
Untung saja Firman membawa semua kartu-kartu miliknya, sehingga dia bisa menarik uang dan juga membeli beberapa kebutuhan mereka selama dalam perjalanan dan tinggal di Jawa Timur nanti.
"Kamu hubungin dulu, ayah dan ibumu. Biar mereka tidak kaget dengan kehadiran kita?!" ucap firman dan dituruti oleh Laila. Laila langsung menghubungi kedua orang tuanya di Jawa Timur. Mengabarkan tentang rencana kedatangannya bersama sang suami.
"Mah, ini Laila! Laila sekarang dalam perjalanan ke rumah. Mama di mana sekarang?" tanya Laila.
"Rumah mana, Laila?" tanya Ibunya Laila di sebrang sana.
"Rumah kita dong, Mah! Laila dan Mas Firman dalam perjalanan ke Jawa Timur. Saat ini kami sudah ke luar dari Jakarta." ucap Laila, sambil mengelus perutnya yang masih rata itu. Firman juga melakukan hal yang sama.
"Kamu naik mobil? Kenapa tidak naik pesawat saja? Biar cepat dan tidak melelahkan!" tanya ibunya Laila.
"Laila nggak mau naik pesawat, Mah! Laila maunya naik mobil! Biar bisa nikmati perjalanan Ini bersama suamiku. Sekalian kan, hitung-hitung, anggap aja sebagai travelling. Ah, pokoknya menyenangkan! Mah, jangan protes! Ini keinginan Cucu Mamah!" ucap Laila bermanja.
"Cucu? Apa yang kau bilang? Jadi, Laila, kau sudah hamil? Alhamdulillah! Akhirnya! Mama sama Papa, akan juga punya cucu. Ya sudah! Laila, kamu lebih baik pulang lagi aja ke rumah. Jangan melakukan perjalanan jauh. Itu sangat bahaya bagi kehamilan muda. Udah! Cepat kamu kembali lagi aja ke Jakarta. Nanti kami yang akan datang ke sana untuk menjenguk kalian. Ok?" ujar ibunya Laila.
"Baiklah, Mah!" ucap Laila, lalu menutup panggilan telepon.
"Ada apa, sayang?" tanya Firman.
Laila menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan dengan kasar, sehingga membuat Firman jadi khawatir.
"Ada apa Sayang? Kamu jangan bikin Mas jadi khawatir seperti ini. Katalan! Apakah ada masalah sama kedua orang tuamu? Kok kamu tampaknya kesusahan begitu?" tanya Firman.
"Mama bilang, kita kembali lagi aja ke Jakarta. Katanya Mamahku, sangat berbahaya kalau kandungan masih muda, melakukan perjalanan jauh. Nanti mereka yang akan datang ke sini untuk jenguk kita! Gak apa-apa, kan?" tanya Laila, takut Firman keberatan.
"Ya nggak apa-apa, dong! Masa Mas keberatan? Kan orang tuamu, orang tuaku juga! Aku malah senang, kalau mereka kesini. Kamu jadi ada temannya. Mas kan selalu di kantor kalau siang. Kamu pasti bosan dan kesal kalau sendirian terus. Betul, kan?" tanya Firman.
"Ya udah, yuk! Kita balik lagi aja ke rumah!" ucap Laila.
"Sayang! Kita nginep dulu di hotel terdekat ya? Mas rasanya capek sekali, seharian ini menyetir mobil. Ini juga sudah malam, sebaiknya, besok kita lanjut lagi aja. Ya? Kita nginep dulu aja, di kota ini. Sebentar! Sambil nunggu pagi, oke?" pinta Firman.
Setelah mendapatkan sebuah kamar, Laila dan Firman kemudian beristirahat di sana. Karena sangat lelah sekali, setelah melakukan perjalanan seharian menggunakan mobil. Mereka juga tadi lupa tidak makan siang.
Semua gara-gara Laila, yang sejak tadi siang selalu saja ngambek, uring-uringan nggak jelas. Sehingga mereka berdua malah tidak ingat kalau perut sudah lapar.
