Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
226. Terima gak?



Rasya membawa ibunya ke restoran yang sudah dipesan oleh Arman. Dengan perasaan penuh riang gembira, Rasya melangkahkan kakinya dan membawa ibunya ke restoran itu sementara Syafa masih bersikap waspada dengan apa yang akan terjadi terhadap dirinya.


Syafa yang merasa gugup dan juga merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi dia terus berusaha untuk melarikan diri tetapi rasa memegang tangannya dengan kencang supaya sang Ibu tidak meninggalkannya.


" Sebetulnya kau mau membawa Mama ke mana Rasya? Kenapa begitu misterius?" tanya Syafa kepada putranya.


" Tidak kemana-mana Mah. Rasya hanya ingin mengajak Mama untuk makan malam saja. Sudahlah! Mama Tenang saja. Rasya tidak akan mencelakai mama!" ucap Rasya sambil mengulas senyum kepada ibunya yang masih tampak khawatir dan tidak percaya dengan anaknya.


' Sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh Rasya? Kenapa dia begitu misterius?" tanya Syafa dalam hatinya.


" Jangan katakan sama mama, kalau kau sedang merencanakan sesuatu dengan Arman!" ucap Syafa sambil menghentikan langkahnya.


" Ayolah Mah! Rasya dan Om Arman tidak melakukan hal yang buruk Kok. Kami hanya ingin mengundang Mama ke acara makan malam doang!" Ucap Rasya sambil mengulas senyum kepada sang ibu.


" Mama mau pulang Rasya! Mama tidak suka dengan hal-hal berbau misterius seperti ini. Kau tidak mau mengatakan kepada Mama apa yang sedang terjadi saat ini?" tanya Syafa sambil menatap tajam kepada putranya yang saat ini sedang tersenyum penuh kebahagiaan.


" Masa mama tidak percaya dengan Rasya? Apakah mungkin Rasya mencelakai mama?" tanya Rasya kepada ibunya.


" Ya memang tidak mungkin!" ucap Syafa kepada putranya.


" Lalu kenapa Mama tidak percaya? tinggal ikuti saja Rasya dan bersikaplah tenang!" ucap Rasya kemudian melanjutkan langkahnya dengan menarik sang ibu di belakangnya.


" Kenapa kamu bersikap misterius seperti ini?" tanya Syafa merasa heran.


Rasya hanya tersenyum kepada ibunya.


" Tidak apa-apa Mah!" jawab Rasya kepada ibunya.


Melihat Rasya yang dari tadi terus tersenyum sendiri. Syafa merasa heran dan merasa benar-benar ada hal yang disembunyikan oleh putranya.


Setelah sampai di tempat yang dijanjikan oleh Armen Rasya kemudian berhenti.


Seketika nampak cahaya lampu berkelap-kelip di jalanan yang hendak mereka lalui menuju restoran tersebut.


" Ya Allah kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? Jangan-jangan Arman benar-benar ingin melamarku?" tanya Syafa lirih.


" Selamat datang di restoran kami silahkan masuk karena kalian sudah ditunggu!" ucap seorang pelayan menyambut kedatangan Rasya dan Syafa.


Syafa tampak terpesona dengan segala keromantisan yang ada di dalam restoran itu.


" Jangan katakan sama Mama, kalau Arman benar-benar akan melamar mama?" tanya Siapa kepada putranya yang sejak tadi terus tersenyum kepadanya.


" Mama akan tahu nanti!" ucap Rasya sambil tersenyum.


" Dari tadi kau bermain teka-teki dengan Mama. Kau paling tahu kan kalau mama paling tidak suka dengan misteri semacam ini? Sungguh bikin penasaran!" ucap siapa sambil cemberut kepada putranya.


" Baiklah! Mama akan segera tahu apa yang sedang terjadi di sini!" tidak lama kemudian keluar Arman dengan beberapa orang yang menjadi band pengiring di dalam restoran itu.


Tampak Arman menyanyikan sebuah lagu yang sangat romantis yang membuat Syafa merasa terharu.


