
Happy Reading...
*****
Dion menggenggam tangan Anta dan tak pernah melepasnya di dalam mobil ambulans tersebut. Ia juga membawa Ratu Sanca yang sudah berubah menjadi boneka itu dan meletakkannya di atas tubuh Anta.
"Elo harus bangun, Nta, elo harus bangun," ucap Dion.
Sesampainya di depan Instalasi Gawat Darurat, Anta segera dilarikan ke dalam untuk mendapat penanganan selanjutnya. Dion langsung menghubungi Ria dan menceritakan kejadian yang menimpa gadis itu. Setelah menerima telepon dari Dion, Ria juga langsung menghubungi Arya dan Arga.
Arya terlambat sampai di depan rumah Mey yang masih ramai dengan para warga dan juga mobil polisi yang memeriksa tempat kejadian perkara. Ponsel di sakunya berdering dan mendapat kabar buruk dari Ria. Pemuda itu lantas bergegas menuju Rumah Sakit Keluarga.
Sementara itu, Mey diamankan oleh pihak berwajib dan akan dibawa ke tahanan anak di bawah umur. Gadis itu tak sadarkan diri saat dibawa oleh pihak kepolisian. Ia juga tak menyadari kalau barusan itu sudah melukai seorang penjaga kompleks dan juga melukai sahabatnya. Ibunya yang sedang berkencan dengan seorang langsung mengarahkan mobilnya menuju kantor polisi.
***
Ponsel Herdi yang berada di saku celana berdering kala itu. Kedua tangannya terlihat basah dan lengket karena terkena tumpahan sirup.
"Sya, tolong ambilin hape saya, dong!" pinta Herdi.
"Di mana?" tanya Tasya mencari asal suara ponsel itu.
"Nih, di kantong celana," ucap pria itu menyodorkan saku celana sebelah kanannya.
"Duh, kenapa harus di daerah rawan gitu sih? Oke bentar aku ambilin," ucap Tasya.
Ia merogoh ponsel di saku celana pria itu. Pak Herdi tampak merasa geli dan menahan tawa.
"Arya nih," ucap Tasya.
"Coba angkat!" pinta Herdi.
Tasya lalu menekan lambang gagang telepon warna hijau dan menerima panggilan dari Arya.
"Apa? Kamu yang bener kalau ngomong?" seru Tasya dengan suara meninggi.
Dita dan Anan yang mendengar seruan Tasya langsung memutuskan untuk menghampiri.
"Kenapa, Sya?" tanya Dita.
Tasya lalu menutup sambungan telepon itu dan memberikan ponsel itu ke tangan Herdi yang sudah mencuci tangan.
"Anta, dia kecelakaan," ucap Tasya mulai menangis saat mengucapkannya.
"Apa? Anta kecelakaan di mana?" pekik Dita.
"Kita harus berbenah dulu, rapihin tempat ini dulu," ucap Anan menepuk bahu Herdi.
Kedua pria itu langsung merapikan stand buah milik Dita.
"Anta ada di mana sekarang?" tanya Dita mengguncang bahu Tasya.
"Di rumah sakit, Rumah Sakit Keluarga, dia terluka karena katanya Mey kerasukan terus pegang pisau besar. Bukan cuma Anta, Mey juga melukai satpam komplek," ucap Tasya.
Tak berapa lama kemudian, setelah stand milik Dita tutup dan dirapikan, mereka bergegas menuju Rumah Sakit Keluarga.
"Pakai mobil saya aja!" seru Herdi.
"Bentar, gue keluarin curut dulu di mobil gue, nanti gue nyusul ke rumah sakitnya," ucap Anan yang bergegas menuju parkiran mobil.
***
Tante Dewi yang sedang menjaga Raja sempat melihat rombongan Anta masuk ke dalam ruang operasi.
"Tunggu sini ya, Ja!" pinta Dewi.
"Mama mau ke mana?" tanya Raja.
Anak ini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter setelah lukanya diobati.
Dewi melangkah menuju ke ruangan operasi.
"Nah, kebetulan Ibu masih ada di sini, saya hubungi nomor Ibu enggak aktif," ucap Suster bernama Ayu.
"Oh iya, hape aku masih aku matiin, emang kenapa, Yu?"
"Putri Ibu masuk ruang operasi," ucapnya.
"Hah? Maksud kamu Anta?"
"Iya, Bu."
"Ada apa dengan anak saya?"
Raut wajah Dewi langsung pucat pasi dan terlihat cemas.
"Putri Ibu terluka, perutnya robek dan banyak mengeluarkan darah, harus segera dioperasi. Kemungkinan putri Ibu butuh banyak bantuan donor darah, karena yang aku dengar tadi dari dokter kalau putri Ibu kehilangan banyak darah," ucap Suster Ayu.
Dewi langsung menangis dan berteriak histeris. Suster Atau berusaha menenangkan wanita itu. Dion yang baru saja menghubungi Ria langsung berlari ke dalam dan bertemu dengan Dewi yang masih menangis histeris.
Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi pada Anta. Silla yang sedang berkeliling rumah sakit lantas menghampiri dan menyimak pembicaraan pemuda itu. Ia langsung menangis dan melangkah menuju ruang operasi.
Silla muncul di samping Anta untuk memastikan keadaan gadis itu. Ia lantas mendekat dan berbisik pada gadis itu.
Silla yang tak tega melihat kondisi Anta lalu pergi menuju Raja. Ia menceritakan keadaan kakak anak laki-laki itu.
"Aku mau lihat Kak Anta, aku mau lihat!" teriak Raja berusaha turun dari ranjang di ruang perawatan itu.
Dewi yang mendengar teriakan anak itu lalu menghampiri bersama Dion. Raja sudah terluhat menangis dan berusaha ke luar.
"Aku mau lihat Kak Anta!" seru Raja.
"Iya nanti kita lihat, sekarang Anta lagi di ruang operasi. Kita doain ya semoga Kak Anta baik-baik aja," ucap Dewi seraya menangis terisak sambil memeluk Raja.
"Aku mau lihat Kak Anta, huhuhu..."
***
Rombongan Dita dan lainnya sampai di rumah sakit. Tiba-tiba sebuah potongan masa lalu saat dia berada di rumah sakit itu melintas dan membuat kepalanya sakit.
"Duh, apalagi ini?" lirih Dita.
"Kamu enggak apa-apa, Nta?" tanya Tasya.
"Rumah sakit ini, aku pernah ada di sini, kita pernah ada di sini, sama Anan juga," ucap Dita.
"Alhamdulillah, kamu bisa inget itu," ucap Tasya.
"Tapi, aku enggak tau maksudnya," sahut Dita.
"Itu potongan gambaran masa lalu kamu, Ta, dan aku yakin sebentar lagi kamu bisa ingat semuanya, masa lalu kamu sama Anan, dan juga kedua anak kamu," ucap Tasya sambil memeluk Dita.
"Kita masuk dulu, yuk!" ajak Herdi mengejutkan kedua wanita itu.
"Oh iya, kita cari Anta. Tuh, mobil Anan juga udah sampai," ucap Tasya seraya menunjuk ke mobil milik Anan yang baru sampai di parkiran itu.
Arya yang menggunakan ojek online juga baru saja sampai. Ia menghampiri ayahnya dan menanyakan kondisi Anta. Mereka semua masuk ke dalam rumah sakit dan langsung bertanya pada petugas bagian penerimaan pasien. Setelah mereka mendapatkan informasi, Dita dan yang lainnya langsung menuju ruang operasi.
Terlihat Dewi, Dion dan Raja sudah menunggu di ruang tunggu pasien. Wajah ketiganya tampak cemas dan berlinangan air mata. Arya langsung menghampiri Dion dan menarik kerah pemuda itu.
"Kenapa Anta elo biarin terluka?"
Arya berteriak saat menarik kerah pakaian Dion, ia lantas melayangkan tinju ke wajah pemuda di hadapannya itu.
Dion yang tersulut emosi langsung membalas pukulan Arya. Perkelahian terjadi di antara keduanya sampai Anan dan Herdi memisahkan keduanya.
"Kalian ini bukannya berdoa buat keselamatan Anta, malah main tinju di sini," hardik Herdi yang dengan geram menatap Arya dan Dion.
"Tapi, Yah... dia harusnya jagain Anta!" seru Arya.
"Gue udah berusaha jagain Anta, tapi saat itu gue juga lagi nolong Ratu Sanca!" sahut Dion tidak kalah serunya.
"Halah—"
Anan gantian menarik kerah Arya.
"Bisa diam enggak? Semua yang ada di sini juga kecewa dan khawatir, tapi enggak gini caranya, gue tau elo marah, gue juga marah, tapi enggak langsung barbar begini juga!" seru Anan seraya menatap tajam ke wajah Arya. Pemuda itu langsung terdiam dan berusaha menahan emosi. Herdi masih menahan Dion agar mundur menjauh dari anaknya.
Raja memeluk Dita sambil menangis. Begitu juga dengan Dewi dan Tasya yang saling berpelukan dan beruraian air mata. Ria dan Arga muncul bersamaan dari pintu tangga darurat. Mereka berlari kecil menghampiri.
"Gimana Anta, Tante?" tanya Ria pada Tasya.
"Masih di dalam sana, hiks... hiks..." jawabnya seraya terisak.
Arga menatap tajam pada Dion, tetapi Herdi sudah menahannya agar tak meluapkan emosi yang sama pada pemuda itu.
"Kenapa Mey jadi kayak gini sih, aku enggak habis pikir..." gumam Ria yang sudah duduk di samping Tasya seraya menangis.
"Dia ngelakuin ini gara-gara Arya, kalau aja Arya balas cinta Mey dengan tulus, ia enggak mungkin berbuat jahat sama Anta!" seru Arga yang tiba-tiba menyerang Arya.
"Kok, jadi gue yang salah?" tanya Arya menatap tajam pada Arga.
"Udah, udah, semuanya berhenti berdebat, kita berdoa semoga Anta baik-baik aja," ucap Dewi bangkit berdiri dan melerai keduanya.
Andri baru saja muncul dari pintu lift dan langsung disambut pelukan penuh air mata oleh sang istri. Dewi menceritakan segala yang terjadi pada Anta saat itu.
Dokter yang mengoperasi Anta kemudian ke luar dari ruangan operasi. Wajahnya tampak terlihat sedih dan menunduk. Ia tak berani menatap Dewi.
"Dokter Shendi, apa yang terjadi dengan putri saya?"
Dewi langsung mengguncang kedua bahu teman kerjanya di rumah sakit itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, cuma komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni