
Happy Reading...
*****
Mereka tiba di sebuah ruangan tempat Arya dirawat. Tasya dan Herdi sudah berada di depan ruangan itu. Kedua wajah mereka terlihat menunduk. Bahkan ayahnya Arya terlihat terisak menahan tangis.
"Ada apa dengan Arya?" tanya Anta.
Tasya mengulurkan tangannya ke arah dalam.
"Kamu lihat sendiri aja, Nta!" pinta Tasya.
Arya terbaring dengan selimut putih menutupi seluruh tubuhnya.
"A-Arya....!" Anta berteriak sekuat tenaga sampai ia lupa kalau masih belum pulih.
Gadis itu langsung menghamburkan diri memeluk Arya.
"Arya jahat! Kenapa ninggalin Anta! Arya jahat!" Anta berteriak sambil memeluk pemuda itu.
"Kamu sayang banget ya, Nta, sama Arya?" tanya Arga.
"Kalau Anta enggak sayang sama Arya ngapain Anta milih dia daripada Kak Dion!" sahut Anta.
"Cinta, Nta?" tanya Arga.
"Iyalah Anta cinta sama Arya!" sahut gadis itu seraya menangis memeluk Arya.
"Alhamdulillah... akhirnya gue denger si Anta bilang cinta sama gue, hahaha..." Arya membuka selimut putih yang menutupi tubuhnya sambil tertawa.
Anta menatap tak percaya. Bisa-bisanya Arya membohonginya yang sudah berlinangan air mata itu.
"Arya....!" Anta langsung menyerang Arya dengan pukulan dan menjambak rambut pemuda itu.
"Udah ya, puas kan elo, Ya? Elo harus nurut sama semua perintah gue selama satu minggu ke deoan," ucap Arga.
Dita, Tasya dah Herdi yang sedari tadi menahan tawa akhirnya tak tertahan juga. Mereka menertawakan kelakuan Arya. Apalagi sebelum ia merencanakan untuk mengerjai Anta itu, dia memohon dengan sangat.
Arya sangat ingin mendengar gadis itu mengatakan cinta padanya. Dan akhirnya ia kesampaian juga mendengar penuturan Anta barusan. Gadis itu masih menatap marah pada pemuda yang masih terbaring lemah itu.
"Arya enggak mikir ya, emangnya kamu pernah ngajak Anta pacaran, nembak Anta gitu? Enggak pernah, kan?" Anta menantang dengan bertolak pinggang.
"Waduh, sukurin luh, kalau Anta udah kayak gini gue enggak ikut-ikutan!" sahut Arga dan melangkah mundur menghindari amarah Anta.
"Anta... nggak boleh gitu ah, lagian jangan pacar-pacaran dulu, lulus sekolah aja dulu belajar yang bener," sahut Dita.
"Syukuri luh, kaga boleh pacaran sama Anta hahaha..." Arga berceletuk ria di luar kamar Arya.
"Ya udah kalau gitu Anta nurut sama Bunda, karena enggak boleh pacaran sama kamu, jadi..."
"Eh, jangan dong, jangan putuskan aku, aku minta maaf deh," sahut Arya memohon.
"Idih... jadian aja belum bilang putus, wlek!" cibir Anta.
"Bunda aku mohon, aku mohon banget, izinkan aku membahagiakan putri cantikmu, ya?" Arya mencoba bangkit dan duduk di atas ranjang lalu memohon pada Dita.
"Sumpah, lebai banget si Arya, kayak kamu kalau lagi bucin jadi lebay gitu," ucap Tasya di samping Herdi.
"Tapi kamu suka kan kalau aku kayak gitu bucinnya?" Herdi merayu Tasya.
"Hidih jadi laper aku bukan baper, cari bubur ayam, yuk!" ajak Tasya menarik tangan Herdi ke luar rumah sakit mencari sarapan.
Arya masih menatap penuh harap agar Dita mau menerimanya sebagai pacar Anta.
"Bunda, boleh ya... Aku mohon..." pinta Arya.
"Enak aja, ini Bundanya Anta, bukan Bundanya kamu!" seru Anta menuding pemuda itu.
"Tapi kan dia calon mertua aku," ucap Arya dengan penuh percaya diri sampai membuat Dita tertawa.
"Masha Allah, mimpi apa aku semalam dapat melihat para bidadari di hadapan aku ini, izinkanlah aku bersanding dengan bidadari yang ini Ya Allah...." kata Arya dengan mengangkat tangannya seperti berdoa lalu menunjuk ke arah Anta.
"Apaan sih, udah yuk Bunda kita pulang, Anta udah baikan sih pasti boleh pulang," ucap gadis itu seraya mendorong tubuh Dita pelan dan hendak ke luar kamar perawatan pemuda itu.
"Yah, masa kamu mau ninggalin aku sih?"
"Bodo, habis Anta kesel sama Arya!"
"Bunda... Tuh masa anaknya marah-marah sama aku," ucap pemuda itu merengek.
"Lagian kamu juga sih pakai ngerjain Anta."
"Iya, aku minta maaf, aku kan cuma mau denger Anta bilang cinta sama aku, hehehe...."
"Kamu cinta sama Anta?"
"Iya dong, cinta banget!" sahut Arya dengan penuh keyakinan.
