
"Aku berani berbuat seperti ini kan karena aku tahu akan berhubungan dengan kamu, jadi aku bisa tenang Firman!" ucap Ayana Sambil tertawa kepada Firman.
"Ya sudah jangan buang-buang waktu lagi. Ayo kita ke ruang meeting saja. Anak buahku pasti sudah kepanasan menunggu kamu sejak tadi!" ucap Firman kemudian dia langsung mengambil berkas yang ada di atas meja kerjanya.
Ayana dan Melisa hanya mengikuti Firman di belakangnya. Tanpa banyak bertanya karena mereka pun saat ini sedang memikirkan presentasi yang akan mereka lakukan di hadapan firman dan juga rekan-rekannya.
Setelah selama hampir 3 jam rapat dilakukan di dalam ruang meeting tersebut dengan suasana yang sangat serius. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menjalankan kerjasama selama 3 tahun.
Perusahaan Ayana yang bergerak di bidang distribusi akan mendistribusikan produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan Firman kepada konsumen.
"Maafkan sekali lagi karena sudah membuat kalian menunggu kedatangan kami!" ucap Ayana sebelum dia meninggalkan kantor Firman karena kedatangannya sudah membuahkan hasil kerjasama antar dua perusahaan yang berjalan selama 3 tahun.
"Lupakan saja, yang penting kan hasil pembicaraan kita sudah sepakat dan juga kita akan mulai bekerja sama mulai hari ini. Semoga kerjasama Kita akan sama-sama menguntungkan dan kedepannya akan jauh lebih baik lagi!" ucap Firman sambil menyalami tangan Ayana yang akan bersiap untuk pulang ke kantornya kembali.
"Bagaimana kalau kita berdua makan siang di hotel? Untuk merayakan kerjasama kita ini?" tanya Ayana sambil berbisik di telinga Firman, yang hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarkan apa yang di katakan oleh Ayana di telinga Firman.
"Lupakan saja!" ucap Firman kemudian dia meninggalkan Ayana begitu saja di lobby kantornya.
Firman merasa tersinggung dengan apa yang dibisikan oleh Ayana di telinganya tadi. Sebelum Ayana meninggalkan kantornya.
"Sejak dulu dia tidak pernah berubah selalu saja liar dan sesuka hati!" ucap Firman dengan penuh amarah ketika mengingat kembali apa yang dibisikkan oleh Ayana di telinganya.
"Gara-gara Ayana aku jadi tidak bisa konsentrasi bekerja. Mana Laila masih keadaan nifas lagi. Mana dia belum boleh melakukan hal seperti itu? Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Firman frustasi ketika melihat sesuatu di balik celananya yang mulai meronta-ronta.
"Semuanya gara-gara keusilan Ayana, sekarang aku yang harus menderita!" ucap Firman mendesah frustasi.
Akhirnya Firman memutuskan untuk berendam di bathtub yang ada di dalam ruangannya. Selama hampir 1 jam lamanya Firman merendamkan dirinya di air dingin. Agar suhu tubuhnya kembali normal dan bisa kembali bekerja secara tenang dan aman.
Firman bersyukur karena rasa cintanya kepada Laila, yang membuat dia menjadi terkontrol dan membuat dia bisa mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak jajan sembarangan di luar dan berbuat dosa.
Setelah keadaan tubuhnya kembali normal dan jantung yang kembali bisa diajak kompromi. Firman pun keluar dari bathtub dan menggunakan kembali pakaiannya seperti semula.
Firman kembali ke ruangan kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Agar bisa kembali pulang dan menemui istri dan anak yang sudah dia rindukan sejak tadi.
Sementara itu, Ayana yang saat ini sudah ada di kantornya hanya bisa tertawa terkikik ketika dia mengingat kembali, sewaktu dia melihat reaksi Firman ketika dia membisikkan kata-kata itu di telinganya.
Flash Back On
Dahulu saat Firman berada dalam kondisi terlemahnya. Saat keadaan dia merasa patah hati terhadap kepergian Laila. Firman banyak melakukan sesuatu hal yang di luar logika. Dia bahkan telah membuat Ayana harus kehilangan kehormatannya di saat dirinya sedang mabuk di pesta ulang tahun Ayana yang ke 17 tahun.
Saat itu Ayana memang mengundang beberapa orang temanmu untuk datang ke sebuah club malam. Semua orang sudah pulang, hanya tinggal Firman dan Ayana yang masih asyik meminum alkohol sampai mabuk. Hingga akhirnya Firman dan Ayana yang dalam keadaan mabuk melakukan hal yang seharusnya mereka hindari.
Mereka sama-sama pertama kali untuk melakukannya hal itu. Sehingga pada saat kesadaran perlahan datang di kepala mereka, mereka tampak kebingungan dan kalut. Dengan kondisi tubuh mereka yang polos tak berkain. Situasi di ruangan VVIP yang kacau balau, sudah memberikan jawaban apa yang telah mereka lakukan.
Apalagi Ayana juga melihat bercak darah yang tercetak di sofa yang saat ini dia duduki. Dengan perasaan kalut dan galau, Ayana lalu membersihkan sofa itu. Karena dia merasa sangat malu kepada dirinya sendiri yang telah kehilangan kehormatannya gara-gara pria yang tidak dia cintai sama sekali.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku Firman? Kau sudah menghancurkan masa depanku!" ucap Ayana sambil terisak dengan tangan masih sibuk membersihkan bercak darah keperawanannya di sofa. Air matanya terus mengalir dengan deras tanpa bisa dia bendung lagi. Pedih dan perih rasanya.
"Ayolah Firman! Masa kau tidak berani untuk datang ke rumah kedua orang tuaku untuk melamarku? Kamu harus bertanggung jawab karena kamu sudah berani mengambil kehormatanku!" ucap Ayana dengan berlinang air mata penuh kesedihan.
"Kita melakukannya dalam keadaan mabuk. Aku dan kamu sama-sama tidak menyadari apa yang terjadi. Sebaiknya kita lupakan saja malam ini, seakan tidak pernah!" ucap Firman sambil menatap tajam kepada Ayana.
"Kau memang b******* Firman! Ingatlah aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi!" Ayana kemudian memunguti Pakaiannya yang berserakan di lantai dan kemudian secara sembarangan dia menggunakannya lalu meninggalkan Firman seorang diri di ruangan klub malam yang masih buka dan ramai walaupun sudah dini hari.
Sejak malam itu, Ayana kemudian meninggalkan Surabaya dan pindah ke Jakarta. Ayana kuliah di Jakarta mengikuti kakaknya yang bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit ternama di Jakarta.
Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Sampai akhirnya, 2 tahun yang lalu Ayana pindah kembali ke Surabaya. Karena harus meneruskan bisnis keluarganya di karenakam ayahnya yang meninggal secara mendadak.
Di antara semua kakak-kakaknya dan juga adiknya. Memang hanya Ayana yang mempunyai bakat dalam bisnis. Sehingga mereka semua menyerahkan perusahaan ke tangannya dan mereka hanya mendapatkan deviden dari saham yang mereka miliki dari perusahaan keluarga tersebut.
Dengan bantuan bibinya, yaitu istri dari Pak Rahmat. Ayana mulai belajar bagaimana memanage perusahaan keluarga besarnya. Sehingga berkembang dan semakin melesat dan bersaing bersama dengan jajaran pengusaha besar di Surabaya.
Istrinya pak Rahmat memang seorang bisnis woman yang cukup terkenal di Surabaya. Hanya saja terkenal dengan nama yang berbeda seperti yang diketahui oleh Pak Rahmat. Sehingga Pak Rahmat tidak pernah curiga dengan kemampuan istrinya yang sangat mumpuni di dunia bisnis.
Pak Rahmat hanya tahu, istrinya itu hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hari-hari hanya sibuk di depan komputer dan ponsel serta merawat rumah mereka, dirinya dan juga anaknya.
Pak Rahmat tidak tahu. Ketika istrinya mulai sibuk di depan komputer. Itulah saatnya dia melakukan aksinya sebagai seorang bisnis women yang mengendalikan jaringan bisnisnya dari jarak jauh melalui jaringan internet dan koneksi relasi bisnis yang dia miliki selama ini.
Entah apa yang menjadi latar belakang dari istrinya pak Rahmat, selalu menyembunyikan identitasnya. Tampaknya, kalau hanya mengenai tentang Pak Rahmat yang membenci orang kaya, itu agak tidak masuk akal dan masih patut untuk dipertanyakan.