
Setelah mendengar pengakuan dari Silvia, Ilham sangat marah sekali. Luka hati yang berusaha dia kubur terkuak kembali. Penderitaan setelah kecelakaan yang disebabkan oleh rencana Silvia seketika mencuat kembali.
"Umi, Abah, Ilham tidak akan pernah memaafkan wanita keji itu. Cintanya sudah membuat Ilham dan Kesya hidup dalam penderitaan. Sehingga kami berpisah dan tidak bisa bersama lagi!" Ilham sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi guna melaporkan kejahatan Silvia.
Abah menghela nafas berat. Sungguh pelik sekali masalah putra semata wayangnya. "Abah sungguh tidak tahu harus berkata apa. Semua terserah kepadamu. Karena kamu yang terkait langsung dengan perbuatan keji Silvia." Ilham sungguh mantap hatinya untuk melaporkan Silvia.
"Umi sebenarnya kasihan sama orang tuanya. Pasti sangat berat, memiliki anak seperti Silvia." berkali-kali Umi Hasanah menghela nafas berat.
"Karena mereka selalu memanjakan Silvia, makanya perempuan keji itu selalu berbuat sekehendak hatinya. Selalu egois dan menyakiti orang lain. Selama di pondok Silvia juga selalu mem-bully teman-temannya."
"Sudahlah, Nak! Tidak baik meracuni hati kamu dengan kebencian. Biarkan Allah yang menghukum Silvia. Memaafkan kesalahan orang lain, berarti kita berdamai dengan diri kita sendiri."
"Tapi Abah, kalau kita tidak memberikan pelajaran, maka selamanya Silvia tidak akan pernah perduli dan memahami untuk tidak selalu memaksakan keinginannya. Dia harus belajar, tidak semua orang harus menuruti apapun mau dia!" geram sekali Ilham setiap mengingat apa yang Silvia lakukan kepada dirinya dan Kesya.
"Baiklah Abah, Ilham berangkat dulu ke kantor polisi." Ilham mengajak supir pribadi Abahnya demi keamanan.
Ilham tahu, apa yang akan dia lakukan adalah hal yang besar, pasti akan banyak konsekuensinya. Tapi dirinya tidak boleh bersikap lemah, atau hidupnya akan selalu di teror oleh ambisi dan obsesi gila seorang bernama Silvia.
Ilham sudah muak dengan semua kegilaan Silvia. Satu tahun lalu, saat Ilham sudah bersiap akan berangkat ke Dubai, niatnya akan melihat Kesya dari kejauhan, karena rasa rindu yang amat sangat. Tetapi perjalanan yang sudah dia rencananya jauh-jauh hari harus batal. Silvia berulah dengan meminum obat-obatan, overdosis. Sehingga orang tuanya memohon agar dirinya mau menemani Silvia dalam pemulihannya.
Ilham selalu saja lemah hatinya. Tapi Ilham bersyukur tidak terjatuh untuk menerima permohonan orang tua Silvia untuk menikahi Silvia. Ilham bersyukur kepada Allah, dirinya masih diselamatkan dari wanita keji seperti Silvia.
"Kesya, aku akan memastikan bahwa Silvia akan membusuk di penjara. Gara-gara wanita itu, sekarang kita berpisah seperti sekarang." tanpa terasa air mata lolos dari kelopak matanya. Kesedihan kehilangan orang yang kita cintai memang sungguh berat.
Setelah melaporkan Silvia Ilham memutuskan untuk mendatangi rumah Kesya. Ingin memberi kabar tentang kasus Silvia. Tapi saat sampai ke rumah lama Kesya, Ilham mendapatkan fakta bahwa rumah itu sudah di jual.
"Kemana Mamah Andin pindah, ya?" Ilham memutuskan untuk menelpon Rasyid saja.
"Assalamualaikum, Mas Rasyid. Ini Ilham, Mas!"
"Waalaikum salam, Ilham. Apa kabarmu?"
"Alhamdulillah baik,Mas! Oh ya.. Saat ini aku lagi di depan rumah lama kalian. Tapi rumahnya sudah di jual, dimana Mamah Andin sekarang?"
"Mamah sekarang mengurus rumah singgah yang di berikan oleh suaminya Kesya. Memang ada apa?" tanya Rasyid dari sebrang sana.
"Tidak apa-apa, Mas. Hanya ingin ngobrol saja dengan beliau." Ilham terdiam, ada rasa pilu dihatinya. Suami Kesya memang sangat kaya raya. Kabarnya Andika memberikan rumah mewah untuk Mamah Andin dan juga untuk Rasyid. Kesya juga menerima Mas kawin sebuah apartemen mewah di Dubai. Sungguh beruntung hidup Kesya.
Dahulu, seharusnya seminggu setelah pernikahan Ilham dan Kesya, rencananya Ilham akan mengikuti Kesya untuk mengambil S2 nya di Mesir dan Kesya mengambil jurusan kedokteran. Tapi semua rencana gagal total karena perbuatan Silvia. Ilham sangat marah dan terluka. Semua hidupnya hancur dan kacau balau. Bagaimana Ilham sanggup memaafkan wanita keji itu? 'Tidak akan pernah!' tekat Ilham dalam hati.
"Ilham, kamu masih disana?" Rasyid menyadarkan lamunan Ilham.
"Oh ya, Mas Rasyid. Ilham mau menyampaikan sesuatu. Itu Mas, orang yang merencanakan pembunuhan Ilham dan Kesya sekarang sudah di tangkap, tinggal menunggu pengadilan saja." Rasyid terkejut mendengar kabar baik tersebut.
"Benarkah? Bagaimana kamu bisa mengetahui hal tersebut? Itu kasus sudah lama sekali!"
"Pelakunya yang mengaku sendiri, Mas!" Ilham lesu kalau ingat tentang Silvia. Cinta telah membutakan mata hati Silvia.
"Kabari, Mas Rasyid ya. Kalau nanti persidangan di mulai. Mas ingin pelakunya di hukum seberat-beratnya. Dia sudah memberikan penderitaan kepada kita semua!" Rasyid juga merasa geram.
"Ya, Mas! Pasti Ilham tidak akan memaafkan pembunuh keji itu untuk bebas berkeliaran. Ilham tutup ya, Mas! Sudah sore, mau kembali ke rumah. Abah pasti bingung cari Ilham sekarang." Setelah berpamitan Ilham menutup telponnya. Lalu kembali ke rumahnya.
Sementara itu, di Dubai. Di rumah Kesya.
Kesya yang sudah mulai sibuk dengan kuliahnya. Harus pintar-pintar mensiasati waktunya. Adrian saat ini sedang lincah-lincahnya. Kesya tidak mau menyerahkan pengasuhan anaknya di tangan pengasuh. Kalau dia berangkat kuliah, Adrian di titipkan di rumah orang tua Andika.
Mereka sangat sayang dengan Adrian. Jadi tidak pernah keberatan di titipi Adrian. Semua orang di rumah itu sangat menyayangi bocah gembul yang tampan dan menggemaskan itu.
Kesya menerima telpon dari kakaknya, bahwa pelaku yang mencelakai dirinya dan Ilham beberapa tahun lalu sudah ditangkap, dan sekarang dalam tahap penyelidikan oleh kepolisian.
"Kesya, apa kamu bisa pulang ke Indonesia? Penyelidik meminta kalian berdua sebagai saksi untuk hadir memberikan laporan dan kesaksian. Kamu dan Andika terlibat secara langsung dalam insiden tersebut." Rasyid menelpon Kesya sore itu.
Setelah menerima telepon dari Ilham, Rasyid dan Zahra beserta anak mereka berkunjung ke Tangerang. Sekalian menengok Mamahnya.
"Nanti Kesya diskusikan dengan Mas Dika. Salam buat Mamah ya, Mas!" setelah berpamitan, Kesya menutup telponnya. Dan kembali mengurus Adrian yang saat ini lagi rewel, mungkin karena lagi pertumbuhan gigi baru, jadi Adrian sering demam dan jadi sangat manja kepadanya.
Memang sejak pernikahan Kesya dan Andika, Rasyid bisa dikatakan sangat jarang berkunjung ke Tangerang. Sedikit banyak, kejadian penculikan waktu itu meninggalkan rasa trauma di hati mereka. Walaupun penculikan itu dilakukan hanya untuk memaksa Kesya agar mau menikah dengan Andika. Tapi jauh dalam hati Rasyid, dirinya merasa sangat bersalah kepada Ilham beserta keluarganya. Merasa sebagai pengkhianat.
Rasyid sangat tahu bagaimana cinta Ilham untuk Kesya sangat besar. Pengorbanan Ilham dalam mencari sang adik selama Kesya menghilang. Ilham bahkan mengorbankan beasiswa S2 nya di Mesir, demi mencari Kesya.
"Tenanglah, Mas! Pernikahan Kesya dan Andika bukan 100% kesalahan Mas. Saat itu kita dipaksa dan di ancam. Ilham pasti paham dengan situasi kita saat itu." Zahra sang istri berusaha menenangkan sang suami yang tampak gugup.
"Tapi Mas yang menikahkan mereka berdua. Sampai sekarang Ilham bahkan belum menikah. Kabarnya, dia selalu menolak setiap ada keluarga yang meminta dirinya sebagai menantu. Mas sungguh telah berbuat dzalim kepada Ilham dan membuat malu keluarga Kiai Maulana. Mas murid yang tidak berbakti!" Rasyid menutup wajahnya dengan kedua tangannya, rasa bersalah selalu menghantui hidupnya.