"Ya udah. Tapi pada belajar yang rajin dulu ya, kalau udah lulus sekolah, lulus kuliah, terus udah kerja, baru deh Bunda restui," ucap Dita.
"Anta setuju, ayo Bunda kita pulang!" ajak Anta.
"Bye bye Arya," ucap Dita.
Anta dan Dita lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Anta... Anta mah tega sama Arya, Anta... jangan tinggalin aku....!" Arya berteriak dan mencoba bangkit, tetapi tubuhnya masih terlalu lemas dan kesulitan dengan selang infus tersebut.
"Bentar Bunda, Anta balik dulu ya ke Arya," ucap Anta.
Anta yang merasa kondisinya sudah lebih baik lalu melangkah cepat ke kamar perawatan Arya.
"Anta..."
"Anta lupa mau tampar kamu!"
"Ya udah, terserah Anta aja, nih tampar aku!" Arya memejamkan mata seraya menyodorkan pipi kanannya. Ia menghela napas panjang dan bersiap menerima tamparan di pipinya yang akan terasa perih itu
Cup.
Kecupan hangat mendarat di pipi Arya. Anta kemudian keluar dari ruang perawatan tersebut tanpa menoleh lagi pada pemuda itu.
"Gue mau pingsan...." Arya langsung membenamkan wajahnya di bantal sambil berteriak kegirangan.
"Udah Bunda, ayo kita pulang!" ajak Anta.
"Kamu apaan si Arya?" tanya Dita penasaran.
"Anta tampar aja, abis Anta kesel."
"Duh, kasian juga kalau gitu. Jangan kayak gitu ah kasihan tau, Arya itu persis banget kayak Yanda kamu. Kadang nyebelin tapi bucin akut, kalau udah cinta sama seseorang dia akan menjadi orang nomor satu yang cintanya tak tertandingi," ucap Dita.
"Ah... Manis banget ya Yanda," sahut Anta.
Tak lama kemudian, mobil Anan datang ke rumah sakit untuk menjemput Anta dan Dita. Ia datang bersama Raja.
"Aku mau minta mampir ya, ke tukang bakmi yang ada di Jalan Kelinci," pinta Raja.
"Boleh, ayo kita makan dulu!" ajak Anan.
"Bagus tuh Anta juga laper, nanti Anta minta dua porsi ya, Yanda?"
"Darahnya banyak berkurang jadi laper ya?" ledek Dita.
"Hehehe... begitulah Bunda."
"Bunda juga mau dua porsi ya pakai bakso sama pangsit," sahut Dita.
"Yee... samanya kalau makan pada makan banyak banget, sih!" seru Anan.
Ia akhirnya melajukan mobilnya menuju warung bakmi di Jalan Kelinci.
***
Sore itu, kegaduhan terjadi di panti asuhan. Dewi datang bersama mobil box berisi barang-barang rumahnya.
"Tante mau ngapain?" tanya Dita.
"Rumah sepi banget tanpa Raja, tanpa Anta, pokoknya sepi."
"Terus...?"
"Tante mau tinggal di sini aja, itu ada lahan kosong, nanti Tante beli tanahnya terus mau Tante bangun rumah minimalis dua tingkat, boleh ya?" pinta Dewi.
"Haduh Tante... itu kan taman anak-anak panti, masa mau dibangun rumah, sih?"
"Kan Tante bayar, lumayan lho uangnya buat bantu-bantu panti asuhan, boleh ya?"
Andri datang dengan mobilnya menyusul Dewi yang naik mobil box tadi.
"Sorry, Ta, maaf banget ya gue bingung ngelarang dia gimana," sahut Andri yang baru saja turun dari mobil.
"Anta sih setuju aja, jadi keluarga kita ngumpul di sini," sahut Anta.
"Aku juga setuju," sahut Raja.
"Tapi di sini banyak hantu lho, Tante, yakin berani?" tanya Dita.
"Halah, di apartemen Emas juga banyak hantu, yang penting aku enggak bisa liat, wlek...! Cek rekening Anta, Tante kirim uang ke rekening dia, soalnya enggak tau rekening kamu," ucap Dewi.
Anta meraih ponselnya dan mengecek saldo rekeningnya secara mobile banking. Seratus lima puluh juta rupiah sudah mendarat ke rekening gadis itu untuk tanya seluas lima puluh meter persegi.
"Nanti kalau kurang bilang, Tante jual kalung berlian Tante dulu," ucap Dewi.
"Ya Allah, segini cukup kok buat panti asuhan," sahut Dita.
Dewi lalu menuju dua orang pria yang menurunkan barang-barangnya.
"Taruh di situ dulu, Mas! Kumpulin aja semuanya di samping sini! Besok baru saya bangun rumahnya," ucap Dewi.
"Bu, harusnya nih yang ada mah bangun rumah dulu baru pindahin barang-barang. Ini malah pindahin barang dulu baru bangun rumah," ucap salah satu pekerja.
"Yang punya duit bayar kamu siapa?"
"Ibu."
"Nah, suka-suka saya dong, kan saya yang punya uang!" ketus Dewi sampai membuat pekerja itu menunduk malu.
Andri hanya bisa berdecak dan menepuk dahinya sendiri.
****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.