
Happy Reading...
*****
Di sebuah pertokoan, Pak Aji bertemu dengan Angel yang sedang berbelanja dengan sang nenek.
"Aku suka anak itu, kelihatannya dia lezat," ucap Ari dalam tubuh Aji.
"Aku lebih suka wanita seperti Linda," sahut Jamin.
"Sadarlah, Linda sudah mati!" sahut Ari.
"Kalian, bisakah kalian semua diam! Aku akan membuat kalian berhenti melakukan ini!" seru Aji berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
"Jamin, bisakah kau kurung dia agar tak keluar sekarang?" tanya Ari.
"Oke, oke, oke, tapi setelah ini kau berhutang kepadaku untuk mencari wanita dewasa," pinta Jamin.
"Kalian semua gila!" Aji berusaha mengepal kedua tangannya menahan kegeramannya.
"Kau lupa ya, kalau kita gila kau juga gila hahaha," sahut Ari.
Dua orang pelajar yang berada di samping Aji bergidik ngeri. Mereka saling berbisik membicarakan sosok pria di samping mereka yang terlihat berbicara sendiri.
"Stres ini orang, kayaknya udah crazy dia," bisik gadis yang berambut keriting.
"Pergi yuk, serem gue ada di sini," sahut gadis satunya.
Sosok Ari mendekat ke arah Angel yang dia buat terpisah dari sang nenek.
"Apa kau tersesat?" tanya Aji pada Angel.
"Ma-maaf, Anda siapa?" Angel terlihat ketakutan.
"Saya akan membantumu untuk bertemu dengan nenekmu. Ayo, ikut saya ke bagian informasi," ucap Ari mengulurkan tangannya yang langsung menghipnotis Angel.
Gadis kecil itu lantas mengikuti sosok Pak Aji masuk ke dalam mobil.
***
"Jadi, nanti malam kita ke rumah Mike?" tanya Arga yang masih ada di halaman rumah Anta.
"Iya, kali ini Mike mau bawa kita masuk ke dalam rumahnya. Tante Silla nanti juga ikut supaya bisa menangkap bayangan hitam yang suka muncul di belakang tubuh Mike," sahut Anta.
"Eh iya, aku juga pernah lihat bayangan hitam itu. Kalau dibilang hantu, aku juga nggak menemukan wujud hantunya," sahut Arga.
"Berarti bakat elo nggak begitu spesial kayak punya gue dan Anta," ucap Arga meledek Arya.
Pemuda itu hampir maju meninju Arga, tetapi Anta langsung mendorong pelan dada Arya.
"Ini kalau nggak dijagain bentar, ada aja yang buat bikin berantem," ucap Ria yang juga menahan dada Arga agar tidak maju.
"Tau nih, masih aja kayak anak kecil," keluh Anta.
"Berarti nanti malam, geng kita mau jadi pemburu hantu ya? Tapi kali ini pemburu bayangan hitam hehehe," celetuk Ria.
Tiba-tiba, ponsel milik Arga berdering. Ria langsung penasaran meraih ponsel milik kekasihnya itu.
"Kirain dari nomor cewek yang suka godain kamu taunya nenek, hehehe." Ria menyerahkan kembali ponsel itu pada Arga.
"Makanya jangan terlalu posesif, kamu juga harus percaya sama aku," sahut Arga.
"Percaya sama elu musrik, cuy!" seru Arya yang langsung terdiam diberi tatapan tajam oleh Anta.
"Walaikumsalam, ada apa Nek?" tanya Arga.
Raut wajah pemuda itu lantas berubah menunjukkan kecemasan.
"Ada apa, Ga?" tanya Ria.
Arga menutup ponselnya.
"Adek gue hilang di pasar," ucap Arga.
"Kok bisa?" tanya Ria.
"Aku juga nggak tau, nanti aku kabarin ke kamu. Aku harus nyusul nenek ke pasar," ucap Arga.
"Hati-hati ya, semoga Angel nggak kenapa kenapa," lirih Ria.
Arga langsung melajukan mobilnya.
"Coba Anta mau tanya ke Raja kira-kira si Angel bisa dihubungi apa nggak," ucap Anta yang melangkah menuju ke dalam rumah. Ria dan Arya mengikuti gadis itu.
*****
To be continue...