Anta's Diary

Anta's Diary
Para Hantu Taman Hiburan



Hai semua, sebelum membaca, bayar


tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!


Terima kasih…


******


“Raja kemana, Ya?” tanya Anta.


“Mana gue tau, tadi kan ada di


belakang gue,” sahut Arya.


Keduanya kembali fokus dan menatap ke


arah panggung. Setelah acara gunting pita dimana taman hiburan terbaru itu


resmi dibuka, pertunjukan musik pun di mulai. Arya yang dengan usilnya


berteriak di samping Anta dan menarik rambut gadis itu berkali-kali seraya


berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik.


“Arya, ah, lepas!” keluh Anta.


“Rambut elo bau lepek, ya, hahahaha…”


“Masa? Itu sih demen banget megang


rambut Anta,” ketus Anta dengan lirikan tajam menoleh ke Arya.


“Gue iseng, mau nyari kutu, kali


aja ada,” ucap Arya seraya terkekeh.


“Enggak ada, adanya kecoa, puas


kau!”


“Uhhh… Anta serem lebih serem dari


perempuan yang di sana!” ucap Arya seraya menunjuk dengan tatapan matanya


sekilas.


Hantu perempuan berwajah pucat


menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam dan kosong. Kepala hantu perempuan


itu menoleh ke kiri dengan bekas jeratan di leher yang masih tampak terlihat.


Ia berdiri di atas sebuah pohon besar dekat danau.


“Kayaknya itu, Mbaknya bunuh diri,


deh,” cicit Anta.


“Bisa jadi, liat dong pakai seragam


waitress, mungkin bekas karyawan restoran terdahulu,” bisik Arya.


Tiba-tiba rombongan anak muda


menepuk bahu Arya dan mengejutkannya.


“Di belakang gue, bukan setan, kan,


Nta?” tanyanya pada Anta dan tak mau menoleh.


“Bukan, mereka napak, kok, kakinya,”


jawab Anta.


“Dion, ayo, manggung!” ajak Koko


kawan satu grup band dengan Dion.


“Huft, manusia rupanya, gue


pikir setan.”


“Sembarangan, Luh! Ayo, kita


manggung!” ajak teman satunya yang bernama Ferdian dan berdiri di samping Koko.


“Manggung? Terus, gue, main apa?”


tanya Arya menunjuk dirinya sendiri.


“Kecapi,” sahut Koko.


“Kecapi, kalian mau bawain musik tradisional


apa?” seru Arya saat bertanya.


“Ya kaga, dongo! Kita mau main musik


rock, kayak biasa,” sahut Ferdian.


“Ya udah sana, nanti gue dukung


dari sini,” sahut Arya.


“Elo tuh main gitar sama vokalis


kita tau, ayo!”


Koko dan Ferdian langsung menarik


tangan Arya paksa. Pria itu sempat menoleh ke arah Anta memohon pertolongan. Ia


tak tau bagaimana caranya bermain gitar bahkan bernyanyi dengan suara bagus


seperti Dion.


Gadis itu sengaja membiarkan Arya


dibawa oleh rekan-rekan Dion, dia ingin tau bagaimana  kemampuan Arya bermain musik. Anta hanya tersenyum dan menahan tawanya meledak menertawai Arya.


Fani dan Lisna datang menghampiri


Anta dengan menabrakkan bahu mereka pada gadis itu.


“Ngapain elo, senyum-senyum ke Dion


macam cewek centil kayak gitu?” hardik Fani.


“Haduh, kalian lagi, siapa juga


yang centil,” gumam Anta.


“Eh, anak baru songong banget


berani jawab!” seru Lisna.


“Kalau ada orang bertanya, wajar


dong dijawab, masa dicuekin,” sahut Anta.


“Heh, gini ya, sipit, Dion itu


punya gue, jadi jangan coba-coba kecentilan sama dia!” tukas Fani.


Anta menyentuh kedua matanya dan


berusaha untuk melotot membuka mata lebar.


“Emangnya Anta sipit, ya?” tanyanya


seraya membuka matanya lebih lebar lagi.


Garis keturunan Jepang sang Ayah


memang membuat mata Anta dan Raja terlihat sipit dan mempunyai tatapan tajam sama


persis sepertinya ayahnya.


“Ssstt… Fan, Dion mau nyanyi, tuh!”


ucap Lisna menyudahi gertakan Fani pada Anta.


“Elo siap-siap rekam, ya!” titah


Fani menepuk bahu Lisna.


“Oke.”


Anta perlahan mundur menghindari


dua gadis yang menyebalkan itu.


“Tes, tes, satu dua tiga, oke pas


ya suara gue,” ucap Arya dari atas panggung.


“Hoaaaaa…. Diooooon….!!!”


Teriakan Fani dan Lisna langsung


menjadi sorotan para pengunjung yang menatap ke arah mereka.


“Oke, yang di ujung sana... siap


digoyang.…?” teriak Arya.


Krik, krik, krik…


Tak ada sahutan jawaban dari para


penonton yang bersiap menerima alunan musik rock, tapi gaya ajakan Arya bagai


biduan yang menyerukan panggilan untuk penonton agar ikut bergoyang.


“Dion, kita mau bawain lagu Linkin


Park, bukan Nassar,” bisik Ferdian.


“Oh, sama aja sih kan goyang juga


kalau nyanyi rock, goyang kepala sama jingkrak-jingkrak,” sahut Arya.


“Udah cepetan, ayo mulai, sesuai aba-aba


ketukan gue, ya!” seru Koko yang sudah siap menggebuk drum di hadapannya.


lagu Numb dari LInkin Park mengalun, akan tetapi saat Arya memainkan gitar


elektriknya, terdengar bunyi melengking yang menyakiti telinga para pendengarnya. Namun, Arya tetap cuek dan tak peduli.


“I’m tired being what you want me


to be, feeling so faithless, lost under the surface—“


Ferdian langsung membekap mulut Arya yang terdengar sumbang dan menyakiti para pendengarnya.


“Huuuuuuuu!!!” sorakan penonton


terdengar menggema meneriaki Arya.


Kecuali duo Fani dan Lisna yang


masih membela sosok penyanyi di atas panggung itu.


“Suara lo jelek banget! Elo makan


apa?” seru Ferdian.


“Ah, masa sih, suara gue bagus,


kok,” protes Arya.


“Suara elo jelek, parah, hadeh….” Keluh


Koko yang mencoba melerai keributan Arya dan Ferdian.


“Kita turun aja enggak jadi


manggung, kayaknya Dion belum pulih, deh,” ucap Koko.


“Kita coba lagi, ya. Oke, maaf


semuanya kita lanjut ya—“ Koko langsung menarik lengan Arya agar turun dari


panggung.


“Besok kita latihan di sekolah, gue


mau tau kenapa suara elo bisa berubah gitu,” ucap Koko.


Pemuda itu pergi meninggalkan Arya


dengan diikuti Ferdian dan kawan satunya yang bernama Iyo.


“Udah, Bang, enggak usah dipikirin,


Mama minta Abang ke ruang kantor, kita disuruh istirahat sama makan dulu di


sana,” ucap Ria saat menghampiri Arya dan menariknya menuju ruang kantor taman


hiburan tersebut. Pemuda itu menurut dengan ajakan Ria.


Sementara Anta pergi mencari Raja,


ia melihat ke seorang pria paruh baya yang sedang menaruh sajen di sudut lorong


dekat wahana mini roller coaster. Karena penasaran, gadis itu menghampiri pria


tersebut.


“Itu buat apa, Kek?” tanya Anta


mengejutkan kakek itu.


“Astaga, saya pikir….”


“Hantu?” sahut Anta.


“Apa kamu bisa melihat mereka?”


tanya Kakek itu yang terlihat takut dan menunduk tak mau melihat sekeliling.


“Mereka? Para hantu maksudnya?”


tanya Anta lagi.


“Iya, Neng, waktu masih jadi restoran aja danau itu angker sampai ada pelayan yang bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di pohon itu. Eh, ini malah dijadikan taman hiburan,” ucap


Kakek itu menjelaskan.


“Kakek bisa lihat hantunya?” tanya


Anta.


“Kakek enggak bisa lihat, tapi


Kakek merasakan kehadiran mereka di sini, mereka enggak suka rumah mereka


keganggu di sini.”


“Kakek yakin cuma hantu penunggu


danau dan hantu perempuan bunuh diri lainnya yang bisa ganggu tempat ini, enggak ada hantu lain dalam pembuatan taman ini?” tanya Anta ia mencoba mencari tahu keberadaan para anggota suku Ro.


“Maksud, Neng? Apa jangan-jangan,


Neng bisa lihat para hantu lainnya?” tanya pria paruh baya itu.


“Saya hanya bertanya, Kek.”


“Saya enggak tau kelanjutannya, saya


hanya disuruh Nyonya Mia untuk menyediakan sajen agar hantu penunggu danau dan


lainnya tidak berulah, tolong jangan kasih tau siapa-siapa ya, Neng, nanti saya


bisa dipecat karena ini,” ucapnya memohon.


“Ya, Kek, tenang aja,” jawab Anta.


“Kakek permisi dulu.”


Anta melihat sosok pria paruh baya


itu tampak ketakutan sebenarnya saat menaruh sajen di sini. Tiba-tiba saat


gadis itu hendak memperhatikan sajen, sosok dua hantu anak kecil yang kondisi


tubuhnya juga tak lengkap sedang menyantap sajen tersebut dengan lahap.


“Astagfirullah.”


Anta menghela napas panjang dan


berusaha berbalik badan meninggalkan sosok hantu tersebut. Tapi, ada yang ia


ingin tanyakan dari para hantu anak kecil itu sehingga membuatnya berbalik badan


kembali.


“Hai, Adek!” sapa Anta.


Kedua hantu anak kecil itu tampak


heran dan menatap satu sama lain. Mereka bingung kenapa ada manusia seperti


Anta yang tak takut menyapa mereka.


“Kakak, bisa lihat kami?” tanya


hantu anak kecil satunya. Setengah wajahnya rusak dan tak memiliki bola mata.


Hanya rongga hitam penuh belatung dan daging yang bercampur nanah terlihat oleh


Anta.


“Kakak bisa lihat kalian, boleh


tanya enggak, kalian asalnya dari mana?” tanya Anta.


“Kami dari Desa Jingga,” ucapnya.


“Desa Jingga? Apa kalian meninggal


di sini?” tanya Anta lagi.


“Kami diculik lalu dipotong dan


dicampur sama semen, lalu sebagian tubuh kami yang tak terpakai dibuang ke


danau,” ucapnya.


“Dibuang ke danau?”


“Ada monster, Kak, di danau. Dia


suka anak kecil,” ucapnya.


“Hah, monster? Terus, nanti kalau


ada yang main di danau bisa dimakan dong, enggak bisa dibiarkan, harus bawa


polisi nih buat cari monsternya,” ucap Anta panik.


“Dia enggak terlihat, Kak, dia bukan


manusia ataupun binatang,” ucap hantu anak kecil itu.


“Terus dia apa, dong?”


Belum juga pertanyaan Anta dijawab,


seseorang menarik rambut Anta dengan kencangnya, dia terlihat tampak kesal.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.