Anta's Diary

Anta's Diary
Kekecewaan Anta



Jangan lupa sebelum membaca kumpulkan poin buat vote, ya. Happy Reading...


******


Keesokan harinya, setelah Arya dinyatakan meninggal, Pak Herdi mengurus kepulangan jenazah Arya yang akan dibawa dengan menggunakan ambulance rumah sakit ke pemakaman yang berada di Kota Cahaya. Pak Herdi terus saja memeluk tubuh anaknya yang sudah tak bernyawa itu saat hendak dimasukkan ke dalam mobil ambulance.


Ia masih saja tak rela jika harus kehilangan buah hati kesayangannya itu. Tasya dan Doni masih mencoba menenangkan pria itu agar mau melepaskan kepergian Arya. Pak Herdi akhirnya pendampingan jenazah Arya di dalam mobil pengantar jenazah itu. Tasya dan Doni bergegas menuju mobilnya sendiri.


Sementara itu, Anta terus saja menangis. Ia tak menyangka jika harus kehilangan sosok Arya yang paling menyebalkan di sekolah. Berkali-kali ia mencoba mencari sosok hantu Arya tapi tak juga ia temukan.


"Aku enggak bisa ketemu sama hantu Arya, apa dia udah tenang ya, Nta?" tanya Arga.


"Anta juga belum ketemu, padahal Anta mau marah-marah sama dia, kenapa harus pergi, cemen banget sih sampai enggak bisa bertahan huaaaaa..." Anta terus menangis.


Tante Dewi menghampiri anak gadis tersebut lalu membawanya masuk menuju mobil yang sudah ditunggu oleh Andri sedari tadi. Sedangkan keluarga Arga baru saja sampai untuk menjemputnya pulang. Bersama dengan rombongan bus sekolah teman satu kelas Arya mereka beriringan menuju pemakaman Arya.


Sesampainya di area pemakaman, rupanya Hyena sudah bersiap sedari tadi memesan dan menyiapkan lahan makam untuk Arya berikut tenda para tamu. Namun, sebelum Arya di kebumikan jenazahnya dimandikan terlebih dahulu di ruangan khusus yang sudah disiapkan pihak pemakaman.


Prosesi khidmat pemakaman Arya pun dilaksanakan sampai selesai. Arga dan Anta saling menatap satu sama lain. Mereka tetap tak bisa melihat sosok penampakan Arya. Bahkan Silla juga mencari di sekolah hantu siapa tau Arya berada di sana. Akan tetapi, tetap tak juga mereka temukan.


Mey berada di samping Anta memeluk gadis itu dari samping. Sementara di samping Arga ada Iman yang memaksa hadir menggunakan kursi roda karena ia merasa bersalah akan kematian Arya. Kalau saja ia tidak diculik Ki Romo, mungkin saja Arya masih hidup. Arga mencoba menguatkan Iman yang sedari tadi menangis meraung-raung memanggil nama Arya dan meminta maaf.


***


Seminggu setelah pemakaman Arya.


Malam itu seseorang mengetuk pintu rumah Anta. Raja membuka pintu rumah tersebut. Tante Dewi dan Andri sedang pergi untuk menghadiri acara pernikahan rekan bisnis dari Andri.


"Eh, kak Arga, tumben ke sini, ada apa, Kak?" tanya Raja.


"Anta ada, Ja?" tanyanya.


"Ada, lagi cuci piring, masuk sini, aku panggilin dulu," ucap Raja mempersilahkan Arga untuk duduk.


Tak lama kemudian, Anta datang wajahnya masih terlihat murung. Seminggu ini sekolah diliburkan karena masalah kematian Arya. Beberapa pihak wali murid menyalahkan sekolah akibat kejadian tersebut sehingga pihak sekolah mendapat surat peringatan dari dinas setempat.


"Ada apa, Ga? Tumben ke sini, nanti Mami kamu marah, lho?" tanya Anta.


"Aku, aku mau pamit, Nta."


"Hah, pamit? masuk kamu apa, sih? Anta enggak ngerti, deh?" sahut Anta.


"Mami mau pindah ke luar negeri sama suaminya dan sepertinya aku memilih untuk ikut dengan Abi, jadi aku akan pergi menemui Abi," jawab Arga.


"Kamu mau ninggalin, Anta?"


"Bukan begitu, Nta, aku enggak akan pernah ninggalin kamu, kita masih bisa saling berhubungan satu sama lain, hanya saja kali ini Abi lagi sakit juga, jadi aku mau merawat dia," ucap Arga menjelaskan.


Anta menarik napas panjang dan embusan itu sampai terdengar jelas.


"Semuanya pergi ninggalin Anta, terus Anta sama siapa?" keluh Anta.


"Kamu masih punya Raja, keluarga kamu, juga Mey sama Iman, kan tadi aku bilang, aku akan tetep deket sama kamu, ya."


Ponsel Arga terdengar berdering. Sang Bunda menghubungi anak itu agar bergegas pamit pada Anta.


"Aku pergi ya, Nta." Arga bangkit berdiri lalu melangkah menuju ke luar. Ia menoleh ke arah Anta yang masih menunduk lesu tak mau menatap Arga.


"Yakin, enggak mau meluk aku?" tanya Arga.


"Arga, jahat sama kayak Arya!" Anta bangkit dan menghamburkan dirinya memeluk Arga seraya menangis.


"Aku bakalan kembali kok, aku pamit pergi cuma sebentar, ya." Arga mengusap rambut halus gadis itu dengan lembut.


"Janji ya, jangan lupain Anta."


"Iya, janji. Salam ya buat Tante Dewi, Tante Tasya dan semuanya."


Anta melepas pelukan Arga dan mengangguk. Mereka berpisah semenjak malam itu.


***


Satu tahun berlalu, Anta berusaha untuk menjauh dari para hantu. Ia meminta Silla dan Uli juga pergi dan menjauhkan diri dari para hantu. Anta juga tak mau lagi ada hantu yang meminta bantuan padanya. Buku catatan harian itu ia simpan dan lembarannya telah habis. Meskipun Dita akan mengganti buku itu kembali tapi bagi Anta cukuplah sudah dia menulis catatannya. Anta mulai membenci jalan hidupnya sendiri semenjak kehilangan Arya dan Arga.


Malam itu Anta dan Raja pergi ke sebuah pesta pernikahan rekan bisnis Tante Dewi dan Andri. Sementara Tasya mengantar Doni ke rumah sakit. Doni mulai sering sakit tak menentu, terkadang ia batuk berdarah. Terkadang juga tak sadarkan diri tiba-tiba. Terkadang juga Doni kesakitan tubuhnya. Akan tetapi, Tasya tak pernah bilang hal yang sebenarnya terjadi.


Seorang gadis berlari dengan panik sampai tak sengaja tertabrak mobil yang dikendarai Andri. Mereka baru saja pulang.


"Waduh, gimana ini?" tanya Andri mulai panik.


"Kita tolongin, aku cepetan bawa ke rumah sakit!" seru Tante Dewi.


Anta dan Raja juga turun ikut membantu. Gadis itu melihat sosok Silla yang duduk di atas atap mobil.


"Anta, itu Delima, teman aku," tunjuk Silla.


Anta hanya menoleh tak menjawab. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan tak mau mengindahkan keberadaan Silla. Hantu Silla tetap bersikeras mengikuti Anta. Ia juga ingin mencari tahu apa yang terjadi pada Delima.


Sesampainya di rumah sakit, perempuan yang bernama Delima itu langsung ditangani oleh pihak rumah sakit. Sementara itu, Andri mengurus administrasi rumah sakit tersebut.


Di koridor yang sepi itu, Anta duduk bersama Tante Dewi dan Raja di rumah tunggu tamu pasien. Sementara, hantu Silla masih berdiri di sudut ruangan dekat dengan pot dan jendela.


Tiba-tiba sosok perempuan dengan rambut panjang menutupi wajahnya datang dengan menyeret bokongnya bergerak menghampiri Anta dan lainnya. Sosok itu memakai seragam suster rumah sakit. Kedua kakinya penuh luka borok dan berongga dengan nanah dan darah bercampur jadi satu. Bau busuk menyeruak sampai ke hidung.


"Raja, kamu kentut, ya, kok bau?" tuduh Tante Dewi.


"Bukan aku yang bau, tuh Tante suster!" tunjuk Raja.


*****


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All.


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!