Anta's Diary

Anta's Diary
Di Panti Asuhan (Part 2)



Hayo, sebelum membaca jangan lupa kirimkan poin kalian buat VOTE, bayar tulisan aku pakai poin kalian ya hehehe terima kasih...


******


Kak Anta denger suara bayi pada nangis kan dari sana!" tunjuk Raja pada daerah samping panti asuhan yang terdapat banyak pohon singkong.


"Iya, suara tangis bayinya banyak banget," ucap Anta.


"Ke sana, yuk!" ajak Raja.


"Eh, ayo pada masuk, kita ke sini mau ngedoain Om Doni dan Mama aku, kan, bukan malah cari hantu," sahut Mey mencegah keduanya.


"Eh, iya hehehe ayo Ja kita masuk aja, eh bentar, Arya enggak ikut masuk?" tanya Anta pada Arya.


"Enggak ah, aku takut kan di dalam mau tahlilan nanti aku kepanasan terus kebakar gimana?" jawab Arya.


"Oh iya iya, kamu kan setan, bagus deh kalau sadar diri, adaw...!"


Arya menarik rambut Anta dari belakang.


"Arya, tungguin Kak Anta!" seru Anta memanggil Arya yang sudah berlali ke arah kebun singkong.


"Mey, kamu duluan aja masuk, aku mau narik Raja dulu ke sini!" ucap Anta tegas memerintah pada Mey.


Arya mengikuti langkah Anta dengan melompat di sampingnya. Gadis itu malah meledek Arya ikut melompat.


"Enggak pegel, Ya?" tanya Anta dengan nada mencibir.


"Cumi Albino, gue juga maunya jalan tapi bisanya lompat, nanti gue mau belajar melayang aja sama Tante Silla, elo pasti enggak bisa ngikutin gue melayang, kan?" hardik Arya.


"Iya, sih, tapi Om Uli enggak bisa tuh terbang kayaknya," sahut Anta.


"Masa sih, berarti Uli rada-rada oon, hahaha...!"


"Beraninya enggak ada Om Uli, awas lho Anta bilangin," ucap Anta.


"Biarin aja wlek! Noh, si Raja ngapain tuh jongkok-jongkok deket pohon, udah kayak mau nyolong singkong," tunjuk Arya.


Anta mempercepat langkahnya menuju Raja.


"Ja, kamu ngapain jongkok begitu?" tanya Anta.


"Banyak anak bayi, Kak, pada nangis tuh!" tunjuknya.


"Udah sih, biarin aja! Ayo, kita kembali ke dalam!" ajak Anta.


"Kasian, Kak, kenapa ya banyak bayi di sini, mana mereka belum sempurna, masih kayak alien?" tanya Raja.


"Iya ya, kasian," ucap Anta ikut berjongkok memperhatikan.


"Mungkin mereka korban aborsi, bisa jadi, kan?" terka Arya.


"Aborsi itu apa sih, Kak?" tanya Raja tak mengerti.


"Aborsi itu dia lagi hamil terus berhubung dia enggak mau mempertahankan bayi dalam perutnya jadi dia gugurin alias aborsi," ucap Anta menjelaskan.


"Lho, bayinya mati dong kayak bayi-bayi di sini?"


"Iya begitulah," sahut Anta.


"Nah, jangan-jangan panti asuhan ini dulunya tempat aborsi?" terka Arya.


"Bisa jadi, tuh tanya aja sama Mbak yang lagi berdiri di sana ngeliatin kita!" tunjuk Anta.


Sosok hantu perempuan dengan rambut kepang dua mengenakan seragam putih abu-abu menatap ke arah mereka dengan wajah pucat. Pada kedua kakinya terdapat aliran darah yang masih menetes.


"Kakak itu hantu?" tanya Raja.


"Menurut kamu, bidadari gitu? Liat dong kakinya banyak darah gitu, mukanya pucet, matanya putih semua," sahut Anta.


"Oh, ya kali bidadari hehehe, coba tanya Kak kenapa dia seperti itu?" tanya Raja dengan penasaran.


"Nah, bener tuh, coba Ya kamu yang tanya!" Anta mendorong tubuh Arya mendekati hantu perempuan itu.


"Kok, gue?"


"Tapi, gue takut!"


"Amit-amit, masa hantu takut hantu," cibir Anta.


"Kak Arya, ayo kamu bisa!"


Raja menyoraki Arya memberi semangat dari belakang Anta.


"Ah, pada kurang asem, nih!"


Arya akhirnya pasrah lalu beranjak melompat menuju ke arah hantu tersebut. Akan tetapi, saat Arya mendekat hantu itu menghilang.


"Lho, kok dia enggak ada, kok ngilang?" tanya Arya menoleh pada Anta dan Raja.


"Mungkin Kak Arya bau, jadi dia takut," celetuk Raja ia menarik lengan Anta.


"Ayo kabur, Kak, ada pocong ngamuk nanti hahaha!"


"Heh, dasar kalian ya, pada kurang ajar semuanya sama gue!" seru Arya seraya mengejar Anta dan Raja.


Sayangnya lompatan ia mengenai sebuah batu kerikil besar dan membuatnya jatuh karena kain kafannya tersangkut.


"Waduh, ada pocong nyusruk, tuh!" Raja makin meledek Arya masuk ke dalam panti.


Tak lama kemudian, seorang ustad datang memimpin dia tahlil. Semua duduk berdampingan dan dipisah bagi perempuan dan laki-laki sesuai jenis kelaminnya. Saat doa tahlil dimulai, tiba-tiba Mey terlihat gelisah.


"Kamu kenapa, Mey?" tanya Anta.


"Perut aku mules, aku izin ke toilet, ya."


Gadis itu bergegas pergi dengan alasan palsu, padahal ia merasakan hawa panas yang membuat tubuhnya terasa terbakar. Tenggorokan gadis itu juga terasa kering.


"Kok, sepertinya dia bohong ya, Tante?" bisik Anta di samping Tasya.


"Mungkin karena ini bukan agama dia, jadi dia enggak enak terus pergi deh alasan ke toilet," sahut Tasya dengan berbisik.


"Oh, iya iya, bisa jadi."


Anta dan Tasya melanjutkan lantunan doa dan tahlil yang dikirimkan untuk para arwah keluarga terutama Doni, mengikuti Pak Ustad.


Sementara itu di luar panti, Mey terlihat murung dan duduk di salah satu ayunan yang berada di halaman panti asuhan. Sekitar panti juga terdapat beberapa permainan lainnya.


Arya mengamati gadis yang sedang berayun itu. Entah kenapa sepertinya di melihat bayangan hitam yang berada di belakang tubuh gadis itu. Bayangan itu mendorong ayunan perlahan-lahan mengikuti gerakan tubuh Mey.


"Itu apa, ya?" gumam Arya.


Ia mencoba mendekat ke arah Mey, akan tetapi bayangan hitam di belakang tubuh gadis itu sudah menghilang.


"Duh, pengen ketemu Arya, bagaimana ya caranya supaya bisa lihat Arya?" gumam Anta.


"Ini cewek bucin banget sama gue, ya, dari tadi nyariin gue terus," ucap Arya.


Mey tiba-tiba terisak menangis meratapi dirinya, tapi kemudian ia berdiri lalu menari dengan riang dan tertawa.


"Arya, kita dansa, yuk!" ajak Mey yang berbicara sendiri lalu berdansa sendirian dengan tangan yang seolah merangkul Arya.


"Duh, si Mey nakutin gue aja, nih!" keluh Arya.


Namun kemudian, gadis itu perlahan menghentak-hentakan kakinya ke tanah dan marah-marah tak jelas.


"Arya, aku tau kamu di sini, kamu harusnya berterima kasih sama aku, karena berkat ritual yang aku lakukan, kamu bisa hadir ke dunia ini lagi," ucap Mey.


Mey makin kuat menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Sampai menggentarkan tanah tempat Arya berdiri.


"Ini cewek gila kali ya masa bisa berubah-ubah emosi enggak jelas macam gini, malah gue yang takut, padahal gue yang hantu," ucap Arya.


*****


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.