Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
251. Fathu Selalu Usil



Setelah berpamitan kepada Kyai Ilham Kesya dan Andika beserta keluarga yang lain pun meninggalkan pondok pesantren menitipkan Adrian kepada Ilham untuk belajar ilmu agama di pondok yang dipimpin olehnya.


Tampak Adrian yang matanya berkaca-kaca karena akan berpisah dengan kedua orang tuanya.


" Belajar yang benar jangan mengecewakan kami yang sudah mengirimmu jauh-jauh ke Indonesia!" pesan Andika ketika mereka berpamitan kepada Adrian yang tampak berkaca-kaca dan belum siap berpisah dengan mereka untuk waktu yang lama.


Tampak Kesya memeluk putranya dengan sangat erat. Ada rasa tak rela berpisah dengan putranya. Akan tetapi demi masa depan putranya dia pun mencoba untuk ikhlas dan tersenyum kepada Adrian untuk memberikan kekuatan kepada putranya yang hendak berjuang di jalan Allah untuk menjadi seorang santri.


Tampak Fathu yang merangkul pundak Adrian yang saat ini sedang merasa sedih karena berpisah dengan kedua orang tuanya yang akan kembali ke Dubai satu minggu lagi. Setelah Mereka menyelesaikan agenda mereka untuk mengunjungi nenek serta Om Rasyidnya yang ada di Indramayu.


" Tenanglah kalau kau nanti merindukan mereka kau tinggal minta mereka untuk menjemputmu!" ucap Fathu menghibur sahabatnya.


Tampak Adrian melirik kepada sahabatnya yang sejak tadi terus mendampinginya.


" Nanti kalau kau rindu dengan kedua orang tuamu, kau ikut aku aja pulang ke Jakarta. Kau bisa menganggap orang tuaku sebagai orang tuamu juga. Atau kau minta dijemput oleh Om mu yang di Indramayu. Semuanya gampang lah bisa diatur jangan nangis lagi!" ucap Fathu berusaha menghibur sahabatnya yang tampak masih bersedih walaupun sekarang mereka sudah berada di asrama putra berkumpul bersama teman-teman lain.


" Kamu sih enak, orang tuamu dekat. Lah aku? Orang tuaku ada di Dubai. Kalau aku rindu, begitu jauh jarak yang membentang di antara kami!" ucap Adrian.


Fathu kemudian mengajak Adrian untuk pergi ke kantin tidaknya makanan bisa membuat seseorang yang sedang sedih bisa terhibur.


" Sekarang kita masih bebas dan santai karena masih tahun ajaran baru. Nanti kalau sudah mulai aktif untuk sekolah dan mengaji kita akan sibuk sekali!" ucap Fathu sambil menghabiskan makanan yang tadi dia pesan.


Sementara itu Adrian masih tampak tidak berselera melakukan apapun karena saat ini pikirannya masih tertuju kepada ibunya.


" Aku rindu dengan Mamaku!" WhatsApp Adrian sambil melirik sekilas kepada yang tampak menikmati makanannya.


" Percayalah kau hanya akan sebentar merindukan ibumu. Sebentar lagi kau akan sibuk dengan mengaji dan belajar tidak ada waktu untukmu meratapi hal seperti itu lagi!" ucap Fathu dengan suara yang begitu mantap dan penuh keyakinan soalnya dulu dia pun merasakan hal yang sama makanya dia bisa mengatakan hal itu.


Sejak Adrian datang ke pondok pesantren sampai sekarang, dia belum berbicara secara pribadi dengan Kyai Ilham yang dulu sangat dia sayangi sewaktu dia masih kecil. Akan tetapi sekarang dia sudah menjadi remaja tanggung kelas 1 SMA dia sudah merasa bahwa dia sudah dewasa dan tidak layak untuk bermanja-manja lagi kepada Om Ilhamnya.


Perasaan sedih Adrian saat ini sangat wajar dirasakan oleh seorang remaja yang pada dasarnya masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hanya saja dirinya yang memang mempunyai janji kepada Fathu untuk kembali ke Indonesia sehingga dia pun harus menepati janji tersebut terhadap sang sahabat kentalnya sewaktu kecil.


Setelah selesai menghabiskan makanan mereka. Mereka pun kembali ke asrama putra tampak Syifa yang sedang bermain dengan santri putri. Adrian melirik sekilas kepada gadis cantik tersebut, yang di gadang-gadang oleh Fathu sebagai calon istrinya.


NB: Kisah cinta Fathu, Adrian dan Syifa saat mereka sudah dewasa bisa dibaca dalam novel Author yang berjudul "Terpaksa Menikah Dengan Anak Kyai." sudah tamat novelnya malahan 😂


" Ckck yang sedang memperhatikan calon istri sampai tidak bisa berkedip matanya!" ucap Fathu sambil mengikut lengan Adrian.


" Ah rese banget sih kamu, Fathu! Jangan ngomong kayak gitu terus dong. Nggak enak loh kalau sampai Kyai Ilham mendengarkan omonganmu tadi. Kirain aku mau ngapa-ngapain anaknya. bagaimanapun Syifa itu adalah putri dari Kyai kita harus kita, harus kita hormatilah!" ucap Adrian menegur sahabatnya yang hanya meringis melihat Adrian yang tampak misuh-misuh.


Fathu merasa senang setidaknya sekarang sahabatnya sudah mulai tidak sedih lagi. Karena mengingat tentang kedua orang tuanya yang sekarang sedang berada di Indramayu berada di pondok pesantren yang dikelola oleh Kyai Rasyid.


Waktu berjalan dengan begitu cepat tanpa terasa sudah hampir setengah tahun Adrian tinggal di pondok pesantren.


Tampak Kyai Ilham yang memperhatikan Adrian yang perkembangannya sangat maju dan dia merasa sangat bahagia melihat Adrian yang tampak dekat dengan putrinya.


' Semoga Allah menjodohkan mereka berdua sehingga menjadi sepasang suami istri suatu saat nanti. Memenuhi keinginan leluhur kami yang menginginkan ada ikatan kekeluargaan di antara keluarga kami yang dulu gagal untuk aku penuhi karena Kesya yang direbut oleh Andika!' batin Kyai Ilham memperhatikan interaksi antara Adrian dan Syifa yang tampak begitu akrab.


Qonita yang memperhatikan suaminya yang tampak melamun. Dia pun bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Kenapa suaminya selalu saja seperti yang bersedih setiap kali memperhatikan interaksi antara mereka berdua, Adrian dan Shifa.


" Aby, apa ada masalah?" tanya Qonita sambil menyentuh bahu suaminya.


Kyai Ilham melirik sekilas kepada istrinya yang sudah mendampinginya begitu lama dengan kesabarannya yang luar biasa.


" Tidak apa-apa Umi. Abi hanya sedang asyik memperhatikan mereka berdua. Mereka tampak begitu serasi walaupun usia mereka terpaut jauh. Adrian sangat telaten mengasuh Syifa." ucap Kyai Ilham sambil tersenyum saat dia melihat Shiva yang menangis dan akhirnya dengan susah payah Adrian mendiamkannya.


" Sungguh akan menjadi sesuatu kisah yang sangat lucu, ketika keduanya suatu saat benar-benar menjadi suami istri!" ucap Qonita sambil terkekeh.


Syifa yang tadi menangis kejer sekarang tampak tersenyum setelah diberikan es krim oleh Adrian.


" Udah yah jangan nangis lagi nanti kalau nangis kau tidak diperbolehkan lagi main bersama Kak Adrian!" ucap Adrian menghibur Syifa yang sekarang sudah mulai tersenyum setelah kedua tangannya memegang es krim kesukaannya.


" Ya ampun yang sedang ngemong calon istri. Sabar sekali kamu Adrian menghadapi anak rewel seperti Syifa!" ucap Fathu tersenyum usil sambil menepuk bahu Adrian.


Adrian yang merasa kesal dengan ucapan sahabatnya mau tidak mau dia pun langsung mengeplak kepala Fathur yang menurutnya berbicara sembarangan.


" Aku sudah menganggap Syifa sebagai adikku sendiri. Aku tidak pernah berpikir bahwa dia suatu saat akan menjadi istriku. Tolong Fathu! Berhentilah kau berbicara hal yang konyol yang membuatku malu!" ucap Adrian sambil menatap tajam kepada sahabatnya yang tersenyum keki kepadanya.


" Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berbicara sembarangan lagi tentang Syifa dan Aku!" ucap Adrian mulai kesel kepada Fathu.


" Adrian, kenapa kau tinggalkan calon istrimu bersamaku?" teriak Fathu kepada Adrian Adrian yang mendengarnya langsung menetap sengit kepada Fathu yang malah tertawa terbahak merasa lucu dengan ekspresi sahabat nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Kesya dan Andika yang saat ini sedang berkunjung ke Indramayu untuk menemui kakaknya yang sekarang sudah dipercaya untuk memimpin pondok pesantren yang ditinggalkan oleh mertuanya yang telah meninggal dunia.


" Assalamualaikum Kak Rasyid!" ucap Kesya ketika pertama kali mereka bertemu.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Sungguh senang sekali mendapatkan kunjungan dari kalian setelah bertahun-tahun tidak bertemu!" ucap Rasyid yang sampai terharu karena akhirnya mereka bertemu lagi. Setelah hampir tiga tahun lamanya mereka semua tidak bertemu dan hanya berkomunikasi melalui telepon.


Kesibukan mereka masing-masing yang membuat mereka kesulitan untuk mencari waktu, walaupun sekedar untuk bertemu. Jadi mengantarkan Adrian ke pondok pesantren, benar-benar dimanfaatkan oleh keduanya untuk bersilaturahmi kepada sanak saudara yang ada di Indonesia.


Tampak Farhan pun menikmati perjalanan mereka. Kesehatannya semakin membaik karena perasaan dan hatinya sedang bahagia. Karena akhirnya bisa kembali menginjakan kakinya di Indonesia.


Tampak Amanda wajahnya sendu. Farhan bisa mengerti perasaan cucunya dia pasti sedang merindukan ibu kandungnya yang juga tinggal di Indonesia.


Akan tetapi Amanda dan Manda, sudah lama tidak bertemu dan sudah putus komunikasi. Jadi mereka tidak mengetahuidi mana keberadaan Manda sekarang bersama dengan suami dan keluarga barunya.


" Apakah kau merindukan ibumu?" tanya Farhan ketika dia melihat Amanda yang terus saja menundukkan kepalanya tampak terlihat sangat sedih.


Amanda menggelengkan kepalanya. Karena bagaimanapun dia masih mengingat semua. Bagaimana perlakuan Ayah tirinya kepadanya.


" Tidak kakek. Amanda tidak mau untuk menyusahkan Mama dengan kedatanganku ke rumah mereka. Kita nanti langsung pulang saja ke Dubai!" ucap Amanda dengan suara yang gemetar.


Farhan merasa kasihan kepada cucunya yang harus mengalami begitu banyak penderitaan di usianya yang begitu muda. Dia tahu bagaimana rasanya harus berpisah dengan ibu kandungnya yang lebih memilih suami dan keluargA barunya daripada dirinya. Pasti itu sangat menyakitkan bagi Amanda.


Walaupun Amanda sekarang sudah menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Akan tetapi tetap saja, mentalnya tidaklah sekuat itu. Dia pun masih merindukan untuk bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.


" Sabarlah sayang. Nanti Kakek akan mencari tahu keberadaan Ibu kandungmu saat ini. Kalau kau tidak ingin menemuinya, cukuplah untuk melihat dia dari kejauhan saja. Cukup kau mengetahuinya bahwa ibumu dalam keadaan baik-baik saja. Kakek rasa itu cukup untukmu bisa hidup dengan tenang nantinya!" ucap Farhan sambil mengelus pucuk kepala Amanda yang sangat dia sayangi.


Amanda menatap kakeknya dengan lekat. Dia sangat menyayangi Farhan. Karena selama ini dialah yang selalu membuatnya merasa dihargai dan merasa memiliki keluarga.


" Kalau kau ingin bertemu dengan ibumu Papa bisa mengantarmu!" tiba-tiba Andika sudah berada di antara mereka dan menggenggam tangan Amanda.


" Mari kita bersilaturahmi ke kediaman ibumu!" ucap Kesya sambil tersenyum kepada Amanda.


Amanda menatap keduanya seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Apa benar kalau kita akan berkunjung ke rumah Ibu kandungku? Mama dan Papa tidak keberatan sama sekali?" Amanda dengan mata berbinar langsung memeluk Kesya. Matanya tampak berkaca-kaca karena merasa terharu.


" Sudah dong sayang. Anak gadis Mama tidak boleh menangis!" ucap Kesya sambil mengelus punggung Amanda yang sekarang sedang terisak dalam pelukannya.


" Atau kau ingin kuliah di Indonesia? Biar bisa bertemu ibumu kapanpun kau mau?" tanya Kesya kepada Amanda.


Amanda langsung menggelengkan kepalanya karena dia tidak mau meninggalkan Farhan seorang diri di Dubai.


Amanda sangat menyayangi Farhan karena dia menjadi seorang kakek yang baik baginya dan tidak pernah menuntut apapun untuk membuatnya bahagia.


Bagaimanapun Amanda masih mengingat kejadian ketika dia masih kecil bagaimana ayah tirinya memperlakukan dia seperti seorang benalu di dalam keluarga mereka.


" Tidak usah Mah. Amanda hanya ingin bertemu sebentar dengan mamaku. Setelah itu kita bisa kembali ke Dubai." ucap Amanda dengan suara bergetar.


Andika mengerti bagaimana perasaan putrinya saat ini pasti sangatlah tidak mudah untuk melupakan sesuatu yang sudah menyakiti hatinya.


Andika sudah mendengar cerita dari ibunya tentang Amanda yang diperlakukan tidak baik oleh ayah tirinya. Hal yang menjadi penyebab Amanda minta dijemput ke Dubai pada waktu itu oleh ibunya.


" Om Rasyid tidak keberatan. Kalau misalkan Amanda pengen kuliah di Indonesia nanti bisa mondok di sini!" ucap Rasyid memberikan sebuah solusi untuk mereka.


" Tidak Om! Amanda tidak mau berpisah dengan kakek. Saat ini kakek di mansion hanya tinggal sendirian dan kesehatan Kakek pun selalu naik turun. Bagaimana mungkin Amanda tega meninggalkan kakek?" ucap Amanda menolak tawaran dari Rasyid.


" Ya sudah tidak masalah. Tapi yang jelas kalau suatu saat kau ingin tinggal di Indonesia, tempat ini bisa kau jadikan sebagai referensi!" ucap Rasyid sambil tersenyum kepada Amanda yang tampaknya sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi.


Zahra kemudian keluar dari kamarnya. Tampak Zaki putra mereka yang sedang belajar dengan serius.


NB: Bagi yang tidak sabar untuk mengetahui kisah cinta tentang Zaki ketika dia sudah sewasa, bisa dibaca di novel author yang berjudul.


"Ketika Cinta Mulai Dipertanyakan"