
Happy Reading...
*****
Anta duduk di kantin kala itu seraya menikmati siomay di tangannya. Sementara Ria harus terus mengekor pada Arga yang sedang memberi pengarahan. Ia sangat takut jika prianya direbut adik kelas.
"Mbak, sendirian aja, ikut Abang dangdutan, yuk!"
Arya menggoda Anta yang baru saja duduk di sampingnya.
"Idih, najong! Anta maunya nonton layar tancap, Bang, sambil makan kacang rebus, hahahaha..."
"Bisa aja si Neng, makin cakep aja sih!"
Arya meraih siomay di piring Anta.
"Gombal!"
"Seriusan lah... Eh, lihat hantu baru tuh!"
Arya menunjuk hantu kuntilanak yang sedang menggendong anaknya. Tubuh kuntilanak itu berongga di bagian perut. Darah dan nanah bercampur dengan belatung yang menggeliat itu makin terluhat menjijikan. Apalagi ia menggendong bayi yang setengah tubuhnya hanya terlihat tulang tengkoraknya.
"Hmmm... masih pagi udah nongol aja, biarin aja kalau cuma diem doang," sahut Anta.
"Enggak buka praktek, Nta?"
"Malas ah, Arya aja yang praktek. Eh, kok siomay Anta cepet abis sih?"
"Hehehe... iya maaf... Aku beliin lagi ya," ucap Arya.
Ia lalu bangkit ke arah penjual siomay. Seorang gadis menabraknya dengan sengaja.
"Duh, maaf ya Kak, aku enggak sengaja. Kakak namanya Arya, ya?" tanyanya.
Arya tak menjawab dan berlalu begitu saja menuju penjual siomay.
"Dih, cakep-cakep sombong amat," bisiknya ke arah temannya yang berkacamata dan bertubuh tambun itu.
"Nanti kita deketin lagi," jawabnya.
Arya kembali membawa seporsi piring berisi siomay.
"Nih, lebih banyak, spesial buat cantiknya aku," ucap Arya meletakkan piring di meja Anta lalu ia mengusap kepala Anta dengan gemas.
"Tin, ada monyetnya itu," bisik gadis yang menabrak Anta tadi.
"Tenang aja, baru pacar, yang udah jadi istri aja masih bisa berpaling hihihi..."
Anta dan Arya sebenarnya mendengar percakapan kedua anak baru itu, tetapi gadis itu bersikap datar. Sementara itu, Arya malah makin bersikap mesra. Ia pandangi Anta terus menerus saat sedang makan kala itu.
"Kenapa sih kamu ngeliatin Anta terus?"
"Bikin kenyang aku soalnya."
"Wlek!"
***
Arya yang sudah mendapatkan SIM itu akhirnya diperbolehkan oleh Herdi mengendarai mobilnya. Sementara itu, ayahnya menggunakan mobil sang istri untuk bekerja karena Tasya sudah diantar terlebih dahulu dan akan dijemput nantinya.
Arya mengantar Anta pulang ke rumah. Sesampainya mereka di pantai asuhan, Raja langsung menangis menghamburkan diri ke arah Anta.
"Lho, kamu kenapa nangis sih, cengeng!" seru Anta.
"Bunda sama Yanda tuh nakal!"
"Nakal?"
Dita keluar dari rumah menghampiri anak itu.
"Bunda nakal kenapa?" tanya Anta.
"Hehehe... begini Anta, nih lihat!"
Dita menyerahkan hasil cek kehamilan pada Anta.
"Ini apa?" tanya Anta.
"Baca deh, maksudnya apa kalau garis dua," lihat Dita.
"Hah? Bunda hamil?" Anta bertanya tak percaya.
Dita menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Wah, selamat ya Bunda..." Anta melepas tangan Raja yang memeluknya dengan kasar, ia lalu memeluk Dita dengan erat.
"Kok, Kak Anta seneng sih?" tanya Raja.
"Seneng dong, berati Bunda bakal punya dedek bayi, yeay...!" seru Anta.
"Enggak boleh, Bunda jahat!" seru Raja beteriak dengan kesal.
"Elo kenapa sih, Ja, gue aja juga seneng kok pas tau Bunda Tasya juga hamil," sahut Arya.
"Hah? Serius, Ya? Tasya hamil? Kok, enggak kasih tau aku," tanya Dita.
"Tadi pagi kayaknya nunjukin alat itu juga deh sama ayah, terus mereka pelukan ketawa ketawa dan bilang aku bakalan punya adik," jawab Arya.
"Bunda jahat, enggak mikirin perasaan aku!" Raja berusaha mencari perhatian.
"Kenapa sih, Ja?"
"Kalau aku punya adik, nanti aku enggak disayang lagi sama Bunda sama Yanda, paham?"
"Eh, dodol meleyot! Mau punya adik atau enggak, Bunda sama Yanda pasti tetep sayang sama kita. Lagian ngaku udah punya pacar masih cengeng takut enggak disayang, huh!" Anta menoyor kepala Raja dengan gemas.
"Aduh... Tuh Kak Arya, tuh lihat Kak Anta nakal, jangan mau sama dia!" Raja berlindung di balik punggung Arya kala itu.
"Hahaha... elo baper amat sih, nanti gue bilangan adiknya Arga lho," ancam Arya.
"Eh, jangan dong...!"
"Udah sih udah, sini Raja sama Bunda, Bunda kasih tau ya, kalau cinta bunda sama Raja itu besar banget enggak akan ada habisnya."
Dita merangkul bahu Raja.
"Beneran ya, bahkan lebih besar dari Kak Anta?"
"Iya beneran," sahut Dita.
"Wah, songong nih bocah, bisa-bisanya mau merebut Bunda dari Anta!" Gadis itu menghampiri adiknya yang langsung berlari. Keduanya berkejar-kejaran sampai menganggu salah satu anak panti yang sedang menyapu halaman.
Kini, hanya ada delapan anak panti yang tersisa. Karena menurut Dita mereka layak mendapatkan orang tua asuh. Apalagi tim Anta dan gengnya melakukan survey dan pengawasan selama satu bulan mengenai asal usul dan perilaku para orang tua asuh. Jika mereka layak dan baik, Anta akan mengizinkan anak panti itu pergi. Meskipun jika saat itu tiba, akan ada banjir air mata perpisahan.
"Arya, masuk dulu yuk, kita makan siang!" ajak Dita.
"Oh, pasti Bunda... itulah tujuan aku ke sini, karena masakan Bunda itu paling enak," puji Arya.
"Lebih enak dari masakan Tasya?"
"Lebih enak, kalau Bunda Tasya keseringan pakai bumbu cepat saji hehehe... tapi jangan bilang-bilang ya, kalau depan Bunda Tasya, aku harus bilang makanan dia paling enak," ucap Arya.
"Huh... dasar penjilat!" Dita mencubit lengan Arya dengan gemas.
Keduanya lalu melangkah menuju ke dalam panti asuhan.
"Anta, Raja... ayo makan siang dulu! Anak-anak yang lain juga yuk, makan siang dulu!" ajak Dita seraya membunyikan kentungan yang ada dumi teras rumah yang menandakan ajakan makan bersama.
***
Malam itu Anta dan Dita memberi kejutan pada Anan perihal kehamilan istrinya itu. Hanya Raja yang masih cemberut dan masih mereka belum ikhlas jika dia akan mempunyai adik. Anan langsung memeluk istrinya dengan erat dan menghujani wajah Dita dengan banyak kecupan. Ia sangat berterima kasih pada istrinya.
"Pokoknya kamu harusnya kesehatan ya!" pinta Anan.
"Siap, Pak Suami!" Dita memberi hormat.
"Tuh si Raja asem amat, mana mukanya direkrut gitu kaya baju belum digosok, dia diputusin pacarnya, ya?" tanya Anan dengan nada mengejek.
"Cemburu tuh, sama dedek bayi," sahut Anta.
"Oh, begitu... padahal kalau Bunda sibuk sama dedek bayi, yang bakalan sering Yanda ajak ke kampung nelayan buat cari ikan itu kan kamu, yang bakalan sering ikut Yanda jalan-jalan kan kamu," ucap Anan.
Raja langsung bangkit dari kursinya.
"Serius, Yanda?" tanya Raja.
"Serius lah, kapan Yanda pernah bohong sama kamu!" sahut Anan.
"Yeay... kalau gitu Bunda boleh punya adek bayi, yang banyak juga enggak apa-apa," ucap Raja seraya memeluk ayahnya.
"Emangnya kamu pikir Bunda itu kucing yang bisa lahiran banyak anak, huh!" Anta mencubit pipi Raja dengan gemas.
"Aduh... Tuh Yanda Kak Anta nakal pipi aku sakit, nih..." ucap Raja mengadu.
"Ini bocah ya, dari tadi ngadu terus, aleman kolokan, sok manja banget, nanti Kak Anta aduin lho sama Angel, wlek..." Anta mengancam dengan ponsel ditangannya untuk bersiap menghubungi Angel.
"Jangan dong...!" Raja mengejar Anta yang langsung berlari menuju rumah Tante Dewi.
Anan merangkul Dita sambil tertawa melihat kelakuan kedua anak mereka.
***
Malam itu, Anan yang berganti kaus di beranda belakang setelah mencabut singkong, terlihat oleh Ibu Aiko. Tanda hitam di punggung milik pria itu mengingatkan Aiko akan keberadaan anaknya.
"Maaf, Nan, bisa ikut Ibu, antar Ibu bertemu Nenek Dharma!" pinta Aiko.
"Kayaknya Nenek udah tidur deh, memangnya kenapa, Bu?" tanya Anan.
"Tapi, mungkin saja dia belum tidur, ikut Ibu yuk ke kamar Nenek!" ajaknya.
Anan akhirnya menuruti perintah Aiko. Namun, saat pria itu membuka pintu kamar Nenek Dharma, ia mendengar kalau sang Nenek sudah mendengkur.
"Tuh kan udah tidur, mana tidurnya pules lagi hehehe..." ucap Anan.
"Ya sudah kalau begitu besok saja saya bicara sama Nenek Dharma."
***
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.