
Happy Reading
******
Anta enggak boleh pergi sama elo!"
Pemuda yang mengenakan jaket warna abu-abu itu menarik tangan Anta yang satunya lagi.
"Arya?"
Anta menoleh pada pemuda itu. Arya datang bersama ayahnya kala itu. Akan tetapi, sang ayah pergi menuju stand milik Dita, sedangkan putranya melihat adegan Dion yang membawa pergi gadis itu.
"Siapa elo, ada hak apa elo melarang Anta pergi sama gue?"
Dion mulai tersulut emosi dan menatap tajam ke arah Arya. Anta seolah melihat aliran listrik di antara kedua mata pemuda itu layaknya pertemuan para jagoan anime yang hendak bertarung.
"Stop!" Anta berseru seraya menarik dua tangan pemuda itu untuk naik ke dalam wahana kincir angin.
Kincir angin yang terdiri dari dari 20 tempat itu masing-masing bisa berisi lima orang maksimal dalam satu tempat kincir angin. Arya dan Dion langsung menuruti perintah gadis itu meski keduanya tak mau saling pandang.
"Duduk!" seru Anta.
Gadis itu akhirnya memilih duduk di antara kedua pemuda itu untuk melerai. Dia takut juga jika Arya dan Dion saling serang saat wahana yang mereka naiki itu berada di atas. Sebelum wahana kincir angin melaju, dua orang pasangan pria dan wanita naik bersama mereka.
"Emang enggak ada tempat lain apa?" sewot Dion.
"Ini tempat umum ya siapapun bebas milih tempat di manapun, udah terlanjur jalan, tau gini juga saya ogah bareng kamu," sahut si pria itu.
"Udah, Mas, yang penting kan naik ini sama aku," jawab si wanita yang mengenakan jaket jeans, tank top hitam dan rok mini itu.
"Iya sih, tapi kan lebih seru berdua doang biar makin romantis sama kamu," jawab si pria sambil meremas paha wanita itu.
"Astagfirullah... lebih serem dari liat hantu," gumam Anta ia mencoba menoleh ke belakang melihat pemandangan malam itu.
"Lagian ngapain sih elo bawa gue naik ke sini?" tanya Arya.
"Biar pada enggak ribut, udah sih nikmati pemandangan alam di sini!" seru Anta.
Tiba-tiba Dion mencoba bangkit meski dengan posisi membungkuk. Ia memerintah Anta untuk geser.
"Minggir, Nta! aku duduk samping dia aja, biar dia enggak berisik samping kamu!" ucap Dion.
"Aku, kamu, lebay elo!" sahut Arya yang mendorong Dion sampai jatuh ke lantai kayu wahana itu.
"Eh, jangan ribut gini dong, pada bisa diem enggak sih, nanti kalau goyang-goyang terus jatuh gimana?" tanya si perempuan itu.
"Udah, stop! Sebelum kalian mulai bertarung lagi, Anta aja yang pindah. Mas sama Mbak, coba geser!"
Anta duduk di antara dua pasangan yang sedari tadi bermesraan di depan ketiganya.
"Kok, elo pindah situ sih?" seru Dion yang kembali ke tempat duduknya.
"Kalau enggak mau Anta marah, udah nurut aja, duduk yang anteng berdua di situ, saling berjabat tangan, baekan, terus senyum!" pinta Anta.
"Ini cewek kenapa jadi gangguin kita gini, sih?" tanya si pria.
"Mas sama Mbaknya, coba lihat di samping situ!"
Anta memperlihatkan sosok hantu perempuan yang bergelantungan sedari tadi.
"Aaaaaa...!" Keduanya langsung tak sadarkan diri kala melihat hantu tersebut.
"Sekalian kasih liat dia nih, Nta, kali aja ini orang pingsan," ucap Arya.
"Heh, gue enggak takut!" sahut Dion.
"Udah sih pada diem bentar lagi berhenti tuh!" sahut Anta menatap tajam keduanya.
Hantu tadi makin mendekat.
"Kalian bisa melihatku?" tanyanya.
Anta dan Arya saling memberi kode, mereka tak mau menjawab pertanyaan hantu itu.
"Kalian ngapain liat-liatan gitu?" tanya Dion.
Anta dan Arya saling menggelengkan kepalanya.
"Hmmm... berati dua orang yang pingsan ini yang bisa lihat aku, main lagi ah..." ucap hantu itu.
Wahana kincir angin lalu terhenti. Anta langsung ke luar dari wahana itu dan bergegas menuju ke stand miliknya.
"Anta tunggu!" seru Arya mengejar gadis itu di ikuti Dion.
"Kalian, kalau mau ikutin Anta cukup jalan di belakang Anta!"
Gadis itu menunjuk keduanya dengan tatapan tajam. Dion dan Arya menurut. Mereka berjalan di belakang gadis itu beriringan meski saling senggol menyenggol. Anta menghirup aroma wangi dari sebuah stand yang dimiliki Mark.
"Hai, Om, Anta mau dong cobain burger, pizza yang mini pan, terus hot dog itu juga boleh, dibungkus ya," pinta Arga.
"Hai, Anta! Siap kalau gitu, tunggu bentar ya duduk dulu," ucap Mark.
"Hai, Anta, Hai... siapa nama mereka?" tanya Jorji menghampiri Anta.
"Itu namanya Kak Dion, itu namanya Arya," ucap Anta.
"Keduanya tampan, ya, yang mana yang jadi pacar kamu?"
"Gue pacarnya!" sahut Arya.
"Heh, sejak kapan kalian jadian? Pernah nembak Anta emangnya?" Dion mendorong bahu Arya dan menatapnya tajam.
"Stop!"
"Astaga, Anta galak juga. Aku kan cuma bertanya siapa kalian, aku juga hanya bertanya siapandi antara kalian yang kira-kira pacar gadis ini, hehehe..." ucap Jorji yang duduk menyilangkan kaki jenjangnya itu.
"Jangan pernah tanya itu, Kak, Anta belum punya pacar," jawab Anta.
"Tapi, Nta—" ucapan Arya dan Dion terhenti.
Ujung telunjuk gadis itu menempel di bibir Arya dan Dion masing-masing.
"Ssttt... Anta bilang diam!" seru Anta.
"Wah, apa maksudnya itu, sepertinya mereka menyukaimu," ucap Jorji.
"Jangan salah paham dulu, Kak, mereka emang suka cari keributan kalau ketemu," sahut Anta.
"Jorji, can you help me dear?"
Suara Mark terdengar lantang.
"Okay, Dad, I'm coming!"
Gadis itu melangkah pergi menghampiri ayahnya.
Arya menepis tangan Anta.
"Telunjuk elo bau apaan sih, rada amis gitu?" sahut Arya.
"Emang bau, Ya, kayaknya Anta cuma pegang besi wahana kincir angin doang tadi, " sahut Anta.
"Enggak bau, Kok," sahut Dion.
Pemuda itu malah menggenggam tangan Anta kemudian. Arya yang melihatnya langsung menepis. Keduanya saling dorong-mendorong. Bahkan mulai saling menarik jaket dan menjambak rambut satu sama lain.
"Ini pesanan kamu, Nta," ucap Jorji lalu menoleh kepada pemuda itu, "mereka ngapain, sih?"
"Biarin aja lah, capek Anta bilanginnya, Anta kasih uang pas ya, ini uangnya. Om Mark, makasih ya, Anta balik dulu ke stand!"
Anta melambaikan tangan pada Mark yang juga menyahut dengan lambaian tangan. Jorji masih menatap Arya dan Dion yang makin seru saling memiting dan menjepit kepala bergantian satu sama lain. Mereka belum sadar kalau Anta sudah pergi meninggalkan mereka.
Setibanya di stand juga buah, Anta langsung menyerahkan makanan yang ia beli pada Raja dan menyantap bersama. Dita, Anan dan Tasya terlihat sibuk ditambah Pak Herdi yang sudah membantu.
"Mama sama Papa ke mana?" tanya Anta pada Raja.
"Udah pulang, habisnya Papa Andri demen banget digodain cewek-cewek," ucap Raja.
"Digodain apa ngegodain?" tanya Anta.
"Hahaha... dua-duanya," jawab Raja sampai tersedak.
Pandangan keduanya kini fokus pada keempat manusia dewasa di hadapan mereka.
"Pak, bisa minta tolong potongin nanas ini?" pinta Dita pada Herdi.
"Boleh, sini aku bantu!" Herdi menerima buah nanas dari Dita. Tasya menyimak seraya menyiapkan es dalam gelas plastik.
"Aku aja yang potong," sahut Anan langsung meraih buah nanas dari tangan Herdi. Ia langsung menggantikan pria itu memotong nanas.
Dita bukannya memperhatikan Anan, ia malah memperhatikan Herdi yang kini membantunya memotong apel.
"Duh, enggak bisa dibiarin, nih," gumam Tasya.
Ia segera menghampiri Dita, ia berniat bertukar posisi dengan Herdi kala itu. Akan tetapi, dirinya malah terpeleset dan hampir jatuh. Mark yang baru tiba di sana langsung sigap memegangi Tasya agar tak jatuh ke tanah.
"Are you okay?" tanya Mark.
"Oke, oke, Tasya oke, kok, makasih ya," jawab wanita itu.
Mark langsung tertawa.
"Kok, ketawa?" tanya Tasya.
"Aku jadi inget dulu waktu kamu jatuh di badan aku, kita malah sering berantem," ucap Mark.
"Hehehe, iya ya, kelihatannya kamu udah berubah deh," ucap Tasya.
"Ya begitulah, penjara memberi pelajaran banyak untukku, lagipula Laura juga banyak mengubahku,"
sahut Mark.
"Jujur ya, kamu tuh lebih keren aja deh, lebih dewasa," ucap Tasya seraya menepuk kedua bahu Mark.
Tak!
Pisau di tangan Herdi berbunyi lebih keras dari sebelumnya sampai membuat Dita, Anan, Tasya dan Mark menoleh ke arahnya.
"Rame nih, Kak, kayak sinetron yang suka ditonton Mama Dewi," bisik Raja.
"Anak kecil macam apa kamu, nontonnya sinetron bareng emak-emak! Tapi, kayaknya iya seru, Ja," sahut Anta.
*****
To be continue…
Target menuju 300 episode, jangan bosen ya bacanya. 😁
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni