Anta's Diary

Anta's Diary
Di Hotel Nirvana (Part 2)



Happy Reading...


******


"Hotelnya yang ini, kan?" tanya Herdi ketika sampai di depan sebuah hotel bertuliskan Hotel Nirvana.


"Iya bener, Anta udah di dalam nih sama yang lain," ucap Tasya.


Dia melihat ke arah Heru yang masih terbaring tak berdaya itu. Setelah mobil itu memasuki parkiran hotel, Dita dan Tasya turun memanggil petugas hotel. Mereka meminta tolong pada petugas agar membantu membopong Heru ke kamar hotel.


Di dalam lift lagi-lagi hantu nenek tadi menganggu. Akan tetapi, Dita, Tasya dan Herdi berpura-pura tak melihat. Padahal tubuh Dita gemetar ketakutan. Ia berusaha untuk tenang dan berlindung di balik Tasya.


Hantu nenek itu mendekat ke samping Herdi seraya mengusap lengan milik pria yang kekar itu. Meski bergidik ngeri dan rambut halus permukaan kulit tangannya itu meremang, pria itu berusaha menahan diri sampai pintu lift terbuka.


***


Anta masuk ke dalam kamar hotel bersama Arya dan Arga.


"Wah, bagus banget dekorasi dalam kamar ini, lumayan juga," ucap Anta saat melihat dekorasi di dalam kamar hotel.


"Nah, ada minuman, aku mau lah," ucap Arya seraya membuka beberapa kaleng soda dan snack yang sudah disediakan pihak hotel.


"Dih, main minum aja!" seru Arga.


"Lha, kan udah disediakan, wajar dong gue minum, lagian gue juga haus," sahut Arya.


Arga menatapnya sinis seraya melangkah menuju jendela. Ia membuka tirai itu sedikit.


"Astagfirullah..." ucap Arga.


"Kenapa, Ga?" tanya Anta yang langsung menghampiri Arga.


"Liat deh, Nta, itu kolamnya penuh darah," ucap Arga.


"Hmmm sepertinya banyak yang bunuh diri jatuh ke kolam itu," sahut Anta.


"Tapi penuh darah, kalau bunuh diri jatuh ke air belum tentu mati, Nta, apa mungkin ada korban pembunuhan di situ?" tanya Arga.


"Anta enggak mau menerawang ah, capek soalnya," ucap Anta.


"Nta, kamu capek ya? Sama aku juga, sini rebahan sama aku," ucap Arya yang sudah berpose menggoda di atas ranjang hotel itu.


Pemuda itu memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru. Perlahan kancing kemeja itu ia buka dari bagian atas seolah menggoda Anta. Arga buru-buru menutup kedua mata gadis itu.


"Mabok soda luh, Ya?"


Suara Arga terdengar menggelegar berseru pada Arya.


"Hahaha... kaga mabok gue, orang bercanda doang," ucap Arya seraya membenarkan kembali kancing kemejanya.


Anta menepis tangan Arga kemudian.


"Kalian berdua ini, bener-bener deh bikin Anta pengen ketawa mulu," ucap Anta.


"Ketawa aja, Nta, makin cantik dilihat soalnya kalau kamu ketawa," sahut Arga.


Pluk!


Bantal yang tadinya ada di atas ranjang itu mendarat tepat di wajah Arga karena dilempar oleh Arya.


"Modus aja luh dari tadi!" seru Arya.


"Bodo amat!"


Arga melempar balik bantal itu ke wajah Arya. Keduanya langsung bergumul di atas ranjang.


"Heh, udahan udahan, tuh bel pintu bunyi!" tunjuk Anta.


"Cepetan bukain, Ga!" perintah Arya mendorong Arga sampai jatuh ke lantai.


"Huh, kampret dasar!"


Biarpun kesal tetapi Arga masih saja menuruti perintah Arya. Ia bangkit berdiri lalu melangkah dan membuka pintu kamar tersebut. Terlihat pertugas hotel dan Pak Herdi menggotong tubuh Heru. Mereka langsung membawa pria itu dan menjatuhkan tubuh pria itu ke atas ranjang.


"Makasih ya, Mas, nih ada sedikit tips buat beli rokok," ucap Herdi menyerahkan selembar uang kertas pada petugas hotel tersebut.


Setelah petugas itu pergi, Tasya lalu menutup pintu kamar hotel.


"Mana kameranya?" tanya Tasya pada Arya dan Arga.


"Pakai hape aja, hape aku sama hape Arya ngerekam pengakuan dia," sahut Arga.


"Terus diapain ini orang biar ngaku?" tanya Dita.


"Tabokin gih biar sadar!" sahut Tasya.


"Nah, gue demen ini," sahut Arya langsung menampar pipi Heru dengan keras.


Terlihat pipi Heru berkedut dan kedua matanya juga seperti hendak membuka.


"Ya elah, Yah, nabok dikit doang juga," ucap Arya.


"Maksud Ayah bukan gitu mukulnya tapi gini," ucap Herdi langsung meninju perut Heru sampai pria itu tersadar dan menjerit.


"Wuih, serem juga si ayah kalau marah," gumam Arya.


"Nta, hantu Sherly bisa dibawa ke sini sama Lala?" tanya Dita menoleh ke Anta.


"Bentar, Anta mau konsentrasi pakai gelang ini, soalnya Anta udah nemuin cara menggunakan gelang ini setelah Arya udah enggak jadi pocong," jawab Anta menunjukan gelang rantai yang mengeluarkan suara gemerincing di tangan kirinya.


"Gue jadi pocong?" tanya Arya menunjuk dirinya sendiri.


"Pernah, nanti baca catatan di buku harian Anta lagi deh! Jangan ganggu ya, Anta mau konsentrasi."


Gadis itu lantas fokus memanggil arwah Sherly dan Lala ke dalam hotel.


"Wuidih canggih si Anta sekarang kayak manggil jin botol aja," sahut Arya.


Arga menutup mulut Arya dan membekap anak muda yang berdiri di sampingnya itu.


"Bisa diem nggak? Jangan berisik!" bisik Arga sambil membekap mulut pemuda itu.


Hantu Sherly dan Lala muncul.


"Kamu, panggil saya ke sini?" tanya Lala pada Dita.


"Bukan saya, tapi anak ini yang panggil. Lihat pria itu!"


Dita menunjuk Heru yang masih setengah sadar.


"Kita ngumpet semua, biar Anta yang bimbing Sherly sama Lala buat nakutin Heru," ucap Tasya.


Arya dan Arga bersembunyi di balik tirai sambil merekam mengeluarkan layar ponselnya sedikit agar bisa menangkap gambar Heru.


Herdi, Dita dan Tasya berjongkok di balik sofa seraya mengintip sesekali.


"Dita, itu kamu? Kok, kamu pinter sih bawa aku ke hotel?" tanya Heru masih setengah sadar saat melihat Anta.


"Ini Anta, Pak, Anta bawa temen mau ketemu sama Bapak, katanya kangen," ucap Anta langsung menyentuh tangan Heru dan memperlihatkan dua hantu perempuan itu. Lalu, Anta berlari ke balik tirai bersembunyi di antara Arya dan Arga yang masih merekam gambar.


"Halo, Pak Heru," sapa Lala.


"Halo, Mas, masih inget aku?" tanya Sherly.


Heru menoleh kepada dua hantu itu dan langsung merasa terkejut. Tubuhnya gemetaran dan ketakutan melandanya kala ia melihat sosok hantu Sherly dengan jeratan leher yang terlihat. Leher hantu itu terlihat miring seperti mengalami patah leher. di sampingnya hantu Lala berdiri memandangnya sambil tersenyum menyeringai.


Tubuh lebam dengan luka memar dan darah kering terlihat di sekujur tubuh hantu Sherly. Perlahan hantu itu mendekat.


"Apa yang kalian lakukan di sini, bukankah kalian sudah mati?" tanya Heru dengan raut wajah ketakutan.


Air liur yang berusaha ia telan itu terasa berat dan menyayat tenggorokannya. Tangannya mencoba menggapai sesuatu yang bisa ia lemparkan ke arah dua hantu itu.


"Hai, Pak Heru!" sapa Lala menyeringai.


"Pergi, kalian pergi!"


Heru mencoba merogoh sesuatu di sakunya. Sebuah batu permata warna merah digantungkan pada tali kafan untuk pocong itu dia arahkan pada hantu Lala dan Sherly.


Kedua hantu itu mundur perlahan.


"Hahaha... kalian enggak akan bisa menyentuhku, pergi ke alam kalian!" seru Heru.


"Kau tetap tak bisa lari dariku," ucap Sherly.


Hantu perempuan itu tersenyum menyeringai lalu perlahan maju menghampiri Heru. Ia makin mendekat dan tak takut pada jimat yang dipegang Heru. Tiba-tiba sesuatu keluar dari bawah daster lusuh yang ia kenakan. Ia ambil sesuatu menggunakan kedua tangannya. Gumpalan darah merah atau seperti daging segar dengan sesuatu menyerupai tali pusar itu ia tarik paksa.


Ternyata sesuatu yang di pegang hantu Sherly itu merupakan seonggok bayi yang belum sempurna. Ari-ari dan tali pusar si bayi masih menyambung ke tubuh hantu itu di bagian bawahnya.


"Aaaaaaaa jauhkan itu dariku...!" pekik Heru berusaha berteriak sekuat tenaganya.


****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni