
Setelah perundingan selesai, Mereka pun kemudian memutuskan untuk mengantarkan Adrian ke pondok pesantren. Setelah semua persiapan dilakukan oleh Andika dalam mengatur perusahaannya yang akan dia tinggalkan untuk sementara waktu selama dia dan keluarganya mengantarkan Putra kesayangannya untuk belajar ilmu agama di pondok pesantren.
" Apakah Papa Yakin akan mengijinkan Adrian untuk jauh dengan kita Pah? Sejujurnya sih, Mama benar-benar masih berat untuk melepaskannya. Kenapa tidak nanti pas kuliah saja sih Pah? Adrian pergi ke Indonesianya atau ke negara lain untuk Adrian kuliah!" tempat Kesya yang masih bimbang Untuk mengantarkan Putra mereka ke pondok pesantren.
Andika mendekati istrinya yang paling dia sayangi sepanjang kehidupannya.
Wanita yang telah dia perjuangkan dengan sangat keras dan melalui banyak rintangan.
" Bukankah Mama juga dulu di masa kecilnya hidup di pondok pesantren bersama Mas Rasyid? Bagaimana perasaan Mama waktu itu? Di saat Mamah berjauhan dengan kedua orang tua mama untuk mencari ilmu agama?" tanya Andika sambil menatap tajam kepada istrinya yang mulai menerawang kembali masa kecilnya yang memang dihabiskan di pondok pesantren milik kedua orang tua Ilham yang sudah meninggal.
Tampak Kesya menutup wajahnya dengan kedua tangan tanpa bulir-bulir air matanya mengalir dengan deras.
" Astaghfirullahaladzim, Ya Allah! Tolobg kau ampunkanlah kelemahan hati hambamu ini. Seorang manusia yang lemah ini seorang ibu yang tidak rela ditinggalkan oleh anaknya untuk menuntut ilmu agama untuk mengagungkan asma-mu Ya Allah di muka bumi ini!" ucap Kesya sambil memeluk suaminya yang telah mengingatkan sang istri.
" Ingatlah sayang cinta yang mutlak itu hanyalah milik Allah anak adalah Titipan kita sebagai orang tuanya memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak kita agar menjadi manusia-manusia yang taat kepada Allah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan serta berjalan di jalan yang lurus yang di ridhai oleh Allah!" ucap Andika berusaha untuk mengingatkan istrinya.
" Memang awalnya pahit. Tetapi setelah mereguk manisnya cinta ketika menuntut ilmu, kita pasti akan merasa bahagia dan bangga melihat Putra kita menjadi manusia yang mencintai Alquran dan juga Tuhan mereka. Anak-anak Kitalah yang suatu saat akan mengirimkan doa tulusnya ketika kita sudah meninggal nanti sayang!" ucapan Dika lagi berusaha untuk membuat istrinya bisa Tegar dan mau melepaskan Adrian untuk pergi ke pondok pesantren seperti dulu ibunya juga yang menghabiskan masa kecilnya di pondok pesantren sehingga menjadi seorang Hafizah.
Keisha kemudian menghapus air matanya dan dia pun mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya.
Dengan penuh kemantapan Keysa pun kemudian setuju untuk mereka pergi ke Indonesia mengantarkan Adrian untuk menuntut ilmu di pondok pesantren.
" Ya sudah ayo kita berdua tidur sayang. Supaya besok kita bisa bangun pagi-pagi dan mempersiapkan semua kebutuhan untuk Adrian. Kebetulan tadi papa sudah meminta kepada sekretaris Papa untuk menyiapkan berkas-berkas Adrian agar bisa dimudahkan ketika dia menuntut ilmu di sana!" ucap Andika sambil mencium kening istrinya yang sudah mulai bisa tenang dan mau menerima keputusan Putra mereka untuk menuntut ilmu di pondok pesantren yang ada di Jawa Timur yang sekarang telah diserahkan sepenuhnya kepada Kyai Ilham yang dulu pernah menjadi calon suami Kesya.
Kyai Ilham dan Kesya pernah dijodohkan di masa remaja mereka. Oleh kedua orang tua masing-masing. Akan tetapi Andika yang menculik Kesya dan seluruh keluarganya, lalu memaksanya untuk menikah dengan dirinya. hingga akhirnya sekarang mereka berdua telah memiliki kehidupan masing-masing dengan pasangan mereka.
Jodoh, maut dan rezeki. Semua itu adalah Allah yang mengaturnya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha untuk mewujudkannya. Akan tetapi semua ketentuan tetaplah Allah yang akan memutuskannya. Karena semua itu sudah tercatat di lahful mahfuzh* maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan.
Keesokan harinya mereka pun kemudian pergi ke indonesia untuk mengantarkan Adrian ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Kyai Ilham.
Rasa haru dan suka cita melingkupi mereka yang sudah lama tidak bertemu. Tampak Adrian yang sangat senang ketika dia bertemu kembali dengan Fathu, sahabatnya sewaktu dulu di masa SD.
" Waalaikumsalam sahabatku. Aku baik-baik saja. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi!" ucap Fathu yang sekarang semakin tampan dan gagah.
Tampak Adrian dan Fathu terlibat percakapan yang begitu seru dan mereka sudah tidak mempedulikan lagi kedua orang tuanya yang sedang sibuk berbicara dengan Kyai ilham di aula pondok pesantren yang sekarang sudah semakin besar dan maju. Karena berkat bantuan dari perusahaan Abimana grup yang sudah di instruksikan oleh Adrian untuk untuk selalu membantu pembangunan pondok pesantren.
" Adrian calon istrimu sudah lahir. Kau pasti sangat senang karena dia seorang gadis yang cantik!" ucap Fathu sambil tertawa menggoda Adrian yang tampak tersipu.
Adrian seperti mengingat janjinya di masa kecil ke waktu dia masih duduk di bangku SD.
" Aiya, kau masih ingat dengan lelucon itu!" Adrian lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Karena dia merasa terganggu tentang pembahasan sensitif semacam itu. Bagaimanapun dia masihlah seorang remaja yang belum pantas untuk membicarakan tentang seorang calon istri.
Fathu tampak mendekati seorang gadis cilik yang sangat cantik yang saat ini sedang bermain dengan salah satu santri di pondok pesantren.
" Syifa, sini aku perkenalkan kau kepada calon suamimu! Kau belum pernah bertemu dengannya kan? Dia bernama Adrian Abimana yang sejak kecil sudah menggadangkanmu sebagai calon istrinya!" ucap Fathu sambil menarik tangan seorang gadis cantik yang masih berusia sekitar 3 tahunan.
Adrian tiba-tiba merasa kesulitan untuk menelan salivanta sendiri ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Fathu kepada garis kecil itu.
" Kau apaan sih, ko bicara seperti itu kepada anak kecil seperti dia?" tanya Adrian merasa keberatan dengan Fathu yang konyol baginya.
Kelihatan Fathu ketawa melihat ekspresi Adrian yang tampak malu.
Fathu menggendong Syifa yang masih kecil.
" Kau tidak mau menggendong calon istrimu?" tanya Fathu sekali lagi sambil menggoda Adrian, Fathu mencoba mengingatkan kepada Adrian tentang masa lalu ketika Syifa masih berada di dalam kandungan ibunya. Adrian yang merasa terganggu dia langsung meninggalkan Fathu begitu saja bersama dengan Syifa.
" Ya ampun! Bagaimana mungkin aku harus menikah dengan anak sekecil itu? Berapa lama aku harus menunggunya untuk bisa menjadikannya sebagai istriku? Fathu benar-benar sangat konyol!" ucap Adrian yang lebih memilih untuk menemui kedua orang tuanya yang tampak asyik bernostalgia bertemu dengan sahabat lama.
Berdasarkan schedule yang sudah diketahui oleh Adrian. Setelah mengantarkannya ke pondok maka kedua orang tuanya akan mengunjungi Om nya yang ada di Indramayu dan Neneknya di Jakarta.