Setelah keduanya mandi dan membersihkan diri. Firman berbaring sebentar di ranjang. Ingin meluruskan pinggangnya yang seakan mau patah. Karena seharian duduk di kursi mobil dan menyetir.
"Apa mau aku pikirin, Mas?" tanya Laila sambil mendekati suaminya, yang tampak kesulitan berbaring.
"Nggak usah, sayang! Kamu juga kan pasti lelah juga. Ya udah! Kamu berbaringlah dulu. Nanti kita pesan makanan saja dan minta agar dibawa ke kamar. Karena Mas rasanya malas sekali untuk pergi keluar. Pinggang Mas, sakit sekali ini. Mas ingin tidur dulu, meluruskan pinggang, biar lebih enakan!" ucap Firman. Laila hanya menurut saja.
Mereka berdua kemudian tidur, sampai lupa tidak makan malam. Karena saking lelahnya tubuh mereka berdua. Seharian di mobil dan seharian tidak makan.
Sementara itu, ponselnya Firman seharian ini, terus saja bergetar. Tetapi tidak juga diangkat oleh Firman. Karena Firman yang sedang fokus untuk menerangkan Laila, yang seharian ini, ngambek nggak jelas. Karena pengaruh hormon kehamilannya. Telepon tersebut berasal dari Shafa yang saat ini, sedang berada di rumah yang ditempati oleh Laila dan firman. Bersama dengan Rasya dan kedua orang tuanya Firman.
Tadi mereka berempat langsung datang ke rumah itu. Begitu sampai dari bandara. Karena mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dan berbicara dengan Firman. Tetapi, ternyata, begitu sampai di sana, rumah terlihat sangat sepi. Bahkan lampu-lampu tidak ada yang menyala. Bahkan, Firman ditelepon berkali-kali sampai ratusan kali, tidak diangkat juga. Sehingga membuat Syafa begitu frustasi dan kesal dengan suaminya itu.
"Pah, Mah! Kita ke rumahnya, Syafa aja ya! Kayaknya Mas Firman nggak ada deh. Dia diteleponin juga nggak mau diangkat-angkat dari tadi. Tuh lihat, satupun nggak ada yang diangkat! Bahkan pesan saja, belum dibaca sama sekali. Mungkin dia lagi sibuk atau gimana gitu ya? Ayo kita ke rumahnya Syafa aja, biar kita bisa istirahat di sana! Papa sama Mama pasti capek kan? Setelah melakukan perjalanan sangat panjang ini!" ucap Syafa meyakinkan mertuanya agar ke rumahnya saja.
"Tidak usah Syafa! Biar kami pulang ke rumah kami saja. Kan jaraknya juga tidak jauh dari sini. Jaraknya kan tidak jauh. Akan lebih nyaman kalau kamu tidur di sana. Udah, sebaiknya kamu kembali saja ke rumahmu. Nanti kami akan ke sana naik taksi!" ucap ayahnya Firman.
" Jangan naik taksi Pah! Biar diantar saja, sama sopir! Ini sudah malam loh, kalau naik taksi, takutnya kenapa-napa. Ayo Syafa antar saja, Mah, Pah! Rasya! Ayo kita pulang, Sayang!" Syafa membangunkan Rasya yang tertidur di kursi depan yang ada di rumahnya Firman dan Laila.
Mereka berempat pun, akhirnya pergi dari rumah itu. Syafa mengantarkan kedua mertuanya ke rumah milik mereka sendiri. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman mereka berdua. Setelah itu, Syafa kembali ke rumahnya sendiri dan beristirahat di sana.
"Ke mana sebenarnya Mas Firman ini? Kenapa seharian teleponnya tidak aktif sama sekali. Ditelepon juga nggak mau diangkat. Pergi ke mana sebenarnya dia ini?" tanya Syafa sangat khawatir dan juga penasaran.
"Apa mereka pergi ke luar kota? Atau gimana, ya?" tanyanya lagi. "Ah, aku lupa! Kenapa aku tidak menelpon sekretaris atau asistennya saja?" akhirnya Syafa pun menelpon mereka berdua. Tetapi mereka juga tidak tahu. Seharian mereka juga berusaha menghubungi Firman tidak di angkat juga.