" Apakah tadi siang ini yang kalian rencanakan sewaktu kalian ngobrol serius di tempat parkir?" tanya Syafa menata putranya yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


" Tidak Mah! Acara lamaran ini adalah benar-benar acara yang dipersiapkan oleh om Arman untuk mama. Rasya sama sekali tidak tahu semua persiapannya. Tugas Rasya hanyalah menarik Mama untuk mau datang ke tempat ini!" WhatsApp rasyah mengulas senyum kepada ibunya yang langsung kaget.


" Acara lamaran kau bilang jadi Arman mau melamar mama?" tanya Syafaa merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rasya.


" Kamu jangan bercanda Rasya! Mama tidak suka!" ucap Syafa sampai melotot kepada putranya.


" Hal seperti itu bukan bahan bercanda Oke?" ucap Rasya kepada mamanya.


" Lepasin tangan Mama Rasya! Mama ingin pulang!" ucap Syafa berusaha untuk lepas dari genggaman tangan Rasya.


" Syafa! Kenapa kau bergegas ingin pulang? Acara ini aku susun khusus untukmu!" ucap Arman ketika dia melihat Syafa memaksakan diri untuk segera meninggalkan restoran itu.


" Arman sebenarnya Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Syafa tanpa gugup.


" Kau jangan bercanda!" ucap siapa dengan berusaha menjauhkan diri dari Arman.


" Aku tidak mungkin bercanda untuk hal-hal seperti ini Syafa! Intuk pertama kali dalam hidupku aku sangat serius melakukan sesuatu!" ucap Arman menatap Safa yang tampak bingung dan juga tidak percaya dengan apa yang saat ini dia lakukan.


" Will you marry me?" tanya Arman sambil berlutut di hadapan Syafa dan menyodorkan sebuah cincin untuknya.


Tampak Syafa kehilangan kata-kata dan tidak bisa melakukan apa-apa.


" Terima Mah! Rasya benar-benar ingin sekali melihat Mama bahagia dan bisa melupakan sakit hati Mama gara-gara Papa. Mulailah hidup barumu dan juga mulailah untuk berbahagia!" ucap Rasya kepada ibunya.


" Aku berjanji akan selalu mencintaimu dan juga membahagiakanmu tolong Menikahlah Denganku Syafa kembalilah kita membina kehidupan rumah tangga yang bahagia!" ucap Arman berusaha untuk membujuk syafah agar mau menerimanya sebagai suaminya.


" Bagaimana mungkin kau begitu mudah melamar seorang perempuan padahal kau tidak mengenal siapa aku!" ucap syafah merasa heran dengan Arman yang begitu cerobohnya melamar dirinya Padahal mereka baru bertemu.


" Untuk menemukan tambatan hati kita tidak dibutuhkan waktu yang terlalu lama cukup hati yang bicara maka kita akan menemukan semua jawabannya!" ucap Arman sambil tersenyum kepada Syafayang masih bingung untuk menjawab pertanyaan lamaran Arman.


" Terima Mah! Rasya akan sangat bahagia kalau melihat Mama menikah dengan om Arman!" ucap Rasya berusaha membujuk ibunya agar menerima Arman sebagai suaminya.


Tampak Syafa terdiam dan memejamkan matanya. Keningnya mengerut dengan begitu dalam.


" Tolong Terimalah lamaranku Syafa!" ucap Arman sambil tersenyum kepadanya.


" Maafkan aku! Arman sepertinya aku belum bisa menerima lamaranmu! Karena aku belum siap untuk memiliki pasangan yang lain. Hatiku saat ini masih terluka dan aku masih belum siap untuk hidup berumah tangga kembali setelah prahara rumah tanggaku yang sangat menyakiti hatiku!" ucap Syafa sambil menundukkan kepalanya.


" Syafa aku melamarmu untuk Putraku!" tiba-tiba saja kakeknya Rasya sudah masuk dari arah pintu dan mengagetkan semua orang yang ada di sana.


" Apa maksud Papa?" tanya Syafa merasa bingung.


" Arman adalah putra keduaku! Oleh karena itu papa akan melamarmu sebagai calon menantuku!" ucap kakeknya Rasya sambil menatap kepada Arman yang saat ini sedang kaget dan terkejut melihat ayahnya saat ini sudah berdiri di antara mereka berempat.


