
Kediaman Ayana sudah ramai dengan para tetangga yang diundang oleh Ayana untuk datang ke acara aqiqahan putranya.
Hanya beberapa orang saja yang dikenal dekat oleh Ayana. Aerta beberapa orang karyawan yang diminta oleh Ayana untuk membantu persiapan aqiqah tersebut.
Agus tampak terharu melihat putranya yang begitu tampan dan juga sehat.
Tadi malam ketika pertama kali dia datang dan melihat putranya Agus sampai tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menangis.
" Acara aqiqahnya jam berapa?" tanya Agus sambil menggendong putranya dalam pelukannya.
" Tinggal nunggu ustadnya datang!" ucap Ayana yang sedang sibuk mempersiapkan acara tersebut yang ditemani oleh Humairoh.
" Tampaknya Agus sangat senang dengan putramu! Apakah Agus tidak keberatan dengan kelahirannya?" tanya Humairoh kepada Ayana.
" Agus mengatakan kalau dia adalah putranya kalau dia lah laki-laki yang telah meniduriku dan membuatku hamil pada malam itu!" ucap Ayana sampai tersipu malu.
" Syukurlah kalau dia memang benar-benar adalah putra Agus. Apakah kau berniat untuk melakukan tes DNA? Bagaimanapun hal seperti ini harus dibuktikan dengan medis agar tidak ada keraguan di masa depan!" ucap Humairoh memberikan ide kepada Ayana.
" Iya Bibi. Aetelah acaranya selesai aku akan membawa Agua dan juga Putraku untuk melakukan tes DNA." ucap Ayana.
Tampak Agus mendekati keduanya dan dia terlihat panik. " Ada apa?" tanya Ayana heran.
" Tampaknya dia___ Aku bingung bagaimana untuk mengurus ini!" ucap Agus sambil menunjuk bokong putranya. Dan Dia terlihat menutup hidungnya sehingga membuat ayahnya merasa lucu dengan ekspresi Agus.
" Berikan dia padaku!" ucap Ayana yang langsung mengurus putranya dengan cekatan. Agus terus memperhatikan gerak-gerik Ayana dan dia semakin kagum kepadanya.
" Kau benar-benar telah menjelma menjadi seorang ibu!" ucap Agus.
Ayana tampak melihat ke arah Agus yang sedang terpesona kepadanya.
" Aku seorang ibu mau tidak mau aku harus mempelajari segala keahlian untuk mengurus orang bayi. Karena aku tidak bisa untuk mempercayakan Putraku kepada seorang pengasuh 100%!" ucap Ayana.
Agus tampak menganggukkan kepalanya dan menatap Ayana dengan perasaan cinta yang semakin menggelora.
" Aku sangat beruntung sayang. Karena telah menjadikanmu sebagai istriku!" ucap Agus sambil mengecup kening Ayana di hadapan Humairoh yang langsung berdehem karena merasa menjadi pengganggu bagi mereka berdua.
" Ehem.. ehem!" ucap Humairoh sambil meninggalkan mereka berdua dan pergi mencari suaminya yang sedang menemani para tamu yang saat ini sedang mengaji memberikan doa untuk cucunya.
" Mana bayinya? Cepat bawa kemari karena mau didoakan oleh pak ustad dan jamaah yang lain!" ucap Rahmat kepada Humairah.
Mau tidak mau Humairoh pun kemudian kembali ke kamar bayi dan dia terkejut ketika mendapatkan Ayana dan Agus ternyata sedang berciuman.
" Ehem.. Ehem!" ucap Humairah sambil mengambil bayi yang saat ini sedang pulas di boxnya.
" Kau sudah menyiapkan namanya atau belum? Cepatlah ke depan karena pak ustad dan jamaah yang lain hendak mendoakan bayinya!" ucap Humairoh sambil menggendong bayi tampan itu dan membawanya pergi dari ruangan.
" Siapa nama bayinya? Apa kau sudah menyiapkannya?" tanya Agus kepada Ayana.
" Siapa ya?" tampak Agus Sedang berpikir keras untuk memberikan nama bagi putranya.
" Bagaimana kalau Axel?" tanya Agus.
" Axel Mahendra Dinata!" ucap Ayana.
" Kenapa tidak menggunakan nama belakangku?" tanya Agus tampak protes.
