
Ilham menerima sebuah video, acara pernikahan Andika dan Kesya. Ijab Qabul yang dilakukan secara paksaan. Seketika badan Ilham lemas tak bertenaga. Kini semuanya telah usai.
Kemarin, seharian dirinya beserta para santri yang dia kerahkan untuk mencari Kesya dan keluarganya, tapi hasilnya nihil.
Paginya, Ilham menerima kembali kiriman video resepsi pernikahan Andika dan Kesya. Walaupun tampak kebahagiaan di mata Andika, tapi Ilham dapat melihat keterpaksaan di mata Kesya.
Ilham bisa melihat mata Kesya yang merah dan bengkak, pasti karena Kesya menangis semalaman. Hati Ilham rasanya perih sekali.
"Maafkan aku, karena tidak bisa menyelamatkan kisah cinta kita. Aku terlalu lemah, hingga tidak bisa melindungi kalian. Hiks hiks.. " Ilham lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sudahlah, Nak! Semua adalah takdir. Ikhlaskan, sayang! Umi tahu kamu pasti sedih dengan kenyataan ini, tapi sekarang Kesya sudah menjadi istri Andika. Kamu harus menerima semuanya dengan lapang dada." Andika menangis di pelukan Uminya, Abahnya Ilham merasa prihatin melihat keadaan Ilham saat ini.
"Abah juga merasa terpukul, Ilham. Abah gagal memenuhi amanat sahabat Abah, yang menjodohkan kamu dengan Kesya. Hidup Abah rasanya sudah gagal. Bagaimana nanti Abah bertanggung jawab kepada Guntur, Babahnya Kesya?" Abahnya Ilham menarik nafas berat.
"Abah, kita sudah berusaha semampunya, tapi jodoh, maut dan rejeki adalah kehendak Allah. Bukan kuasa kita. Abah lupa?" Umi mengelus telapak tangan suaminya, yang sudah 40 tahun menemani suka duka pernikahan bersama.
"Astagfirullah, Abah sampai khilaf. Ya Allah!! Ampuni hambamu ini!" Abah mengusap wajahnya dengan kasar. Melihat Ilham yang masih menutup wajahnya pakai tangan, hati Abah rasanya teriris sembilu, sakit. Ilham anak kesayangannya.
"Kita pulang ke Jawa Timur saja. Agar kamu bisa melupakan Kesya." Usul Umi dengan lembut.
"Ilham ingin disini dulu, Umi! Biarkan Ilham sendiri, merenungkan semua ini. Mungkin memang ini adalah teguran dari Allah. Mungkin selama ini Ilham terlalu mengandalkan diri sendiri, lupa dengan kuasa Allah. Lupa berpasrah kepadanya."
Ilham lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana, sayang? Jangan berbuat nekat hanya demi seorang wanita!?" petuah Umi yang sangat khawatir dengan keadaan putra semata wayangnya.
"Mau ambil wudhu, sholat!" Ilham pergi melewati Abah yang masih tidak bisa melihat dirinya merana karena cinta.
Ilham tahu, hati Abah juga sakit. Pernikahan dirinya dan Kesya, sudah di rencanakan sejak Abah dan ayahnya Kesya masih mondok di krapyak dulu. Janji sahabat sejati.
Tapi sekarang semua rencana kandas, karena kecerobohan dirinya. Seandainya waktu itu, Ilham tidak mengijinkan Kesya pulang ke rumahnya, tetapi tetap dalam pengawasan dirinya, mungkin ceritanya akan berbeda.
"Ya Allah! Ampuni hambamu yang lemah ini! Kuatkan hati hamba ya Allah! Ikhlaskan hati hamba menerima semua kenyataan ini." Tak henti-hentinya Ilham berdoa dan bermunajat sampai dia tertidur karena banyaknya dia menangis.
Abah dan Umi hanya bisa melihat Ilham yang terpuruk. Tidak bisa berbuat apa-apa, jodoh tidak bisa kita paksaan. Mungkin memang itulah jalan takdir bagi Ilham dan Kesya.
Sementara itu, Kesya sedang berpamitan dengan Mamah, Rasyid dan Zahra. Mereka ada di bandara saat ini. Hari ini Kesya dan seluruh keluarga Andika, akan pergi ke Dubai. Menetap di sana. Entah kapan akan kembali.
"Kamu harus jaga dirimu, sayang! Bagaimanapun prosesnya, kalian sekarang sudah menjadi suami istri. Kamu harus menjaga kehormatan suami kamu. Berusahalah, agar rumah tangga kalian bahagia." pesan Mamah Lastri sebelum Kesya berangkat. Hatinya sungguh berat, tapi seorang putri, apabila sudah menikah, memang harus mengikuti suaminya.
"Mamag jangan khawatir, saya yang akan memastikan, kebahagiaan Kesya." ucap Andika sambil mencium tangan mamah mertuanya.
"Jaga diri, Mas! Titip Mamah kita!" Kesya menangis, tapi tangannya sudah di genggam oleh Andika. Pesawat pribadi mereka sudah siap berangkat. Kalau tidak bergegas, bisa terlambat. Semua anggota keluarga Andika sudah masuk semua. Tinggal Kesya dan Andika.
"Hubungi Mamah, kalau kalian sudah sampai." Setelah pesawat lepas landas, mereka kembali ke kediaman mereka. Rumah mewah yang diberikan oleh keluarga Andika sudah di atas namakan Rasyid. Tapi Rasyid tidak mau menerimanya.
Rumah mewah tersebut di jadikan rumah singgah anak-anak terlantar, tempat mereka menghafal Alquran dan belajar ilmu agama. Rasyid mempercayakan Rumah Singgah tersebut kepada Mamahnya untuk mengelola. Hal itu bertujuan agar Mamahnya tidak kesepian.
Ilham sudah kembali ke Jawa Timur, mengikuti Abah dan Uminya. Ilham memilih fokus untuk membantu Abahnya yang sudah semakin tua. Mengelola pondok pesantren dengan santri ribuan bukanlah hal mudah.
Pondok pesantren yang Ilham rintis di Tangerang sekarang di wakafkan kepada seorang ustadz, teman Ilham sewaktu belajar di Mesir. Terlalu banyak kenangan di sana. Ya, di sana Ilham mengukir harapan cintanya bersama Kesya. Tapi sekarang semuanya kandas, hanya menjadi mimpi yang tidak akan pernah bisa digapai lagi.
Ilham berusaha melupakan segalanya tentang Kesya. Tidak baik bagi kesehatan mentalnya, apabila masih menyimpan harapan kepada Kesya. Kesya sekarang seorang istri dari pria lain.
Kesya sekarang tinggal di Dubai bersama dengan Andika. Mereka tinggal di Panthouse milik Andika. Apartemen Kesya di sewakan, uang sewanya masuk ke rekening pribadi Kesya. Yang Kesya donasikan untuk rumah singgah yang di kelola oleh Mamahnya di rumah mewah yang dihadiahkan oleh Andika untuk Rasyid dan Mamahnya Kesya. Kesya memang wanita berhati emas. Selalu memikirkan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri.
Kesya yang memang mempunyai cita-cita sebagai seorang dokter, dia meminta izin kepada Andika untuk mulai kuliah. Orang tua Andika mengijinkan, asalkan Kesya segera memberikan cucu laki-laki bagi keluarga Abimana. Calon pewaris bagi keluarga Abimana.
Kesya awalnya kaget, tapi akhirnya dia setuju. Walaupun awalnya berat, menikah tanpa cinta, tetapi dengan bertawakal kepada Allah, mengharapkan ridho Allah, Kesya berhasil melewati semua waktu terberat dalam hidupnya di awal-awal pernikahan.
Satu tahun kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki lucu, yang di beri nama Adrian Abimana. Adrian menjadi bayi yang sangat di sayang di keluarga Abimana. Kakek dan neneknya sangat menyayangi Adrian.
"Cucu Opah sungguh tampan sekali." Farhan mencium pipi gembul Adrian dengan penuh kasih sayang. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur atas kelahiran Adrian.
"Terima kasih ya, sayang! Kamu sudah melahirkan Adrian dengan sehat dan selamat!" Andika mencium kening Kesya dengan penuh cinta. Rasa cintanya semakin besar, bagi keluarga Abimana, Adrian adalah hadiah terindah. Sang pewaris, penerus kerajaan bisnis keluarga Abimana.
"Sama-sama, Mas!" tak terasa, air mata menitik di kelopak mata Kesya. Walaupun pernikahan dirinya dan Andika karena pemaksaan, tetapi keluarga Andika selalu memperlakukan dirinya bagai seorang ratu yang di cintai semua orang.
Apapun keinginan Kesya, selalu di turuti. Mamahnya Kesya setiap bulan selalu di kirimkan uang 20juta oleh Andika. Keluarga Rasyid juga selalu mendapatkan hal yang sama.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menghadirkan kebahagiaan di keluarga Abimana!" Mamah mertua Kesya memeluk Kesya dengan haru. Air mata Kesya tidak mampu di bendung lagi.
Kebahagiaan dan kesedihan menjadi satu. Kesya sudah mencoba ikhlas dengan nasibnya. Menerima yang terjadi dalam hidupnya.
"Semoga kamu juga di sana bahagia, Mas Ilham!" doa lirih Kesya. Tapi Andika bisa mendengarkan itu. Andika merasa terusik, setiap kali melihat Kesya menangis dalam doanya, hati Andika juga ikut terhiris. Pedih rasanya, melihat istrinya masih menangis untuk mantan calon suaminya.
"Cintamu untuk Ilham ternyata masih kuat terpatri. Bertahun-tahun aku berjuang, mendapatkan cinta kamu, tapi masih gagal!" Andika bermonolog. Tak terasa air matanya berderai.
"Mas Dika kenapa menangis?" tanya Merry, adik angkatnya. Sedari tadi Merry melihat Kakaknya hanya mengelus rambut Kesya, kakak iparnya.
"Tidak apa-apa, Mas bahagia dengan kelahiran Adrian. Terima kasih, sayang!" ucap Andika dan mencium pucuk kepala Kesya.