
"Mas ke kantor dulu!" ucap Firman sambil mencium bibir istrinya yang tercinta. Laila hanya menggaruk malas. Saat Firman pergi ke kantor, atau saat dia berada di rumah istri pertamanya, adalah saat yang paling di sukai oleh Laila. Dirinya merasa bebas dari nafsu sang suami yang seakan tidak ada puasnya.
"Dahulu saat aku menikah dengan Mas Ilham, aku menginginkan hal ini sampai ngambek segala. Sekarang sama Allah di kasih suami seperti Mas Firman, entah kenapa hatiku malah merindukan saat-saat tenang ketika menikah bersama dengan Mas Ilham!" ucap Laila sambil menatap bunga mawar yang sedang mekar di taman.
"Biasanya jam segini, Mas Ilham sedang mengajar para santri. Apa yang sedang dia lakukan sekarang, ya?" Laila sungguh merasa bingung sendiri. Kehidupan dirinya saat ini adalah impiannya saat menikah dengan Ilham. Entah kenapa, hatinya saat ini sama sekali tidak bahagia.
Tiba-tiba terdengar suara ponselnya, Laila beranjak dan mengangkat panggilan dari Firman. "Ya, Mas, ada apa?" tanya Laila malas. "Cepatlah bersiap! Kita akan bulan madu ke Maldives!" ucap Firman dari sebrang sana.
"Tidak usah bercanda, Mas!" cicit Laila tidak percaya.
"Mas gak bercanda, sayang! Mas udah beli tiketnya tadi malam! Ayo bersiap! ? Mas akan jemput kamu dua jam lagi! Karena Mas harus membuat alasan untuk bisa pergi nanti kepada Syafa!" ucap Firman dengan bahagia.
"Serah, lah!" ucap Laila kesal. Tingkah Firman yang seakan tidak mempedulikan perasaan istri pertamanya, mengganggu pikiran Laila, bagaimanapun, dirinya juga seorang wanita. sedikit banyak, paham perasaan di khianati oleh orang yang kita cintai.
Cinta? Kalau Laila ditanyakan apakah dia mencintai Firman. Pasti jawabannya adalah tidak! Kalau bukan karena Firman yang memiliki foto dan video mesumnya, Laila pasti saat ini memilih untuk pergi meninggalkan Firman. Berkali-kali, Laila berusaha membuka ponselnya, selalu gagal. Laila tidak bisa menebak password ponsel milik firman. Laila masih asyik melamun di teras rumah.
Sementara itu, Firman sedang bermain silat lidah bersama istrinya yang pertama, Syafa Marwah! "Papa gak pergi lama, ko! Cuma satu minggu saja! Perusahaan yang di Amerika sedang krisis, membutuhkan bantuan Papa!" Syafa yang selalu percaya terhadap suaminya, hanya bisa merajut manja, keberatan dengan kepergian sang suami.
"Aku ikut, ya? Kan aku lama juga, gak mengunjungi Papa sama Mamamu di Amerika!" ucap Syafa bergelayut manja di lengan Firman. Firman sedang sibuk mengepak kebutuhan dirinya. Sementara Syafa sibuk mengejar Firman agar mengijinkan ikut juga.
"Gak bisa, sayang! Pesawat sebentar lagi sudah mau lepas landas! Gak ada waktu untuk melakukan pemesanan tiket lagi! Udah, kamu doakan Mas selamat dalam perjalanan saja! Mas pergi, ya?" Firman lalu mencium kening istrinya lalu pergi begitu saja dengan mobilnya.
"Aku antar kamu, Mas!" Syafa mengejar suaminya, tetapi Firman sudah pergi jauh. Syafa hanya menatap nyalang kepergian suaminya tersebut.
"Semoga kamu selamat sampai tujuan, Mas!" doa Syafa.
"Papah kemana, Pah?" tanya Rasya keluar dari kamar.
"Mau ke Amerika katanya. Perusahaan di sana sedang ada krisis, jadi butuh Papa untuk menyelesaikan!" ucap Syafa.
"Mamah percaya?" tanya putranya yang kini sudah berusia 10 tahun. Seusia dengan Adrian dan Fathu.
Rasya ini yang nantinya akan menjadi musuhnya Adrian ketika mereka sudah dewasa. Memperebutkan cinta Asyifa Latief. Putrinya Kiai Ilham, seorang gadis bengal yang sukanya memberikan masalah kepada kedua orangtuanya. Gadis bengal yang tidak suka tinggal di pondok pesantren, padahal ayahnya adalah seorang Kiai dan ibunya seorang hafizah.
Kita kembali lagi ke cerita di novel ini. Syafa menatap putranya yang kini duduk di depan televisi. Sudah satu jam sejak kepergian sang suami.
"Kalau Mama tidak percaya dengan Papa kamu. Lalu, siapa yang harus Mama percaya, sayang?" tanya Syafa sambil mengelus rambut putranya.
"Setidaknya, Mama menelpon Oma sama Oppa. Apakah benar, Papa pergi ke Amerika?" Syafa terdiam sejenak. Lalu dia mencari ponselnya. Berniat untuk menelpon mertuanya. Tetapi ketika di cari-cari, nomor mertuanya sudah tidak ada sama sekali di ponselnya.
"Kenapa, Mah?" tanyanya.
"Ko, nomornya Opa sama Oma kamu. Gak ada, ya?" ucap Syafa, masih berusaha mencari, tapi benar-benar gak ada.
"Mama lupa kasih nama mungkin!" ucap Rasya.
"Gak mungkin! Mama ingat, ko! Mama kasih nama Oma dan Oppa!" ucap Syafa lalu terus menatap ponselnya tidak berdaya. "Coba cari di ponsel kamu?" ucap Syafa.
"Rasya memang ga pernah punya nomor Oma sama Oppa! Kan Mama yang larang Rasya, buat jangan terlalu sering ganggu mereka." Syafa terduduk lemas. Merasa bingung dengan ponselnya.
"Apa ada yang hapus nomor mereka di hape Mama?" tanya Rasya mulai menatap sang Mama.
"Ponselnya kan di kasih password! Mana ada yang bisa buka ponsel Mama!" ucap Syafa yakin.
"Papa gimana, Mah?" tanya Rasya. Syafa terdiam sejenak.
"Papamu juga gak tahu password ponsel Mama!" ucap Syafa yakin. Padahal Firman tahu password ponselnya, hanya saja Firman memang pura-pura tidak tahu.
Firman memang yang sudah menghapus nomor kedua orangtuanya, itu untuk mencegah barangkali istrinya nanti menelpon mereka. Bisa kacau semua rencana honey moon dirinya dengan Laila. Kalau Syafa mengkonfirmasi kepergiannya ke Amerika kepada kedua orangtuanya.
Sementara itu, Laila yang malah ketiduran di teras, sontak membuat Firman geleng-geleng. "Sayang, ko malah tidur?" Firman membangunkan istrinya.
"Ah, kamu sudah datang, Mas?" tanya Laila masih ngantuk.
"Ayo, pesawat kita sebentar lagi berangkat!" Firman kemudian menyuruh Laila untuk mandi, dia memasukan pakaian Laila ke koper dan memastikan semua kebutuhan Laila tercukupi selama acara honey moon mereka berdua.
"Cepatlah, sayang!" Firman memberikan pakaian untuk Laila dan memintanya segera bergegas.
Setelah siap, mereka lalu berangkat ke bandara dengan Taksi. Firman tidak mau ambil resiko dengan meminta sopir untuk mengantar kepergian dirinya.
"Kamu ini, hampir saja membuat kita gagal terbang!" Firman lalu menggandeng tangan Laila untuk masuk ke bandara. Tanpa mereka berdua ketahui, dalam jarak 10 meter, Syafa melihat kepergian mereka berdua dengan nyalang. Matanya memerah, melihat suaminya menggandeng mesra seorang wanita yang sangat cantik.
"Siapa wanita itu?" tanya Syafa sejenak. Berusaha mengingat, barangkali dirinya pernah melihat wanita yang masuk ke dalam pesawat menuju Maldives. Hati Syafa sudah terhiris sembilu. Untung saja, Rasya tidak melihat ayahnya menggandeng seorang wanita.
"Entah apa yang akan di pikirkan oleh Rasya, kalau melihat kelakuan ayahnya!" Syafa menatap nyalang pesawat yang sudah terbang tinggi. Membawa serta impian dan harapan dirinya yang terbang dan pergi jauh.