" Apa kata kakek? Om Arman adalah putra kakek? Jadi Putra kakek bukan hanya papa?" tanya Rasya merasa bingung dengan apa yang saat ini sedang terjadi di dalam restoran.


" Ya ampun Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini kenapa tiba-tiba saja kakek mengakui Kalau Om Arman Adalah anaknya?" tanya Rasya merasa bingung.


" kau tidak usah bingung Dahsyat suatu saat kau akan mengerti tentang hubungan ayahmu dan juga Om arman-mu dan juga hubungan kakek bersama dengan Arman!" ucapnya sambil tersenyum kepada Rasya yang saat ini bingung akan memilih mamanya ataukah Arman.


" Kenapa kakek tadi siang tidak mengatakan apapun ketika Rasya mengatakan bahwa saat ini Om Arman sedang bersiap untuk melamar mamaku?" tanya rasyad merasa bingung kepada kakeknya yang menyembunyikan tentang status Arman di hadapannya tadi siang ketika dia menghadiri menemui sang kakek sebelum datang ke restoran.


" Maafkan kakak Rasya awalnya kakak tidak akan memunculkan diri Kakak di hadapan Arman tetapi melihat mamamu menolaknya terpaksa kakek keluar dan menceritakan semua ini kepada kalian!" ucap kakeknya Arman kepada Rasya.


Tampak Arman yang terdiam Sebenarnya dia sangat malas untuk membicarakan tentang hubungannya dengan sang ayah yang selama bertahun-tahun tidak pernah dia tahu wajah maupun wujudnya.


" Jadi mereka adalah keluargamu?" tanya Arman sambil menatap ayahnya yang begitu terkejut melihat Arman Yang sepertinya tidak menerima kehadirannya.


" Mantan mertuanya tetapi Papa sangat menyayangi Safa dan Rasya Oleh karena itu bapak lebih memilih dan membela mereka daripada Firman ayahnya Rasya!" ucap kakeknya rasyah sambil terus menetap ke arah Arman yang seperti linglung dengan kenyataan yang terjadi di hadapannya saat ini.


" Percayalah aman saf adalah dua pribadi yang sangat menyenangkan Kau pasti akan mencintainya!" ucap ayahnya tersenyum.


" Syafa Papa mengulangi sekali lagi. Papa akan melamarmu sebagai istri dari putra kedua papa bernama Arman Ardiansyah!" Syafa yang tampak masih tidak percaya dengan apa yang terjadi Dia pun hanya melihat mereka.


" Naiklah aku akan menerima lamarannya kalau dia memang serius ingin menikah denganku!" ucap Syafa pada akhirnya sebelum sambil menatap Rasya yang masih bingung dengan apa yang saat ini sedang terjadi.


" Kakek tidak bohong kan Kalau Om Arman adalah putra dari kakek itu artinya dia benar-benar Omnya Rasya!" tanya Rasya kepada sang kakek yang hanya bisa tersenyum kepadanya dan mengangguk.


" Bagus dong kalau begitu berarti Rasya tidak akan pernah berpisah dengan kakek Karena Om Arman adalah putra dari kakek!" ucap Rasya penuh dengan kebahagiaan sambil menatap sang ibu yang masih linglung.


" Sudahlah Rasya mungkin pernikahan mama dan Om Arman memang sudah ditakdirkan biarlah Mama menerima ini sebagai takdir yang harus Mama jalani!" ucap Syafa kepada putranya.


" Syafa Aku ingin kau menerima lamaranku sebagai diriku sendiri bukan sebagai putra dari laki-laki itu yang sudah menelantarkanku selama ini!" ucap Arman menatap tajam kepada ayahnya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


" Dengarkan Papa Arman. Papa memiliki alasan yang kuat. Kenapa dulu Papa meninggalkan mamamu!" ucap ayahnya Arman sambil berusaha untuk meyakinkan putranya untuk mau memaafkan dirinya sebagai seseorang yang pernah hadir di dalam kehidupan ibunya Arman.