
"Kamu di mana, Mas? Kenapa kamu seperti menghilang kayak gini?" Syafa terus-menerus mondar-mandir di kamarnya. Dia sama sekali tidak bisa tidur.
"Apa terjadi sesuatu sama kamu, Mas?" tanya Syafa.
Sejak kepergiannya ke Amerika, memang Safa dan Firman sama sekali tidak melakukan kontak telepon. Karena Syafa perasaannya masih merasa sakit. Sehingga dia tidak ingin membuat keributan dengan suaminya itu.
Syafa memilih untuk diam dulu, menenangkan diri di Amerika dan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kalau sampai nanti Firman lebih memilih untuk bersama dengan Laila. Seperti yang dikatakan oleh kedua mertuanya. Bahwa Firman memang sangat mencintai Laila.
Apa kira-kira yang akan dia lakukan? Itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh Syafa. Segala kemungkinan buruk maupun baik. Semuanya berputar di kepalanya. Sehingga membuat dirinya merasa sangat tersiksa dan tidak bisa tidur sama sekali.
"Apakah, Mas Firman sedang bersama Laila?" Seketika hatinya merasakan kecemburuan yang sangat. Syafa menangis dalam diam, saat ini, hatinya memang benar-benar sangat kacau galau, apabila mengingat suaminya tengah bermesraan dengan wanita lain.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Syafa langsung menghapus air matanya. Khawatir kalau yang datang itu adalah Rasya, putra semata wayangnya. Syafa tidak ingin terlihat lemah di hadapan putranya itu, karena khawatir dengan mental Rasya yang akan jatuh.
Dengan lunglai dan malas, Syafa, berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya. Syafa terkejut sekali, ketika mendapatkan Ibu mertuanya yang mengetuk pintu kamarnya di tengah malam begini.
"Mamah? Bukankah tadi Mamah pulang ke kediaman utama?" tanya Syafa kebingungan. Ibu mertuanya kemudian masuk ke dalam kamarnya Syafa, tanpa mengatakan apapun. Tampaknya ada hal penting yang ingin dia bicarakan, sehingga malam-malam begini mengetuk pintu rumahnya Syafa dan Firman.
"Duduklah, Mama ingin bicara denganmu!" perintahnya.
Dengan patuh, kemudian Syafa duduk di sebelah Ibu mertuanya tersebut. Yang masih tampak tertunduk wajahnya. Beliau terlihat meremas seluruh jari-jarinya. Tampak gugup dan ada nampak keraguan di raut wajahnya yang masih terlihat cantik, walaupun sudah tua.
"Syafa____" begitu lama beliau terdiam, Syafa dengan sabar menunggu apa yang akan di sampaikan oleh beliau.
"Apabila, Firman ternyata lebih memilih untuk bersama dengan Laila. Kira-kira____ apa yang akan kau lakukan?" tanya beliau dengan suara yang berat.
Syafa terdiam sesaat, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ada perasaan sakit di dalam hatinya. Ketika membayangkan hal yang diucapkan oleh mertuanya itu. Apabila benar-benar menjadi kenyataan. Apakah dirinya sanggup menerima itu?
"Syafa akan minta cerai, Mah! Syafa tidak akan bisa, berbagi Mas Firman dengan wanita lain. Syafa tidak akan sanggup, untuk berbagi suami dengan wanita manapun!" ucapnya sendu, tampak begitu menderita. Ibu mertuanya tampak menangis, tampaknya beliau juga merasakan kesedihan yang saat ini Syafa rasakan.
"Dahulu, ayahnya Firman juga pernah melakukan hal seperti ini. Dia memiliki selingkuhan dan menikah secara sirih dengan wanita itu. Selama 2 tahun, Mama berjuang, berjuang untuk terus bertahan. Dan akhirnya, wanita tersebut menampakkan taringnya. Sehingga membuat ayahnya Firman sadar dan kembali lagi ke Mama!" ucap Mamahnya Firman dalam keadaan sedih.
Syafa terperanjat seketika, ketika mendengarkan cerita tersebut. Tidak menyangka, bahwa ternyata ibu mertuanya pun menyimpan luka yang sama dengan dirinya saat ini. Pantas saja, beliau selama ini selalu membela Syafa daripada membela anaknya sendiri. Ternyata, ibu mertuanya pun pernah mengalami penderitaan yang sama dengannya saat ini.
"Tapi Mah, Syafa tidak tahu. Apakah Shafa biaa memiliki kekuatan seperti Mama. Lihatlah sekarang, seharian ini, Mas Firman, sama sekali tidak bisa dihubungi." Syafa terdiam sesaat, untuk menarik nafasnya.
"Bahkan, ketika Syafa dan Rasya, berada di Amerika tidak sekalipun dia menghubungi Syafa, Mah! Keadilan apa yang bisa diberikan di dalam poligami ini? Itu tidak mungkin, Mah! Mas Firman tidak akan bisa adil terhadap Syafa. Syafa tidak akan menang, Mah! Apabila harus melawan cinta pertamanya dia, cintanya terhadap Laila!" Syafa langsung terisak, suaranya tersekat di tenggorokan.
Tanpa mereka ketahui, saat ini Rasya, juga mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Anak yang sedang menginjak usia remaja itu, tampak terisak, ketika melihat ibunya menangis tersedu-sedu. Tampaknya, Rasya bisa merasakan penderitaan ibunya. Ibunya yang selama ini selalu bersamanya.
"Cobalah! Cobalah! Untuk bertahan demi Rasya! Syafa! Mama mohon! Berilah kesempatan kepada Firman, untuk menyadari kesalahannya saat ini. Jangan terlalu terburu nafsu. Jangan sampai nanti kamu menyesali keputusan yang saat ini mau kau ambil. Percayalah, sama Mama! Firman pasti bisa kembali sama kamu. Bukankah dulu kamu juga yang mengobati luka hatinya? Setelah Firman ditinggalkan oleh Laila?" Syafa terdiam sejenak.
"Syafa tidak bisa janji, Mah! Syafa akan berusaha untuk melihat perkembangannya nanti. Bagaimana sikap dan perlakuan Mas Firman. Syafa akn berusaha untuk mengabulkan keinginan Mama. Tapi tolong, jangan paksa Syafa, apabila Syafa tidak sanggup menghadapi ini semua Mah!" ucap Syafa dengan berderai air mata.
Ibu mertuanya kemudian memeluk sang menantu yang sangat disayanginya itu. Ya, selama ini memang dirinya ingin memiliki seorang putri. Tetapi dirinya tidak beruntung karena, akibat perselingkuhan ayahnya dulu, sehingga mengakibatkan luka hati dari ibunya Firman itu. Dan beliau pun akhirnya melakukan operasi Vasektomi untuk memberikan balas dendam kepada suaminya itu. Agar dia tidak bisa memberikan keturunan lagi untuk suaminya. Yang saat itu membuat dia merasa terluka yang teramat dalam. Balas dendam yang akhirnya dia sesali.
"Syafa! Percayalah! Mama dan Papa pasti ada di pihakmu. Mama hanya minta kepadamu, untuk bersabar dalam menghadapi Firman saat ini! Jangan terlalu terbawa emosi!" nasehat ibu mertuanya.
"Ya, Mah! Syafa akan berusaha. Terima kasih banyak ya, Mah! Atas semua dukungan Mama dan Papa, terhadap Syafa. Dalam menghadapi cobaan ini. Tanpa kalian, Syafa tidak akan sanggup melewatinya!" kemudian ibu dan menantu itu pun, saling berpelukan saling memberikan kekuatan satu sama lain.
Rasya yang sudah tidak sanggup menahan kesedihannya pun, akhirnya berlari ke kamarnya dan menangis di dalam kamarnya. Perasaan bencinya terhadap ayahnya semakin menggunung. "Rasya benci sama Papa!" teriak Rasya.
"Rasya tidak akan pernah memaafkan Papa! Rasya janji! Rasya akan membenci Papa seumur hidup Rasya!" ucapnya dengan derai air matanya.
Rasya melemparkan semua barang-barang yang pernah diberikan oleh ayahnya. Perasaan bencinya terhadap ayahnya, Rasya dilampiaskan terhadap barang-barang yang tidak berdosa itu. Sehingga kini kamarnya Rasya berantakan selayaknya seperti kapal pecah.
"Rasya! Rasya! Apa yang terjadi di dalam sana, Nak? Buka pintunya! Biarkan Mama bicara denganmu! Rasya! Cepat buka, sayang!" di luar pintu siapa terus berteriak menggedor-gedor pintu kamarnya Rasya.
Tetapi, Rasya sama sekali tidak perduli. Saat ini, hatinya sedang sakit. Dia hanya ingin melampiaskan perasaan kesalnya itu dengan menghancurkan semua barang-barang yang pernah diberikan oleh ayahnya dahulu.
"Sudah, biarkan saja! Mungkin, Rasya sedang kesal hatinya. Sudah, biarkan. Ayo kamu istirahat saja. Mama akan segera pulang lagi ke kediaman utama. Tadi, Mama pergi menyelinap tanpa sepengetahuan ayahmu. Ya udah Mama pulang dulu ya? Kamu harus hati-hati. Ingat pesan Mama tadi oke?" setelah berpamitan ibunya Firman pun akhirnya pulang dan kembali ke kediamannya sendiri.
Setelah keadaan di kamar Rasya tenang. Syafa pun, akhirnya Pergi ke kamarnya sendiri. Dan berusaha untuk tidur. Karena saat ini memang waktu sudah tengah malam hampir jam 02.00 malam.