Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
241. Lindungi anakku



Ayana berusaha untuk menjenguk Axel yang saat ini masih belum sadarkan diri di ruangan ICU. sementara itu Agus sudah masuk ke ruangan perawatan. Setelah mengalami banyak luka-luka di sekujur tubuhnya.


Baby sister Axel mengalami cedera yang cukup fatal dan dia dinyatakan meninggal ketika di bawa ke rumah sakit.


Hati Ayana benar-benar sangat sedih menerima kenyataan itu di mana terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh Agus yang hilang kendali ketika dirinya meminta bercerai dari Agus.


" Apa sebenarnya yang terjadi Ayana? Kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti ini? Bukankah tadi kau mengatakan hanya akan pergi untuk makan malam saja?" sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan oleh Humairah akan tetapi melihat kondisi Ayana yang begitu drop membuat Humairoh mengurungkan niatnya.


" Tolong Ayana Mah untuk Mama mau mengurus pemakaman dari baby sister Axel dan berikanlah uang pesangon untuk keluarganya atas kecelakaan ini. Tolong sampaikan permohonanku kepada pihak keluarganya!" ucap Ayana dengan suara yang tersekat di tenggorokannya saat ini Ayana benar-benar sedih karena melihat Axel yang belum sadarkan diri sampai saat ini.


" Kau tidak usah khawatirkan itu. Mama sudah menyuruh Sekretaris mama untuk mengurus semua itu. Bahkan jenazahnya sudah dikirimkan ke kampung dengan menggunakan ambulans dari rumah sakit!" ucap Humairoh melaporkan apa yang sudah dia lakukan.


" Tolonglah Mama untuk datang ke sana. Setidaknya menghargai duka hati mereka karena kehilangan anggota keluarganya. Untuk saat ini Ayana belum bisa menemui mereka. Karena kondisi Excel dan Agus yang masih belum jelas kondisinya sampai saat ini. Dokter bilang kondisi mereka masih dalam keadaan vegetatif yang masih harus terus dikontrol sepanjang waktu! Ayana benar-benar sangat pusing saat ini mah belum bisa menangani tentang Baby Sister itu tolong mama untuk membantu Ayana untuk meminta maaf secara langsung kepada mereka!" ucap Ayana kembali mengulang permintaannya kepada Humairoh.


" Tapi kalau mama pergi dari sini, lalu siapa yang akan menjagamu Ayana? Sementara kondisimu sebenarnya harus juga dirawat." belum selesai Humairoh mengatakan Apa yang hendak dia katakan Ayana sudah jatuh pingsan di tempat.


Humairo yang panik dia langsung memanggil tempel medis yang kebetulan lewat di hadapannya.


Ayana langsung mendapatkan penanganan dari dokter dan dinyatakan bahwa Ayana saat ini belum sadarkan diri karena telah kehabisan banyak darah.


" Kami membutuhkan darah untuk bisa menyelamatkan Nyonya Ayana. Dia kehabisan banyak darah. Sementara saat ini stok darahnya sedang menipis. Bisakah anda mencarikan donor darah untuk kita bisa menyelamatkannya?" Tanya Dokter begitu dia keluar dari ruangan ICU dan menemui Humairoh.


" Baiklah saya akan segera mencari donor darah untuk Ayana!" WhatsApp Humairoh yang benar-benar saat ini sedang kehilangan akal untuk mendapatkan darah bagi Ayana.


' Ya Tuhan apakah ini adalah pertanda yang kau berikan kepadaku untuk mempertemukan seorang ayah dan anaknya?' batin Humairoh merasa benar-benar sangat dilemah Karena sejujurnya dia tidak ingin sampai Ayana dan ayahnya bisa bertemu.


" Aku harus menghubungi Pradipta. Karena hanya diam bisa menolong ayahnya saat ini. Hanya darahnya yang bisa menyelamatkan ayahnya dari gerbang kematian!" Humairoh kemudian langsung meninggalkan rumah sakit pergi menuju ke kantor Pradipta.


Begitu sampai di kantor ayahnya Ayana. Humairoh tampak ragu. Akan tetapi saat ini nyawa Hayana berada di dalam bahaya.


" Maafkan saya. Apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Pradipta?" tanya Humairoh ketika dia berada di dalam kantor Pradipta kepada resepsionis yang bertugas di sana.


Humairoh mengedarkan pandangannya barangkali dia bisa bertemu dengan Pradipta di aula kantornya.


" Maafkan saya Nyonya. Apakah anda sudah memiliki janji temu dengan Tuan Pradipta?" tanya resepsionis itu dengan sopan kepada Humairoh.


" Kau katakan saja bahwa Humairoh Sugandi, Ingin bertemu dengannya sekarang juga!" ucap Humairoh sambil menahan emosi yang sebenarnya sudah naik dari tadi melihat resepsionis itu yang sepertinya Santai dengan keperluannya.


Petugas itu seperti mempertimbangkan apa yang akan dia lakukan.


" Cepat kau panggil Pradipta kemari! Dasar brengsek! Apa kau tahu kau sedang mengulur nyawa anakku?" ucap Humairoh sudah lepas kendali. Karena saat ini dia benar-benar kalut dan sedang memikirkannya nyawa Ayana yang dalam bahaya.


Petugas resepsionis sudah mulai gemetar dan ketakutan melihat Humairoh yang menatapnya dengan tajam.


" Baiklah Nyonya. Anda tenang dulu, saya akan segera menyampaikan kepada Tuan Pradipta tentang permohonan anda untuk bertemu!" ucap petugas itu berusaha untuk menenangkan Humairah.


" Dasar kau petugas Brengsek! Dari tadi kau cuma membuatku marah dan buang-buang waktuku! Cepat tunjukkan padaku di mana ruangan Pradipta! Karena aku tidak punya waktu untuk bicara omong kosong dengan petugas amatir seperti kamu! Nyawa anakku saat ini dalam bahaya!" ucap Humairoh dengan menitipkan air matanya. Karena sejujurnya saat ini dia benar-benar sangat kalut memikirkan nasib Ayana yang sedang berjuang untuk mempertahankan nyawanya.


" Nyonya! Mari Ikuti saya saya akan membawa anda ke ruangan Tuan Pradipta!" WhatsApp petugas resepsionis dengan gemetar karena dia ketakutan melihat Humairoh yang sudah menangis.


Begitu Humairoh bertemu dengan Pradipta yang terkejut dengan kehadirannya di kantornya. Dia langsung mendekati Pradipta dan menggenggam telapak tangannya dengan berlinang air mata.


" Kalian keluarlah!" perintah Pradipta kepada semua orang yang saat ini ada di dalam ruangannya.


Mereka semua nampak heran dengan apa yang dilakukan oleh Humairoh. Ketika masuk ke dalam ruangan itu tetapi mereka tidak berani untuk bertanya.


Setelah semua orang keluar dari ruangannya Prasipta langsung mengunci pintu ruangannya. Hal itu di lakukan untuk memastikan bahwa semuanya aman ketika dia bertemu dengan Humairah yang selama 20 tahun lebih telah dia cari keberadaannya.


" Ada apa Humairoh? Kenapa kau tiba-tiba datang ke kantorku dengan menangis seperti ini?" tanya Pradipta merasa kebingungan.


" Kau harus menolong Ayana, Dipta! Saat ini dia sangat membutuhkanmu. Tolonglah aku! Selamatkan dia dengan darahmu. Setidaknya hal itu bisa kau lakukan untuk membayar hutangmu sebagai seorang ayah yang selama ini tidak pernah memperdulikan anakmu!" ucap Humairoh di dalam pelukan Pradipta yang saat ini masih bingung dengan kondisinya.


" Ayo duduklah dulu dan bicara dengan tenang karena aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan!" ucap Pradipta berusaha untuk menenangkan Humairoh yang saat ini masih histeris dengan isak tangis yang membuat Pradipta menjadi iba kepadanya.


" Tolong! Ceritakanlah pelan-pelan agar aku bisa mengerti apa yang kau katakan!" ucap Pradipta berusaha untuk menenangkan Humairoh.


" Aku tidak punya waktu untuk berdongeng denganmu sekarang. Ayo cepatlah kau ikutlah denganku ke rumah sakit. Kau harus mendonorkan darahmu untuk putri kita!" ucap Humairoh dengan tubuh yang lemas dan nafas yang memburu.


" Putri kita? Apa maksudmu Humairah! Aku benar-benar tidak mengerti!" tanya Pradipta kepada Humairah tetapi Humairoh langsung menarik tangannya dan membawa Pradipta keluar dari ruangan itu untuk segera pergi ke rumah sakit.