
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
Kok, seperti ada yang colek-colek pantat Anta, ya?" gumam gadis itu sambil menoleh ke arah bokongnya.
"Kenapa, Nta?" tanya Lee.
"Eh, ini apaan?" seru Anta menoleh sesuatu yang bergerak di bawah bokongnya.
Perlahan-lahan sosok tangan yang hanya pergelangan tangan itu merangkak menuju ke atas perut Raja yang sedang tak sadarkan diri. Sosok tangan itu melambaikan jari-jarinya pada Anta.
"Jiaaaahhh, baru ini nemu hantu cuma tangan!" pekik Anta.
Pak Herdi langsung menekan pedal rem secara mendadak menghentikan mobil itu.
"Hantu tangan?" tanya pria itu menoleh pada Anta.
"Iya, tuh tangannya!" tunjuk Anta.
"Oh, itu mah si Naga, mau ngapain kamu ngikutin kita?" tanya Lee.
Tak ada yang mengerti bahasa sosok tangan itu kecuali Lee.
"Oh, dia yang nolongin Raja katanya," ucap Lee.
Sosok tangan itu menunjukkan ibu jari.
"Oh, cakep... makasih ya, siapa tadi namanya?" tanya Anta.
"Naga," sahut Lee dari kursi depan.
"Om, kok berhenti? Ayolah, jalan!" seru Anta menyentak Pak Herdi yang masih tak percaya dengan sosok tangan itu.
"Iya, iya, saya sampai lupa," sahut pria itu.
Mereka menuju ke rumah sakit. Namun, pandangan Anta kemudian tertuju pada kerumunan warga yang sedang menonton kecelakaan mobil. Para polisi terlihat menyelidiki dan mengamankan tempat kejadian perkara.
Satu mobil ambulans bergegas menyalip di depan mobil yang dikendarai Pak Herdi.
Deg.
Sosok pocong dalam mobil ambulans itu terlihat di kaca mobil tersebut dan menoleh ke arah Anta.
"Kok, kayaknya kenal deh sama pocong yang di ambulans itu?" gumam Anta.
"Pocong? Maksud kamu ada pocong dalam mobil itu?" tanya Pak Herdi.
"Tadi sih sepertinya Anta lihat ada pocong terus mukanya tuh kayak kenal," sahut Anta.
Pak Herdi terdiam seraya fokus menyetir. Ia mencoba mengendus-endus aroma parfum bayi yang biasa Arya pakai. Namun, makin dia endus bau tersebut malah aroma tubuh Lee si Om Item yang terhirup ke hidungnya.
"Kok, jadi bau bangkai, ya?" gumam Pak Herdi tapi ia tak mau ambil pusing karena takut kalau Lee tersinggung.
***
Mereka sampai di Rumah Sakit Keluarga. Raja segera di periksa oleh dokter jaga. Tak ada tanda-tanda luka serius pada tubuh anak itu. Namun, karena kondisinya yang tak kunjung sadarkan diri, akhirnya Raja harus menjalani rawat inap. Pak Herdi sementara ini mengurus biaya administrasi perawatan anak muda itu karena Anta terus memohon agar jangan menghubungi Mama Dewi terlebih dahulu.
"Saya urus biaya administrasi, kamu ikut Raja ke ruangan perawatannya, ya," pinta Pak Herdi.
"Iya, Om. Makasih banyak ya, nanti Anta ganti uangnya dari tabungan Anta," ucap gadis itu.
Pak Herdi mengusap bahu gadis itu. Ada perasaan menyesal kenapa selama setahun belakangan ini ia menyalahkan Anta atas kepergian Arya. Tak seharusnya ia salahkan gadis itu. Apalagi setelah tahu Anta juga memiliki kelebihan khusus yang dapat melihat hantu seperti dirinya, ia jadi tambah bersalah. Pria itu lalu pergi menuju ruang administrasi untuk pelunasan.
Saat Anta mengikuti suster yang membawa Raja menuju ruang perawatannya, terdengar suara wanita menangis meraung-raung sampai membuat rumah sakit itu heboh. Semua mata tertuju pada wanita itu saat memeluk jasad manusia yang terlihat hangus.
"Sepertinya, Anta kenal suaranya."
Anta menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara wanita yang sedang menangis itu.
"Tante Tasya," tegur Anta.
Tasya menoleh pada gadis itu.
"Anta... kamu enggak apa-apa, kan?" tanyanya seraya memeluk Anta.
"Tante cari kamu sama Raja, tapi di jalan tadi, hiks hiks hiks... Om Doni, Nta, dia... huaaaaaa." Tasya memeluk Anta dengan tangisan makin menjadi-jadi.
Anta melirik ke arah jasad yang terlihat hangus itu. Ia melepas pelukan Tasya dan mencoba mendekat.
"Ini, Om Doni?" tanya Anta.
Tasya mengangguk lemah.
"Om Doni, kenapa hitam semua?" Anta membuka selimut itu.
Doni tergeletak tak bernyawa di atas kasur rumah sakit itu. Air mata langsung bergulir dengan deras mengalir di pipi gadis itu.
"OM DONIIIIII...!!!"
Gadis itu menangis dan menjerit tak menyangka kalau pria itu akan pergi meninggalkan dia dan Tante Tasya. Kedua perempuan itu berangkulan meratapi kepergian Doni.
Doni akan dibawa ke rumah duka sebelum di makamkan di tempat pemakaman umum yang sama dengan tempat pemakaman umum Anan dan Dita keesokan harinya. Pak Herdi yang mengetahui hal tersebut akhirnya tak bisa lagi menahan diri untuk tak menghubungi Dewi dan Andri. Mereka harus segera ke rumah sakit ini.
Malam itu, Anta terus menemani Tasya yang masih terpuruk karena kepergian suaminya. Ia tak banyak bicara seperti biasanya. Hanya tangisan yang terus ke luar dari pelupuk matanya yang sudah sembab. Mereka duduk di ruang duka yang disediakan rumah sakit dan berada di samping kamar mayat.
Lee dan sosok tangan menemani Raja di ruang perawatan sampai Mama Dewi datang untuk menjaga anak itu. Sementara Andri mengurus biaya administrasi Doni selama di rumah sakit, rumah duka dan juga pemakaman nantinya.
Tiba- tiba seorang anak kecil menangis dan berteriak melihat hantu.
"Ada pocong, ada pocong Ma huaaaaa...." teriak anak perempuan itu.
Anta menuju ke luar ruangan dan melihat keadaan anak tersbut.
"Duh, maaf ya kalau keganggu, anak saya kalau lagi sakit gini suka lihat yang aneh-aneh apalagi lewat kamar mayat gini," ucap sang Ibu langsung membawa anaknya pergi segera.
"Iya, Bu, sebaiknya dibawa pergi," ucap Anta.
Gadis itu kembali ke dalam menanyakan keadaan Tasya, gadis itu lalu berucap, "Tante, mau minum?"
Tasya menggelengkan kepalanya.
"Eh bentar, masa anak tadi bilang ada pocong, jangan-jangan Om Doni balik lagi jadi pocong, tapi kan belum di pocongin, masih kegeletak gitu aja, ya. Apa jangan-jangan ada hantu pocong lain dalam sana, ya?" gumam Anta.
Gadis itu dengan rasa penasaran melangkahkan kakinya menuju kamar mayat.
"Anta, duh aku tuh mau cerita tentang Arya malah lupa," ucap Tasya, tapi ia masih tak ingin beranjak dan hanya memandangi foto Doni yang selalu berada di dalam dompetnya.
Anta mencoba membuka pintu kamar mayat perlahan-lahan.
"Assalamualaikum," ucap Anta perlahan.
"Masuk kamar mayat aja sopan banget, luh!" seru suara pria yang berada di dalam.
"Kok, suaranya kayak kenal, deh," gumam Anta mencoba melongok ke balik pintu untuk mencari asal suara tadi.
"Ciluk... ba...."
*******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta