
Mari kita tinggalkan sejenak permasalahan keluarganya Firman dan Laila serta Syafa kita tengok lagi Kesya dan Andika yang sudah lama kita tinggalkan.
Pengasuh Cakra sudah masuk penjara karena Andika tidak akan pernah melepaskan siapapun, orang yang sudah mencelakakan anggota keluarganya. Secantik apapun perempuan itu, Andika tidak perduli sama sekali. Apalagi pengasuh ini sangat kurang ajar dan tidak punya sopan santun.
"Pah, apa kita nggak maafkan saya Maria?Kasihan dia masih muda, sudah masuk ke penjara!" ucap Kesya.
"Sayang dengerin! Memaafkan orang yang berbuat salah terhadap kita, itu juga merupakan sebuah penyakit! Penyakit tidak tega!" ucap Andika pelan.
"Dengan kita memaafkan dia, belum tentu dia akan sadar, kalau dia itu salah, dan dia tidak akan memperbaiki kesalahan tersebut!" Kesya menyimak apa yang dikatakan suaminya.
"Mama tahu Pah! Mama hanya merasa kasihan saja, karena dia masih muda, gitu aja!" ucap Kesya pada akhirnya.
"Kan, Mama melihat sendiri kejadiannya. Apakah dia merasa kasihan? Ketika dia melelapkan kepala putra kita ke air yang penuh dengan sabun? Apakah dia merasa kasihan ketika mendengarkan Putra kita menjerit kesakitan? Tidak, Mah! Dia malah tertawa melihat Putra kita menderita! Pada dasarnya dia mungkin membenci kita, tetapi dia tutupi dengan kemunafikannya. Dia mungkin ada keinginan untuk menjadikan dirinya sebagai penggantimu di sisiku!" ucapkan Andika dengan penuh emosi.
"Dia itu perempuan gak tau diri! Tidak tahu tempatnya di mana, sehingga ingin naik ke ranjang majikannya!" tampaknya Andika masih kesal, ketika melihat ranjang di kamar utama digunakan oleh Maria. Serta Maria mengacak-acak lemari milik Kesya.
"Tapi Pah! Memaafkan kadang lebih baik, daripada memendam dendam dan amarah. itu juga jadi penyakit loh untuk hati kita. Sedikit demi sedikit menggerogoti kebaikan yang ada dalam diri kita. Perlahan merusak kesehatan kita!" ucap Kesya.
"Papa tidak mendendam, Mah! Papa hanya tidak senang, dia sudah berusaha untuk membunuh Putra kita. Sudahlah, Mah! Jangan dibahas lagi. Biarkan dia membusuk di penjara! Biarkan hukum yang berbicara!" ucap Andika pada akhirnya.
"Sayang, apa kamu nggak tahu? Kalau kamu itu terlalu baik jadi orang?" tanya Andika.
"Pah Mama, nggak ngerasa jadi orang baik. Hanya saja, Mama merasa kasihan dengan dia, itu aja!" ucap Kesya sambil masuk ke pelukan suaminya.
"Sayang boleh nggak? Kalau aku minta sesuatu padamu?" tanya Kesya lembut.
"Kamu minta apapun pasti Papa turuti. Mama memang butuh apa? Black card kan, sudah di tanganmu dan semua kebutuhannya sudah terpenuhi!" ucap Andika sambil mencium kening Kesya dengan mesra.
"Mama pengen banget video call sama Adrian! Rasanya rindu sekali!" ucap Kesya.
"Ya ampun tinggal telepon saja kenapa harus repot sekali?" tanya Andika kebingungan.
"Ya, kan tetap saja, Mama harus minta izin sama Papa. Karena kan nanti Mama harus menelpon Kyai Ilham. Mama takut, nanti Papa salah paham atau merasa cemburu!" ucap Kesya sambil memainkan dada suaminya yang selalu menjadi tempat favorit baginya bermanja.
"Mama itu nggak usah memiliki perasaan seperti itu. Papa percaya kok sama Mama. Apa lagi Kiai Ilham sekarang sudah memiliki seorang istri!" ucap Andika mengelus rambut panjang sang istri yang selalu dia puja.
"Tetep saja, Pah! Mama tuh, ingin menjaga perasaanmu saja. Ya udah, ayo cepat! Papa teleponin Kiai Ilham! Mama sudah sangat rindu dengan Adrian!" ucap Geisha dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan.
"Kenapa nggak pakai ponselnya Mama aja sih?" ucap Andika keheranan.
"Ayolah Pah cepet!" pinta Kesya.
"Mama tidak mau, nanti kalau Ustadzah Qonita yang mengangkat telepon Mama, terus dia jadi salah paham Pah. Papa ngerti? Seperti Mama ingin menjaga perasaan Papa, Mama pun ingin menjaga perasaan istrinya Kiai Ilham. Bagaimanapun, hubungan diantara kami itu masa lalu, tapi tetap saja, pasti ada semacam perasaan tidak biasa yang tercifta, kalau istrinya Kyai Ilham mengira Mama menelepon suaminya!" ucap Kesya.
Setelah mengerti alasan Kesya, akhirnya Andika menelepon Kiai Ilham melalui ponselnya untuk bisa berbicara dengan Adrian, Putra pertama mereka.
Setelah deringan keempat, baru panggilan Andika diangkat oleh Ilham.
" Assalamualaikum Siapa Ini?" tanya Ilham.
" Waalaikumsalam saya Andika, ayahnya Adrian. Kami ingin berbicara dengan Adrian. Apakah di perbolehkan, Pak Kiai?" ucap Andika dengan sopan.
"Oh Pak Andika ternyata. Tunggu sebentar ya! Nanti saya panggilkan Adriannya!" kemudian Ilham mematikan ponselnya.
"Siapa Aby?" tanya Qonita.
" Orang tuanya Adrian, ingin bicara dengan dia. Sebentar ya, Aby panggil dulu. Barangkali mereka sedang menunggu. Sekarangkan di Dubai sudah waktunya malam." Kiai Ilham kemudian pergi ke asrama di mana Adrian kini tinggal bersama dengan Fathu.
Yah sejak Kiai Ilham menikah dengan ustazah Qonita, sekarang Adrian dan Fathu tinggal di asrama bersama santri Putra lainnya. Karena untuk menjaga perasaan Ustadzah Qonita, istrinya. Itu adalah permintaan dari Adrian.
"Adrian ini, kedua orang tuamu ingin berbicara denganmu!" setelah memutar kembali panggilan terhadap Andika, ponsel tersebut diserahkan kepada Adrian.
" Assalamualaikum Mama Papa ini Adrian!" ucap Adrian di layar ponsel Kiai Ilham.
"Waalaikumsalam, putraku! Apa kabarmu sayang? Mama sangat kangen sekali. Kapan kamu ingin pulang ke Dubai, sayang?Liburannya masih lama kah?" tanya Kesya.
"Liburannya masih lama, Mah!"ucap Adrian dengan mata berkaca-kaca. Sehingga membuat Kesya jadi keheranan.
"Mama tahu dari mana? Kalau Adrian sedang merindukan Mama sama Papa? Tadi Adrian nangis di kamar. Karena sangat rindu dengan Mama. Makanya sekarang Adrian sangat sedih!" ucap Adrian dengan suara parau.
"Kenapa sayang?" tanya Kesya.
"Sejak Om Ilham menikah, sekarang Om Ilham tidak punya waktu lagi buat Adrian. Om Ilham hanya sibuk mengurus Ustadzah Qonita. Adrian kesepian, Mah! Apa Adrian boleh pulang saja ke Dubai?" tanya Adrian mulai terisak.
Kyai Ilham yang mendengarkan pembicaraan Adrian tersebut, sontak hatinya merasa terhiris. Seakan sedang ditegur oleh anak kecil tersebut. Yang selama ini selalu bergantung dan dekat kepadanya. Perasaan Kiai Ilham tiba-tiba saja merasa bersalah, karena sejak menikah dengan Qonita, dirinya memang terkesan mengabaikan Adrian dan Fathu. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama istrinya dan calon anak mereka.
"Apalagi nanti kalau Om Ilham sudah memiliki anak. Pasti Om Ilham akan melupakan Adrian. Mah jemput Adrian pulang. Adrian ingin pulang! Adrian sudah nggak betah tinggal di sini lagi!" akhirnya tangis Adrian pun pecah.
"Sayang, sudah jangan menangis ya? Nanti besok, Mama sama Papa akan jemput Adrian, Oke, Sayang? Jangan nangis lagi. Sekarang Adrian kasih telepon ya, sama Pak Kiai, biar Papa bicara dengan Kyai Ilham!" ucap Kesya.
Adrian yang kini sedang menangis tersedu-sedu. Akhirnya memberikan ponselnya kepada Om Ilhamnya. Kemudian Adrian langsung kembali ke asramanya. Ilham merasa tidak enak untuk berbicara dengan kedua orang tua Adrian, yang selama Lima tahun terakhir telah mempercayakan bocah itu dalam perawatannya.