" Belum tentu dia adalah putramu. Sudahlah! Kita cari aman saja daripada nanti ribet harus gonta-ganti nama lagi, kalau ternyata dia bukan putramu!" ucap Ayana pelan sambil meninggalkan Agus yang tampak protes dan tidak terima karena nama keluarganya tidak dibawa ke dalam nama putranya.
" Kenapa dia bersikeras kalau bayi itu bukan Anakku? Sungguh aneh sekali. Padahal aku sangat yakin kalau dia adalah Putraku! Atau Dia pernah tidur dengan laki-laki lain selain aku sehingga dia melakukan dirinya sendiri kalau dia mengandung Putraku?" ucap Agus mulai berpikiran buruk terhadap Ayana.
" Sudahlah mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ayana. Lebih baik cari aman saja daripada nanti ribet mengganti-ganti nama lagi. Kalau bayi itu ternyata memang bukan Putraku!" Ada selasar aneh di dalam hati Agus. Ketika dia mengatakan hal tersebut seakan tidak rela kalau bayi ganteng itu ternyata bukan putranya.
Tampak Agus yang berdiri di pojok sambil menatap putranya yang saat ini sedang didoakan oleh Ustadz setempat dan juga para jamaah yang beragama Islam di lingkungan Ayana tinggal saat ini.
Tiba-tiba saja hati Agus merasa sedih ketika dia berpikir kalau bayi itu mungkin saja bukan putranya. Ada semacam kecemburuan dan sakit hati yang mengganggu dirinya saat ini. Walaupun itu hanya sebuah pikiran saja.
" Aku tidak mengerti kenapa ayahnya sangat bersekeras bahwa bayi itu bukan putraku. Aku harus segera melakukan tes DNA untuk meyakinkan semuanya. Agar tidak ada lagi keragu-raguan!" ucap Agus dengan mantap kemudian dia pun bergabung dengan para jamaah untuk memberikan doa kepada bayi tampan yang saat ini sedang di gendong oleh Rahmat.
Rahmat sangat senang dengan kelahiran bayi tersebut karena dia seakan memiliki cucu kandung. Entah bagaimana perasaan Rahmat kalau dia mengetahui bahwa bayi itu memanglah cucu dari istrinya yang terlahir dikala Humairah masih remaja sebelum menikah dengan dirinya.
" Maafkan aku Mas kalau aku belum bisa jujur kepadamu kalau Ayana adalah putriku!" ucap Humairoh dengan lirih tetapi ucapan itu masih bisa didengarkan oleh Agus yang tidak sengaja lewat di belakangnya.
" Apa maksud bibi?" tanya Agus terkejut.
Humairoh langsung memalingkan wajahnya dan melihat Agus yang saat ini sedang menatap tajam ke arahnya.
" Apa maksudmu Agus?" hanya Humairoh tampak gugup sekali.
" Tadi aku mendengar kalau Bibi mengatakan bahwa Ayana adalah Putri kandungmu!" ucap Agus dengan suara lantang sehingga menarik perhatian orang yang ada di sekitarnya.
Humaira terkejut sekali mendengarkan perkataan Agus dia pun langsung menarik tangan Agus untuk menjauh dari kerumunan.
" Kenapa kau mengatakan kencang-kencang?" protes Humairoh sambil memukul tangan Agus sangking gemesnya dengan kelakuan Agus yang telah membuka rahasianya.
" Cepat jelaskan padaku Bibi! Apa maksud dari kata-kata Bibi tadi?" tanya Agus tegas.
Humairo tampak meraup wajahnya dengan kasar. Dia sangat frustasi karena ternyata Agus mendengarkan apa yang dia ucapkan.
" Benar Ayana adalah putriku! Dia terlahir ketika aku masih duduk di bangku SMA karena kecelakaan yang tidak disengaja! Aku bahkan tidak mengetahui Di mana keberadaan ayahnya saat ini!" ucap Humairoh sambil menundukkan kepalanya. Tampak sangat sedih sekali.
" Apakah benar yang kau katakan itu? Kalau Ayana adalah putrimu?" tiba saja Rahmat sudah berada di antara mereka berdua.
" Mas!??" tanya Humairoh dengan mata ketakutan ketika dia melihat Rahmat yang saat ini menetapnya dengan tajam.