Anta's Diary

Anta's Diary
Tasya Baper



Hai semua, sebelum membaca, bayar


tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!


Terima kasih…


******


Tasya sudah menunggu di depan gerbang


sekolah Anta bersama para wali muid dan penjemput lainnya. Di dalam mobilnya,


Raja telah duduk dan asik bermain game Free Fire yang selalu fokus pada layar


ponselnya.


“Ja, tunggu sini, ya, Tante mau


beli kopi di kedai depan,” ucap Tasya.


Raja hanya menjawab dengan anggukan


kepala karena masih fokus dengan layar ponselnya.


Di dalam kedai kopi ia bertemu


dengan Pak Herdi yang sedang berbincang-bincang dengan Heru sambil menikmati


kopi dan kue cokelat.


“Sya, kamu beli apa?” tegur Herdi


yang bangkit dari kursinya dan menghampiri Tasya.


“Eh, Pak Herdi, aku lagi beli


ketoprak,” sahutnya.


“Mbak, maaf di sini jualan kopi


sama kue enggak ada ketoprak,” sahut pelayan kedai di depan Tasya.


“Saya juga tau, Mas, jangan


baperan, lagi ngeledekin dia doing, nih!” tunjuk wanita itu pada pria di


sampingnya.


“Hahaha… kamu lagi bercandain saya rupanya.”


Guratan garis mata saat pria itu


tersenyum benar-benar membuat Tasya terpaku dan menatap Pak Herdi begitu lekat.


Ada perpaduan wajah Doni yang ia temukan kala pria itu tersenyum. Entah kenapa


makin hari Herdi makin terlihat tambah muda dan terlihat tampan di mata Tasya.


"Kok, lama-lama ganteng banget ini orang, duh kenapa jadi baper gini, ya?" batin Tasya.


“Sya, kok bengong?”


Jentikan jari itu mengejutkan Tasya


dan membuatnya tersadar dari khayalan sesaat.


“Eh, enggak, hanya saja…," Tasya menoleh pada si pelayan, "Mas, pesen


es Americano satu, milkshake strawberry tiga, sama muffin cokelat enam, ya,” pinta


Tasya yang langsung memesan cemilan untuk Raja dan lainnya.


“Buat siapa, banyak banget?” tanya


Herdi.


“Anta, Raja, sama Mey, oh iya ada


Arya, siapa tau mau. Mas, milkshake satu lagi, ya?” pinta Tasya.


“Arya nyaman banget ya ada di rumah


kamu sama Anta dan lainnya,” ucap Herdi.


“Iya, dia nyaman, mungkin karena


ada ehm ‘Hyena’.”


“Ada siapa?” tanya Pak Herdi yang


kurang jelas mendengar kata Hyena barusan.


“Ada temennya tuh manggil-manggil!”


Tasya menunjuk kea rah Heru yang melambaikan tangannya memanggil Pak Herdi.


“Duduk dulu, yuk!” ajak Pak Herdi.


“Halo, ini siapa, perasaan beda


sama Hyena?” Heru mengulurkan tangannya pada Tasya.


“Halo, nama saya Tasya,” ucap Tasya


menjabat tangan Heru tapi langsung ditepis oleh Pak Herdi seketka.


“Jangan lama-lama, dia ini buaya


darat, Sya, hati-hati,” ucap Pak Herdi.


“Wah, sembarangan kamu, saya ini


lelaki baik-baik, kok, jangan percaya sama pria yag sebentar lagi menikah,”


sahut Heru menunjuk Pak Herdi.


“Daripada kamu, sudah menikah tapi


masih buaya.”


“Wah, ngajak ribut, nih!”


Heru dan Herdi saling menunjuk dan


tertawasatu sama lain.


“Mbak, pesanannya sudah siap!”


Pelayan kedai memanggil Tasya


dengan lantang. Pak Herdi langsung menuju pelayan tersebut dan mengeluarkan


kartu kredit dari dompetnya.


“Pakai ini, Mas,” ucap pria itu


lalu menoleh pada Tasya.


“Saya aja yang bayar, Sya,” ucap


Pak Herdi mencegah Tasya mengeluarkan dompet untuk membayar. Saat ia melakukan itu tanpa sadar tangannya menyentuh tangan Tasya dan cukup lama keduanya terdiam serta saling tatap.


"Ehm, ehm, permisi, Pak, ini kartunya," ucap Mas pelayan memecah suasana Tasya dan Herdi.


“Eh iya, kok jadi Bapak yang


bayar, saya jadi enggak enak,” ucap Tasya.


“Enakin aja, apalagi ini buat


anak-anak. Oh iya, jangan panggil saya Bapak, panggil Herdi aja, kamu sering


banget panggil saya Bapak.”


“Hehehe kebiasaan sama pocong yang


dulu,” ucap Tasya menunjukkan senyum berlesung pipi miliknya.


“Pocong?”


“Itu Pak Herdi yang sebelumnya kan


pocong,” bisik Tasya.


“Oh iya, paham. Saya balik ke meja


dulu, kamu bisa kan bawa makanan ini semuanya?”


“Bisalah, enggak berat kok, makasih


banyak sebelumnya, aku permisi dulu, ya.” Tasya beranjak dari hadapan Herdi dan


melambai sekilas pada Heru yang tersenyum senang melambaikan tangannya.


“Itu tetangga kamu?” tanya Heru.


“Iya, Tantenya Anta tadi.”


“Oh, si Anta yang cantik itu,


pantes Tantenya cantik juga,” ucapnya.


“Jangan macem-macem deh!”


“Udah punya suami belum?”


“Siapa, Anta, masih sekolah mana


punya suami,” seru Pak Herdi.


“Bukan Anta, tapi Tantenya tadi, si


Tasya, udah punya suami, belum?”


“Sudah, tapi udah meninggal karena


“Bagus, berarti janda, boleh nih


aku deketin.”


Brak!


Gebrakan meja dari Pak Herdi saat


ia bangkit berdiri mengejutkan semua tamu di kedai tersebut.


“Jangan dekati Tasya, Anta, dan


yang berkaitan dengan mereka!”


Wajah Pak Herdi nampak geram lalu


ia pergi meninggalkan Heru menuju sekolah yang terletak di seberang kedai itu.


“Si Herdi kenapa, kok dia


marah-marah gitu, emang si Tasya itu siapanya kali?


Hmmm… lihat aja, gue kalau


udah suka sama cewek harus gue dapatin, dia belum tau aja ajian ilmu pelet gue,”


gumam Heru seraya mengusap cincin bermata kecubung di hari kirinya.


***


“Mey, kamu duluan ke mobil, Anta


mau pipis dulu!” pinta Anta.


“Arya mana, ya?”


“Astaga, Mey! Udah sih, nanti juga


ketemu di rumah, sana ke mobil duluan!” hardik Anta dengan kesalnya pada Mey.


"Oke." Mey melangkah menuju gerbang sekolah.


“Anta, mau ke mana, kok enggak


bareng sama Mey?” tanya Ria.


“Anta mau ke kamar mandi, mau ikut?”


tanya Anta.


“Ke kamar mandi horor itu, ya?


Enggak, deh, aku duluan ya, dah Anta.”


Ria berlalu pergi seraya


melambaikan tangannya pada Anta.


Saat menuju ke kamar mandi, Anta


melihat kerumunan kakak kelas sedang berkumpul.


“Hadeh, cobaan kalau ketemu kakak


kelas lebih takut daripada lihat hantu,” gumam gadis itu sambil berjalan dengan kepala menunduk.


Sesuatu menggelinding menuju kaki


Anta.


“Lipbalm?” gumam Anta.


“Woi, adik kelas, bawain lipbalm gue!”


Anta menoleh pada suara berat yang


memanggilnya itu seraya menunduk meraih lipbalm tadi.


“Kak Jojo?”


“Terima kasih, ya, mahal nih lipbalm


tiga ratus ribu harganya, untung aja enggak keinjek sama elo!” ucapnya.


“Ah dasar luh, Jo! Giliran main


sinetron, jadi bintang iklan, gaya elo macho, aslinya mah banci, hahaha…” Doni


meledek Jojo dengan merangkulnya sambil menjitak kepala pemuda itu.


“Apaan sih, Doni, kalau sayang sama


gue tuh bilang,” ucap Jojo gantian meledek.


“Idih, najis!” seru Doni mendorong


tubuh Jojo.


“Ngapain elo bengong di sini?”


hardik Doni menatap ke Anta.


“Oh iya, Anta lupa, tadi kan Anta


mau pipis.”


Gadis itu langsung berlari menuju


kamar mandi yang ada di sudut koridor.


“Gila, berani banget tuh cewek


masuk kamar mandi serem itu,” gumam Doni.


Anta masuk ke dalam kamar mandi dan


melihat hantu perempuan muka rata itu sedang membetulkan ikatan tali pocong


kawannya di hadapan cermin.


“Emangnya kalian keliatan


bayangannya di cermin?” tanya Anta.


“Enggak sih, tapi yang namanya


cewek kalau dandan kan di depan cermin,” jawab si Pocong.


“Dandan? Apanya yang didandanin,


muka gosong gitu, ups…” Anta buru-buru menutup mulutnya sebelum hantu pocong


itu marah.


“Ikatan gue copot, gara-gara pocong


tampan tadi, kesel gue di jambak-jambak, emangnya gue apaan, eh Min, yang bener


dong ikatnya, lihat paka mata elo!” seru si Pocong.


“Mata gue kan enggak ada, elo lupa


ya muka gue rata gini enggak ada mata, hidung, sama mulut,” jawabnya seraya


mendorong kepala pocong itu dengan gemas.


“Tapi, kok Kakak bisa ngomong?”


tanya Anta.


“Hehehe… naluri aja, sebenarnya gue


masih bisa lihat sama ngomong, ya namanya hantu, tapi gue pengen juga gitu bisa


punya mata hidung sama bibir,” jawabnya menundukkan wajahnya.


“Anta punya ide, besok Anta lukis


muka Kakak biar cantik, gimana?”


“Boleh, tuh, sekarang aja!”


“Enggak bisa, Anta enggak bawa


peralatan lenong Tante Tasya, lagian Anta mau pipis.”


Brak!


“Hah, dasar manusia pemberi harapan


palsu,” keluh si muka rata.


“Lanjut lagi nih, ikatan gue harus kasih


pita, ya,” pinta si pocong.


“Iya, bawel!”


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN” biar


nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.