
Pov Kesya
Hari ini aku dan Mas Dika serta Adrian anakku, mengunjungi Indonesia. Kami mendapatkan panggilan dari pihak penyelidik untuk memberi kesaksian perihal kecelakaan beberapa tahun lalu yang menimpa diriku dan juga Mas Ilham.
Kecelakaan itu yang membuat aku dan Mas Ilham berpisah, hingga rencana pernikahan kami juga batal. Yang gak kalah penting, aku juga kehilangan beasiswa ku ke Mesir karena kecelakaan itu.
Aku penasaran sekali siapa gerangan yang begitu tega telah mencelakai aku dan Mas Ilham. Padahal seingatku, aku maupun Mas Ilham tidak pernah punya musuh. Kami selalu berusaha hidup dengan baik dan tidak suka mencari masalah.
Pesawat pribadi Abimana Group sudah mendarat, aku melihat Mas Rasyid, Kak Zahra dan Mamahku sudah menunggu kedatangan kami. Aku sangat merindukan mereka. Tak sabar hatiku rasanya untuk bertemu dengan mereka.
Sepanjang perjalanan Dubai-Indonesia, aku dan Mas Dika hanya diam. Mas Dika mencoba untuk bicara denganku, tetapi aku abaikan. Rasanya masih sakit hatiku, apabila mengingat kembali perselingkuhan dia dengan mantan kekasihnya. Aku lebih fokus merawat Adrian, anak kesayangan ku. Untuk mengalihkan perasaan ku yang sakit.
"Assalamualaikum, semuanya!" aku memeluk mereka satu persatu. Kangen sekali setelah dua tahun berpisah dengan mereka.
"Waalaikum salam, sayang!" ucap Mamahku sambil memeluk dan menciumku. Mamah langsung membawa Adrian dalam pelukannya dan menciumi anakku yang memang tampan.
Mas Rasyid tampak berderai air mata. Aku tahu, Mas Rasyid yang paling terpukul dengan pernikahan ku dan Mas Dika. Bagaimanapun hubungan Mas Rasyid dengan Mas Ilham sangat dekat. Mas Rasyid pasti terpukul secara mental gara-gara perbuatan keluarga Mas Dika yang menculik kami sekeluarga demi memaksakan pernikahan kami. Aku jadi merasa tidak enak dengan Kakakku.
"Assalamualaikum, adikku sayang!" Mas Rasyid memeluk ku dengan sangat erat. Air matanya berderai sangat deras, aku juga menangis tersedu-sedu. Sedih rasanya melihat Kakakku yang dulu sangat tampan, sekarang kurus dan matanya cekung. Kak Zahra bilang, Mas Rasyid selalu menangis dan berdoa memohon ampun kepada Allah karena sudah menikah kan Aku dan Mas Dika. Kakakku yang baik merasa bersalah kepada Mas Ilham dan juga Keluarga nya.
"Aku baik-baik saja, Mas! Jangan siksa diri Mas lagi karena pernikahan Kesya. Hik hik hik!" tangisku pecah, sangat sedih dengan keadaan Mas Rasyid yang menyedihkan.
"Mas bahagia kalau kamu bahagia. Mas hanya merasa bersalah dengan keluarga Pak Kiai Maulana. Beliau sampai sakit karena pernikahan kalian yang dibatalkan." Suara tangis Mas Rasyid semakin menyayat hati.
Mas Dika yang mendengar pembicaraan kami hanya diam. Dia pasti mengerti bahwa kami bersedih karena perbuatan dia. Yang memaksa untuk menikah denganku. Cara yang dia dan keluarganya lakukan sangat ekstrem dan memberikan rasa trauma kepada Kakakku, Mas Rasyid. Dia dan Mas Ilham bersahabat baik.
"Nanti kita berkunjung ke Pak Kiai, mohon ampun sama beliau." ucapku sendu, sambil menepuk punggungnya, memberi kekuatan kepadanya.
"Keponakan, Om Rasyid. Tampan sekali kamu sayang!" Mas Rasyid memeluk Adrian dengan gemas. Hari itu Mas Rasyid juga membawa anak nya yang bernama Qonita Althafunisa. Keponakan ku itu sangat cantik, secantik Mamahnya.
Aku menggendong Qonita dan Mas Rasyid menggendong Adrian. Mas Dika aku lihat lebih banyak diam. Mungkin merasa tidak enak dengan kami. Dahulu demi menikahiku, dia sampai menculik kami semua. Dan memaksa Mas Rasyid untuk menikahkan kami.
Setelah acara temu kangen selesai, kami menuju mobil Mas Rasyid. Yang di parkir agak jauh dari terminal kedatangan internasional. Kami sangat bahagia sekali. Saat akan masuk ke mobil, sepintas lalu aku melihat Mas Ilham yang berdiri tidak jauh dari mobil kami. Tampak air mata bercucuran di mata teduhnya. Aku jadi merasa haru pada lelaki Sholeh yang pernah mengisi hatiku dengan penuh warna cinta.
'Semoga kamu hidup bahagia, Mas!' bathinku.
