahu, kalau Papa sangat menginginkan perceraian dengan Mamaku!" ucap Rasya dengan matanya yang berkilat menatap sang ayah.
Firman mendekati Rasya dan kemudian menatapnya dari atas hingga bawah.
"Entah kau mendapatkan perilaku kurang ajar ini dari mana. Tetapi Papa sangat tidak suka melihat kamu seperti ini!" ucap Firman sambil meninggalkan Rasya.
"Bagaimana dengan Mamaku? Apakah Papa akan membatalkan, niat Papa untuk melaporkan hal itu pada polisi?" tanya Rasya sambil berteriak kepada ayahnya.
"Papa akan tetap melaporkan ibumu atas percobaan Pembunuhan itu. Masalah perceraian adalah hal yang berbeda!" ucap Firman sambil menatap Rasya sejenak.
"Aku mohon pada Papa untuk tidak melaporkan hal itu ke kantor polisi. Rasya akan memastikan bahwa Mama akan menandatangani surat perceraian itu dan kalian akan resmi berpisah pada saat itu!" janji Rasya kepada Firman.
"Kau buktikanlah, apa yang kau janjikan pada Papa kamu, maka Papa akan memikirkan apa permintaanmu!" ucap Firman kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Rasya seorang diri.
Rasya termenung melihat kepergian ayahnya kemudian dia pun masuk ke dalam rumah. Dilihatnya sang Ibu kini sedang menangis tersedu-sedu di lantai rumah mereka.
"Kenapa Mama begitu ceroboh dan begitu bodoh, melakukan perbuatan bodoh seperti itu?" Tegur Rasya kepada mamahnya.
"Mama membenci perempuan itu karena dia yang sudah membuat ayahmu meninggalkan kita berdua!" ucap Syafa dengan mata berapi-api.
Rasya menatap ibunya dengan perasaan penuh dengan iba. Kemudian mendekatinya lalu mendudukkannya di atas sofa.
"Rasya menjanjikan kepada Papa bahwa Mama akan menandatangani surat perceraian itu, sehingga Papa tidak akan melaporkan Mama atas kasus percobaan pembunuhan terhadap istri beserta anaknya!" ucap Rasya sambil mengelus punggung ibunya.
Syafa menatap putranya dengan lekat, air matanya belum juga berhenti mengalir.
"Kenapa kamu begitu bodoh menjanjikan hal seperti itu Rasya? Mama tidak ingin bercerai dengan ayahmu!" ucap Syafa dengan perasaan penuh dengan sakit hati.
"Lalu apakah Mama ingin mendekam di penjara gara-gara kasus percobaan Pembunuhan itu?" tanya Rasya dengan menatap tajam sang ibu.
Syafa kini terduduk lemas mendengarkan perkataan putranya.
"Seharusnya Mama berpikir dulu sebelum melakukan hal bodoh seperti itu! Konsekuensi apa yang akan Mama terima apabila sampai gagal!" teriak Rasya kepada ibunya. Mata bocah itu mengkilat penuh dengan amarah terhadap sang ibu.
"Rasya benar-benar sangat kecewa sekali sama Mama. Bagaimana mungkin Mama tega melakukan itu kepada adik Rasya yang bahkan belum lahir ke dunia ini?" ucap Rasya dengan jengkel kemudian meninggalkan sang Ibu seorang diri di ruang tamu.
"Bagaimana mungkin kamu tega mengatakan itu Rasya? Kau menganggap bahwa anak perempuan itu adalah adikmu?" tanya Syafa sambil mengejar Rasya yang kini pergi menuju kamarnya.
"Bahkan kamu juga meninggalkan Mama, Kakekmu bahkan sekarang seakan tidak perduli lagi kepada Mama!" Syafa kini duduk lemas di lantai. Rasya kemudian mendekati sang ibu.
"Mama seharusnya berpikir sebelum melakukan hal bodoh seperti itu. Mama tidak boleh menjadi manusia yang kejam dan tidak memikirkan nyawa orang lain!" ucap Rasya benar-benar kecewa dengan sang ibu.
Syafa kini hanya bisa menangis saja, melihat putranya pun kini telah meninggalkan dia. Satu persatu orang-orang yang dulu mendukungnya, kini pergi meninggalkannya seorang diri. Dalam usahanya untuk berjuang mempertahankan rumah tangganya bersama Firman.
Rasya kini masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Dia tidak berniat sama sekali untuk menghibur sang ibu yang kini masih menangis juga di depan pintu kamarnya.
"Rasya benar-benar sangat kecewa kepada Mama. Kenapa Mama sampai tega melakukan hal bodoh seperti itu?" kembali Rasya mempertanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri.
Rasya pun sama hatinya saat ini. Dia sangat sedih melihat keadaan kedua orang tuanya. Yang sepertinya tidak bisa diselamatkan lagi ataupun disatukan lagi.
Sementara itu Firman kini sudah berada di rumah sakit. Hatinya masih gamang dan bimbang untuk melaporkan perihal usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Syafa terhadap Laila.
'Apa yang aku harus lakukan saat ini, Ya Tuhan? Kenapa semua masalah ini terus datang bertubi-tubi? Aku sungguh tidak sanggup lagi dan menjalani ini semua?' ucap Firman dalam hatinya.
Lama sekali Firman melamun saja. Dia tidak mempedulikan mertuanya saat ini, yang sedang asyik mengobrol dengan Laila.
"Ada apa dengan suamimu Laila? Sejak tadi diperhatikan dia selalu saja melamun. Apakah kalian sedang bermasalah?" tanya ibunya Laila kepada Laila.
Laila hanya menggeleng saja, karena dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Firman saat ini.
"Nanti aku akan tanyakan kepada mas Firman. Biarkan saja dia merenung dulu, Mah! Mungkin ada masalah yang sedang dia pikirkan!" ucap Laila kepada ibunya.
"Ya sudah Mama pulang dulu ya? Kasihan Papamu di rumah sendirian. Kan di sini sudah ada suamimu!" ucap ibunya Laila kemudian bersiap untuk pergi dari rumah sakit.
Sementara itu, Firman masih juga asyik dengan pikirannya sendiri dan tidak melihat ataupun menyadari bahwa mertuanya kini sudah meninggalkan rumah sakit.
"Mas Firman! Apakah kau sedang ada masalah? Kenapa dari tadi kau melamun terus?" tanya Laila kepada Firman.
"Mas tidak apa-apa. Mas hanya pusing dengan beberapa masalah di kantor. Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?" dusta firman kepada Laila.
Saat ini Firman sangat galau dan dilema. Firman merasa bingung antara menceritakan kepada Laila ataukah tidak. Masalah tentang rencana Syafa yang telah berusaha untuk membunuh Laila.
"Katakanlah kepadaku Mas, kalau kau sedang memiliki masalah!" ucap Laila berusaha membujuk sang suami untuk menceritakan pikirannya saat ini.
Firman menarik nafasnya dalam-dalam kemudian melepaskannya begitu saja.
"Syafa yang memberikan racun kepadamu, dia berniat untuk membunuhmu dan anak kita!" ucap Firman dengan lesu.
Laila menatap sang suami dengan tajam. Laila tengah berusaha mencari kejujuran di sana. Dan berusaha menyelami perasaannya sendiri saat ini.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap Syafa?" tanya Laila sambil menatap Firman.
"Mas berencana akan segera melaporkan Syafa ke kantor polisi. Tetapi Mas ingin mendengarkan pendapatmu." ucap Firman kemudian menatap Laila dengan sangat lekat.