
Setelah percakapan panjang lebar antara Agus dan Firman. Firman pun berpamitan kepada Agus karena dia harus kembali ke kantor miliknya.
" Aku berharap kelak perusahaan kita akan mempunyai kerjasama yang bagus. Sehingga membuat perusahaan kita semakin berjaya!" ucap Firman menyampaikan harapannya kepada Agus yang langsung ditanggapi positif olehnya.
" Tentu saja aku akan menunggu kerjasama di antara dua perusahaan kita. Firman, kau tinggal kirimkan teammu untuk mengajukan proyek kepada kami. Kami pasti akan senang untuk meninjaunya!" ucap Agus ketika dia mengantarkan Firman sampai ke lobby perusahaannya.
" Pasti, pasti! Ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu ya? Kalau kau bertemu lagi dengan istrimu. Pastikan dia akan menyesal karena telah meninggalkanmu!" ucap firman mewanti-wanti kepada Agus sebelum dia berpisah dengan sahabatnya.
" Sebentar lagi perusahaan ayahku ini akan merayakan anniversary yang ke-50. Pastikan kau datang untuk merayakannya bersamaku!" ucap Agus sebelum Firman pergi.
" Kau antarkan saja undangannya ke kantorku. Aku pasti akan menyempatkan diri untuk hadir bersama dengan istri dan putriku!" ucap Firman sambil tersenyum kepada Agus dan akhirnya dia pun benar-benar meninggalkan perusahaan itu dan kembali ke perusahaannya sendiri.
Agus langsung kembali ke ruangannya. Namun langkah Agus terhenti. Ketika dia melihat Ayana yang tampak akan menuju ke ruangannya yang berada di lantai khusus para eksekutif di perusahaan milik ayahnya.
" Ada urusan apa Ayana datang ke perusahaan ini?" tanya Agus sambil mengurutkan keningnya.
Ketika Agus melihat asisten ayahnya melintas di hadapannya. Dia pun langsung memanggil pria paruh baya itu untuk mendekatinya.
" Ada apa Tuan Muda?" tanyanya.
" Sekarang juga kau masuk ke ruangan Ayahku dan temui tamu yang saat ini sedang berada di sana. Tanyakan apa keperluan dia datang ke mari!" ucap Agus memberikan perintah kepada asisten ayahnya.
" Kenapa bukan Anda yang menemuinya Tuan Muda? Bukankah dia adalah tamu eksekutif? Berarti anda yang pantas untuk menemuinya Tuan Muda!" tanya asisten itu seperti keberatan dengan permintaan dari Agus.
" Tinggal kau kerjakan perintahku! Kenapa banyak cerewet?" ucap Agus dengan kesal sambil meninggalkan asisten itu yang kini bengong dalam kebingungan.
" Ya sudahlah! Daripada nanti jadi masalah. Toh juga hanya menemui seorang tamu saja. Bukan masalah yang besar!" ucapnya kepada dirinya sendiri. Kemudian dia pun langsung pergi ke ruangan CEO perusahaan itu.
Sementara Agus pergi ke ruangan CCTV dan memantau apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Ayana di ruangan ayahnya.
" Kalian keluarlah!" perintah Agus kepada para operator CCTV yang hari ini bertugas di sana.
Agus kemudian duduk di kursi operator dan terus memperhatikan gerak-gerik Ayana.
"Dia semakin cantik saja. Setelah satu bulan tidak bertemu dengan dia!" ucap Agus sambil terus melihat ke arah Ayana yang saat ini sedang berbicara dengan sekretarisnya.
" Aku harus segera mencari tahu. Apakah perusahaan Ayahku ini ada kerjasama dengan perusahaan Sugandi. Aku harus segera mengantisipasinya. Jngan sampai tanpa S
Sengaja aku bertemu dengan dia!" ucap Agus bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, nampak asisten ayahnya Agus masuk ke dalam ruangan.
" Maafkan saya Nona karena anda sudah menunggu!" ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada Ayana untuk bersalaman.
Agus mengepalkan kedua tangannya ketika dia melihat kelancangan asisten ayahnya yang berani menyentuh istrinya.
" Dasar bandot tua! Berani-beraninya Dia curi-curi kesempatan untuk bisa menyentuh istriku!" ucap Agus merasa kesal.
" Maafkan saya sebelumnya. Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Nona berkunjung ke perusahaan kami?" tanya dia.
Ayana memperhatikan asisten Ayahnya dengan sangat Intens. Tampak Ayana memicingkan matanya.
" Maafkan saya sebelumnya tetapi Siapakah Anda di perusahaan ini sehingga saya harus menyampaikan keperluan saya mendatangi perusahaan ini?" tanya Ayana tidak senang.
" Sifat Arogan itu yang menjadi ciri khas seorang Ayana!" ucap Agus sambil tersenyum ketika melihat ayahnya yang sekarang menatap tajam asisten ayahnya.
" Saya adalah asisten CEO perusahaan ini jadi saya harus menyaring siapa-siapa saja yang bisa bertemu dengan CEO perusahaan kami! Anda tahu CEO kami sangat sibuk dengan banyak sekali aktivitasnya jadi tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan dia!" ucap sang asisten sehingga membuat Ayana mengerutkan keningnya.
" Aku adalah CEO dari Sugandi group. Bukan orang sembarangan seperti yang kau katakan tadi. Cepat kau panggil CEO mu. Karena aku ada keperluan untuk bertemu dengan dia!" ucap Ayana dengan mata berapi-api.
" Ayana memang tidak pernah berubah sejak dulu. Aih, dia selalu saja emosian dan juga sifat Arogannya yang luar biasa!" ucap Agus tersenyum. Agus tampak sangat menikmati pertunjukan yang saat ini sedang dia lihat secara live melalui ruangan CCTV.
"Ayana oh Ayana!" ucap Agus lirih.
Sejujurnya Agus merasa sangat rindu dengan ayahnya Setelah satu bulan lamanya dia tidak bertemu dengan istrinya.
" Walaupun dia istriku tetapi aku belum pernah mencicipi kemolekan tubuhnya. Ah benar-benar, kau sangat bodoh Agus!" Raung Agus frustasi sambil meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya.
" Maafkan sekali lagi nona. Anda harus mengatakan kepada saya. Apa keperluan anda untuk bertemu dengan CEO kami!" ucap asisten ayahnya dengan tegas sehingga akhirnya Ayana pun akhirnya mengalah.
" Baiklah aku akan katakannya padamu. Aku ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan ini dalam mengadakan segala kebutuhan bagi para korban bencana yang terjadi di Cianjur!" ucap Ayana dengan fasih.
Agus mengurutkan keningnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayana tentang keperluannya bertemu dengan dirinya.
" Apa urusannya dengan perusahaan kami? Kami bukan panti sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal seperti itu!" ucap sang asisten.
" Bukankah sebentar lagi perusahaan ini akan melakukan perayaan anniversary yang ke-50? Jadi ini akan sangat bagus untuk pencitraan perusahaan kalian dan juga membantu para korban bencana. Bukankah menjadi win-win solution untuk kalian dan juga kami?" ucap Ayana dengan suara tegasnya.
" Memangnya apa keuntungannya bagi anda melakukan hal seperti ini?" tanya sang asisten penasaran.
" Keuntungannya bagiku tentu saja para korban bencana jadi tertolong dan kita bisa melakukan tindakan sosial dan membantu sesama yang membutuhkan!" ucap Ayana dengan tegas.
" Baiklah aku akan mengatur janji pertemuan antara kau dengan CEO kami. siapkanlah proposal yang dibutuhkan dan buatlah semenarik mungkin agar CEO kami meng-acc proposalmu!" ucap sang asisten memutuskan pada akhirnya.
" Ini kartu namaku segera hubungi aku begitu dia memberikan keputusan!" ucap Ayana sumringah dan menyodorkan kartu namanya kepada sang asisten yang menerimanya dengan senang hati.
" Hubungi saya kalau sudah ada jadwal pertemuan antara saya dengan CEO kalian!" ucap Ayana sebelum pergi meninggalkan ruangan CEO.
" Anda serahkan saja. Proposalnya dulu kepada kami. Kalau CEO kami setuju. CEO kami pasti akan memanggil anda untuk datang ke mari dan melakukan pembicaraan selanjutnya!" ucap sang asisten dengan tegas.
" Baiklah perusahaan kami akan segera membuat Proposalnya dan mengajukannya kepada kalian. Saya permisi!" ucap Ayana kemudian dia pun langsung meninggalkan perusahaan milik ayahnya Agus.