
Ayana kemudian mulai beranjak dari kursi kebesarannya. Dia menatap jendela yang ada di hadapannya. Melihat ke bawah di mana banyak mobil-mobil yang saat ini sedang berkeliaran di jalanan.
"Aku pasti bisa mendapatkanmu Firman! Karena kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan padaku!" ucap Ayana sambil menerawang terus. Ayana terus memikirkan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya sejak kejadian saat ulang tahunnya yang ke-17 itu.
Ayana harus melepaskan pertunangannya bersama Reynaldi Anggoro, hanya karena saat mereka melakukan tes keperawanan Ayana diketahui telah kehilangan mahkota yang harusnya di jaga oleh seorang wanita.
Ayana menarik nafasnya dalam-dalam. Mengingat begitu berat jalan yang telah dia lalui gara-gara kejadian satu malam yang dia lewatkan bersama dengan Firman saat dia merayakan ulang tahunnya yang ke 17.
Tiba-tiba pintu ruangan Ayana diketuk oleh sekretarisnya, Melisa. Sehingga hal itu berhasil membuyarkan lamunan Ayana tentang masa lalu dan juga kehidupannya yang penuh dengan getir dan kepahitan.
Itulah yang membuat Ayana selalu melarikan diri ke klub malam dan selalu mabuk di tengah malam. Tetapi Ayana beruntung karena memiliki sopir seperti Pak Rahmat. Dia yang selalu berdedikasi dan selalu menunggu Ayana pulang dari klub malam. Sehingga dia selalu selamat dari tangan-tangan kotor yang ingin berbuat mesum kepadanya.
"Ada apa Melisa? Bukankah urusan dengan perusahaan Firman sudah beres?" tanya Ayana menatap tajam kepada sekretarisnya.
"Baru saja sekretaris Tuan Firman menyampaikan kepada saya. Bahwa Tuan Firman menginginkan untuk melakukan pembatalan perjanjian kita yang tadi pagi kita tandatangani!" ucap Melisa dengan wajah sedih sambil menatap kepada ayahnya yang tampak terkejut menerima berita tersebut.
"Kurang ajar sekali Firman berani berbuat semacam itu. Sudahlah kau tenang saja. Aku yang akan membereskan semua ini!" ucap Ayana kemudian dia mengambil tas dan juga ponselnya Dia kemudian menuju ke perusahaan Firman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perusahaan dia.
"Paman! Tolong antarkan saya ke perusahaan yang tadi pagi kita datangi!" perintah Ayana kepada pamannya yang tampak bingung dengan perintah Nona majikannya.
"Apakah ada masalah Non? Kenapa baru kembali dari sana kita pergi lagi ke sana?" Pak Rahmat merasa kebingungan dengan yang dilakukan oleh Ayana.
"Tdak apa-apa paman! Tidak ada masalah ko, saya bisa menyelesaikannya dengan baik. Jangan khawatir!" ucap Ayana sambil tersenyum kepada pamannya.
Bagaimanapun dalam hati Ayana dia merasa berterima kasih kepada istrinya pak Rahmat, Bibinya sendiri. Dia yang sudah memberikan pelajaran dan juga bimbingannya dalam hal memanage perusahaan keluarganya.
Sehingga Ayana sekarang bisa sukses ini menjadi seorang CEO muda yang berbakat dan cukup disegani oleh rekan-rekan bisnisnya.
Ayana terus menggeram mengepalkan kedua tangannya. Ayana merasa jengkel dengan kelakuan Firman yang secara sepihak telah memutuskan kontrak kerjasama yang baru saja mereka berdua tanda tangani pagi ini.
Begitu sampai di perusahaan Firman, Ayana langsung masuk ke ruangan Firman tanpa mengetuk maupun mengucapkan salam. Karena Ayana sangat jengkel sekali kepada Firman, sudah berbuat sewenang-wenang kepada perusahaannya.
"Apa maksud kamu dengan membatalkan perjanjian yang baru saja kita tandatangani?" cap Ayana begitu dia melihat Firman yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Firman mengurutkan keningnya. Ketika dia melihat Ayana yang kini bertolak pinggang di hadapannya dengan mata yang merah padam menyala karena amarah.
"Kai sungguh lancang sekali ketika masuk ke ruangan orang lain, tanpa mengucapkan salam dan mengetuk pintu!" tegur Firman sambil kemudian dia kembali menundukkan wajahnya dan fokus dengan file yang ada di hadapannya saat ini.
Firman menetap Ayana dengan kesal kemudian dia berdiri di hadapan Ayana.
"Aku tidak mau bekerja sama dengan sebuah perusahaan yang ceo-nya seperti kamu, yang tidak bisa mengendalikan emosinya bahkan tidak sopan. Aku tidak mau menggantungkan nasib para karyawanku kepada perusahaan yang dipimpin oleh kamu!" ucap Firman dengan suara lantang.
Tanpa aba-aba Ayana langsung mendekati Firman yang saat ini sedang melihat ke arahnya dengan mata tajam menusuk.
Ayana langsung meraih tengkuk Firman lalu dia mencium bibir Firman dengan penuh gelora di dalam dadanya. Firman yang terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Ayana seketika lemas di tempat. Menerima serangan tiba-tiba wanita yang pernah memiliki kisah masa lalu bersamanya.
Untuk sejenak Firman terpesona dan dia tampak menikmati apa yang disuguhkan oleh Ayana di hadapannya. Seketika kesadaran mulai kembali di kepala Firman yang mengingat kebersamaan dirinya dengan Laila dan putrinya. Firman langsung mendorong Ayana untuk menjauh dari dirinya.
"Keluar kau dari ruanganku! Mulai sekarang aku melarangmu untuk datang ke kantorku!" ucap Firman dengan wajah yang memerah dan suara yang bergetar.
"Aku akan mendatangi istrimu dan akan kuceritakan kejadian kita di masa lalu, yang pernah kau lakukan padaku!" ucap Ayana sambil meninggalkan Firman yang kini tampak Bengong di tempatnya berdiri.
"Tunggu Ayana!" Firman yang seketika sadar, dia langsung mengejar Ayana yang belum jauh dari ruanhannya dan menariknya kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang kau inginkan? Jangan kau berbuat nekat! Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan hal bodoh seperti itu!" ucap Firman sambil mencekal langan Ayana yang meringis kesakitan.
"Aku tidak meminta banyak darimu sayang! Aku hanya ingin, agar kamu untuk segera mengembalikan kerjasama yang sudah kita sepakati tadi pagi dan aku juga mau kamu untuk tidak selalu menolakku, ketika aku menginginkanmu sayang!" ucap Ayana sambil mencium bibir Firman lagi.
Tapi Firman langsung mendorong tubuh Ayana untuk menjauh darinya. Sehingga membuat Ayana terjatuh ke lantai.
"Kau sungguh kasar sekali terhadap seorang perempuan. Apakah itu sikap seorang CEO sebuah perusahaan besar?" tanya Ayana dengan senyum sinisnya kepada Firman yang kini menatap dia dengan penuh kebencian.
"Bersikaplah terhormat apabila kau ingin dihormati oleh orang lain. Jangan kau bersikap murahan seperti itu. Jangan kau pikir aku akan mentolerir apapun yang kau lakukan padaku!" ucap Firman kemudian Dia menyuruh Ayana untuk meninggalkan kantornya. Karena dia sudah muak melihat Ayana yang bertingkah sejak tadi.
"Bagaimana dengan kerjasama perusahaan kita?" tanya Ayana pada akhirnya melemah. Dia sadar bahwa dia tidak bisa melakukan sesuatu yang ekstrem kepada Firman yang kini sudah banyak berubah.
"Aku akan melanjutkan kerjasama itu. Tetapi aku meminta pihakmu untuk merubah penanggung jawab dari kerjasama itu. Aku tidak mau untuk melihatmu wara-wiri di perusahaanku lagi!" ucap Firman mengajukan syarat untuk kelanjutan kerjasamanya bersama dengan perusahaan Ayana.
"Baiklah Firman! Kau menang sayang! Aku akan menunjuk orang lain untuk bertanggung jawab atas kerjasama di antara perusahaan kita. Aku akan pastikan bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi di perusahaan kamu ini. Tapi, kalau di atas ranjang, aku tidak akan bisa menjamin hal itu!" ucap Ayana berbisik di telinga Firman sambil mengecup bibir Firman sekali lagi sebelum dia meninggalkan ruangan Firman dengan tertawa penuh kemenangan.
"Dasar perempuan gila!" maki Firman sambil terus memegangi jantungnya yang sejak tadi berloncatan tidak karuan. Marathon terus dan sangat sulit dia kendalikan.