
"Laila, Apakah kamu tidak keberatan, Kalau suamimu tidak jadi untuk bercerai dengan istrinya?" tanya ibunya Laila.
"Sejak dulu Laila tidak pernah meminta Mas Firman untuk menceraikan Syafa, Mah!" ucap Laila sambil tersenyum.
"Tapi, bukankah gugatan sudah dimasukkan ke pengadilan? Itu artinya Firman akan menceraikannya bukan?" tanya ibunya lagi dengan penasaran.
"Prosesnya ditunda karena sedang berduka!" ucap Laila.
"Kenapa ditunda? Apa kamu tidak marah?" tanya beliau lagi. Laila mendekati ibunya dan kemudian menggenggam jemarinya. Menatap wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Mah. Sejalan dengan keputusan Mas Firman, akan menceraikan Syafa atau tidak, Laila sama sekali tidak perduli. Itu adalah urusan dia." ucap Laila.
"Bagaimana kau tidak peduli? Ini tentang masa depanmu dan juga bayimu!" ucapnya lagi.
"Mah, kalau mas Firman memang mencintaiku, dia pasti akan berjuang untuk cinta kami!" ucap Laila lagi.
"Kamu terlalu percaya sama Firman. Mama malah tidak percaya sama dia. Apa kau tahu? Ayahmu bilang Firman itu bersanding dengan Syafa di sana dan menyambut para tamu seperti sebuah keluarga utuh!" ucap ibunya mencoba untuk menyadarkan Laila.
Tetapi Laila malah tertawa terbahak-bahak melihat ibunya yang tampak marah. "Mah! Ya wajarlah! Mereka kan masih suami istri bahkan panggilan pengadilan saja belum datang!" ucap Laila dengan senyum manisnya.
"Kamu ini kalau dibilangin selalu saja ngeyel!" kesal ibunya akhirnya meninggalkan Laila sendiri di ruang tamu.
"Laila percaya sama Mas Firman, Mama nggak usah khawatir dengan Laila!" ucap Laila mengiringi kepergian mamahnya ke kamarnya.
Ibunya Laila memang akan selalu menunggu suaminya pulang dari rumah kediaman ayahnya Firman. Dan kemudian akan pulang ke rumah yang mereka tempati untuk sementara selama mereka tinggal di Jakarta.
"Bangunkan Mama kalau ayah mau pulang!" ucap ibunya Laila.
"Ya Mah Mama Tenang aja nanti Laila bangunkan!" ucap Laila sambil tersenyum kepada ibunya.
Sementara itu di kediaman ayahnya Firman, Firman tampak sibuk menyambut para tamu yang akan melaksanakan tahlilan di kediaman ayahnya. Syafapun tampak sibuk memainkan perannya sebagai Nyonya rumah di kediaman itu.
" Syafa Apakah semuanya sudah siap?" tanya Firman.
Mereka berdua tampak serasi melaksanakan tugas mereka masing-masing. Dan hal itu tertangkap dengan jelas oleh ayahnya Laila.
"Tidak tampak kalau keduanya sedang merencanakan untuk bercerai. Mereka seperti suami istri yang saling mencintai!" ucap ayahnya Laila.
Ayahnya Laila kemudian memotret kebersamaan Firman dan Syafa dan kemudian mengirimkannya kepada Laila.
"Lihatlah suamimu bersama istrinya tampak begitu mesra!" tulis ayahnya Laila kepada Laila.
Laila hanya menatap foto yang dikirimkan oleh ayahnya tersebut. Di mana menampakkan Firman yang sedang sibuk mengatur para tamu dan Syafa yang sedang sibuk mengurusi konsumsi di sana.
"Kenapa Papa juga jadi julid seperti ini? Sudah aku katakan bahwa aku tidak peduli, masih saja pada seperti ini!" ucap Laila sambil menutup ponselnya dan kemudian memutuskan untuk tidur.
Sejak dirinya hamil muda, dia memang sangat mudah lelah dan lebih banyak tidur, untuk mengobati rasa kantuk di matanya. Firman selalu memenuhi semua kebutuhan Laila, sebelum meminta pun semua sudah tersedia.
Waktu itu, ketika Firman sudah pulang dari kediaman ayahnya, Laila sudah tertidur dengan lelap. Firman tidak mengganggu tidur Laila Tetapi dia hanya menatap sang istri dengan lekat.
" Terima kasih karena kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku!" ucap Firman sambil mencium kening Laila.
Laila yang merasakan pergerakan di kasur, lambat laun membuka kelopak matanya dan melihat Firman yang kini ada di sampingnya.
"Kamu sudah pulang? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Laila sambil mencium pipi sang suami.
" Maaf ya aku jadi sering meninggalkan kamu, karena harus tahlilan di rumah Papa!" ucap Firman lagi.
"Tidak apa-apa. Aku ngerti kok kesulitanmu, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja!" ucap Laila.
"Apakah Mas ingin mandi? Aku siapkan air panas untukmu ya?" tawar Laila kepada suaminya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Kau tidur saja. Sayang, aku bisa mengurus diriku sendiri kok!" ucap Firman.
"Sejak aku hamil, kau jadi tidak membutuhkanku lagi. Aku rasanya seperti tidak berguna di rumah ini!" keluh Laila dengan wajah sendunya.
"Siapa bilang kamu tidak berguna?" tanya Firman dengan penuh semangat.
"Kehadiranmu adalah vitamin dalam hidupku. Kamu selalu memberikan semangat untuk aku menikmati hari-hariku!" ucap Firman kemudian menciumi wajah Laila.
"Tapi aku tidak berguna untukmu, Mas! Bahkan untuk meninggalnya ibumu, Aku tidak membantu apapun!" ucap Laila sedih.
"Kamu kan sedang hamil. Aku yang melarangmu untuk membantu. Bukan karena kamu yang tidak menginginkan untuk membantu! Sudahlah sayang Jangan memikirkan yang tidak-tidak!" ucap Firman.
" Ya sudah aku mandi dulu ya? Kamu istirahat saja!" perintah Firman dan kemudian pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Firman pun menemui Laila yang masih terjaga karena menunggu dirinya selesai mandi.
"Kok belum tidur sih? Apa belum mengantuk?" tanya Firman. Laila kemudian masuk ke pelukan Firman.
"Aku menunggumu untuk selesai mandi!" ucap Laila.
"Neninggalnya Mama sangat mendadak. Oleh karena itu semua keluarga kaget dan terkejut!" ucap Firman.
"Aku tahu, Mas pasti terkejut dan juga sedih dengan meninggal dunia Mamamu!" ucap Laila sambil memeluk suaminya. Firman mencium pipi Laila, lalu mengajak untuk tidur. Karena malam memang semakin larut.
Sementara itu, Syafa kini sedang menangis di kamarnya, yang ada di kediaman keluarga Firman.
Syafa mengenang kembali keributan yang ditimbulkan tadi, setelah acara tahlilan selesai. "Mas, sudah malam, menginap saja di sini! Rasya merindukan kamu, Mas!" pinta Syafa kepada Firman.
"Tidak bisa! Laila sedang menunggu kepulangan ku!" ucap Firman tanpa berpikir dahulu.
"Apakah istri kamu itu hanya Laila? Aku juga masih Syah sebagai istri kamu!" ucap Syafa dengan berderai air mata.
"Kalau kamu lupa. Kita sedang dalam proses perceraian!" ucap Firman sambil menuding wajah Syafa.
"Kita bisa membatalkan itu, Mas! Aku gak mau kita bercerai! Sebaiknya, kamu cerai kan Laila saja!" ucap Syafa dengan suara lantang.
Ayahnya Laila yang mendengar ucapan Syafa, wajahnya sudah memerah. Tampak menahan amarah. Hanya saja beliau menahan rasa itu, demi menjaga nama keluarga ayahnya Firman. Yang baru saja mengalami kehilangan istrinya. Dia berusaha keras menahan diri.
"Pilihannya, kamu menerima Laila atau kamu ingin di cerai! Hanya itu saja. Syafa!" ucap Firman, lalu pergi meninggalkan Syafa sendiri.
Tampak Rasya yang melihat kepergian ayahnya dengan mata nanar. Rasya tampak membenci ayahnya yang selalu menyakiti hati ibunya.
"Mah. Berhentilah mempermalukan diri sendiri dengan memohon cinta dari Papa! Dia sudah tidak mencintai Mama lagi!" ucap Rasya dengan sedih.
Kemudian Rasya meninggalkan Mamanya seorang diri di ruang tamu. Ayahnya Firman juga sudah pergi ke kamarnya. Malas mengurusi masalah Firman dan Syafa. Yang seakan-akan tidak ada habisnya.