
Agus kemudian meninggalkan Rahmat dikontrakannya dan dia segera mengendarai mobilnya untuk memulai shift malamnya.
"Kasihan juga Pak Rahmat harus berjauhan dengan istrinya aku harus gimana ya?" Agus terus bermonolog di dalam hatinya. Karena dia merasa kasihan kepada teman barunya yang nampaknya sangat tersiksa berpisah dengan istrinya.
"Mereka berdua itu saling mencintai hanya saja masing-masing sama-sama ego tinggi." ucap Agus pelan.
"Di mana kemarin ya, aku mengambil Pak Rahmat? Coba aku ingat-ingat, siapa tahu aku bisa mendatangi istrinya dan memberitahukan keberadaan Pak Rahmat sekarang kepada istrinya." Agus kemudian berkeliling dan mengingat-ingat kemarin dia membawa Pak Rahmat di mana.
"Kalau nggak salah di sekitar sini. Coba aku lihat. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan keluarga Pak Rahmat!" ucap Agus pelan.
visualisasi Agus calon suami Ayana
Agus kemudian turun dari mobilnya dan mencoba untuk mencari keluarga Rahmat.
"Rumah di sini sangat jarang. Aku yakin pasti ada seseorang yang mengenal Pak Rahmat dengan baik di lingkungan ini!" Agus terus berputar di sekitar lingkungan itu.
Tiba-tiba saja Agus menabrak seseorang yang membuatnya terkejut.
"Maaf mbak tidak sengaja!" ucap Agus sambil membungkukkan kepalanya dan meminta maaf kepada wanita yang tadi tidak sengaja dia tabrak.
"Lain kali hati-hati dong Mas! Masa Jalan segede gini, Masnya pakai acara nabrak saya segala?" tanya wanita itu sambil misuh-misuh.
"Ayana apa kau sudah menemukan pamanmu?" tiba-tiba Humairah sudah ada di samping Ayana.
"Belum Bi tadi Ayana mencoba untuk menghubungi Om Rahmat juga tidak diangkat-angkat. Tampaknya dia ganti nomor atau nomor Ayana sudah memblokir ya? Ayana bingung!" tanya Ayana sambil mendekat kepada Humairoh yang tampak sedang kebingungan.
"Bibi itu khawatir saja sama pamanmu Ay! Dia itu selama hidupnya tidak pernah jauh dengan Bibi. Bibi takut apa dia bisa tidur di tempat lain atau bisa makan di tempat lain. Selama ini kan, pamanmu badan dan perutnya itu sangat sensitif!" ucap Humaira dengan penuh kekhawatiran tentang suaminya.
Agus yang sedang memperhatikan mereka berdua tampak tertarik ketika mendengarkan bahwa kedua perempuan itu sedang membicarakan orang bernama Rahmat.
Agus kemudian mencoba untuk mendekati mereka. Dia memberanikan diri untuk bicara dengan mereka. Maklum saja, Agus merasa minder dengan penampilannya yang sederhana. Sementara mereka berdua berpenampilan seperti orang kaya dengan pakaian glamour dan mewah.
"Permisi maaf ganggu sebentar!" ucap Agus berusaha memberanikan diri nya untuk mendekati Humairoh dan juga Ayana.
"Ada apa ya Mas? Perasaan tadi kita tidak kenapa-napa kan ya? Mas mau ganti rugi?" tanya Ayana sambil menatap tajam kepada Agus yang kini semakin menundukkan kepala karena merasa tersinggung dengan ucapan Ayana barusan.
"Bukan mbak bukan! Saya tidak ingin minta apapun kok sama anda!" ucap Agus sudah mulai pucat wajahnya.
"Hus! Ayana kamu itu kebiasaan sekali. Kalau punya mulut tidak bisa menjagamya. Apa kau tahu mulutmu adalah harimaumu? jangan suka menghambur kata-kata yang tidak pantas terhadap orang lain!" ucap Humairah menegur keponakannya.
"Ya maaf Bi! Ayana kan cuma nanya kali aja bener dia mau minta ganti rugi sama kita. Karena gara-gara tadi tanpa sengaja ketabrak sama Ayana!" ucapan sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan apa yang sudah dia perbuat tadi.
"Maaf ya Mas keponakan saya ini masih labil tolong jangan diambil hati, ya?" ucap Humairoh kepada Agus yang kini menundukkan kepalanya karena merasa malu dengan perkataan Ayana yang mengatakan kalau dia mendekati mereka untuk meminta ganti rugi kepadanya.
Humairoh seketika terkejut ketika Agus mengatakan nama Rahmat.
"Apakah Mas tahu tentang suami saya?" tanya Humairoh kepada Agus dengan wajah penuh antusias.
" Jadi anda adalah Humairoh istrinya pak Rahmat?" tanya Agus dengan wajah sumringah dan penuh kebahagiaan karena akhirnya pencarian yang membuahkan hasil.
"Bener mas saya adalah Humairoh istri dari Pak Rahmat Apakah anda kenal dia!" tanya Humairoh dengan sangat antusias.
Humairoh tersenyum sambil memegang tangan Agus sangking semangatnya dia. Karena setelah seharian berputar-putar akhirnya ada seseorang yang mengenal Rahmat, suaminya.
"Apakah kalian punya foto Pak Rahmat? Coba saya lihat! Siapa tahu salah dan beda dengan Rahmat yang saya kenal!" ucap Agus meminta untuk memperlihatkan foto Rahmat kepada Humairoh.
Humairoh kemudian mengambil ponsel yang ada di tas kecilnya kemudian dia membuka galeri ponselnya dan mencari foto suaminya.
"Ini Mas! Dia adalah suamiku. Foto ini di ambil ketika anak pertama kami wisuda di Jogjakarta. Belum lama ini, jadi tidak ada perbedaan dengan wajahnya yang sekarang!" ucap Humairoh sambil memberikan ponselnya untuk dilihat oleh Agus.
Agus tersenyum kemudian dia memberikan kembali ponsel tersebut kepada humairoh.
"Benar Bu! Dia adalah Rahmat yang saya kenal! Sekarang dia ada di kontrakan saya!" ucap Agus merasa sangat senang sekali karena pencariannya tidak sia-sia.
" Tolong antarkan saya kepada suami saya Saya ingin bicara dengan dia!" ucap Humairoh tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya.
"Maafkan saya nyonya. Tapi kalau menurut saya, lebih baik anda tidak menemuinya dulu. Biarkan Pak Rahmat untuk tenang dan berpikir lebih jernih. Jangan khawatir! Saya akan selalu memberikan kabar beliau kepada anda. Oh ya! Tolong tuliskan nomor telepon anda biar nanti saya menghubungi!" ucap Rahmat sambil menyodorkan ponsel bututnya kepada Humairah.
Humairoh kemudian mengambil ponsel tersebut dan mencatat nomor teleponnya di ponsel milik Agus.
"Ini nomor ponsel saya Mas! Mas bisa menghubungi saya kapan saja. Kalau suami saya membutuhkan apapun. Katakanlah nanti saya akan mengantarkannya!" ucap Humairoh sangat bahagia sekali karena akhirnya ada kabar dari suaminya.
" Jangan sembarangan mempercayai orang lain kita tidak tahu asal-usul dia Bagaimana kalau dia menipu kita?" tanya Ayana sambil melirik sinis kepada Agus yang sekarang melotot kepadanya.
"Saya tidak tahu anda memiliki masalah apa dengan saya, atau mungkin anda memiliki masalah dengan hati anda. Hati yang selalu berpikir negatif terhadap orang lain! Nyonya! Saya permisi kalau anda tidak percaya dengan saya, Anda boleh mengikuti saya. Tetapi Saran saya, Anda jangan bertemu dulu dengan Pak Rahmat. Karena saya yakin dia saat ini sedang tidak ingin bertemu dengan anda!" ucap Agus berusaha untuk menasehati Humairoh untuk membiarkan Rahmat sendiri dulu dan menenangkan dirinya.
'Perempuan ini cantik-cantik tapi mulutnya luar biasa pedadnya. Tampaknya mulut dia tidak pernah di sekolahkan apa ya? Kalau aku cium gimana rasanya? mulutnya saja begitu pedas!' batin Rahmat sambil menatap dengan penuh curiga.
"Nyonya Pak Rahmat itu masih merasa tersinggung dengan anda yang sudah menyembunyikan identitas anda darinya lebih dari 30 tahun. Oleh karena itu, Pak Rahmat memilih meninggalkan anda karena dia tidak mau ribut ataupun bertengkar dengan anda. Saya rasa lebih baik, kalau anda memberikan waktu kepada Pak Rahmat untuk berpikir lebih jernih!" ucap Agus sambil meninggalkan Humairoh dan juga Ayana yang saat ini Bengong di tempatnya.
"Silakan ikuti mobil saya, kalau menginginkan bukti Pak Rahmat betul bersama saya atau tidak!" ucap Agus dengan mata sinis menatap kepada Ayana yang sampai sekarang masih cemberut kepadanya.
'Sayang cantik-cantik wajahnya, tetapi kelakuannya Kayak mak lampir! Tidak bisa menjaga perasaan orang lain!" ucap Agus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa sayang dengan kecantikan Ayana tetapi kelakuannya minus.
"Heh kamu orang udik! Kenapa kau dari tadi saya lihat mengeleng-gelengkan kepala terus ha?" ucap Ayana sambil menarik bahu Agus agar dia menghentikan langkahnya.
" Ya ampun Mbak! Kepala-kepala saya sendiri terserahlah saya mau ngapain. Lagian apa juga urusannya Mbak?" sengit Agus sambil menatap tajam kepada Ayana yang menurutnya sudah sangat keterlaluan dan tidak pernah menghargai orang lain.