Kami sekeluarga kembali ke rumah keluarga kami. Aku rencananya akan tinggal di apartemen Mas Rasyid tapi Mamah melarangnya, Mamah ingin kami tinggal bersama di rumah keluarga.
"Sayang, kita lama tidak bertemu. Setelah ini, tidak tahu kapan lagi kita akan bertemu kembali. Tolong Mamah, Mamah ingin menghabiskan waktu bersama cucu-cucu Mamah." mamah sudah berderai air mata, haru bercampur sedih.
"Tidak, sayang. Mas akan ikut kamu tinggal di rumah Mamah." Mas Dika mepet-mepet kepadaku. Cari kesempatan sekali dia.
Karena ada banyak orang, aku diamkan saja kelakuan dia. Bagaimanapun aku tidak mau Keluarga sampai tahu masalah kami. Biarkan aku saja yang tahu, aku tetap harus menjaga kehormatan suamiku di hadapan keluargaku.
"Kamu yakin, Mas? Nanti berisik tahu, di rumahku banyak orang. Mas Dika kan paling anti dengan berisik begitu." ucapku, sebenarnya memberikan kode agar dia jangan tinggal bersama kami.
Pasti nanti sangat berat, harus bersikap mesra di hadapan semua keluarga, sementara hatiku masih sakit dan berdarah. Lebih bagus kalau dia tinggal di apartemennya saja.
"Tidak apa-apa sayang, Mas akan lebih bahagia kalau hidup bersama istri dan anak kita." gombalnya. Tapi aku akhirnya mengalah. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan dia.
Yang aku tahu, suamiku yang tampan ini sudah menandatangani perjanjian dengan Papah Farhan, bahwa dia akan meninggalkan selingkuh nya. Tapi aku tidak tahu, apakah benar dia sudah 100% melakukan itu. Selama perjalanan Dubai - Indonesia, aku lihat dia sama sekali tidak menyentuh ponselnya. Dia lebih fokus ke cari perhatian padaku dan telaten sekali saat menjaga Adrian, anak kami satu-satunya.
Setelah sampai ke rumah kami, aku langsung menangis sedih. Di rumah ini, banyak kenanganku bersama Mas Ilham. Di rumah ini, kami berdua merencanakan pernikahan kami dengan bahagia.
Tiba-tiba hatiku berdenyut sakit. Saat aku akan menutup pintu rumahku, aku lihat Mas Ilham tengah menatap sendu ke arah rumah kami. Hatiku sungguh terhiris rasanya. Dia sekarang kurus dan wajahnya terlihat muram.
Padahal Mas Ilham yang aku kenal, tipe orang yang jahil dan selalu bahagia wajahnya. Hatiku rasanya tercubit. Apakah Mas Ilham belum bisa merelakan rencana pernikahan kami yang kandas?
Aku ingin memanggil Mas Ilham sebenarnya, tapi aku menjaga hati suamiku. Dia pasti marah dan sakit hati. Kalau aku bertemu dengan Mas Ilham lagi. Alasan Mas Dika mengikutiku ke Indonesia, untuk mengawasi diriku dari Mas Ilham.
Aku menutup pintu, lalu memutuskan untuk merapihkan koper yang kami bawa di kamarku. Adrian sangat bahagia bertemu dengan Nenek dan juga sepupunya.
Adrian langsung akrab dengan Qonita. Usia mereka hanya terpaut 1 tahun. Qonita mengasuh Adrian dengan telaten. Qonita memang belum punya adik. Karena Mas Rasyid lebih fokus ke ngurus santri dari pada produksi anak. Hehehe.
Aku berbaring di ranjangku. Lelah rasanya, setelah perjalanan panjang kami. Mas Dika berbaring di sampingku. Dia berusaha memeluk diriku, tapi aku berusaha menghindari.
"Ayolah sayang! Mau berapa lama lagi, kamuu menghindari Mas? Mas kangen banget sama kamu, sayang!" Suamiku matanya sudah berkabut. Aku tahu apa artinya, tapi hatiku masih sakit. Tidak semudah itu melupakan pengkhianatan dia dengan mantan pacarnya itu. Masih jijik rasanya.
"Maafkan Kesya, Mas! Tapi hati Kesya masih sakit!" Aku berniat akan pergi, tapi Mas Dika sudah duluan menangkap tanganku dan membawa aku ke ranjang kembali. Dia langsung mengungkung diriku dalam kuasanya.
Untuk pertama kali, setelah perselingkuhan dia aku tangkap tangan, malam itu dia berhasil melampiaskan hasratnya padaku. Aku hanya pasrah, bagaimanapun dia memang berhak atas diriku. Dia masih suamiku.
Malam ini, aku tidur dalam pelukannya. Air mata berderai di pelupuk mataku. "Mas janji, gak akan ulangi lagi sayang! Mas mohon, maafkan Mas!" ucapnya sambil mencium pucuk kepalaku. Aku sedih sekali, hanya bisa menyembunyikan tangisku dalam pelukannya.
'Ya Allah, semoga engkau selalu melindungi rumah tanggaku. Demi Adrian, aku harus bertahan. Dia berjanji mau berusaha bersama denganku. Mempertahankan rumah tangga ini. Berkahi usaha kami, ya Robb!'doaku dalam tangis.